“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
"Berhenti!" seru Jeremy membuat supir pribadinya tersentak dan segera menginjak rem.
Mobil hitam mewah itu berhenti di tepian jalan yang cukup ramai oleh pejalan kaki. Jeremy tidak bergerak, matanya terpaku pada pemandangan di trotoar seberang jalan.
Di sana, seorang pria sebayanya sedang menggendong anak laki-laki di bahunya, sementara tangan kirinya merangkul pinggang sang istri yang tertawa renyah.
Sang anak sesekali mencium pipi ayahnya, lalu mereka bertiga berhenti sejenak untuk membetulkan tali sepatu si kecil yang terlepas. Sebuah potret keluarga kecil yang begitu sederhana, namun memancarkan kebahagiaan yang menyilaukan mata Jeremy.
Jeremy memandang mereka tanpa berkedip, hingga sosok keluarga itu menghilang di balik kerumunan gedung-gedung Milan.
Tanpa ia sadari, setetes air hangat jatuh membasahi pipinya. Ia segera menyekanya dengan kasar, terkejut dengan reaksinya sendiri.
"Kenapa, Stella? Kenapa kau meninggalkanku sendirian di dunia yang dingin ini? Harusnya kita yang ada di sana. Harusnya kau yang tertawa seperti wanita itu," bisik Jeremy sangat pelan, hingga hanya ia yang bisa mendengarnya.
Pikirannya melayang pada kenangan enam tahun lalu. Stella adalah satu-satunya cahaya yang mampu menembus kegelapan hatinya sebagai pewaris takhta mafia. Hanya Stella yang berani memarahi Jeremy saat ia bertindak kasar, dan hanya Stella yang bisa membuatnya berlutut hanya untuk meminta maaf.
Kehilangan Stella bukan sekadar kehilangan istri, tapi kehilangan kompas hidupnya.
"Tuhan benar-benar tidak adil," gumam Jeremy lagi dengan rahang mengeras. "Dia mengambil jantungku dan meninggalkan anak itu sebagai pengingat abadi akan rasa sakit ini."
Supir yang sejak tadi memperhatikan dari spion tengah memberanikan diri untuk bicara.
"Maaf, Tuan... Apa anda ingin saya putar balik menuju sekolah Tuan Muda Elio? Ini adalah penampilan pertamanya sejak masuk sekolah dasar. Saya rasa, dia akan sangat bahagia jika melihat anda di barisan kursi penonton."
Jeremy terdiam sejenak. Bayangan Elio yang menyodorkan kertas lecek tadi pagi terlintas. Namun, egonya yang terluka kembali mengambil alih.
"Tidak perlu. Jalankan mobilnya ke kantor. Aku tidak butuh datang ke acara kekanak-kanakan seperti itu!"
"Tapi Tuan—"
"Aku bilang jalan, ya jalan!" bentak Jeremy.
Supir itu pun hanya bisa mengangguk pasrah dan menjalankan mobil kembali, meninggalkan jejak rasa bersalah yang kini mulai menggerogoti hati Jeremy secara perlahan.
Sementara itu, di aula sekolah yang meriah, suara tepuk tangan riuh rendah membahana. Elio baru saja menyelesaikan lagu pendek yang ia nyanyikan di atas panggung dengan suara yang jernih.
Bocah itu berdiri kaku di tengah panggung lalu membungkuk sopan seperti yang diajarkan Martha.
Di balik riuhnya tepuk tangan itu, mata Elio menyapu seluruh ruangan. Ia mencari satu sosok tinggi dengan sorot mata tajam. Ia berharap ada keajaiban bahwa ayahnya akan berdiri di sana, memberikan jempol, atau sekadar menatapnya.
Tapi nihil. Kursi di baris depan yang harusnya diisi wali murid keluarga Sebastian tampak kosong.
Seorang guru menghampiri Elio di pinggir panggung. "Lio, penampilanmu sangat indah. Tapi, di mana ayahmu? Teman-temanmu yang lain sedang berfoto dengan orang tua mereka untuk kenang-kenangan sekolah. Apa tidak ada yang datang?"
Elio menunduk dalam-dalam. Ia meremas ujung seragamnya, berusaha menahan tangis yang sudah di ujung mata.
"Tidak ada, Bu Guru. Daddy... daddy sedang sibuk sekali di kantor, mungkin dia akan datang sedikit terlambat."
"Oh, kasihan sekali. Lalu siapa yang mengantarmu tadi?" tanya sang guru dengan nada prihatin yang justru membuat hati Elio semakin sakit.
Cahaya, yang sejak tadi berdiri di barisan paling belakang karena tidak mendapat kursi, tidak sanggup lagi melihat raut hancur di wajah bocah itu. Ia melihat anak-anak lain dipeluk dan dicium oleh ibu mereka, sementara Elio berdiri sendirian seperti yatim piatu di tengah keramaian.
"Saya walinya!" Suara lantang Cahaya membuat orang-orang di sekitar menoleh.
Cahaya berjalan cepat menembus kerumunan, mengabaikan rasa nyeri di pinggangnya. Ia naik ke atas panggung dan langsung merangkul bahu Elio.
"Maaf saya terlambat maju ke depan. Saya wali Elio," ucap Cahaya tegas pada sang guru.
Sang guru menatap Cahaya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Oh, anda kakaknya?"
Cahaya melihat mata Elio yang memerah. Ia tahu, jika ia bilang kakak atau pengasuh, Elio akan tetap merasa ada yang kurang di hari spesial ini. Maka, dengan nekat dan tanpa pikir panjang, Cahaya mengeratkan pelukannya pada Elio.
"Bukan. Saya mommy-nya Elio," jawab Cahaya mantap, suaranya terdengar meyakinkan di seluruh penjuru panggung.
Elio tersentak. Ia mendongak, menatap Cahaya dengan tatapan tak percaya. Mommy?
"Ah, maafkan saya, Nyonya Sebastian. Anda terlihat sangat muda, saya kira kakaknya. Silakan, mari berfoto bersama putra anda," ucap sang guru ramah.
Cahaya tersenyum manis, meski di dalam hati ia sedang mengumpat habis-habisan.
"Aduh, Cahaya! Mulutmu ini benar-benar tidak ada remnya! Kalau Jeremy tahu aku mengaku jadi istrinya, kepalaku bisa dipenggal sungguhan!" batinnya.
Namun, kegundahan Cahaya sirna saat ia merasakan Elio membalas pelukannya dengan sangat erat. Bocah itu menyembunyikan wajahnya di perut Cahaya, bahunya bergetar, tapi kali ini bukan karena sedih.
"Mommy..." bisik Elio sangat lirih.
Cahaya mengusap kepala Elio, menatap tajam ke arah pintu aula, seolah-olah ia sedang menantang Jeremy yang tidak ada di sana.
"Biarlah aku jadi pendusta hari ini, asalkan anak ini tidak harus merasa sendirian lagi," batin Cahaya penuh tekad.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭