Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawaran Iblis
Hujan mengguyur Jakarta malam itu dengan keras, seolah langit turut menangisi nasib keluarga kami. Aku berdiri di ambang pintu rumah yang sudah tak layak disebut rumah lagi, menatap kosong ke jalanan yang basah. Di belakangku, suara isak Ibu terdengar pelan, terputus-putus. Ayah duduk di kursi tua yang sudah reot, kepalanya tertunduk dalam, tangannya gemetar memegang sebatang rokok yang sudah mati.
Lima puluh miliar rupiah.
Angka yang bahkan tak bisa kubayangkan bentuknya. Utang yang menumpuk selama bertahun-tahun karena bisnis Ayah yang ambruk, karena penipuan rekan bisnisnya, karena kami terlalu percaya pada orang yang salah. Dan sekarang, orang-orang berbahaya itu datang menagih. Bukan dengan surat peringatan atau panggilan telepon biasa. Mereka datang dengan tatapan mati, dengan ancaman yang sangat jelas: tiga hari lagi, atau nyawa kami semua melayang.
"Nadira, ini semua salah Ayah..." suara Ayah serak, hampir tak terdengar. "Ayah yang bodoh... Ayah yang..."
"Sudah, Pak. Jangan bicara begitu." Aku berbalik, memaksakan senyum meski air mata sudah menggenang di pelupuk mataku. "Kita... kita pasti bisa cari jalan keluar."
Tapi bahkan aku tak percaya dengan kata-kataku sendiri. Jalan keluar macam apa? Kami sudah menjual hampir semua yang berharga. Rumah ini pun sebentar lagi akan disita. Aku sudah coba meminjam dari siapa saja yang kukenal, tapi semua pintu tertutup rapat. Tidak ada yang mau berurusan dengan keluarga yang sudah tenggelam sedalam ini.
Ibu menghampiriku, tangannya yang kurus meraih tanganku. "Nad, maafkan Ibu dan Ayahmu... kamu masih muda, seharusnya kamu tidak menanggung semua ini..."
"Ibu, aku anak kalian. Ini juga tanggung jawabku." Aku menggenggam tangannya erat, meski hatiku terasa remuk.
Malam itu kami bertiga hanya bisa duduk dalam diam, dikelilingi keputusasaan yang mencekik. Jam dinding berbunyi pelan, menghitung mundur waktu yang tersisa untuk hidup kami.
Ketukan di pintu memecah keheningan.
Kami semua tersentak. Ayah bangkit dengan wajah pucat. "Mereka... mereka datang lebih cepat..."
"Jangan buka pintunya!" Ibu berbisik panik.
Tapi ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan, lebih... sopan. Bukan seperti ketukan para penagih utang yang biasanya datang sambil menendang pintu.
Aku menarik napas dalam, lalu melangkah ke pintu. Dengan tangan gemetar, aku membukanya sedikit.
Di depan pintu berdiri seorang pria. Tinggi, mungkin sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Mengenakan jas hitam yang tampak mahal meski diguyur hujan. Rambutnya hitam legam, disisir rapi ke belakang. Dan matanya...
Matanya berwarna kelabu. Dingin. Tajam. Menatapku seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwaku.
"Nadira Azzahra?" suaranya rendah, sangat tenang.
Aku mengangguk kaku, lidahku terasa kelu.
"Boleh aku masuk? Aku punya tawaran yang mungkin bisa menyelamatkan keluargamu."
Jantungku berdegup kencang. Setiap instingku berteriak untuk menutup pintu, tapi... tawaran untuk menyelamatkan keluarga? Aku tak punya pilihan lain.
Aku membuka pintu lebih lebar. Pria itu melangkah masuk dengan gerakan yang sangat terkontrol, hampir tidak bersuara. Ayah dan Ibu menatapnya dengan campuran takut dan harap.
"Siapa Anda?" tanya Ayah, suaranya bergetar.
Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Leonardo Valerio. Aku di sini untuk membantu."
Leonardo. Nama asing. Marga yang terdengar seperti orang Italia atau Eropa. Tapi kenapa dia ada di sini? Kenapa dia tahu tentang masalah kami?
Dia duduk di sofa tanpa dipersilahkan, seolah tempat ini adalah miliknya. Dari dalam jasnya, dia mengeluarkan sebuah map cokelat dan meletakkannya di meja.
"Aku tahu kalian punya utang lima puluh miliar kepada kelompok tertentu. Aku juga tahu kalian punya waktu tiga hari sebelum mereka... mengambil tindakan." Suaranya datar, tanpa emosi sama sekali. "Aku bisa melunasinya. Semuanya. Besok pagi jika kau mau."
Keheningan. Hanya suara hujan yang memenuhi ruangan.
"Tapi..." Ibu berbisik. "Tidak ada yang gratis di dunia ini..."
Leonardo mengangguk pelan. "Tepat sekali, Nyonya Diana. Aku memang butuh sesuatu sebagai gantinya."
Matanya berpindah menatapku. Tatapan itu membuat kulitku merinding.
"Aku ingin Nadira menikah denganku."
Dunia terasa berhenti berputar. Aku yakin aku salah dengar. "Apa...?"
"Menikah. Denganku. Kontrak 5 tahun." Dia membuka map itu, mengeluarkan setumpuk kertas. "Setelah 5 tahun, kau bebas pergi jika mau. Tapi selama 5 tahun itu, kau akan menjadi istriku. Tinggal bersamaku. Melakukan apa yang kukatakan."
"Gila!" Ayah berdiri, wajahnya merah. "Anda pikir anak saya ini barang yang bisa dibeli?!"
Leonardo bahkan tidak berkedip. "Bukan membeli, Pak Gunawan. Ini kontrak. Bisnis. Dan percayalah, ini satu-satunya jalan keluar yang kalian punya."
Aku merasakan lututku lemas. Menikah? Dengan orang asing ini? Pria yang bahkan aku baru kenal lima menit yang lalu?
"Kenapa... kenapa saya?" suaraku nyaris tak terdengar.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang bergerak di matanya. Sesuatu yang gelap. "Karena aku menginginkanmu."
Jawaban yang sama sekali tidak menjelaskan apa pun. Tapi justru itu yang membuatku semakin takut.
Ibu menangis terisak. "Nadira, kamu tidak usah... kita akan cari jalan lain..."
"Tidak ada jalan lain." Suara Leonardo memotong. "Besok siang, orang-orang itu akan datang. Dan mereka tidak akan datang untuk bicara. Kalian tahu itu."
Aku menatap Ayah dan Ibu. Wajah mereka yang sudah keriput karena stres, mata mereka yang kosong karena putus asa. Mereka yang sudah membesarkanku dengan susah payah, yang selalu berusaha memberikan yang terbaik meski hidup kami pas-pasan. Dan sekarang mereka di ambang kehancuran total.
Karena aku anak mereka, aku tidak bisa membiarkan mereka mati.
"Kontrak itu..." aku menelan ludah. "Apa saja isinya?"
Leonardo menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca. Lalu dia mendorong kertas-kertas itu ke arahku.
Aku membacanya dengan tangan gemetar. Pernikahan 5 tahun. Aku harus tinggal bersamanya di mana pun dia inginkan. Aku tidak boleh menjalin hubungan dengan pria lain. Aku harus... patuh pada segala keputusannya menyangkut hidup kami berdua. Dan sebagai imbalannya, semua utang keluargaku akan lunas. Ditambah uang tunai dua miliar untuk modal usaha Ayah memulai lagi.
"Ini... ini seperti menjual diri..." gumamku.
"Ini menyelamatkan keluargamu." Koreksi Leonardo, dingin.
Aku menatapnya. Berusaha mencari tanda-tanda kebohongan, tipu daya. Tapi wajahnya seperti topeng. Tidak ada emosi. Tidak ada kehangatan. Hanya kekosongan yang mengerikan.
"Berapa lama waktu saya untuk memutuskan?"
"Sekarang."
"Sekarang?" Ayah memprotes. "Ini keputusan besar, Anda tidak bisa"
"Pak Gunawan." Suara Leonardo tetap tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Ayah terdiam. "Waktu kalian sudah habis. Aku memberikan solusi. Terserah kalian mau ambil atau tidak."
Aku menutup mata. Dua tahun. Hanya dua tahun. Aku bisa bertahan dua tahun, kan? Demi Ayah dan Ibu. Demi agar mereka bisa hidup.
"Saya... saya setuju."
"NADIRA!" Ibu berteriak. "Jangan, Nak! Jangan korbankan hidupmu untuk"
"Ibu." Aku menatapnya, air mataku akhirnya jatuh. "Aku sudah memutuskan."
Leonardo berdiri. Dari sakunya, dia mengeluarkan sebuah pena. Pena emas yang tampak sangat mahal.
"Tandatangani di sini." Dia menunjuk bagian paling bawah kontrak.
Tanganku gemetar saat menerima pena itu. Aku menatap kertas di depanku. Huruf-huruf itu tampak kabur karena air mata. Ini salah. Setiap sel di tubuhku berteriak bahwa ini salah. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan?
Aku menandatangani kontrak itu.
Leonardo mengambil kertas itu, melipat dengan rapi, lalu memasukkannya kembali ke dalam map. Dari sakunya yang lain, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Saat dibuka, di dalamnya ada sebuah cincin. Berlian besar berkilau di tengahnya, dikelilingi batu-batu permata yang lebih kecil. Indah. Terlalu indah untuk momen yang terasa seperti mimpi buruk ini.
Leonardo mengambil tanganku. Tangannya dingin. Atau mungkin tanganku yang sudah mati rasa.
Dia memasangkan cincin itu di jari manisku dengan gerakan perlahan, nyaris lembut. Tapi tatapannya... tatapannya sangat intens. Posesif. Seperti orang yang baru saja mendapatkan harta yang paling berharga.
"Besok pagi, jam delapan, aku akan menjemputmu. Siapkan barang-barangmu. Tidak banyak, karena semua yang kau butuhkan akan kusediakan." Dia berbisik, suaranya sangat rendah hanya untuk telingaku. "Dan ingat, Nadira..."
Dia menggenggam daguku, memaksaku menatap langsung ke mata kelabunya yang dingin itu.
"Sekarang kau milikku."
Lalu dia melepaskan genggamannya, berbalik, dan berjalan keluar dari rumah kami. Meninggalkan aku yang berdiri kaku, dengan cincin berlian di jari dan perasaan mengerikan bahwa aku baru saja menjual jiwaku pada iblis.
Ayah dan Ibu memelukku erat sambil menangis. Tapi aku tidak bisa merasakan apa-apa. Tubuhku mati rasa. Pikiranku kosong.
Yang bisa kurasakan hanya cincin itu. Dingin dan berat di jariku.
Seperti belenggu yang tak terlihat.