Sejak lahir, Kasih sudah dianggap kesalahan.
Satu kakinya tak berfungsi sempurna.
Dan bagi Rani, ibunya, itu cukup untuk meruntuhkan semua mimpi tentang anak yang sempurna.
Kasih tumbuh di rumah yang sama—namun tak pernah benar-benar tinggal di dalam hati siapa pun.
Selain ayahnya.
Di mata sang ayah, Kasih adalah anugerah.
Namun kecelakaan malam itu merenggut satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat.
Sejak usia tujuh tahun, Kasih kehilangan segalanya.
Ia kehilangan pelindung.
Kehilangan suara yang membelanya.
Dan perlahan… kehilangan dirinya sendiri.
Ibunya semakin dingin.
Kasih sayang sepenuhnya jatuh pada Raisa—kakaknya yang cantik, sempurna, dan selalu menjadi kebanggaan keluarga.
Sementara Kasih hanya bayangan.
Beban.
Aib yang disembunyikan.
Bukan hanya kehilangan ayah, Kasih juga hidup dalam bayang-bayang trauma.
Suara klakson membuat jantungnya membeku.
Lampu kendaraan di malam hari membuat napasnya tersengal.
Duduk di dalam mobil terasa seperti menunggu maut datang kembali.
Setiap hari, ia mati-matian melawan ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.
Namun di usia tujuh belas tahun, seseorang hadir dan mengubah segalanya.
Edghan.
Ia tak melihat tongkat di tangan Kasih.
Tak melihat kekurangannya.
Tak melihatnya sebagai beban.
Ia melihatnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kasih merasa diterima.
Merasa cukup.
Merasa… pantas dicintai.
Tapi luka yang terlalu dalam tak pernah sembuh dengan mudah.
Akankah Kasih mampu berdiri tanpa rasa bersalah yang menghantuinya?
Akankah ia berani melawan trauma dan membuktikan bahwa dirinya bukan aib?
Dan ketika cinta datang… apakah itu cukup untuk membuatnya percaya bahwa ia layak bahagia?
Aku Bukan Anak Tiri adalah kisah tentang kehilangan, kecemburuan, trauma, dan perjuangan seorang gadis untuk mendapatkan satu hal yang paling sederhana—
dicintai tanpa syarat.
Karena terkadang, luka terbesar bukan berasal dari dunia luar…
melainkan dari rumah sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosanda_27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyek, Rahasia, Dan Rencana
Pagi datang dengan langit cerah di atas Sekolah Nusa Bangsa.
Namun suasana sekolah hari ini terasa berbeda dari biasanya.
Tidak ada guru yang berdiri di depan kelas.
Tidak ada buku pelajaran yang terbuka di meja.
Hari ini seluruh siswa kelas sebelas—baik IPA maupun IPS—tidak mengikuti pelajaran seperti biasa.
Sebagai gantinya, sekolah dipenuhi diskusi, perdebatan, dan suara siswa yang sibuk merancang ide.
Hari ini adalah hari pertama persiapan untuk Presentasi Proyek Inovasi Siswa.
Di berbagai sudut sekolah, para siswa terlihat berkumpul.
Sebagian berada di perpustakaan.
Sebagian lagi di koridor.
Ada juga yang duduk di lapangan sambil menggambar rancangan.
Di belakang sekolah—
terdapat sebuah taman kecil yang cukup tersembunyi.
Tempat itu tidak terlalu ramai karena tertutup oleh beberapa pohon besar.
Itu adalah tempat favorit kasih dan Dira
Di salah satu bangku taman, empat orang duduk mengelilingi meja kecil.
Kasih.
Dira.
Adiba.
Dan Abisar.
Mereka adalah satu kelompok.
Nama kelompok mereka:
Kelompok Horizon.
Nama itu dipilih oleh Dira karena menurutnya ide mereka harus “sejauh cakrawala”.
Di atas meja terdapat beberapa buku catatan, laptop milik Abisar, dan beberapa kertas penuh coretan ide.
Namun sejak hampir satu jam mereka berdiskusi
belum ada satu pun ide yang benar-benar mereka sepakati.
Abisar menghela napas panjang.
“Semua ide kita terlalu biasa.”
Adiba ikut bersandar di kursi.
“Robot penyiram tanaman sudah pernah dibuat.”
“Alat penghemat listrik juga sudah banyak.”
Dira menghela napas dramatis.
“Kalau begini kita bisa kalah sebelum mulai.”
Kasih yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajahnya.
Ia duduk sedikit lebih tegak.
Tongkatnya bersandar di samping bangku.
“Kalau kita membuat sesuatu yang benar-benar kita butuhkan?”
Ketiga temannya langsung menoleh.
Dira mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
Kasih memegang tongkatnya.
Lalu ia mengangkatnya sedikit.
“Seperti ini.”
Adiba memiringkan kepala.
“Tongkat?”
Kasih mengangguk pelan.
“Tongkat bantu jalan biasanya hanya digunakan untuk menopang tubuh.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Bagaimana kalau kita membuat tongkat yang lebih dari itu?”
Abisar mulai tertarik.
“Lebih dari itu bagaimana?”
Kasih menatap tongkatnya.
“Tongkat yang bisa membantu menjaga keseimbangan.”
“Tongkat yang bisa memberi peringatan jika penggunanya hampir jatuh.”
“Dan tongkat yang bisa mendeteksi rintangan di depan.”
Dira langsung mencondongkan tubuhnya.
“Seperti teknologi sensor?”
Kasih mengangguk.
“Kita bisa menambahkan sensor jarak.”
“Dan sistem getaran kecil di pegangan tongkat.”
Adiba langsung mencatat cepat di bukunya.
“Maksudmu kalau ada rintangan tongkatnya akan bergetar?”
Kasih tersenyum kecil.
“Iya.”
Abisar yang sejak tadi membuka laptop mulai mengetik sesuatu.
“Kalau kita tambahkan giroskop kecil…”
“Tongkat ini bisa membaca perubahan keseimbangan pengguna.”
Dira langsung menepuk meja kecil.
“Ini keren.”
Adiba mengangkat wajahnya dengan mata berbinar.
“Nama produknya sudah jelas.”
Ia tersenyum.
“Smart Balance Cane.”
Abisar mengangguk setuju.
“Cocok.”
Kasih menatap mereka bertiga.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu—
senyum kecil muncul di wajahnya.
Dira langsung berkata penuh semangat.
“Kalau ini berhasil…”
“Kita bisa masuk tiga besar.”
Abisar menoleh ke arah Kasih.
“Untuk presentasi nanti…”
“Kamu saja yang maju.”
Adiba langsung mengangguk.
“Kamu yang menemukan ide ini.”
Dira ikut tersenyum.
“Dan kamu paling mengerti cara menjelaskannya.”
Kasih sedikit terkejut.
“Aku?”
Namun mereka bertiga langsung mengangguk bersamaan.
Kasih terdiam beberapa detik.
Lalu akhirnya tersenyum tipis.
“Baiklah.”
Namun tanpa mereka sadari—
dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan mereka.
Di lantai dua gedung sekolah, Raisa berdiri di dekat jendela koridor, matanya menatap ke arah taman kecil, kearah Kasih.
Di tangannya terdapat sebuah tablet, di layar tablet itu terlihat daftar kelompok proyek siswa.
Nama Kelompok Horizon tercantum di sana.
Raisa tersenyum tipis.
“Jadi kamu ikut juga…” gumamnya pelan.
Namun senyum itu perlahan berubah dingin.
“Menarik.”
Ia sudah mengetahui tentang acara ini sejak beberapa hari lalu.
Dan sejak awal—
ia memang berniat memanfaatkannya.
Untuk satu hal, mengacaukan Kasih.
“Kalau kamu gagal di depan semua orang…”
bisiknya pelan.
“…akan sangat memalukan.”
Raisa mematikan layar tabletnya, lalu berbalik pergi.
Sementara itu—
di sisi lain sekolah.
Di dekat kantin.
Lima orang siswa laki-laki berjalan bersama.
Edghan
Riank
Candra
Farel
Dan Radit
Nama kelompok mereka:
Kelompok Orion.
Kelompok itu terdiri dari lima orang karena proyek mereka membutuhkan pembagian tugas yang lebih banyak.
Riank berjalan paling depan sambil membawa minuman dingin.
“Dua minggu bikin proyek?” Ia tertawa.
“Kenapa tidak sekalian dua tahun saja.”
Candra menggeleng.
“Kamu bahkan belum mulai berpikir.”
Riank menatapnya malas.
“Berpikir itu melelahkan.”
Farel tertawa kecil.
Radit yang sejak tadi membawa tablet berkata,
“Padahal idenya sudah jelas.”
Riank menoleh.
“Oh iya.”
Ia langsung mengingat.
Proyek kelompok mereka adalah:
Smart Market – Sistem Pasar Digital untuk UMKM Lokal.
Ide itu berasal dari Edghan.
Sebuah aplikasi sederhana yang dapat membantu pedagang pasar tradisional menjual barang mereka secara online dengan sistem pemesanan dan pengantaran yang mudah.
Sebagai siswa IPS, proyek mereka lebih fokus pada solusi bisnis dan ekonomi digital.
Farel bertugas membuat konsep bisnis.
Radit mengerjakan desain aplikasi.
Riank bagian promosi dan presentasi.
Candra membantu pengembangan sistem.
Dan Edghan menjadi koordinator proyek.
——————
Saat mereka masuk ke kantin—
empat orang dari arah taman juga masuk hampir bersamaan.
Kasih.
Dira.
Adiba.
Dan Abisar.
Dira yang berjalan paling depan langsung berhenti ketika melihat sekelompok siswa laki-laki di dekat meja minuman.
“Eh.”
Candra yang sedang berdiri bersama teman-temannya juga menoleh.
“Kalian?”
Riank langsung menyeringai lebar ketika melihat mereka.
“Wah.” Ia menepuk bahu Candra ringan.
“Ini yang namanya takdir.”
Dira memutar bola matanya.
“Takdir apanya.”
Riank tertawa kecil.
“Baru keluar kelas langsung ketemu lagi.”
Candra hanya tersenyum kecil ke arah Dira.
Senyum yang sedikit berbeda dari biasanya.
Namun perubahan kecil itu tidak disadari oleh siapa pun—setidaknya belum.
Di belakang mereka, Radit dan Farel hanya berdiri sambil menunggu.
Keduanya tidak terlalu ikut dalam percakapan.
Radit sibuk dengan ponselnya.
Farel mengambil minuman dari meja kantin.
Riank kemudian melirik ke arah Candra lagi.
Lalu kembali melihat Dira.
Senyum jahil muncul di wajahnya.
Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu
Candra lebih dulu berbicara.
“Dira.” Panggil candra
“Apa?” Jawab dira sambil mengangkat alis
Candra mengangguk ke arah pintu kantin.
“Bisa ikut sebentar?” Nada suaranya santai, namun cukup jelas.
Dira mengerutkan kening sedikit.
“Ngapain?”
Riank langsung ikut menyela dengan nada menggoda.
“Wah.”
“Ngobrol rahasia sepertinya.”
Dira langsung menatapnya tajam.
“Riank.”
Riank mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah.
“Oke, oke. Aku diam.”
Candra menahan senyum kecil.
“Ayo sebentar saja.”
Akhirnya Dira mendengus pelan.
“Baiklah.”
Ia menoleh sebentar ke arah Kasih.
“Aku keluar sebentar.”
Kasih hanya mengangguk tenang.
Dira kemudian berjalan keluar kantin bersama Candra.
Riank yang melihat itu langsung bersiul pelan.
Namun Radit sudah lebih dulu berjalan pergi.
“Aku ke kelas dulu.”
Farel juga ikut mengangkat minumannya.
“Aku juga.”
Keduanya keluar dari kantin tanpa banyak bicara.
Riank akhirnya menoleh ke arah Edghan.
“Aku ke taman belakang dulu.” Ia menunjuk keluar.
“Mau lihat kelompok lain panik cari ide.” Edghan hanya mengangguk singkat.
Riank kemudian berjalan pergi sambil bersenandung pelan.
Beberapa detik kemudian—
kantin yang tadi cukup ramai tiba-tiba menjadi jauh lebih sepi.
Adiba menutup buku catatannya.
“Aku dan Abisar ke perpustakaan dulu.” Abisar mengangguk setuju.
“Kita butuh referensi sensor.”
Kasih tersenyum kecil.
“Oke.”
Keduanya pun pergi meninggalkan kantin.
Dan akhirnya—
tinggallah dua orang di meja itu.
Kasih, dan Edghan.
Suasana kantin menjadi jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit yang lalu.
Beberapa siswa masih berlalu lalang di kejauhan, namun meja tempat mereka duduk terasa seperti memiliki ruangnya sendiri.
Kasih yang sejak tadi berdiri akhirnya duduk kembali di kursinya.
Edghan berdiri beberapa langkah dari meja, lalu ikut duduk di kursi di seberangnya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Kasih sebenarnya sedang memikirkan sesuatu sejak tadi.
Satu hal yang semalam sempat membuatnya bingung.
Ia akhirnya mengangkat wajahnya.
“Edghan.”
Laki-laki itu langsung menoleh.
“Iya?”
Kasih menatapnya dengan sedikit serius.
“Aku mau tanya sesuatu.”
Edghan mengangguk.
“Tanya saja.”
Kasih terdiam sebentar, lalu berkata pelan.
“Kemarin.”
Edghan sedikit mengerutkan kening.
“Kemarin?”
Kasih mengangguk.
“Waktu kamu mengantarku pulang.”
Edghan langsung terdiam.
Kasih melanjutkan dengan nada tenang.
“Sepanjang perjalanan… aku tidak pernah menyebutkan alamat rumahku.”
Kasih menatap Edghan lurus.
“Bahkan aku tidak memberi petunjuk arah.”
Edghan merasakan sesuatu di dalam dadanya langsung menegang.
Kasih melanjutkan,
“Tapi kamu langsung masuk ke gang rumahku.”
“Dan mobilmu berhenti tepat di depan halaman rumahku.”
Ia sedikit memiringkan kepalanya.
“Dari mana kamu tahu?”
Mendengar pertanyaan itu, Edghan langsung teringat sesuatu.
Ia baru menyadari satu hal yang tadi terlewat dari pikirannya.
Ia lupa.
Kemarin ia benar-benar ceroboh.
Seharusnya kemarin ia menanyakan alamat rumah kasih terlebih dahulu.
Namun saat itu pikirannya sama sekali tidak fokus.
Sejak Kasih duduk di kursi penumpang —
gadis itu jelas terlihat tidak baik-baik saja.
Wajahnya pucat.
Tatapannya kosong.
Kepala yang menunduk.
Tangan yang sesekali meremas samping roknya.
Dan sepanjang perjalanan pulang, Edghan lebih sibuk memperhatikan keadaan Kasih daripada memikirkan hal lain.
Karena itulah—
tanpa sadar ia langsung mengemudi menuju rumah Kasih.
Seolah itu sudah menjadi hal yang biasa baginya.
Padahal…
seharusnya ia tidak tahu alamat rumah gadis itu.
Baru sekarang ia menyadari kesalahannya.
Dan sekarang—
Kasih sudah menanyakannya.
Dalam beberapa detik—
Edghan benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Karena kebenarannya cukup sederhana.
Ia pernah mengikuti Kasih sebelumnya.
Tanpa sepengetahuan gadis itu.
Dan sekarang—
ia hampir ketahuan.
Edghan mengalihkan pandangannya sebentar.
Mencoba berpikir cepat.
Kalau ia salah menjawab—
Kasih pasti akan curiga.
Kasih masih menunggunya dengan sabar.
Beberapa detik berlalu, Edghan akhirnya berdeham pelan.
“Ah… itu.”
“Aku pernah lewat daerah sana sebelumnya.” Nada suaranya berusaha terdengar santai.
Kasih masih menatapnya.
Ekspresinya tenang, namun jelas sedang menilai jawaban itu.
Edghan melanjutkan cepat.
“Rumahmu cukup mudah dikenali.”
Ia mengangkat bahu sedikit.
“Rumah besar di ujung gang.”
“Dan kebetulan kemarin aku ingat pernah melihatnya.”
Kasih masih diam beberapa detik.
Tatapannya tidak berpaling dari wajah Edghan.
Edghan mulai merasa sedikit gugup.
Namun ia berusaha tetap terlihat tenang.
Akhirnya Kasih menghela napas kecil.
“Begitu.” Nada suaranya terdengar biasa.
Namun entah kenapa—
Edghan merasa gadis itu tidak sepenuhnya percaya.
Kasih kemudian berdiri perlahan sambil mengambil tongkatnya.
“Aku harus kembali ke taman.”
“Kelompokku masih menunggu.”
Edghan ikut berdiri.
“Iya.”
Kasih berjalan beberapa langkah.
Namun sebelum benar-benar pergi—
ia berhenti.
Lalu menoleh sedikit ke arah Edghan.
“Aku tidak suka dibohongi.” Nada suaranya tidak keras, namun cukup jelas.
Edghan terdiam, Kasih menatapnya sebentar lagi, lalu tersenyum kecil.
“Kalau suatu saat kamu mau mengatakan yang sebenarnya…”
“…aku akan mendengarkan.”
Setelah itu—
Kasih benar-benar pergi meninggalkan kantin.
Edghan tetap berdiri di tempatnya beberapa detik, tangannya masuk ke saku celana, Ia menghela napas panjang.
“Sepertinya…” gumamnya pelan.
“…dia tidak percaya sama sekali.”
Namun di sisi lain—
sudut bibirnya justru sedikit terangkat.
Karena satu hal menjadi semakin jelas baginya.
Kasih jauh lebih peka dari yang ia kira.
———————
Sementara di sisi lain sekolah
Candra membawa Dira keluar dari kantin.
Mereka berjalan menyusuri koridor samping gedung sekolah. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya sesekali ada beberapa siswa yang lewat.
Dira berjalan di sampingnya sambil melipat tangan di dada.
“Apa sih sebenarnya?” tanyanya akhirnya.
Candra tidak langsung menjawab. Ia terus berjalan sampai mereka berhenti di dekat pagar pembatas yang menghadap ke lapangan belakang sekolah.
Angin siang berhembus pelan.
Dira menatapnya dengan alis sedikit terangkat.
“Kamu bilang cuma sebentar.”
Candra menoleh ke arahnya.
Beberapa detik ia hanya menatap Dira tanpa bicara.
Tatapan itu membuat Dira sedikit salah tingkah.
“Kenapa lihat aku begitu?”
Candra akhirnya berkata pelan.
“Kangen.”
Dira langsung terdiam, wajahnya sedikit memerah.
“Kita kan selalu ketemu.”
Candra mengangkat bahu santai.
“Tidak apa-apa.” Ia menatap Dira lagi.
“Masih tetap kangen.”
Dira langsung memalingkan wajahnya ke arah lapangan.
“Kamu aneh.”
Candra tersenyum kecil.
“Baru tahu?”
Dira mencoba terlihat biasa saja, tapi sudut bibirnya tidak bisa menahan senyum.
Beberapa detik mereka hanya berdiri bersebelahan.
Lalu Candra tiba-tiba merogoh saku jaketnya.
“Aku sebenarnya mau kasih sesuatu.”
Dira menoleh lagi.
“Apa?” Tanya Dira
Candra mengeluarkan satu batang cokelat dari sakunya.
Cokelat itu masih terbungkus rapi.
Dira sedikit terkejut.
“Kamu beli cokelat?”
Candra mengangguk.
“Waktu perjalanan ke sekolah tadi.”
Dira tersenyum kecil.
“Kamu manis juga.”
Namun Candra tiba-tiba menghela napas panjang.
Ekspresinya berubah sedikit kesal.
“Harusnya ada tiga.”
“Harusnya?” Dira mengerutkan kening.
Candra menatap cokelat di tangannya dengan kesal.
“Aku beli tiga di Alfamart tadi pagi.”
Dira mulai menebak.
“Terus?”
Candra menghela napas lagi.
“Riank.”
Dira langsung tertawa kecil.
“Dia ambil?”
Candra mengangguk dengan wajah datar.
“Bukan diambil.”
“Tapi dirampas.”
Dira semakin tidak bisa menahan tawa.
“Aku sudah bilang jangan dibuka di depan dia.”
Candra mengingat kejadian tadi pagi.
Riank yang melihat kantong belanja kecil di tangan Candra langsung penasaran.
Belum sempat Candra mengatakan apa pun—
dua batang cokelat sudah berpindah tangan.
“Sebagai sahabat yang baik,” kata Riank waktu itu dengan santai.
Dan dalam hitungan detik—
cokelat itu sudah dimakan.
Candra masih ingat jelas wajah puas Riank saat itu.
Ia menggeleng kesal.
“Sahabat macam apa itu.”
Dira tertawa lagi.
“Riank memang begitu.”
Candra kembali melihat cokelat yang tersisa di tangannya.
“Untung yang satu ini aku sembunyikan.”
Ia kemudian menyodorkan cokelat itu ke Dira.
“Ini buat kamu.”
Dira menatap cokelat itu sebentar.
Lalu menerimanya dengan senyum kecil.
“Makasih.”
————————
Sementara itu—
di taman belakang sekolah.
Riank berjalan santai di jalur kecil yang dipenuhi batu pijakan. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara matanya sibuk memperhatikan beberapa kelompok siswa yang sedang berdiskusi.
Seperti yang ia katakan pada Edghan tadi—
ia memang datang ke sini hanya untuk
“melihat-lihat”. Atau lebih tepatnya…
melihat orang lain panik mencari ide.
Di salah satu bangku taman, dua siswa terlihat berdebat sambil menatap laptop.
“Kalau pakai panel surya?”
“Itu sudah biasa!”
Riank berhenti sebentar di belakang mereka.
Ia menahan tawa.
Lalu berjalan lagi.
Beberapa langkah kemudian ia melihat kelompok lain yang terlihat lebih kacau.
Beberapa kertas berserakan di meja.
Salah satu siswa bahkan memegang kepalanya frustasi.
Riank menggeleng pelan sambil bergumam sendiri.
“Tenang saja.”
“Kelompok kami juga belum benar-benar siap.”
Ia melanjutkan langkahnya.
Namun tiba-tiba—
“Ah—”
“HATCHI!”
Riank bersin cukup keras.
Ia berhenti berjalan.
Lalu menggosok hidungnya.
“Hah?”
Ia menoleh ke kiri dan kanan seolah mencari sesuatu.
Kemudian berkata dengan wajah curiga,
“Pasti ada yang lagi bahas aku.”
Ia menyipitkan mata.
“Atau gosipin aku.”
Beberapa siswa di bangku dekatnya melirik heran.
Riank tidak peduli.
Ia malah mengangguk yakin pada dirinya sendiri.
“Sudah pasti.”
Ia menunjuk ke arah udara seolah sedang menyimpulkan sesuatu.
“Refleks tubuh tidak pernah salah.”
Beberapa detik ia berpikir.
Lalu tiba-tiba ekspresinya berubah sedikit kesal.
“Jangan-jangan…” Ia menyempitkan mata.
“Candra.”
Riank mengingat sesuatu.
Pagi tadi.
Cokelat.
Ia menyeringai kecil.
“Jangan-jangan dia masih kesal karena cokelatnya aku ambil.”
Riank kemudian mengangkat bahu santai.
“Ah, sudahlah.”
“Namanya juga sahabat.”
Ia kembali berjalan santai menyusuri taman.
—————
Siang itu suasana sekolah masih dipenuhi oleh kelompok-kelompok siswa yang sibuk berdiskusi.
Di taman belakang sekolah, Kelompok Horizon kembali berkumpul setelah istirahat beberapa menit lalu, mereka melanjutkan pembahasan mereka tentang Smart Balance Cane.
Abisar sedang menunjukkan beberapa rancangan sensor di layar laptopnya.
Adiba mencatat pembagian tugas di buku.
Dira sibuk memberi komentar di setiap ide yang muncul.
Kasih duduk sedikit terpisah di bangku taman.
Tongkatnya berada di sampingnya.
Matanya memperhatikan teman-temannya yang sedang berdiskusi.
Namun pikirannya sudah beberapa langkah lebih jauh.
Ia sedang memikirkan bagaimana membuat proyek mereka benar-benar sempurna.
Tanpa mereka sadari—
di tempat lain seseorang juga sedang membicarakan hal yang sama.
Tepatnya di koridor lantai dua gedung sekolah.
Raisa berdiri bersandar di dekat jendela.
Kedua sahabatnya Fika dan Aulia, berdiri di hadapan Raisa.
Fika membuka ponselnya.
“Tadi aku dengar mereka diskusi di taman belakang.”
Aulia mengangguk.
“Iya.”
“Kelompok Kasih.”
Raisa tidak langsung menanggapi.
Tatapannya tetap mengarah ke luar jendela.
“Lalu?”
“Kami dengar idenya.” Ucap fika sambil tersenyum kecil.
Raisa akhirnya menoleh.
“Smart Balance Cane.”
“Tongkat pintar yang bisa mendeteksi rintangan dan menjaga keseimbangan.” Ucap Aulia melanjutkan dengan nada sedikit meremehkan.
Beberapa detik suasana menjadi sunyi.
Fika dan Aulia menunggu reaksi Raisa.
Namun yang terjadi justru—
Raisa tersenyum.
Senyum kecil yang perlahan muncul di wajahnya.
“Begitu ya…” gumamnya pelan.
Ia mengambil tablet dari tangannya.
Lalu membuka catatan kecil.
Matanya membaca sesuatu sebentar.
Kemudian ia menutup tablet itu kembali.
Senyumnya masih ada.
Namun kali ini—
senyum itu terlihat lebih tajam.
“Thanks infonya.” Fika dan Aulia saling melirik.
“Jadi… kamu akan melakukan sesuatu?” tanya Aulia penasaran.
“Belum.” Jawab Raisa sambil mengangkat kedua bahunya ringan.
Namun di dalam kepalanya—
sebuah rencana sudah mulai terbentuk.
Jika Kasih ingin membuat sesuatu yang sempurna…
maka ia hanya perlu melakukan satu hal.
Membuatnya gagal.
Dan Raisa tahu—
kegagalan di depan banyak orang bisa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kalah.
Ia menatap ke arah taman di kejauhan.
Ke arah tempat Kasih berada.
“Kasih…” gumamnya pelan.
Namun kali ini senyumnya terlihat jauh lebih dingin.
Sementara itu—
di taman belakang sekolah.
Diskusi Kelompok Horizon akhirnya hampir selesai.
“Oke.” Abisar menutup laptopnya.
“Kita sudah punya konsep dasar.”
Adiba mengangguk.
“Aku akan mulai membuat desain presentasinya nanti malam.”
Dira berdiri sambil meregangkan tubuhnya.
“Dan aku akan membantu mencari referensi teknologi sensornya.”
Mereka semua kemudian menoleh ke arah Kasih.
Karena pada akhirnya—
orang yang akan berdiri di depan panggung nanti adalah dia.
Kasih hanya tersenyum kecil.
“Tenang saja.”
“Dua minggu cukup.”