Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Setelah keluar dari reruntuhan, ketiganya langsung kembali ke Pulau Dewa Laut melalui portal yang masih terbuka samar. Udara pulau menyambut mereka dengan hembusan angin laut yang segar, seolah alam sendiri merayakan kemenangan. Peri Qing Yi sudah menunggu di dermaga paviliun utama, jubah biru-putihnya berkibar pelan, matanya penuh kebanggaan tapi juga kekhawatiran.
“Kalian kembali,” katanya lembut saat melihat ketiganya mendarat. “Dan aku bisa merasakan… kalian telah mengambil warisan utama. Kitab Dewa Laut Abadi.”
Bai Yue Chan langsung berlari memeluk Guru-nya, meski tubuhnya masih penuh luka dan kotor. “Guru! Kami menang! Kami ngalahin iblis tingkat dewa, rebut kitabnya, dan kabur dari 20 sekte sekaligus! Keluarga kami juara!”
Qing Yi tersenyum tipis, menyentuh kepala Yue Chan dengan lembut. “Aku tahu. Qi kalian sudah berubah. Jantung Nirwana… dan teknik Dewa Laut Abadi. Kalian bertiga luar biasa.”
Ling Chen membungkuk hormat, trisula masih di tangan. “Terima kasih atas bimbingan Guru. Tanpa pelatihan di sini, kami takkan bisa selamat.”
Qing Yi mengangguk. “Istirahat dulu. Luka kalian perlu disembuhkan. Malam ini, kita rayakan di aula utama. Besok pagi, kita bicara soal langkah selanjutnya… termasuk kembalimu ke dunia luar, Ling Chen.”
Mereka bertiga mengangguk, lalu berpisah sementara. Bai Yue Chan langsung dibawa ke ruang penyembuhan oleh murid senior, sementara Peri Qing Yi meminta Qing Lin dan Ling Chen untuk kembali ke paviliun kecil mereka—kamar bersama yang selama ini mereka gunakan sebagai tempat latihan dan istirahat.
Malam itu, paviliun kecil terasa lebih sunyi dari biasanya. Bai Yue Chan masih di ruang penyembuhan, dan Peri Qing Yi sedang mempersiapkan upacara kecil untuk merayakan. Ling Chen dan Qing Lin masuk ke kamar mereka, pintu ditutup rapat dengan segel qi sederhana.
Begitu pintu tertutup, suasana berubah.
Qing Lin menatap Ling Chen dengan mata yang lembut tapi penuh emosi yang tak terucap. Ritual di gua misterius telah meninggalkan bekas yang dalam—bukan hanya kekuatan, tapi juga ikatan tubuh dan jiwa yang tak bisa diabaikan lagi. Mereka berdua tahu, apa yang terjadi di reruntuhan bukan sekadar ritual suci; itu telah membuka sesuatu di antara mereka.
“Chen…” bisik Qing Lin, suaranya hampir bergetar. Dia mendekat, tangannya menyentuh dada Ling Chen pelan. “Aku… masih merasakan panasnya Jantung Nirwana. Setiap kali aku dekat denganmu, rasanya… seperti api dan air ingin menyatu lagi.”
Ling Chen menatapnya, ingatan Yue Yan melintas di pikirannya, tapi saat ini, di hadapan Qing Lin yang telah berjuang bersamanya, mati-matian melindunginya, dia tak bisa menyangkal apa yang terasa. “Qing Lin… aku juga. Kita sudah melewati terlalu banyak bersama. Aku tak ingin menyakitimu.”
Qing Lin menggeleng pelan, air mata tipis mengalir di pipinya. “Ini bukan pengkhianatan. Ini… bagian dari warisan. Dan bagian dari kita.”
Mereka berpelukan, lalu ciuman pertama terjadi—lembut pada awalnya, tapi segera menjadi lebih dalam. Jubah Qing Lin melorot pelan dari bahunya, memperlihatkan kulit putih mulus seperti mutiara laut yang baru dipoles ombak. Tubuhnya sempurna dalam segala hal: pinggang ramping yang melengkung indah seperti lekuk gelombang, perut rata dengan garis halus yang mengalir ke bawah, payudara penuh dan kencang yang naik turun seiring napasnya yang semakin cepat, serta paha mulus yang panjang dan proporsional, seolah dibentuk oleh dewa laut sendiri untuk menjadi lambang keanggunan dan kekuatan yin yang lembut.
Ling Chen tak bisa menahan tatapannya. Tangannya menyusuri punggung Qing Lin yang halus, merasakan setiap lekuk tulang belakang yang sempurna, lalu turun ke pinggul yang melengkung anggun. Qing Lin mengerang pelan saat jari-jari Ling Chen menyentuh kulitnya yang hangat, tubuhnya menempel lebih erat, payudaranya yang lembut menekan dada Ling Chen.
Jubah mereka jatuh sepenuhnya. Qing Lin mendorong Ling Chen ke tempat tidur dengan lembut, lalu naik ke atasnya. Tubuhnya yang telanjang terlihat sempurna di bawah cahaya samar lentera kristal—kulitnya bercahaya seperti mutiara basah, pinggangnya yang kecil kontras dengan pinggul yang lebar dan menggoda, serta lekuk dada yang penuh dan simetris, puncaknya merah muda lembut yang mengeras karena sentuhan udara malam. Dia membungkuk, rambut panjangnya terurai seperti air terjun hitam, menutupi sebagian wajahnya yang memerah.
“Chen… aku ingin merasakanmu lagi… seperti di gua itu,” bisiknya serak, tangannya menyusuri dada Ling Chen, lalu turun ke perutnya yang tegas.
Ling Chen membalas dengan mencium leher Qing Lin, turun ke tulang selangka yang halus, lalu ke dada yang sempurna itu. Bibirnya menyentuh puncak payudaranya yang kencang, membuat Qing Lin melengkungkan punggungnya dengan desahan panjang. Tubuh mereka bergerak selaras, pinggul Qing Lin bergoyang pelan di atas Ling Chen, menciptakan ritme seperti ombak yang menyapu pantai. Setiap gerakan membuat qi mereka menyatu lebih dalam, api dan air bercampur dalam ekstasi yang hangat dan tak terbendung.
Qing Lin mengerang lebih keras saat Ling Chen membalikkan posisi, menindihnya dengan lembut. Tubuhnya yang sempurna terbentang di bawahnya—kaki panjang yang melingkar di pinggang Ling Chen, pinggul yang naik turun mengikuti irama, dan wajah cantik yang memerah penuh kenikmatan. Mereka mencapai puncak bersama, tubuh saling menempel erat, qi meledak pelan seperti ombak yang pecah di karang, meninggalkan rasa damai yang mendalam.
Mereka tak sadar bahwa segel qi di pintu kamar sedikit melemah karena qi mereka yang melonjak.
Tiba-tiba, pintu terbuka pelan.
Bai Yue Chan berdiri di ambang pintu, matanya melebar karena kaget. Di belakangnya, Peri Qing Yi berdiri diam, ekspresinya tak terbaca.
“Yue… Yue Chan?” Qing Lin langsung menarik selimut, wajahnya memerah hebat, tubuhnya yang sempurna masih sedikit terlihat di balik kain tipis.
Bai Yue Chan terpaku sejenak, lalu tiba-tiba tertawa kecil, meski suaranya agak gemetar. “Aku… aku cuma mau kasih tahu kalau Guru bilang pesta mulai sebentar lagi. Tapi… kayaknya kalian lagi sibuk ya?”
Peri Qing Yi melangkah masuk pelan, auranya tetap tenang. Matanya beralih dari Qing Lin yang malu-malu ke Ling Chen yang langsung duduk tegak, menutupi tubuh Qing Lin dengan jubahnya.
“Guru…” kata Ling Chen, suaranya rendah dan penuh hormat. “Ini… bukan seperti yang kelihatannya.”
Qing Yi mengangkat tangan, menghentikan penjelasan. “Aku bukan buta, Chen. Aku bisa merasakan qi kalian sejak kalian kembali. Jantung Nirwana… ritual di gua itu telah mengikat kalian lebih dari sekadar saudara seperguruan. Dan aku tak akan menghakimi.”
Bai Yue Chan mendekat, duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk lututnya. Matanya sedikit berkaca-kaca, tapi senyumnya tetap ada. “Aku… aku nggak marah kok. Kalian berdua sudah berjuang bareng, mati-matian lindungi satu sama lain. Kalau ini bagian dari warisan… atau bagian dari kalian… aku terima. Keluarga kita tetap keluarga, kan?”
Qing Lin menangis pelan, memeluk Bai Yue Chan. “Maafkan aku, Yue Chan… aku tak ingin menyakitimu.”
Bai Yue Chan menggeleng, memeluk balik. “Bodoh. Aku senang kalian selamat. Dan… kalau kalian bahagia, aku juga bahagia. Tapi jangan lupain aku ya! Aku masih bagian dari keluarga ini!”
Peri Qing Yi tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu. “Cukup. Malam ini kita rayakan kemenangan kalian—dan ikatan baru yang terbentuk. Besok, kita bicara soal masa depan. Ling Chen… kau masih punya janji di dunia luar. Dan sekarang, kau punya lebih banyak alasan untuk kembali kuat.”
Ling Chen mengangguk, matanya penuh tekad. “Terima kasih, Guru. Dan terima kasih kalian berdua. Aku tak akan lupakan ini. Keluarga kita… selamanya.”
Malam itu, pesta kecil di aula utama paviliun berlangsung hangat. Tawa Bai Yue Chan menggema, Qing Lin duduk dekat Ling Chen dengan senyum malu-malu, dan Peri Qing Yi mengawasi semuanya dengan mata penuh kebijaksanaan.
Tapi di hati Ling Chen, api itu semakin membara. Yue Yan… aku akan kembali. Dengan kekuatan ini, dan dengan hati yang lebih kuat.