Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Retakan yang Terbuka
Foto itu masih terpampang di layar ponsel Arkan ketika suasana ruang tamu terasa semakin sesak.
Aluna menatap wajah ayahnya di sudut gambar itu. Tatapannya tidak terlihat seperti seorang pria yang kebetulan lewat. Ia berdiri cukup dekat. Cukup dekat untuk terlibat.
“Ini diambil kapan?” suara Aluna nyaris berbisik.
“Lima tahun lalu,” jawab Arkan pelan. “Beberapa minggu sebelum pertunanganku dibatalkan.”
“Kenapa Ayah ada di sana?”
Arkan tidak langsung menjawab.
Karena pertanyaan itu juga berputar di kepalanya.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan baru masuk dari nomor yang sama.
‘Kau ingin tahu siapa yang benar-benar mengkhianatimu, Arkan?’
Aluna merasakan hawa dingin menjalari tengkuknya.
“Jangan balas,” katanya cepat.
Arkan menatap layar beberapa detik, lalu mengetik singkat.
‘Apa maumu?’
Balasan datang hampir seketika.
‘Datang sendiri. Besok malam. Tempat lama.’
Tempat lama.
Arkan tahu persis maksudnya.
Gedung proyek Sentral Park yang kini terbengkalai di pinggir kota.
Aluna melihat perubahan di wajahnya.
“Di mana?”
“Lokasi proyek lama.”
“Tidak,” Aluna langsung menggeleng. “Itu jebakan.”
“Sudah jelas itu jebakan.”
“Lalu kenapa kamu terlihat akan pergi?”
Arkan mengangkat pandangannya. “Karena hanya dengan masuk ke dalam jebakan, kita tahu siapa yang memasangnya.”
Jawaban itu membuat jantung Aluna berdebar lebih cepat.
“Dan kalau kamu tidak keluar lagi?”
Arkan tersenyum tipis. “Kau terlalu dramatis.”
“Ini bukan drama!” suara Aluna meninggi tanpa ia sadari. “Namaku sudah dibawa-bawa. Ayahku ada di foto itu. Dan sekarang kamu mau pergi sendirian ke tempat kosong di malam hari?”
Hening.
Arkan menatapnya lama.
Ada sesuatu dalam nada Aluna yang berbeda malam ini.
Bukan sekadar kewajiban sebagai istri kontrak.
Melainkan kekhawatiran yang nyata.
“Aku tidak akan pergi sendirian,” katanya akhirnya. “Aku akan membawa orang.”
“Siapa?”
“Keamanan.”
Aluna tidak puas, tapi ia tahu Arkan bukan tipe pria yang bisa ditahan dengan larangan.
⸻
Keesokan harinya, suasana kantor semakin tegang.
Artikel tentang pernikahan kontrak semakin liar. Forum investor mulai berspekulasi bahwa pernikahan Arkan hanyalah strategi pengalihan isu.
Di ruang kerja kecilnya, Aluna mencoba fokus pada laporan keuangan sederhana yang diberikan padanya. Namun pikirannya terus kembali pada foto itu.
Kenapa ayahnya berada di lokasi proyek saat Arkan dan Cemalia bertengkar?
Dan kenapa ia memegang map yang sama?
Pintu diketuk pelan.
Kevin masuk dengan ekspresi formal seperti biasa.
“Nyonya, Pak Arkan sedang rapat. Beliau meminta Anda tidak keluar kantor hari ini.”
“Kenapa?”
“Untuk menghindari media.”
Aluna mengangguk, tapi matanya tidak lepas dari wajah Kevin.
Ia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Pak Kevin,” panggilnya sebelum pria itu keluar.
“Ya?”
“Lima tahun lalu… Anda sudah bekerja untuk Pak Arkan?”
Kevin tersenyum tipis. “Sudah. Sejak beliau menjabat sebagai direktur proyek.”
“Proyek Sentral Park?”
“Benar.”
Aluna memperhatikan perubahan kecil di matanya.
“Apakah Anda pernah melihat ayah saya di lokasi proyek?”
Pertanyaan itu membuat Kevin terdiam sepersekian detik terlalu lama.
“Saya tidak ingat semua kontraktor, Nyonya.”
Jawaban aman.
Terlalu aman.
Kevin pamit, meninggalkan Aluna dengan firasat tidak nyaman.
⸻
Sore menjelang ketika Arkan akhirnya kembali ke ruangannya.
“Kau bicara dengan Kevin tadi?” tanyanya tanpa basa-basi.
Aluna terkejut. “Bagaimana kamu tahu?”
“Dia melaporkan semua hal yang menurutnya mencurigakan.”
Aluna mengerutkan kening. “Termasuk pertanyaanku?”
“Ya.”
“Kenapa dia merasa itu mencurigakan?”
Arkan terdiam.
“Karena semua orang sedang gugup,” jawabnya akhirnya.
Aluna tidak sepenuhnya percaya.
“Apa kamu percaya pada Kevin?” tanyanya tiba-tiba.
Arkan menatapnya tajam. “Kenapa?”
“Karena kalau semua ini tentang arsip lama dan akses internal… orang dalam lebih berbahaya daripada mantan kekasih.”
Keheningan menggantung.
Arkan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kevin sudah bersamaku hampir sepuluh tahun.”
“Itu tidak menjamin apa pun.”
“Kau menuduhnya?”
“Aku hanya bilang jangan terlalu percaya.”
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, mereka berada di sisi yang sama bukan karena kontrak, tapi karena ancaman.
⸻
Malam tiba lebih cepat dari biasanya.
Gedung proyek Sentral Park berdiri gelap dan sunyi di bawah langit mendung.
Arkan turun dari mobil hitamnya. Dua mobil keamanan berhenti beberapa meter di belakang.
“Kau tunggu di mobil,” katanya pada Aluna.
Ia memaksa ikut meski Arkan sempat menolak.
“Tidak,” Aluna menggeleng. “Kalau ini tentang keluargaku, aku tidak akan bersembunyi.”
Arkan menatapnya lama, lalu menyerah.
“Tetap di dekatku.”
Mereka melangkah masuk ke gedung setengah jadi itu.
Suara langkah menggema di lantai beton kosong.
Lampu-lampu darurat menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding.
“Tempat lama,” gumam Aluna pelan.
Arkan berhenti di tengah ruangan besar yang dulu direncanakan sebagai lobi utama.
“Keluar,” suaranya menggema.
Beberapa detik tak terjadi apa-apa.
Lalu terdengar tepuk tangan pelan dari lantai atas.
Sosok wanita muncul di tangga beton.
Cemalia.
Gaun hitamnya berkibar ringan tertiup angin dari jendela yang belum terpasang kaca.
“Aku tahu kau akan datang,” katanya santai.
“Berhenti bermain,” jawab Arkan dingin. “Apa maumu?”
Cemalia tersenyum.
“Bukan aku yang memulai permainan ini.”
“Lalu siapa?”
Ia berjalan turun perlahan.
“Kau ingat malam itu?” tanyanya pelan. “Saat kita bertengkar di sini.”
Arkan terdiam.
“Aku mengatakan padamu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan proyek ini. Tapi kau terlalu sibuk menyelamatkan nama keluargamu.”
Aluna merasakan ketegangan meningkat.
“Apa maksudmu?” tanya Arkan.
Cemalia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari tasnya.
“Bukti transfer dana tambahan. Tidak tercatat dalam laporan resmi.”
“Siapa yang menandatangani?” suara Arkan menegang.
Cemalia menatapnya tajam.
“Namamu.”
Dunia terasa sunyi.
“Itu tidak mungkin.”
“Benarkah?” Cemalia tersenyum miring. “Atau mungkin kau menandatangani tanpa membaca detailnya?”
Arkan terdiam.
Ia memang sering mempercayakan detail teknis pada timnya saat itu.
“Dan ayah Aluna?” tanya Aluna pelan, suaranya nyaris pecah.
Cemalia menoleh padanya.
“Dia mencoba menghentikan sesuatu.”
“Apanya?”
“Transfer itu.”
Jantung Aluna terasa seperti diremas.
“Jadi Ayah tahu?”
Cemalia mengangguk pelan. “Dan seseorang memastikan suaranya tidak didengar.”
“Siapa?” Arkan melangkah maju.
Namun sebelum Cemalia sempat menjawab—
Suara tembakan terdengar dari luar gedung.
Kaca jendela yang belum terpasang pecah berkeping.
Petugas keamanan berteriak.
Arkan langsung menarik Aluna ke balik pilar beton.
“Apa yang terjadi?!” bisik Aluna panik.
Cemalia terlihat terkejut—dan untuk pertama kalinya, takut.
“Itu bukan orangku,” katanya cepat.
Suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah pintu belakang.
Beberapa pria berpakaian gelap masuk dengan wajah tertutup.
“Serahkan flashdisk itu!” teriak salah satu dari mereka.
Arkan berdiri di depan Aluna, melindunginya.
“Siapa kalian?”
Tak ada jawaban.
Salah satu pria itu mendekat cepat.
Situasi berubah kacau dalam hitungan detik.
Petugas keamanan mencoba masuk, tapi tembakan peringatan kembali terdengar.
Aluna merasakan tangannya ditarik.
Seseorang menariknya dari belakang.
“Luna!” teriak Arkan.
Ia berusaha meraih tangan Arkan, tapi cengkeraman pria bertopeng itu terlalu kuat.
Flashdisk terjatuh dari tangan Cemalia ke lantai beton.
Salah satu pria lain segera mengambilnya.
“Berhenti!” teriak Arkan, berusaha mengejar.
Namun suara pukulan keras terdengar.
Arkan terhuyung.
Dalam kekacauan itu, Aluna berhasil menggigit tangan pria yang menahannya dan berlari kembali ke arah Arkan.
Mobil-mobil hitam itu pergi secepat datangnya.
Keheningan kembali menyelimuti gedung.
Hanya suara napas terengah-engah yang tersisa.
Arkan berdiri dengan rahang berdarah tipis.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya pada Aluna.
Aluna mengangguk, masih gemetar.
Cemalia berdiri kaku beberapa meter dari mereka.
“Itu bukan rencanaku,” katanya pelan.
Arkan menatapnya tajam.
“Kau baru saja membuka pintu untuk sesuatu yang lebih besar.”
Cemalia menggeleng pelan. “Kau pikir aku cukup bodoh untuk membawa orang bersenjata?”
Arkan terdiam.
Karena jauh di dalam, ia tahu… Cemalia memang bukan tipe yang menggunakan kekerasan.
Berarti ada pihak ketiga.
Dan pihak itu baru saja menunjukkan dirinya.
Lampu gedung berkedip.
Angin malam masuk lebih kencang.
Di lantai beton tempat flashdisk tadi jatuh, tersisa sesuatu yang terinjak dan robek.
Selembar kertas kecil.
Aluna memungutnya dengan tangan gemetar.
Di atasnya tertulis satu kalimat pendek.
‘Berhenti menggali masa lalu, atau kau akan kehilangan lebih dari sekadar reputasi.’
Tapi bukan ancaman itu yang membuat napasnya terhenti.
Melainkan tanda tangan kecil di sudut bawah kertas itu.
Inisial.
K.W.
Aluna mengangkat pandangannya perlahan.
Kevin Wijaya.
Nama lengkap asisten pribadi Arkan.
Arkan melihat kertas itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—
Ia tampak benar-benar terguncang.
Karena jika inisial itu benar milik Kevin…
Maka pengkhianatnya bukan di masa lalu.
Melainkan selama ini berdiri tepat di sampingnya.
END BAB 7 🔥