SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. KONFLIK
Langkah kaki Theodore Morelli berhenti tepat di depan lift ketika suara itu terdengar.
Sebuah teriakan yang kasar, melengking, penuh amarah, menggema dari ujung lorong lantai finansial.
Theo mengernyit, tahu kalau yang ia dengar ini bukan konflik yang baik melainkan kekacauan.
Nada keributan itu bukan nada perdebatan profesional.
Bukan pula nada diskusi internal. Itu adalah teriakan kehilangan kendali.
"Aiden?" panggil Theo pelan, suaranya dingin.
Aiden yang berjalan di sisi kirinya langsung menegang. Bertahun-tahun bekerja dengan Theo, ia hapal dengan baik apa yang saat ini atasannya itu pikirkan.
"Ya?" sahut Aiden.
"Pastikan mencari sumber masalahnya," perintah Theo.
"Baik," jawab Aiden langsung.
Leo dan Lucy yang berjalan sedikit di belakang langsung saling pandang.
"Ada drama," gumam Lucy.
Leo mendengus. "Dan aku punya firasat ini bukan drama kecil."
Semakin mereka mendekat, suara itu semakin jelas.
"KAU PIKIR KAU SIAPA, HAH?!"
Kerumunan karyawan sudah terbentuk, lingkaran tak rapi, wajah-wajah tegang, beberapa mencoba melerai, beberapa hanya menonton dengan napas tertahan.
Theo menghentikan langkahnya untuk memahami situasi terlebih dahulu.
Dari kejauhan Theo melihat semua.
Seorang pria paruh baya, berjas abu-abu, wajah merah padam, urat leher menonjol, sedang mencengkeram kerah baju seorang office girl.
Dan office girl itu adalah Celina Dawson. Gadis yang pagi tadi bermasalah di ruang rapat.
"AKU TAHU KAU YANG MENGAMBILNYA!" teriak pria itu. "JANGAN PURA-PURA BODOH!"
Celina tidak meronta. Tidak menjerit. Tangannya mengepal di sisi tubuh, rahangnya mengeras.
"Saya tidak mengambil apa pun," suara Celina tegas meski tertahan oleh cekikan kerah. "Saya justru menemukan berkas itu di tempat sampah."
Kalimat itu membuat pria yang merupakan asisten keuangan itu semakin murka.
"Bohong!" teriaknya. "Kau pikir aku percaya office girl rendahan sepertimu mengerti mana berkas penting dan mana sampah?!"
Beberapa karyawan mencoba menarik pria itu, mencoba menenangkan karena situasi mulai tidak kondusif di lantai ini.
"Mr. Dean, tolong tenang!"
"Sir, lepaskan dulu."
Namun genggaman pria itu semakin kuat mencengkeram kerah baju Celina.
Theo merasakan sesuatu berdenyut di pelipisnya.
Bukan marah.
Bahaya.
"Itu berkas keuangan," lanjut Celina, napasnya tertahan namun suaranya tetap terkendali. "Ada tanda rahasia internal. Siapa pun yang membuangnya jelas lalai-"
Kalimat itu seperti menyulut bom.
"KAU MENUDUHKU?!" Pria itu mendorong Celina keras hingga punggungnya menghantam dinding. "KAU BERANI MENUDUHKU?!"
Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi ...
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Celina. Kacamata hitamnya jatuh ke lantai karena tamparan itu.
Suara tersebut menggema.
Beberapa orang menjerit kecil.
"Mr. Dean!"
Dua orang langsung bergerak memisahkan asisten keuangan itu dengan Celina. Menahan sang pria paruh baya agar tidak bertindak berlebihan lagi.
Lucy membeku.
Leo refleks melangkah maju, namun Theo sudah lebih dulu berhenti berjalan.
Waktu seperti melambat.
Celina terhuyung satu langkah.
Rambutnya sedikit berantakan.
Pipinya memerah.
Namun gadis itu ... tidak jatuh.
Ia berdiri tegak.
Lalu perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapan itu membuat pria paruh baya itu ... terdiam.
Bukan tatapan korban.
Bukan tatapan orang kalah.
Itu tatapan predator.
Dingin. Tajam. Merendahkan.
Seolah Celina bukan office girl yang ditampar, melainkan singa yang sedang menilai apakah mangsanya pantas dihabisi.
Beberapa detik.
Pria itu tersentak mundur setengah langkah, seolah baru sadar dengan apa yang ia lakukan.
Dan pada saat itulah ...
"APA YANG ANDA LAKUKAN?!"
Suara itu memecah udara seperti cambuk.
Luciana Morelli melangkah masuk ke tengah kerumunan, bahkan kedua kakaknya terkejut melihat sang adik sudah berada di tengah-tengah konflik, padahal Lucy adalah orang yang paling malas jika berurusan dengan konflik perusahaan.
Wajah Lucy tidak lagi ceria.
Tidak ada senyum.
Tidak ada tawa.
Hanya kemarahan dingin yang membuat suhu ruangan seolah turun drastis.
"Miss. Luciana?" bisik seseorang panik.
Semua orang langsung tahu.
Si bungsu Morelli. Putri kesayangan keluarga yang sama punya power seperti halnya dengan kedua kakaknya.
Asisten keuangan itu menoleh, dan wajahnya langsung pucat. "M-Miss. Luciana ... saya bisa menjelaskan-"
"Menjelaskan?" Lucy memotong tajam. "Sejak kapan Morelli Corporation mengusut masalah dengan kekerasan fisik?"
Pria itu membuka mulut, menutupnya lagi.
"Ini ... ini situasi mendesak, Miss. Berkas keuangan menghilang. Dia-" jarinya menunjuk Celina dengan gemetar, "-dia mengambilnya."
Lucy tertawa pendek, tanpa humor.
"Mengambil? Untuk apa seorang office girl mengambil berkas keuangan dan secara terang-terangan?" Lucy melangkah mendekat. "Atau Anda panik karena kesalahan Anda sendiri yang lalai?"
Beberapa karyawan menunduk ketika melihat kalau si bungsu Morelli itu memasang wajah yang sama intimidatifnya dengan sang kakak tertua.
Dan saat itu ...
Langkah kaki berat terdengar.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kerumunan terbelah seperti laut yang disibak.
Theodore Morelli muncul di hadapan mereka.
Aura dinginnya membuat napas semua orang tercekat.
Leo dan Aiden mengikutinya.
Wajah Theo tidak menunjukkan emosi apa pun. Itu ... lebih menakutkan semua orang dari pada kemarahan.
Leo mengambil kacamata Celina yang terjatuh dan memberikannya ke sang empunya. Lalu melihat asisten keuangan itu dengan pandangan marah.
Begitu pula dengan Theo yang jelas, menahan diri untuk tidak murka karena ada dua adiknya di sini.
Asisten keuangan itu gemetar. "M-Mr. Morelli! Saya-"
"Diam," perintah Theo pelan.
Satu kata.
Namun cukup untuk membungkam segalanya.
Theo menatap Celina.
Pipinya memerah.
Namun matanya ... tetap tegak.
Lalu Theo menatap pria paruh baya itu. Tatapan itu membuat lutut pria itu hampir menyerah.
"Anda," kata Theo perlahan, "menyentuh karyawanku dengan kekerasan. Terlebih kekerasan pada seorang perempuan di kantor ini?"
"S-Saya hanya-"
"Anda," lanjut Theo, suaranya semakin rendah, "menggunakan kekerasan di wilayah kerja Morelli Corporation."
Aiden bisa merasakan hawa dingin menyelimuti ruangan.
Theo menoleh ke Lucy. "Bawa Celina ke ruang kesehatan."
Lucy mengangguk tanpa ragu. Ia meraih tangan Celina dengan lembut, kontras dengan wajahnya yang masih keras.
"Ayo," katanya pelan pada Celina.
Celina menoleh sejenak ke Theo.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk sepersekian detik ... Theo tahu.
Gadis ini tidak lemah.
"Leo," lanjut Theo.
"Ya, Brother?" sahur Leo.
"Pastikan semua orang kembali ke meja mereka," pinta Theo.
Leo tersenyum tipis, senyum yang membuat orang tahu masalah besar sedang datang.
"Aiden?" panggil Theo.
Aiden mendekat. "Ya?"
"Periksa CCTV," perintah Theo. "Setiap sudut. Setiap menit soal masalah ini. Lihat siapa yang salah di sini."
Aiden mengangguk. "Baik."
Theo kembali menatap asisten keuangan itu.
"Siapa pun yang salah, akan dihukum," kata Theo tenang.
Asisten keuangan itu menelan ludah.
"Jika office girl itu bersalah dia akan dihukum sesuai aturan," lanjut Theo, "Tapi Anda tetap akan dihukum juga karena kekerasan yang Anda lakukan di perusahaan ini."
Wajah pria itu semakin pucat.
"Tapi," suara Theo menajam, "jika office girl itu tidak bersalah ...."
Theo berhenti sejenak, menatap asisten keuangan itu dengan semakin tajam.
"... maka hukuman Anda akan jauh lebih berat."
Ruangan sunyi.
Semua orang tahu arti hukuman dari seorang Theodore Morelli.
Dipecat dari Morelli bukan sekadar kehilangan pekerjaan.
Itu akhir karier.
Nama seseorang yang dikeluarkan oleh Morelli akan tercemar, tak ada perusahaan yang berani menerima.
Karena itu artinya orang itu dianggap kriminal profesional. Karena Morelli tidak pernah sembarangan memecat orang, kecuali orang tersebut melakukan kesalahan yang amat besar.
Theo menoleh. "Aiden."
"Ya?" sahut Aiden.
"Bawa dia ke ruang interogasi," perintah Theo.
Asisten keuangan itu hampir roboh.
Theo tidak menoleh lagi.
Ia berjalan pergi.
Namun pikirannya ... tertinggal.
Pada seorang gadis dengan pipi memerah namun memiliki tatapan singa.
Dan Theodore Morelli mulai menyadari satu hal;
Celina Dawson bukan sekadar office girl.
Bagaimana seorang office girl biasa bisa tahu, mana berkas rahasia dan mana yang bukan.
Dan Theo akan memastikannya setelah ini.
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️
up lagi
up lagi