Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Koridor Balai Desa Asih terasa lebih dingin pagi ini, atau mungkin itu hanya perasaan Mika karena menghitung mundur jam-jam terakhirnya di tempat ini. Lantai tegel abu-abu yang sering ia injak selama beberapa minggu terakhir kini tampak seperti saksi bisu dari segala sandiwara dan gairah yang ia lalui. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar dengan ukiran khas tetap tertutup rapat. Ruangan Kepala Desa.
Mika berdiri menyandar pada pilar, matanya tak lepas dari daun pintu itu. Ia menggenggam map plastik berisi dokumen serah terima projek filter air, tapi pikirannya melayang ke balik pintu itu—ke sosok pria yang semalam memeluknya begitu erat seolah-olah dunia akan kiamat esok hari.
"Ciee... lo nungguin King lo ya?"
Suara Siti yang melengking memecah lamunan Mika. Siti berdiri di sampingnya sambil mengunyah permen karet, matanya mengikuti arah pandangan Mika dengan binar jahil yang sangat menyebalkan.
"Berisik, Siti! Urusin aja tuh chat dari gebetan lo yang cuma dibales 'P' doang!" semprot Mika dengan wajah merona. Ia berusaha memperbaiki posisi berdirinya agar tidak terlihat terlalu merana menanti sang pujaan hati.
"Ya elah, galak amat. Gue kan cuma nanya. Tapi serius deh, Mik, kalau pintu itu dibuka, lo mau ngomongin soal projek atau mau pamit secara privat?" Siti menaikkan alisnya berulang kali, membuat Mika ingin sekali menyumpal mulut sahabatnya itu dengan map yang ia pegang.
Di sudut lain teras Balai Desa, pemandangan yang jauh lebih "berbahaya" bagi kesehatan mental para jomblo sedang berlangsung. Arga dan Asia duduk di bangku panjang kayu. Arga, yang biasanya kaku seperti kanebo kering yang dijemur seminggu, kini sedang sibuk merapikan anak rambut Asia yang tertiup angin.
"Kamu nanti di Jakarta jangan lupa makan ya, As. Aku bakal sering-sering mampir ke kosan kamu," ucap Arga dengan suara yang sangat lembut, jauh dari nada bicaranya yang biasa saat sedang mendebat Mika soal data.
Asia tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu Arga. "Iya, Ga. Kamu juga ya, jangan terlalu sibuk sama lab terus."
Mika, yang melihat pemandangan itu dari kejauhan, merasa perutnya mual bukan karena belum sarapan, tapi karena kadar gula yang terlalu tinggi di depannya.
"Lo berdua kalau mau mojok di posko aja sana! Ganggu pemandangan banget!" teriak Mika dengan suara kesal yang dibuat-buat. "Ini kantor pemerintah, Ga! Inget jabatan lo sebagai mahasiswa teladan, jangan ngebucin tidak kenal tempat!"
Arga hanya menoleh sekilas dengan tatapan datar. "Sirik tanda tak mampu, Mik. Kalau iri, ketuk aja tuh pintu di depan lo. Mungkin 'King' lo lagi nungguin buat kasih kecupan perpisahan."
Mika melotot, tangannya sudah terangkat ingin melempar map, namun tertahan saat suara kunci pintu yang diputar terdengar. Cklek.
Pintu besar itu terbuka. Alvaro muncul dengan setelan dinas cokelatnya yang sangat rapi. Kharismanya sebagai pemimpin desa langsung menyapu seluruh koridor, membuat Siti yang tadinya berisik mendadak diam seribu bahasa, dan Arga-Asia langsung memperbaiki posisi duduk mereka menjadi lebih sopan.
Alvaro menatap mereka berempat dengan wajah formal, namun saat matanya bertemu dengan mata Mika, ada getaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh gadis itu.
"Silakan masuk. Kita selesaikan urusan administrasi terakhir kalian," ucap Alvaro dengan suara berat yang berwibawa.
Mereka berempat masuk ke dalam ruangan. Mika berjalan paling belakang. Saat ia melewati Alvaro, ia bisa mencium aroma parfum woody yang sama dengan yang tertinggal di bantalnya semalam. Alvaro sengaja menutup pintu sedikit lebih lambat, memberikan kesempatan bagi jarinya untuk menyentuh punggung tangan Mika sekejap—sebuah sentuhan listrik yang membuat bulu kuduk Mika meremang.
Di dalam ruangan, diskusi berlangsung sangat formal. Arga menjelaskan hasil akhir filter, Asia memberikan laporan dampak lingkungan, dan Siti menyerahkan dokumentasi sosial. Alvaro mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan catatan kecil.
"Semuanya sudah sempurna. Saya akan menandatangani berita acara ini," ucap Alvaro sambil meraih pulpen emasnya.
Setelah penandatanganan selesai, Alvaro menatap mereka satu per satu. "Kalian adalah tim terbaik yang pernah dikirim ke Desa Asih. Saya harap, setelah kalian kembali ke Jakarta, kalian tidak melupakan desa ini."
"Pasti, Pak Kades. Apalagi Mika, kayaknya dia bakal kangen banget sama... udara desa," sahut Siti sambil melirik Mika jahil.
Alvaro tersenyum tipis, jenis senyuman yang sangat langka. "Arga, Asia, Siti... kalian bisa keluar duluan ke kantin belakang? Ada beberapa poin laporan koordinator yang harus saya diskusikan secara mendalam dengan Mikayla."
Ketiganya saling lirik. Asia menahan tawa, Siti memberikan jempol secara sembunyi-sembunyi, sementara Arga hanya mengangguk paham.
"Siap, Pak. Yuk, guys, kita cari gorengan. Biar koordinator kita dapet 'diskusi mendalam'," ucap Siti sambil menarik tangan Asia dan Arga keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki mereka menjauh, suasana di ruangan itu berubah drastis. Alvaro melepaskan pulpennya, bersandar di kursinya, dan menatap Mika dengan pandangan yang tidak lagi formal.
"Mendalam, ya?" goda Mika sambil melipat tangannya di dada, berjalan mendekati meja kerja Alvaro.
Alvaro berdiri, ia berjalan memutari meja dan menarik Mika ke dalam pelukannya. "Aku nggak tahu gimana caranya biarin kamu pergi besok, Mik."
Mika membenamkan wajahnya di dada Alvaro, menghirup aroma yang akan sangat ia rindukan. "Cuma beberapa jam lagi, Al. Kenapa rasanya kayak hukuman mati?"
Alvaro mengangkat dagu Mika, menatap mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca. Ia merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru merah. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak dengan ukiran kuno yang sangat indah—warisan dari neneknya yang pernah ia ceritakan.
"Pakai ini," ucap Alvaro sambil menyematkan cincin itu di jari manis Mika. "Ini bukan cuma perhiasan. Ini tanda kalau kamu adalah milikku, di mana pun kamu berada. Di Jakarta atau di desa ini, kamu tetap ratu untuk 'King' kamu."
Mika terisak pelan, ia memeluk Alvaro sangat erat. Di dalam ruangan yang tertutup itu, mereka menghabiskan waktu yang tersisa dengan ciuman-ciuman yang terasa pahit sekaligus manis. Gairah dan kesedihan bercampur menjadi satu.
"Al, kalau Siti tanya soal cincin ini gimana?" bisik Mika di sela tangisnya.
"Bilang saja itu kenang-kenangan dari warga. Dan warga itu... namanya Alvaro," jawab Alvaro sambil mencium bibir Mika dengan intensitas yang seolah ingin mengunci waktu agar tidak pernah beranjak ke hari esok.
Malam perpisahan sudah di depan mata, namun di ruangan itu, mereka berjanji bahwa ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan jarak jauh yang jauh lebih menantang daripada sekadar membangun filter air di sungai Desa Asih.