NovelToon NovelToon
PESONA PERAWAT IBUKU

PESONA PERAWAT IBUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...

"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Bandara internasional itu sudah mulai lengang ketika Selina akhirnya duduk di salah satu kursi tunggu, ponsel di tangannya bergetar pelan—bukan karena ada panggilan masuk, tapi karena jemarinya sendiri yang terlalu sering menekan layar.

Ia menatap nama Tama di layar.

Ditekan.

Menunggu.

Nada sambung berdering… lalu berhenti.

Tidak diangkat.

Selina mengerutkan kening. Ia mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Tetap nihil.

“Hm…” dengusnya pelan, setengah kesal, setengah heran. “Biasanya juga kamu langsung angkat.”

Ia bangkit, menyeret koper kecilnya keluar bandara. Udara kota menyambut dengan bau debu dan panas yang akrab—rumah. Tapi anehnya, rasa pulang itu tak seutuh yang ia bayangkan di pesawat.

Di dalam taksi, Selina kembali mengirim pesan.

Tama kamu di mana? Aku kangen.

Centang satu.

Tak kunjung berubah.

Rahannya mengeras. “Oke. Fine.”

Apartemen Teratai berdiri tenang, lampu-lampu lorong menyala dingin. Selina berjalan masuk dengan langkah cepat, hak sepatunya berdetak keras di lantai marmer.

Lift terbuka.

Dan di sanalah ia bertemu seseorang.

Seorang pria, tinggi, dengan kemeja kerja yang belum sempat dilepas dasinya. Wajahnya asing, tapi sorot matanya hangat, lelah, seperti seseorang yang juga baru pulang dari hari panjang.

“Oh... maaf,” kata pria itu refleks ketika hampir bertabrakan.

“Tidak apa,” jawab Selina singkat, tapi tatapannya tertahan sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.

Lift menutup. Sunyi menggantung.

“Kamu penghuni sini?” tanya pria itu, mencoba basa-basi.

“Harusnya,” jawab Selina setengah tersenyum. “Tapi malam ini… sepertinya aku cuma tamu.”

Pria itu tertawa kecil. “Kalau begitu, kita sama.”

Ada jeda. Bukan canggung... lebih ke kosong.

“Aku Selina,” katanya akhirnya.

“Brian.”

Nama itu meluncur ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang kemudian terasa berat.

Entah siapa yang lebih dulu mengusulkan minum. Entah siapa yang lebih dulu tertawa. Yang jelas, malam itu berakhir bukan di apartemen Teratai.

Kali ini, Selina membiarkan dirinya tidak memikirkan siapa pun selain dirinya sendiri.

****

Pagi datang pelan di rumah besar Bu Diana.

Cahaya matahari menembus tirai tipis, jatuh lembut di wajah wanita tua itu. Andita sudah berdiri di samping ranjang, senyum kecil terpasang, manset tensi di tangannya.

“Selamat pagi, Bu,” sapanya lembut.

“Hm,” Bu Diana mendengus, tapi kali ini tanpa nada menusuk. “Pagi.”

Andita memasang alat dengan cekatan. “Tidurnya nyenyak?”

“Lumayan,” jawab Bu Diana, lalu melirik. “Kamu enggak mimpi buruk lagi?”

Andita terkekeh kecil. “Tidak, Bu. Semalam tenang. Ibu tidak kecewa kan saya tidak mimpi buruk?”

Bu Diana mendekus.

Jarum tensi berhenti di angka yang stabil.

“Bagus,” gumam Andita. “Tekanan darah Ibu stabil.”

“Huh,” Bu Diana mendecak. “Berarti aku masih hidup.”

“Iya, Bu. Dan masih galak,” balas Andita ringan.

Bu Diana nyaris tersenyum. Nyaris.

Di luar, Tama berdiri di teras. Kemeja sudah rapi, jam tangan terpasang. Ia seharusnya berangkat kerja sepuluh menit lalu, tapi langkahnya tertahan ketika melihat dua sosok itu keluar ke halaman.

Andita mendorong kursi roda perlahan. Bu Diana duduk tegak, wajahnya menghadap matahari.

“Mau berjemur agak lama hari ini?” tanya Andita.

“Kalau kamu enggak cerewet,” sahut Bu Diana.

Andita tertawa.

Tama memperhatikan dari kejauhan. Ada sesuatu yang berbeda. Mamanya tidak mengomel. Tidak berteriak. Bahkan membiarkan Andita mengatur posisi kursi tanpa protes.

Ia mendekat.

“Pagi, Ma. Dit,” sapanya.

Andita menoleh, sedikit terkejut, lalu mengangguk sopan. “Pagi, Tuan.”

“Mama gimana?”

“Stabil,” jawab Andita cepat. “Pagi ini bagus.”

“Hm.” Tama mengangguk puas. “Bagus.”

Ia menatap mamanya. “Ma, aku berangkat kerja dulu.”

Bu Diana melirik sekilas. “Hati-hati di jalan.”

Tama terdiam sesaat, lalu tersenyum. “Iya, Ma.”

Sebelum pergi, Andita menyela, “Tuan, saya mau izin. Kalau nanti setelah berjemur, saya ajak Bu Diana keliling kompleks sebentar boleh?”

Tama menatap mereka bergantian. “Mama mau?”

Bu Diana mendengus. “Kalau aku jatuh, salahkan perawatmu ini.”

Andita terkekeh. “Siap tanggung jawab, Bu.”

“Baik,” kata Tama akhirnya. “Aku titip Mama ya, Dit.”

Lalu ia pergi. Tapi langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya.

****

Keliling kompleks pagi itu berjalan lambat. Sangat lambat.

Andita mendorong kursi roda seraya menunjukan beberapa taman bunga yang sedang mekar.

“Ternyata tempat ini banyak yang berubah,” gumam Bu Diana mengamati sekitar.

“Hmm, iya, Bu. Bagiku terlihat sama saja karena saat sampai sini ya sudah begini,” sahut Andita lembut. "Apa ibu punya kenangan di sini?"

"Punya lah."

"Apa itu tentang romantisme dengan suami Bu Diana?"

Bu Diana menoleh, "Kamu ini ikut campur sekali ya."

Mereka berhenti di bawah pohon besar.

“Dulu,” Bu Diana tiba-tiba bersuara, “Tama kecil sering jatuh di sini.”

Andita menoleh. “Iyakah, Bu?”

“Iya. Papanya suka marah kalau Tama nangis. Bilang laki-laki enggak boleh cengeng.”

“Anda marah ke Bapak?”

Bu Diana terdiam lama. “Tidak. Tapi malamnya, saya peluk Tama diam-diam.”

Andita tersenyum kecil. “Berarti Bu Diana sayang sekali.”

“Dulu,” ulang Bu Diana lirih. “Sekarang… entahlah.”

“Kita bisa mulai lagi, Bu. Pelan-pelan.”

Bu Diana menghela napas. “Kalau aku mau jalan lagi… apa masih mungkin?”

Andita berlutut di depannya, sejajar. “Kalau Ibu mau berusaha, saya yakin. Dengan terapi, pelan-pelan. Satu langkah dua langkah.”

Bu Diana menatapnya lama. Matanya berkilat.

“Kamu keras kepala.”

“Iya, Bu,” jawab Andita mantap. “Dan saya enggak akan menyerah sama Ibu.”

Ada rasa haru yang berbeda, tapi bu Diana masih enggak mengakuinya.

***

Siang itu, Bu Diana tertidur lebih cepat dari biasanya.

Andita duduk di ruang kecil, membuka catatan medis, ponsel di tangan. Ia menelepon dokter yang biasa menangani Bu Diana.

“Dok, saya mau konsultasi. Tentang kemungkinan terapi jalan…”

"Terapi?"

"Iya, untuk Bu Diana..."

Ia mendengarkan dengan serius, mencatat, bertanya. Wajahnya tegang tapi penuh harap.

***

Di sisi lain kota, Selina terbangun di kamar asing.

Ia duduk tegak, selimut jatuh dari bahunya. Raka masih tertidur di sisi lain ranjang.

Selina menatap langit-langit, lalu berdiri cepat. Ia mengambil tasnya, merapikan diri tanpa suara.

Di depan cermin, ia menarik napas panjang.

“Apa yang aku lakukan…” gumamnya.

Tanpa menoleh lagi, Selina pergi.

Langsung menuju kantor Tama.

Tama sedang berdiri di dekat jendela kantornya ketika pintu terbuka tanpa ketukan.

“Tam...”

Suara itu membuatnya membeku.

Ia menoleh perlahan.

“Selina?”

Wanita itu berdiri di sana. Nyata. Rambutnya sudah rapi, senyumnya mengembang.

“Kamu…” Tama berdiri. “Bukannya kamu masih di luar negeri?”

Selina tersenyum kecil, getir. “Harusnya iya. Tapi ternyata aku pulang.”

Tama tidak tahu harus berkata apa.

"Aku... Enggak kuat nahan kangen, Tam..."

Selina mendekat dan memeluk kekasihnya...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lilis Yuanita
lnjut
Cinta_manis: makasih kak😍
total 1 replies
partini
wkwkkwwk stres tu tama
Cinta_manis: 🤣🤣🤣🤣 tuh
total 1 replies
Manis
huuuhhh akal akalan Tama aja tuh
Cinta_manis: 🤣🤣 bisa jadi kak
total 1 replies
Lilis Yuanita
jgn2 modus
Cinta_manis: 🤣🤣🤣🤣macam tau aja
total 1 replies
Lilis Yuanita
lnjut bikin gemes
Cinta_manis: makasih Kak 🥰
total 1 replies
sunaryati jarum
Katanya tidak lihat kok , malah bilang paka i....🤣🤣🤭
sunaryati jarum
Kepikiran kan ,tak perlu malu mengakui tertarik pada Dita .Jika begitu mengakui pada diri sendiri dulu
Mama lilik Lilik
🤣🤣🤣jujur tama
Meliandriyani Sumardi
hadir kak..baru sempet soalnya...
Lilis Yuanita
mau bilng suka tp gengsi
Cinta_manis: 😄😄😄 iya tuh
total 1 replies
sunaryati jarum
Aduh Diana kenapa ditanyain, seharusnya dari gelagatnya sudah dapat ditebak
Cinta_manis: iya, ya kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Suka
Cinta_manis: makasih bintang 5 nya kak. 🥰 sehat2 terus dan diberkahi ya😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Sepertinya Bu Diana kerjasama dengan Dokter Eros untuk membuat zTama cemburu
Cinta_manis: yeeeyyy. makasih komennya kak🥰
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Diana pandai juga mengerjai Tama putranya, kemarin menentang dinikahkan dengan Dita.Namun sekarang mulai tertarik.
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 ibu emang yang paling tau anaknya
total 1 replies
sunaryati jarum
Kau tidak akan pergi sepertinya Tama mulai memikirkan tawaran ibumu
Cinta_manis: 🥰🥰🥰 sepertinya ya kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Bagaimana Tama, sekarang agar kau punya bukti kui untuk memutuskan hubungan kamu dengan Selina cari orang untuk mencari banyak bukti jika Selina sudah terbiasa berhubungan intim dengan banyak pria.
Cinta_manis: makasih udah ninggalin komennya kak😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah gitu firasat Bu Diana ternyata tidak salah.Ini di negeri sendiri di luar negeri kaya apa, Selina.
Cinta_manis: 🤧🤧🤧 nah
total 1 replies
sunaryati jarum
Sampai ke luar negri cuma ngobral diri.Tama suruh orang kepercayaan untuk membututi pacarmu Selena,, sepertinya mudah dipakai banyak orang,macam toilet umum 🤣🤣🤣🤭
Cinta_manis: waduuhh kaka🤧
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!