Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Gaun Zamrud dan Ujian Sang Ratu
Cahaya matahari sore yang berwarna jingga keemasan menyusup masuk melalui dinding kaca raksasa di lantai enam puluh, menciptakan bayangan panjang dari perabotan mewah di dalam ruang kerja CEO Mahendra Corp.
Nadin Kirana Mahendra duduk di balik meja kerja mahoninya. Matanya menatap tajam ke arah layar tablet raksasa yang menampilkan desain tiga dimensi dari pulau pribadi mereka. Selama dua bulan terakhir, proyek pulau itu telah menjadi fokus utamanya setelah desain struktural Menara Selatan memasuki tahap konstruksi yang stabil. Nadin sedang merancang sebuah resor privat bawah laut yang menyatu dengan tebing karang, sebuah konsep arsitektur yang sangat rumit dan membutuhkan perhitungan presisi tingkat tinggi agar tekanan air laut tidak menghancurkan struktur kaca pelindungnya.
Suasana di dalam ruangan itu sangat hening, hanya terdengar suara ketukan pelan dari pena digital Nadin yang menyentuh layar kaca tablet.
Di seberang ruangan, Gilang Mahendra sudah berhenti bekerja sejak setengah jam yang lalu. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, melipat kedua lengan di depan dada, dan menatap istrinya dalam diam. Gilang sangat menikmati pemandangan ini. Melihat Nadin mengerutkan kening karena berkonsentrasi, melihat bagaimana jemari lentik wanita itu bergerak lincah menciptakan mahakarya bernilai triliunan rupiah, adalah sebuah candu baru yang tidak bisa Gilang hentikan.
Gilang beranjak dari kursinya. Langkah kaki pria itu yang terbalut sepatu kulit buatan Italia tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas karpet tebal ruangan tersebut. Gilang berjalan memutari meja kerjanya dan menghampiri meja Nadin.
Pria itu berdiri tepat di belakang kursi Nadin, menundukkan kepalanya, dan menempelkan bibirnya ke sisi leher istrinya. Gilang memberikan satu kecupan yang sangat dalam, menghirup aroma wangi bunga lili dan vanila yang menguar dari kulit Nadin.
"Waktu kerjamu sudah habis, Nyonya Mahendra," bisik Gilang dengan suara bariton yang rendah dan bergetar di dekat telinga Nadin. Tangan besar Gilang meluncur ke bawah, menutupi layar tablet Nadin, memaksa wanita itu untuk menghentikan pekerjaannya. "Kau sudah duduk menatap layar itu selama lima jam berturut turut. Aku mulai merasa cemburu pada gambar bangunan mati itu."
Nadin tersenyum pelan, sebuah senyuman yang kini dipenuhi oleh kepercayaan diri dan kasih sayang yang mendalam. Dia meletakkan pena digitalnya dan menyandarkan punggungnya ke dada Gilang.
"Struktur kaca untuk teras bawah laut ini sangat menantang, Gilang. Aku harus memastikan ketebalannya mampu menahan tekanan arus bawah tanpa mengorbankan estetika pemandangan terumbu karang di luarnya," jelas Nadin. Wanita itu memutar kursinya setengah lingkaran agar bisa menatap wajah suaminya. "Tapi kamu benar. Mataku sudah mulai lelah."
Gilang menangkup wajah Nadin dengan kedua tangannya. Ibu jari pria itu mengusap lembut kantung mata Nadin yang sedikit menggelap karena terlalu banyak berpikir.
"Tinggalkan itu semua. Pulau itu tidak akan tenggelam hanya karena kau beristirahat satu malam," ucap Gilang mutlak. Pria itu menarik Nadin untuk berdiri. "Kita harus segera pulang ke penthouse. Malam ini adalah perayaan ulang tahun ke lima puluh Mahendra Corp. Acara puncaknya akan dilangsungkan di ballroom Hotel Grand Mahendra pada pukul delapan. Seluruh kolega bisnis, pejabat pemerintah, dan mitra internasional kita akan hadir."
Nadin menelan ludah pelan. Ini adalah pertama kalinya dia akan tampil di acara publik berskala raksasa sebagai istri sah Gilang Mahendra. Jika pada acara lelang beberapa bulan yang lalu dia hadir sebagai sebuah rahasia yang mengejutkan, malam ini dia akan hadir sebagai nyonya rumah yang sesungguhnya. Tekanan yang ada di pundaknya tentu jauh lebih besar.
"Apakah kamu sudah menyiapkan pakaianku untuk malam ini?" tanya Nadin, mencoba menyembunyikan sedikit rasa gugup di balik nada suaranya yang tenang.
Gilang tersenyum, sebuah seringai yang sangat posesif dan penuh perhitungan. "Tentu saja. Aku selalu memastikan ratuku mengenakan zirah yang paling sempurna."
Dua jam kemudian, di dalam ruang ganti penthouse yang mewah, Nadin berdiri terpaku menatap pantulan dirinya di cermin besar.
Gilang benar benar tidak pernah bermain main dengan seleranya. Gaun malam yang disiapkan oleh pria itu adalah sebuah mahakarya dari beludru sutra berwarna hijau zamrud yang sangat pekat dan gelap. Warna itu sangat kontras dengan kulit putih Nadin, membuat penampilannya terlihat luar biasa mahal dan memancarkan aura kekuasaan yang tidak terbantahkan.
Sama seperti gaun pengantinnya, gaun zamrud ini dirancang sangat tertutup di bagian depan, dengan kerah tinggi yang menutupi leher dan lengan panjang yang menempel ketat. Namun, ketika Nadin memutar tubuhnya, bagian punggung gaun itu memiliki potongan rendah yang memperlihatkan kulit punggungnya yang mulus, dihiasi oleh untaian rantai emas putih tipis yang menjuntai elegan. Ini adalah sebuah mahakarya yang meneriakkan dominasi dan keanggunan dalam waktu yang bersamaan.
Gilang melangkah masuk ke dalam ruang ganti, sudah mengenakan setelan tuksedo hitam pekat dengan kemeja putih tanpa cela. Pria itu membawa sebuah kotak beludru hitam di tangannya. Gilang berdiri di belakang Nadin, membuka kotak itu, dan mengeluarkan sebuah kalung bertahtakan batu zamrud raksasa yang dikelilingi oleh berlian murni.
Dengan gerakan yang sangat intim, Gilang melingkarkan kalung bernilai fantastis itu ke leher Nadin. Sensasi dingin dari logam dan batu mulia itu segera menyesuaikan diri dengan suhu tubuh Nadin.
"Sempurna," geram Gilang pelan di ceruk leher Nadin. Mata pria itu menyapu pantulan mereka berdua di cermin. "Malam ini, biarkan mereka semua melihat siapa yang berdiri di puncak rantai makanan kota ini bersamaku. Jangan pernah menundukkan kepalamu, Nadin. Kau adalah pemilik kerajaan ini sekarang."
"Aku tidak akan menunduk untuk siapa pun selain dirimu, Gilang," jawab Nadin mantap.
Tepat pukul delapan malam, mobil Maybach hitam mereka tiba di depan pelataran Hotel Grand Mahendra. Kilatan lampu kamera dari puluhan wartawan langsung menyambar nyaring bagaikan badai kilat. Karpet merah membentang panjang menuju lobi utama yang dihiasi oleh ribuan bunga anggrek putih yang langka.
Dimas membukakan pintu mobil. Gilang turun lebih dulu, merapikan kancing jasnya dengan satu tangan, lalu mengulurkan tangan kanannya ke dalam mobil.
Nadin menyambut uluran tangan suaminya. Begitu wanita itu melangkah keluar dari mobil, suara riuh dari para wartawan semakin meledak. Nadin menahan napasnya sejenak, menegakkan punggungnya, dan membiarkan senyum dingin yang sangat elegan terukir di wajahnya. Cengkeraman tangan Gilang di pinggangnya memberikan kekuatan yang luar biasa. Bersama sama, mereka melangkah menyusuri karpet merah bagaikan sepasang penguasa yang sedang melakukan inspeksi pada wilayah taklukan mereka.
Ballroom hotel itu dipenuhi oleh ratusan tamu undangan dari kalangan kelas atas. Ornamen emas, lampu kristal raksasa, dan alunan musik orkestra langsung menyambut kehadiran mereka. Begitu Gilang dan Nadin melangkah melewati pintu ganda, seluruh pandangan di ruangan itu serentak tertuju pada mereka. Percakapan terhenti, dan suasana berubah menjadi hening karena rasa segan yang sangat besar.
Sepanjang satu jam pertama, Nadin mendampingi Gilang menyapa beberapa menteri, duta besar, dan investor utama. Nadin berbicara dalam bahasa Inggris dan Prancis yang fasih, membalas setiap sapaan dengan kecerdasan yang membuat para tamu asing itu terpukau. Nadin bukan hanya sekadar pajangan yang cantik. Pengetahuannya tentang arsitektur global dan tren properti membuat para investor menyadari bahwa wanita ini memang pantas duduk di jajaran eksekutif Mahendra Corp.
Menjelang pukul sembilan, Gilang harus naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sambutan resmi perusahaan. Pria itu mengecup pipi Nadin singkat sebelum meninggalkannya di area meja VIP yang sedikit terpisah dari keramaian utama. Dimas dan dua pengawal berdiri di radius jarak aman untuk memastikan tidak ada bahaya yang mendekat.
Saat Nadin sedang menikmati segelas air putih murni, seorang wanita paruh baya dengan gaun bertahtakan payet emas berjalan menghampirinya. Wanita itu adalah Nyonya Helena, istri dari salah satu konglomerat pertambangan tertua di Indonesia. Nyonya Helena terkenal dengan mulut tajamnya dan sifat elitisnya yang sering merendahkan orang orang baru di kalangan sosialita.
Nyonya Helena berdiri di hadapan Nadin, mengamati gaun beludru zamrud dan kalung mahal yang dipakai Nadin dengan tatapan menilai yang sangat kentara. Di belakang Nyonya Helena, dua orang wanita sosialita lainnya berdiri mengekor, siap menyaksikan drama yang akan terjadi.
"Selamat malam, Nyonya Mahendra. Atau haruskah saya memanggil Anda Nona Kirana?" sapa Nyonya Helena dengan senyum yang sangat manis namun dipenuhi racun. "Kami semua sangat terkejut saat Tuan Gilang tiba tiba mengumumkan pernikahannya beberapa bulan yang lalu. Terutama saat kami mendengar latar belakang keluarga Anda yang, maaf jika saya salah bicara, sedang mengalami krisis finansial yang sangat parah akibat ulah ayah Anda."
Suasana di sekitar meja VIP itu mendadak menjadi sangat tegang. Beberapa tamu lain yang berada di dekat sana mulai memasang telinga, penasaran melihat bagaimana istri baru sang manusia es ini akan bereaksi terhadap hinaan terbuka tersebut.
Nadin meletakkan gelasnya di atas meja dengan gerakan yang sangat pelan dan terukur. Dia tidak memucat, tidak juga terlihat marah. Insting yang dia asah selama berbulan bulan berada di sisi Gilang kini mengambil alih sepenuhnya. Nadin menatap lurus ke dalam mata Nyonya Helena dengan sorot yang sangat dingin dan mematikan.
"Selamat malam, Nyonya Helena," balas Nadin dengan nada suara yang sangat tenang dan jernih, mengabaikan sama sekali sindiran awal wanita tua itu. "Saya mengerti mengapa Anda dan rekan rekan Anda merasa terkejut. Di kalangan lama seperti Anda, sebuah pernikahan biasanya didasari oleh penggabungan harta warisan atau perjodohan keluarga untuk menutupi kelemahan bisnis masing masing."
Nyonya Helena mengerutkan kening, senyum manis di wajahnya mulai luntur. "Apa maksud Anda?"
Nadin melangkah maju setengah langkah. Posturnya yang tinggi ditambah sepatu hak yang dia kenakan membuat Nadin sedikit menunduk untuk menatap Nyonya Helena, menciptakan dominasi fisik yang sangat mengintimidasi.
"Krisis adalah ujian terbaik untuk menyingkirkan orang orang lemah," lanjut Nadin, suaranya kini terdengar sangat tajam mengiris udara. "Mahendra Corp tidak dibangun dari warisan, melainkan dari kemampuan membaca peluang dan menciptakan kekuatan baru. Tuan Gilang melihat peluang terbesar di dalam diri saya. Saya tidak membawa harta warisan ke dalam pernikahan ini, Nyonya Helena. Saya membawa otak yang merancang ulang efisiensi struktur Menara Selatan dan menghemat anggaran perusahaan hingga dua triliun rupiah dalam satu kuartal."
Dua wanita sosialita di belakang Nyonya Helena menelan ludah mereka dengan sangat kasar. Angka dua triliun itu membuat mereka menyadari betapa berbahayanya wanita muda di hadapan mereka ini.
"Cinderella hanya duduk diam menunggu pangeran menyelamatkannya dari kemiskinan," Nadin menyimpulkan kalimatnya dengan sebuah senyuman sinis yang sangat mirip dengan milik suaminya. "Saya tidak menunggu diselamatkan, Nyonya Helena. Saya berdiri berdampingan dengan sang raja, dan kami membangun istana kami sendiri di atas puing puing orang orang yang meremehkan kami. Termasuk Wirawan Group yang mungkin Anda kenal baik. Saya harap Anda menikmati hidangan malam ini."
Wajah Nyonya Helena berubah menjadi semerah tomat karena menahan malu dan amarah yang tidak bisa dia luapkan. Menyerang istri Gilang Mahendra di acara perusahaannya sendiri adalah tindakan bunuh diri, apalagi setelah Nadin baru saja mengingatkan mereka semua tentang nasib tragis yang dialami oleh perusahaan Bastian Wirawan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Nyonya Helena membalikkan badannya dan berjalan pergi dengan langkah terburu buru, diikuti oleh dua ekornya yang ketakutan.
Suara tepuk tangan tunggal yang pelan dan berirama tiba tiba terdengar dari arah belakang Nadin.
Nadin menoleh. Gilang sudah berdiri di sana, beberapa langkah darinya. Pria itu baru saja turun dari panggung setelah menyelesaikan pidatonya dan tampaknya telah mendengarkan seluruh percakapan tajam barusan. Mata hitam Gilang menyala terang oleh kebanggaan yang sangat gelap dan gairah yang meledak ledak.
Gilang melangkah mendekati istrinya. Pria itu sama sekali tidak memedulikan ratusan pasang mata yang sedang menatap mereka. Gilang melingkarkan lengan kanannya di pinggang Nadin, menarik wanita itu hingga menempel rapat pada tubuhnya.
"Kau benar benar luar biasa," geram Gilang pelan di dekat telinga Nadin. Suaranya terdengar sangat parau. "Caramu menghancurkan kesombongan wanita tua itu membuatku nyaris tidak bisa menahan diriku untuk tidak menciummu di depan semua orang saat ini juga."
Nadin tersenyum tipis, merasakan kehangatan dari pelukan suaminya. Adrenalin akibat konfrontasi tadi masih mengalir deras di dalam darahnya, membuat tubuhnya terasa sedikit bergetar oleh euforia kekuasaan. "Mereka harus belajar bahwa Nyonya Mahendra bukanlah sebuah pajangan yang bisa mereka hina sesuka hati."
"Mereka sudah mempelajarinya malam ini," balas Gilang mantap. Pria itu menatap sekeliling ballroom dengan tatapan mengancam, seolah memberikan peringatan terakhir kepada siapa pun yang berniat mencoba mengusik ketenangan istrinya lagi.
Gilang kemudian menoleh kembali menatap Nadin. Hawa panas dari tubuh pria itu terasa semakin mendidih. "Tugas resmi kita malam ini sudah selesai. Aku tidak ingin berada di ruangan yang dipenuhi oleh orang orang munafik ini lebih lama lagi."
"Lalu kita mau ke mana?" tanya Nadin dengan nada yang sedikit menggoda, meskipun dia sudah tahu pasti apa jawaban dari pria itu.
"Kita pulang," putus Gilang tanpa keraguan sedikit pun. Pria itu memberikan isyarat kepada Dimas yang langsung bergerak cepat menyiapkan rute keluar yang aman untuk mereka berdua. "Ada perayaan pribadi yang jauh lebih penting yang harus aku lakukan bersamamu di penthouse malam ini."
Perjalanan pulang menuju penthouse terasa seperti kilat. Begitu mereka masuk ke dalam ruangan mewah yang kedap suara itu, Gilang tidak membuang waktu sedetik pun. Pria itu mengunci pintu utama, mematikan semua lampu utama hingga ruangan hanya diterangi oleh cahaya dari pemandangan kota di luar jendela kaca.
Gilang menarik Nadin ke dalam dekapannya, meraup bibir istrinya dengan ciuman yang sangat brutal, lapar, dan dipenuhi oleh pemujaan yang gila. Nadin menyambut ciuman itu dengan sama liarnya. Tangan Nadin meremas bahu jas Gilang, melengkungkan tubuhnya saat pria itu mulai menurunkan ritsleting gaun beludru zamrud yang dia kenakan.
Di tengah kegelapan dan kemewahan penthouse tersebut, tidak ada lagi bayang bayang masa lalu yang menghantui mereka. Nadin telah membuktikan dirinya layak memakai mahkota tak kasatmata yang diberikan oleh Gilang. Dan Gilang, sang penguasa yang dulu hanya mengenal kekejaman dan perhitungan bisnis, kini telah menemukan satu satunya kelemahan sekaligus kekuatan terbesarnya di dalam diri wanita yang sedang dia puja malam ini.
Penyatuan mereka malam itu bukanlah sekadar pelampiasan gairah, melainkan sebuah ikatan jiwa yang mengukuhkan posisi mereka berdua di langit kekuasaan kota Jakarta, bersiap menghadapi badai apa pun yang mungkin akan datang di masa depan dengan kekuatan yang tidak akan pernah bisa dihancurkan.
novel yg sangat bagus,tpi terasa buntuh dn kurang memuaskan, secara di putus di singkat alurnya,