Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Sebulan yang Mengubah Segalanya
...— ✦ —...
Surat itu datang pada hari Senin.
Bukan surat yang mengancam — hanya amplop putih biasa dengan kop sekolah di sudut kirinya, yang isinya undangan resmi untuk pertemuan dengan wali kelas Amethysta, Bu Ratna, pada hari Rabu pukul sepuluh pagi. Kalimatnya sopan dan netral, tidak memberikan petunjuk apakah pertemuan ini tentang sesuatu yang baik atau sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Kirana membacanya dua kali di meja dapur, lalu meletakkannya dengan hati-hati di sebelah kaktus kecil yang bunganya masih bertahan — gigih, seperti pemilik rumah yang memberikannya.
"Ada apa?" tanya Xavier dari arah pintu dapur. Ia baru turun, masih mengenakan kemeja yang belum dikancing penuh, kopi di tangan.
"Surat dari sekolah Amethysta." Kirana mendorong surat itu ke arahnya. "Pertemuan dengan wali kelasnya. Rabu."
Xavier membacanya, alisnya sedikit berkerut. "Kamu tahu tentang apa?"
"Belum." Kirana mengambil cangkir tehnya. "Tapi kita akan tahu Rabu."
...✦ ✦ ✦...
Amethysta tidak tahu tentang surat itu.
Kirana memutuskan untuk tidak memberitahunya dulu — bukan karena ingin menyembunyikan, tapi karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebelum ada yang jelas untuk dikhawatirkan. Ini perbedaan kecil tapi penting: Gwyneth yang lama mungkin akan menggunakan surat itu sebagai sumber tekanan, memastikan Amethysta tahu bahwa ada konsekuensi untuk apapun yang mungkin terjadi di sekolah. Kirana memilih yang sebaliknya.
Selasa berlalu seperti biasa. Amethysta pulang dengan cerita tentang Naira yang menemukan buku baru tentang galaksi spiral, tentang pelajaran seni yang memintanya menggambar "sesuatu yang membuatmu merasa aman" dan ia menggambar konstelasi Orion, tentang guru olahraga yang bilang larinya sudah lebih cepat dari bulan lalu.
Kirana mendengarkan semua cerita itu dengan perhatian yang tidak dibuat-buat. Dan malam itu, setelah Amethysta tidur, ia duduk di meja kerjanya dan menuliskan semuanya di selembar kertas — bukan untuk alasan apapun yang strategis, hanya karena hal-hal ini terasa seperti sesuatu yang layak dicatat. Momen-momen kecil yang, jika dibiarkan berlalu tanpa diperhatikan, akan hilang begitu saja.
Amethysta menggambar Orion ketika diminta menggambar sesuatu yang membuatnya merasa aman.
Kirana menatap kalimat itu lama sekali sebelum melanjutkan ke yang berikutnya.
...✦ ✦ ✦...
Bu Ratna adalah wanita lima puluhan dengan rambut yang mulai memutih di pelipis dan kacamata berbingkai bulat yang membuatnya tampak seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak hal untuk mudah terkejut.
Ia menyambut Kirana dan Xavier di ruang kelas yang kosong — hari Rabu, jam pelajaran pertama sudah mulai, dan anak-anak ada di lapangan untuk olahraga. Kursi-kursi kecil diatur menghadap meja guru, dan Kirana duduk di kursi yang dirancang untuk tubuh tujuh tahun dengan perasaan yang tidak sepenuhnya bisa ia deskripsikan.
"Terima kasih sudah datang," kata Bu Ratna. Nada suaranya hangat tapi terukur — nada orang yang sudah banyak berhadapan dengan orang tua murid dan sudah belajar membaca situasi sebelum bicara. "Saya minta bertemu bukan karena ada masalah. Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menurut saya penting untuk Bapak dan Ibu ketahui."
Kirana dan Xavier saling melirik sebentar.
"Amethysta," kata Bu Ratna, "adalah murid yang saya perhatikan sejak ia masuk kelas saya tahun lalu. Cerdas — sangat cerdas, sebenarnya. Kemampuan analisisnya di atas rata-rata untuk usianya." Guru itu meletakkan tangannya di atas meja. "Tapi tahun lalu, kecerdasannya itu seperti tersimpan di balik sesuatu. Ia menjawab kalau ditanya, mengerjakan tugas dengan baik, tapi tidak pernah mengajukan pertanyaan sendiri. Tidak pernah bicara di luar yang diperlukan."
Bu Ratna berhenti sejenak, mengatur kata-katanya.
"Bulan terakhir ini berbeda. Amethysta mulai mengajukan pertanyaan di kelas. Minggu lalu ia berdebat dengan saya tentang apakah manusia bisa bertahan hidup di Mars — dengan argumen yang lebih terstruktur dari yang saya harapkan dari murid kelas dua. Ia juga mulai berteman dengan Naira, yang sebelumnya ia hindari meski Naira sudah beberapa kali mencoba mendekatinya."
Xavier mendengarkan dengan ekspresi yang tidak berubah, tapi Kirana melihat rahangnya sedikit mengencang — bukan dari kemarahan, dari sesuatu yang lebih dalam dari itu.
"Kemarin," lanjut Bu Ratna, "dalam pelajaran seni, saya meminta anak-anak menggambar sesuatu yang membuat mereka merasa aman. Sebagian besar menggambar rumah, keluarga, hewan peliharaan." Guru itu membuka laci mejanya dan mengeluarkan selembar kertas. "Amethysta menggambar ini."
Ia meletakkan kertas itu di atas meja.
Gambar konstelasi Orion — lebih detail dari yang biasanya Amethysta buat, dengan garis-garis yang menghubungkan bintang-bintangnya dan nama-nama yang ditulis kecil di sampingnya. Di pojok kanan bawah, dengan tulisan yang lebih besar dari bagian lain gambar, Amethysta menulis: *Ini Orion. Dia pelindung. Mama yang bilang.*
Ruangan kecil itu sunyi selama beberapa detik.
Kirana menatap kertas itu. Tenggorokannya terasa penuh dengan sesuatu yang tidak punya nama.
"Saya tidak memanggil Bapak dan Ibu karena ada masalah," kata Bu Ratna lagi, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Saya memanggil karena saya ingin Bapak dan Ibu tahu bahwa apapun yang sedang terjadi di rumah — apapun yang berubah — terlihat dari sini. Dari cara Amethysta duduk di kelas. Dari cara ia mengangkat tangan sekarang. Dari cara ia menggambar pelindungnya." Guru itu menatap keduanya bergantian. "Dan saya ingin mengucapkan terima kasih. Karena perubahan seperti ini tidak terjadi sendiri."
...✦ ✦ ✦...
Mereka keluar dari sekolah dalam keheningan yang berbeda dari keheningan masuk tadi.
Di parkiran, Xavier berhenti di sisi mobil tanpa membuka pintunya. Ia menatap ke depan, ke arah pohon besar di ujung parkiran yang daunnya bergerak pelan dalam angin pagi.
Kirana berdiri di sisinya. Menunggu.
"Mama yang bilang," kata Xavier akhirnya. Mengulang kata-kata yang tertulis di pojok gambar Amethysta. Suaranya pelan dan berat dengan cara yang bukan kesedihan tapi sesuatu yang lebih kompleks — penyesalan dan syukur yang datang bersamaan, yang tidak tahu harus keluar sebagai apa.
"Ya," kata Kirana.
Xavier tidak berkata apa-apa lagi selama beberapa detik. Lalu ia menghela napas panjang — napas seseorang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan baru menemukan bahwa menyimpannya tidak lagi diperlukan.
"Aku tidak cukup hadir," katanya. Bukan tuduhan pada diri sendiri, hanya pernyataan yang diakui dengan tenang. "Selama ini. Aku tahu tapi aku memilih untuk tidak tahu."
Kirana menatap profil wajahnya. Rahang yang biasanya tegas, mata yang biasanya membaca situasi dari jarak yang aman, bahu yang biasanya tegak dengan cara yang tidak mengundang pertanyaan. Semua itu masih ada, tapi ada sesuatu yang berbeda di caranya berdiri hari ini — seperti seseorang yang sudah memutuskan bahwa berdiri tegak tidak harus berarti berdiri jauh.
"Kita berdua sedang belajar," kata Kirana. "Itu yang bisa dilakukan."
Xavier menoleh ke arahnya. "Kamu tidak marah?"
"Padamu?"
"Pada situasinya. Pada semua waktu yang terbuang."
Kirana memikirkan pertanyaan itu dengan jujur — bukan jawaban yang nyaman, tapi jawaban yang mendekati kebenaran. "Marah tidak mengubah waktu yang sudah lewat. Yang bisa diubah hanya yang ada di depan." Jeda kecil. "Dan yang ada di depan masih banyak."
Xavier menatapnya beberapa detik lagi. Lalu ia mengangguk — anggukan seseorang yang menerima bukan karena tidak punya pilihan, tapi karena memilih untuk menerima.
Ia membuka pintu mobil.
...✦ ✦ ✦...
Sore itu, Amethysta pulang dengan tas yang sedikit lebih berat dari biasanya — ada buku baru di dalamnya, pinjaman dari Naira tentang galaksi spiral yang rupanya sudah berpindah tangan.
Ia menemukan Kirana dan Xavier keduanya ada di rumah — sesuatu yang tidak biasa untuk hari Rabu, karena Xavier biasanya baru pulang setelah makan malam. Amethysta menatap mereka berdua bergantian dengan ekspresi yang waspada secara otomatis, refleks lama yang masih sesekali muncul ketika ada hal yang tidak sesuai pola.
"Ada apa?" tanyanya, berdiri di ambang ruang keluarga.
"Tidak ada yang buruk," kata Kirana cepat — karena ia tahu bagaimana membaca ketegangan di bahu kecil itu. "Kami pulang lebih awal hari ini. Itu saja."
Amethysta mempertimbangkan jawaban ini. Bahunya turun sedikit. "Oh."
"Tadi kami ke sekolahmu," kata Xavier. "Ketemu Bu Ratna."
Amethysta berkedip. "Aku berbuat salah?"
"Tidak." Xavier menepuk sofa di sebelahnya — undangan untuk duduk, bukan perintah. "Duduk dulu."
Gadis kecil itu duduk dengan hati-hati, tas masih di punggungnya. Xavier mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya — lipatan kertas yang ia minta pada Bu Ratna sebelum meninggalkan sekolah tadi — dan meletakkannya di meja kopi di depan Amethysta.
Gambar konstelasi Orion. Dengan tulisan di pojok kanan bawah.
Amethysta menatap gambarnya sendiri. Pipinya memerah sedikit — warna yang Kirana belum pernah lihat sebelumnya di wajah gadis kecil ini, warna yang lebih dekat ke malu yang hangat daripada malu yang takut.
"Bu Ratna kasih ke Papa?" tanyanya pelan.
"Bu Ratna menunjukkan ke kami," kata Xavier. "Dan kami minta boleh membawanya pulang."
Amethysta menatap gambar itu lagi. Jarinya menyentuh tepinya dengan pelan. "Aku gambar itu waktu disuruh gambar sesuatu yang membuat aku merasa aman." Ia mengangkat matanya ke Kirana. "Dan aku ingat yang Mama bilang. Tentang Orion. Bahwa dia pelindung."
Kirana tidak menjawab segera. Ia merasakan berat kata-kata itu — *aku ingat yang Mama bilang* — dan betapa ringan sekaligus beratnya menjadi referensi keamanan bagi seseorang.
"Kamu tidak apa-apa kalau kami tahu?" tanya Kirana akhirnya.
Amethysta berpikir sebentar — sungguhan berpikir, bukan sekadar mencari jawaban yang aman. Lalu ia menggeleng pelan. "Tidak apa-apa."
"Bagus." Xavier menyandarkan punggungnya ke sofa. "Karena gambarnya bagus. Lebih detail dari yang kamu tunjukkan ke aku minggu lalu."
Amethysta menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca sebentar. Lalu — perlahan, dengan cara yang masih hati-hati tapi tidak seperlahan dulu — sudut bibirnya terangkat.
"Karena yang aku tunjukkan ke Papa minggu lalu belum selesai," katanya. "Yang ini sudah."
...✦ ✦ ✦...
Malam itu mereka makan bertiga di meja makan — bukan di meja kecil dapur yang kasual, tapi di meja makan yang besar, dengan lilin yang Xavier nyalakan karena ia bilang *kenapa tidak* dan Amethysta setuju dengan antusias.
Percakapan mengalir tentang hal-hal ringan — buku Naira tentang galaksi spiral, proyek Xavier yang akan selesai minggu depan, tanaman baru yang Amethysta minta boleh ditanam di pot kecil di kamarnya.
"Tanaman apa?" tanya Kirana.
"Lavender." Amethysta mengambil nasinya. "Kak Seren bilang lavender baunya bagus untuk tidur. Dan aku suka baunya."
"Kamu ingat yang kamu bilang di taman?" kata Kirana. "Bahwa lavender baunya seperti tidur siang yang enak."
Amethysta berhenti mengambil nasi. Menatap Kirana. "Mama ingat itu?"
"Ingat."
Gadis kecil itu diam sebentar dengan ekspresi yang Kirana sudah mulai belajar membacanya — bukan ekspresi yang mudah dideskripsikan, tapi yang terasa seperti seseorang yang baru menyadari bahwa hal-hal yang ia katakan didengar dan disimpan, bahwa kata-katanya cukup penting untuk diingat.
"Oh," katanya akhirnya. Kecil. Tapi penuh.
Lilin di tengah meja berkedip pelan karena angin dari jendela yang sedikit terbuka. Di luar, langit sudah gelap sepenuhnya dan bintang-bintang ada di sana — sebagian dimakan cahaya kota, sebagian bertahan.
Kirana menatap meja makan ini — meja yang cukup besar untuk keluarga yang jauh lebih besar dari tiga orang, yang biasanya terasa terlalu luas dan terlalu formal, yang malam ini dengan lilin dan percakapan tentang lavender terasa persis seukuran yang dibutuhkan.
Sebulan.
Satu bulan sejak ia terbangun di tubuh yang bukan miliknya, di dalam cerita yang ia tulis sendiri, dengan akhir yang sudah ia tentukan dan yang sudah ia putuskan untuk tidak biarkan terjadi.
Satu bulan, dan Amethysta menggambar pelindungnya di kertas seni dan menuliskan nama ibunya di pojok kanan bawah.
Satu bulan, dan Xavier menyalakan lilin di meja makan karena *kenapa tidak*.
Satu bulan, dan rumah ini — rumah yang dalam novelnya selalu dingin dan indah dan tidak pernah benar-benar ditinggali — terasa seperti tempat yang orang-orangnya pulang dengan senang hati.
Mungkin,* pikir Kirana, sambil mengambil nasinya dan mendengarkan Amethysta berargumen bahwa lavender ungu lebih baik dari lavender putih karena warnanya lebih jelas, *mungkin ini yang dimaksud dengan mengubah alur.
Bukan mengubah satu momen besar yang dramatis. Tapi memilih, setiap hari, untuk menjadi seseorang yang berbeda. Sedikit demi sedikit. Sampai cerita yang terbentuk sudah tidak lagi mengenal akhir yang dulu pernah ditulis.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...