Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
BAB 7
PERISAI DI BALIK JEDDAH
Suasana di restoran fine dining bertema kolonial itu terasa begitu eksklusif hingga suara denting sendok perak pun terdengar seperti simfoni yang mahal. Adrian Aratama duduk dengan kaki bersilang, menyesap segelas air mineral dengan lemon, sementara di depannya duduk Baskoro, seorang investor properti veteran yang memiliki pengaruh besar di konsorsium "Green Oasis".
Di samping Adrian, Aisha duduk dengan tenang. Kehadirannya di tempat ini seperti sebuah sapuan tinta hitam di atas kanvas putih yang steril. Ia tidak menyentuh hidangan pembuka yang disajikan, hanya duduk dengan punggung tegak, memegang buku catatan kecilnya.
Baskoro meletakkan garpunya, lalu menyandarkan tubuh tambunnya ke kursi. Ia menatap Aisha dari bawah kacamata emasnya dengan tatapan yang terang-terangan menghina.
"Adrian," suara Baskoro berat dan penuh otoritas. "Aku sudah melihat revisi desain untuk sektor utara. Memang hebat. Tapi aku baru tahu kalau arsitek yang kau sewa adalah... seseorang yang sangat 'tradisional'."
Adrian hanya mengangkat sebelah alisnya. "Secara teknis, dia adalah yang paling progresif di tim ini, Baskoro."
"Progresif?" Baskoro tertawa pendek, suaranya parau. "Bagaimana mungkin seseorang yang menutupi wajahnya bisa dibilang progresif? Maaf saja, Nona... siapa tadi? Aisha? Di duniaku, kita berbisnis dengan manusia, bukan dengan bayangan. Aku butuh seseorang yang bisa menjamu klien internasional, seseorang yang wajahnya bisa dipajang di majalah bisnis sebagai representasi kesuksesan proyek kita. Bukan seseorang yang terlihat seperti sedang bersiap untuk upacara pemakaman."
Udara di meja itu mendadak membeku. Sarah, yang duduk di meja sebelah untuk mencatat, tampak menahan napas.
Aisha tetap tenang, meski jemarinya sedikit mengetat pada pulpennya. Namun, sebelum ia sempat membuka suara, Adrian sudah mendahuluinya.
"Pilihan busananya bukan bagian dari kontrak investasi kita, Baskoro," ucap Adrian dingin. Suaranya rendah, namun memiliki getaran yang membuat Baskoro sedikit tersentak.
"Oh, ayolah Adrian. Jangan naif. Branding itu segalanya," balas Baskoro ketus. "Bayangkan saat peresmian nanti. Investor dari Singapura dan Dubai akan bingung. Mereka akan mengira kita mempekerjakan staf keamanan ekstra, bukan arsitek utama. Kenapa kau tidak minta dia membuka kain itu? Toh, di sini privat. Atau kau malu karena mungkin wajah di baliknya tidak seindah desainnya?"
Baskoro tertawa sendiri atas leluconnya yang hambar.
Adrian meletakkan gelasnya ke meja dengan dentuman yang sedikit terlalu keras. Ia memutar tubuhnya menghadap Baskoro sepenuhnya. Mata elangnya kini berkilat tajam.
"Baskoro, aku membayar Aisha untuk kapasitas otaknya yang mampu menghitung beban lateral gedung setinggi 50 lantai dalam hitungan menit, bukan untuk menjadi pajangan di majalahmu," kata Adrian dengan nada yang sangat datar, namun menusuk. "Dan jika kau punya masalah dengan visual arsitekku, itu artinya kau sedang meragukan seleraku. Dan meragukan seleraku adalah cara tercepat untuk membuatku menarik seluruh saham Aratama dari portofoliomu."
Tawa Baskoro terhenti. Wajahnya memerah. "Kau mengancamku demi seorang wanita bercadar?"
"Aku membela investasiku," koreksi Adrian. "Dan saat ini, aset paling berharga dalam proyek ini ada di kepala Aisha. Jika kau tidak bisa membedakan antara kompetensi dan kain penutup wajah, mungkin kau sudah terlalu tua untuk bisnis ini. Mungkin kau butuh pensiun agar bisa lebih banyak melihat wajah-wajah yang kau suka di panti jompo."
Aisha menoleh ke arah Adrian. Ada kilatan keterkejutan di matanya. Pria skeptis ini, yang biasanya menyerangnya dengan logika dingin, baru saja melontarkan sarkasme yang cukup kejam untuk membelanya.
Baskoro mendengus, bangkit berdiri dengan kasar. "Kita bicarakan lagi ini saat kepalamu sudah dingin, Adrian. Dan Nona... saran saya, carilah pekerjaan di tempat yang tidak butuh cahaya matahari."
Setelah Baskoro pergi dengan langkah menghentak, keheningan yang canggung menyelimuti meja. Adrian kembali menyesap minumannya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Anda tidak perlu melakukan itu, Pak Adrian," suara Aisha memecah keheningan. "Saya sudah terbiasa menghadapi orang seperti Pak Baskoro."
"Aku tidak melakukannya untukmu," dusta Adrian cepat, matanya menatap ke arah jendela. "Dia menghina proyekku dengan meragukan pilihanku. Itu masalah ego, bukan altruisme."
Aisha terdiam sejenak, lalu sedikit memiringkan kepalanya. "Membela ego dengan cara mengancam menarik saham? Itu cara yang sangat mahal untuk sebuah harga diri."
Adrian menoleh, menatap mata Aisha. "Dunia ini dingin, Aisha. Orang-orang seperti Baskoro tidak butuh ayat suci atau kesabaran. Mereka butuh ancaman finansial. Itu satu-satunya bahasa yang mereka mengerti."
"Dan Anda sangat fasih dalam bahasa itu," gumam Aisha.
"Itu bahasa ibu saya," sahut Adrian dengan senyum tipis yang tampak masygul.
Tiba-tiba, Adrian mencondongkan tubuhnya ke arah Aisha. Jarak mereka kini hanya terpaut tiga puluh sentimeter. Aisha secara refleks menarik tubuhnya sedikit ke belakang, namun kursi restoran yang empuk membatasi geraknya.
"Tadi dia bilang kau terlihat seperti sedang bersiap untuk pemakaman," bisik Adrian, suaranya tiba-tiba berubah menjadi serak dan intens. "Katakan padaku, apakah di balik kain ini kau sedang menertawakan betapa buruknya caraku membelamu? Atau kau sedang merasa menang karena sang CEO skeptis ini baru saja menjadi pahlawanmu?"
Aisha menatap mata Adrian yang gelap dan dalam. Ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang bisnis atau agama. Ada sesuatu yang bersifat magnetis, yang menarik sekaligus menakutkan.
"Saya tidak merasa menang, Pak," jawab Aisha pelan, suaranya sedikit bergetar. "Saya hanya merasa... heran. Seseorang yang mengaku tidak percaya pada hal-hal yang tidak terlihat, justru membela sesuatu yang tidak bisa dia lihat sama sekali."
Adrian mendengus kecil, sebuah tawa kering. "Kau benar-benar pandai memutarbalikkan logika, ya?"
Adrian memperhatikan bercak debu kecil di cadar Aisha, dekat bagian pipi. Tanpa sadar, tangannya bergerak naik. Ia ingin menyentuhnya, atau mungkin hanya ingin merasakan tekstur kain yang selalu menjadi penghalang baginya.
Aisha membeku. "Pak Adrian..."
Tangan Adrian berhenti hanya beberapa sentimeter dari wajah Aisha. Ia tersadar. Dengan gerakan canggung yang ia tutupi dengan memperbaiki letak dasinya, ia menarik tangannya kembali.
"Ada... ada noda debu di sana. Sangat tidak presisi," dalih Adrian, kembali ke mode dinginnya yang biasa.
Aisha meraba bagian yang dimaksud Adrian. "Terima kasih informasinya. Saya akan membersihkannya di toilet."
"Jangan lama-lama," kata Adrian sambil melihat jam tangannya. "Kita punya waktu sepuluh menit sebelum rapat berikutnya. Dan Aisha?"
Aisha yang baru saja hendak berdiri, berhenti. "Ya?"
"Lain kali, jika ada orang yang menghinamu lagi seperti itu... jangan hanya diam. Gunakan otak cerdasmu itu untuk membuat mereka merasa bodoh. Jangan biarkan aku melakukan semua pekerjaan kotornya sendirian."
Aisha menatap Adrian lama. "Saya diam bukan karena takut, Pak. Saya diam karena saya sedang menghitung berapa detik yang dibutuhkan Pak Baskoro untuk menyadari bahwa tanpa saya, gedungnya akan runtuh dalam simulasi gempa skala 7 Richter. Saya tidak butuh kata-kata untuk membalasnya."
Adrian tertegun sejenak, lalu sebuah tawa pendek yang tulus—bukan tawa sinis—lepas dari bibirnya. "Kau lebih kejam dariku, ternyata."
"Saya menyebutnya 'efisiensi emosi', Pak. Sama seperti sistem ventilasi di gedung kita," balas Aisha dengan nada yang terdengar hampir seperti bercanda.
Aisha berjalan menuju toilet dengan langkah anggun. Adrian menatap punggungnya, lalu beralih ke kursi kosong di depannya. Ia baru saja menyadari sesuatu yang sangat mengganggu: ia menyukai cara Aisha membalas ucapannya. Ia menyukai ketenangan yang menyimpan bara itu.
"Efisiensi emosi, ya?" gumam Adrian sendiri. Ia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu untuk Sarah.
Sarah, batalkan semua pertemuan Baskoro dari jadwal grup. Dan kirimkan bunga anggrek putih ke rumah Aisha Humaira atas nama perusahaan. Bilang itu 'Bonus Penanganan Klien Sulit'.
Ia berhenti sejenak, lalu menghapus kalimat terakhir.
Jangan bilang dari perusahaan. Bilang saja itu untuk menghias ruang kerjanya yang suram.
Adrian menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit restoran. Ia tahu ia sedang melakukan hal bodoh. Memberi bunga pada wanita yang bahkan tidak ingin menunjukkan wajahnya adalah tindakan yang tidak logis bagi seorang pria yang memuja rasionalitas. Tapi saat ini, logika Adrian sedang mengalami error sistem yang cukup parah, dan anehnya, ia tidak terburu-buru untuk memperbaikinya.
"Sial," umpatnya pelan sambil tersenyum tipis. "Gedung ini belum berdiri, tapi aku merasa fondasiku sendiri sudah mulai retak."