Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Sesuatu yang berbeda.
Leonel duduk di ruang OSIS yang lengang. Keheningan ruangan itu biasanya menjadi tempat persembunyian favoritnya dari segala hiruk-pikuk sekolah, namun kali ini, keheningan itu justru terasa bising oleh gema suara satu orang.
Wajahnya yang biasanya setenang permukaan telaga di pagi hari, kini menunjukkan riak yang tidak biasa. Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah senyuman langka yang ia sembunyikan dari dunia. Ia menggeleng pelan, seolah sedang menghakimi kekonyolan yang baru saja terjadi, namun semburat merah di wajahnya justru semakin mengkhianati ketenangannya.
Kalimat itu terus terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak sejak mereka meninggalkan taman.
"Dan ketiga, ini yang paling penting, mencetak sebelas pemain inti kesebelasan anak-anak kami ditambah manajer tim, agar rumah kami selalu ramai seperti stadion!"
Mengingat bagaimana Aira berdiri tegak dengan mata berbinar penuh keyakinan saat mengucapkan kalimat itu, Leonel benar-benar tak habis pikir. Gadis itu tidak hanya berani bermimpi, tapi dia berani mempermalukan dirinya sendiri di depan seluruh angkatan demi sebuah visi misi yang tidak masuk di akal sehat mana pun.
"Sebelas pemain..." gumam Leonel sangat pelan, suaranya nyaris hilang ditelan udara.
Ada getaran aneh di dadanya, sesuatu yang hangat sekaligus menggelitik. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku seragamnya. Buku yang biasanya berisi catatan rumus-rumus rumit itu kini terbuka di halaman kosong.
Ponsel yang terletak di atas meja kayu ruang OSIS itu bergetar pelan, memecah keheningan yang baru saja ia nikmati. Sebuah notifikasi muncul di layar, nama yang sama, pengirim yang sama, dan tentu saja dengan antusiasme yang sama. Aira.
Leonel menghela napas. Rasanya baru beberapa menit yang lalu gadis itu membuat seluruh angkatan gempar dengan orasi sebelas pemain inti di taman belakang, tapi sekarang dia sudah kembali meneror dengan pesan-pesan absurdnya. Seperti ritual harian, Leonel hanya membacanya melalui bilah notifikasi, ia tidak ingin Aira besar kepala karena pesannya langsung mendapatkan tanda centang biru dalam hitungan detik.
"Selamat siang pak dokter!" pesan pertama masuk, memicu sudut bibir Leonel berkedut tipis tanpa ia sadari.
Namun, pesan berikutnya membuat dahi Leonel berkerut dalam. Ekspresinya yang santai mendadak berubah serius.
"Tolongin dong, aku sakit perut, El..."
"Aku di toilet, bisa tolong beliin pembalut nggak? ughhh sakit banget!"
Leonel terdiam sejenak. Otak medisnya langsung bekerja, membayangkan rasa sakit yang mungkin sedang dirasakan gadis itu. Tanpa berpikir dua kali, ia menyambar kunci motor dan bangkit berdiri hingga kursinya sedikit bergeser kasar.
Langkahnya yang biasanya tenang kini berubah menjadi tegap dan tergesa-gesa. Ia mengabaikan Nando dan Rizky yang baru saja akan masuk ke ruangan. Tujuannya hanya satu, area parkir. Dengan gerakan cepat, ia memacu motornya keluar dari gerbang sekolah, membelah jalanan hanya untuk memenuhi permintaan absurd namun darurat dari gadis yang baru saja menyatakan visi-misi hidup bersamanya itu.
.
.
.
Di dalam bilik toilet yang sempit, Aira hanya menatap layar ponselnya lalu mendengus pelan, sebuah tawa getir terselip di sana. "Alah, berharap dia membacanya gitu? Mimpi kamu, Aira!" ujarnya dengan senyum lebar, selebar harapannya pada sosok dingin yang sialnya selalu berhasil membuatnya jatuh cinta setiap harinya.
Chat yang ia kirim ke Leonel masih setia dengan status centang dua abu-abu. Pemandangan biasa yang selalu ia dapatkan, namun entah kenapa kali ini rasa sesaknya lebih terasa karena perutnya yang benar-benar melilit.
Bersamaan dengan itu, sebuah notifikasi WhatsApp dari nomor baru muncul di layar.
"Ngapain lama banget di toilet, Kak?"
Aira bergeming sejenak. Jantungnya berdegup bukan karena baper, tapi karena terkejut. Jarinya bergerak cepat menekan foto profil nomor tersebut, tampak sosok cowok ber-hoodie hitam dengan wajah yang sangat jelas. Aldaren.
Tanpa pikir panjang, Aira membalasnya kilat. "Kamu memantauku?"
"Tadi melihat Kak Aira ke arah toilet, namun sudah sepuluh menit tidak balik-balik. Kenapa? Sakit perut? Atau pingsan di dalam? Kalau pingsan sih kagak mungkin, orang masih balas chat. Ada yang perlu dibantu, Kak?" balas Aldaren, membuat Aira refleks menarik napas lega.
"Untung ada kamu. Entah dapat nomor aku darimana, tapi yang jelas aku butuh bantuan kamu sekarang, Ren," gumam Aira sembari jarinya menari di atas keyboard.
"Tolong pergi ke supermarket, Daren. Aku sedang dapet, tembus ini!" balas Aira tanpa tahu malu sama sekali.
Persetan dengan apa yang dipikirkan Daren di luar sana, Aira tidak peduli. Dalam keadaan darurat begini, prinsipnya cuma satu yaitu manfaatkan siapa pun yang bisa bergerak cepat.
Aldaren masih terpaku di posisinya, menyandarkan punggung di tembok lorong yang sepi. Permen karet yang tadi ia kunyah dengan santai kini berhenti bergerak. Matanya memicing, menatap layar ponsel dengan dahi berkerut dalam, seolah sedang memecahkan kode sandi negara yang paling rumit.
"Ke supermarket... sedang dapet... maksudnya apa?" gumamnya kebingungan. Kalimat Aira berputar-putar di kepalanya tanpa jawaban logis. "Dia dapet? Dapet apa? Hadiah? Paket?"
Karena tidak kunjung menemukan jawaban di otaknya sendiri, Aldaren segera membuka mesin pencari. Jemarinya dengan cepat mengetikkan kata kunci 'cewek bilang sedang dapet artinya apa'. Begitu hasil pencarian muncul di baris paling atas, mata Aldaren membulat sempurna. Ia nyaris tersedak permen karetnya sendiri.
"Ah, HAH?!"
Wajahnya mendadak terasa panas. "Membeli pembalut? Astaga... malu banget beli barang seperti itu. Oh, God!" Aldaren mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menyingkirkan bayangan dirinya berdiri di depan kasir supermarket sambil memegang sebungkus pembalut.
Ragu sempat menyergapnya, namun bayangan Aira yang sedang kesakitan dan terjebak di toilet membuat rasa malunya kalah telak. Tanpa menunggu lama, ia segera membuang permen karetnya ke tempat sampah dan berlari menuju parkiran. Persetan dengan harga diri, yang penting Aira tidak pingsan di dalam toilet karena kehabisan tenaga.
*******
Suasana koridor menuju toilet perempuan mendadak terasa mencekam, meski hanya ada derap langkah kaki dua pemuda yang saling berpacu dengan isi pikiran masing-masing.
Aldaren melangkah hampir berlari. Napasnya masih sedikit memburu setelah perjuangan batin di depan rak supermarket tadi. Ia tidak memedulikan sekeliling, bahkan tidak menyadari bahwa motor yang tadi bersisihan dengannya di gerbang sekolah adalah milik Leonel. Fokusnya hanya satu, kantong plastik hitam di genggamannya harus sampai ke tangan Aira secepat mungkin.
"Kak Aira! Ini, Kak!" panggil Aldaren tertahan begitu sampai di depan deretan pintu toilet.
Sementara itu, beberapa meter di belakangnya, Leonel berjalan dengan ketenangan yang mematikan. Langkahnya konstan, tegas, dan tidak terburu-buru, namun auranya sanggup membuat siapa pun yang berpapasan dengannya menepi. Tatapannya lurus, terkunci pada punggung Aldaren yang kini sedang mengetuk salah satu pintu toilet.
Leonel berhenti tepat di ujung lorong toilet. Tangannya yang memegang kantong dari supermarket mengeras hingga plastik itu berderit pelan. Rahangnya mengatup rapat.
Cowok itu bergeming, menatap lurus tepat saat tangan Aira terjulur dari balik pintu toilet untuk meraih kantong plastik dari tangan Aldaren. Pemandangan itu seolah mengunci langkahnya. Ada sesuatu yang mendadak terasa panas di dadanya, sebuah desakan asing yang membuat napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Mengetahui bahwa ada orang lain yang bisa bergerak lebih cepat dan masuk ke urusan seprivat itu, Leonel mendadak merasa asing di posisinya sendiri.
Tanpa suara, ia berbalik.
Langkahnya yang semula tegap kini terasa kaku saat melewati deretan tempat sampah di sudut koridor. Tatapannya jatuh pada kantong plastik di genggamannya yang berisi pembalut, minuman pereda nyeri, serta botol air yang uap hangatnya masih menempel di dinding plastik, sebuah persiapan detail yang ia beli tadi.
Dengan gerakan datar, seolah barang-barang itu tidak lagi memiliki arti, Leonel menjatuhkan seluruh belanjaannya ke dalam tempat sampah. Suara debuman pelan saat plastik itu mendarat di dasar tong seolah menjadi titik akhir yang sunyi bagi usahanya yang tak sempat terlihat.
Ia tidak menoleh lagi. Langkahnya kini kembali cepat, membelah koridor menuju ruang OSIS, meninggalkan sisa-sisa kepeduliannya yang kini terkubur di antara tumpukan sampah sekolah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...