NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Pengawalan

Pagi itu, udara di koridor Fakultas Ilmu Komunikasi terasa lebih berat dari biasanya bagi Rara. Setiap langkah yang ia ambil seolah-olah diiringi oleh bisik-bisik yang tidak kasat mata. Ia bisa merasakan mata rekan-rekan seangkatannya melirik lewat sudut mata, lalu kembali menatap layar ponsel mereka, tempat foto siluet "Gadis Gudang" masih menjadi topik terhangat di akun Lambe Kampus.

Rara mencoba mengabaikannya. Ia duduk di barisan tengah kelas Jurnalistik Dasar, berpura-pura sangat sibuk mengatur lensa kameranya. Namun, fokusnya buyar sepenuhnya ketika suasana kelas yang tadinya bising mendadak sunyi senyap, sebuah kesunyian yang hanya bisa diciptakan oleh kehadiran satu orang.

Genta Erlangga. Sosok itu sudah berdiri di ambang pintu kelas.

Ia tidak memakai jas almamater hari ini, hanya kemeja biru langit yang lengannya digulung hingga siku, namun auranya tetap sama: intimidatif dan dingin. Matanya menyapu ruangan dengan datar, hingga akhirnya berhenti tepat pada Rara.

Genta melangkah masuk. Setiap langkah sepatunya di atas lantai kelas yang sunyi terdengar seperti dentuman drum. Ia berhenti tepat di depan meja Rara, mengabaikan fakta bahwa seluruh kelas kini menahan napas, menanti drama apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Rara," suara baritonnya bergema, stabil dan tanpa celah.

Rara mendongak, memasang wajah yang paling datar yang ia miliki. "Ya, Kak Presma? Ada kabel yang putus lagi?"

Beberapa mahasiswa di belakang terdengar berbisik kaget mendengar nada bicara Rara yang begitu santai, bahkan cenderung menantang pada sang Presiden Mahasiswa.

Genta tidak terpancing. "BEM akan melakukan inspeksi fasilitas ke Fakultas Teknik pagi ini untuk menindaklanjuti keluhan mahasiswa. Saya butuh pendamping dari pers mahasiswa untuk mendokumentasikan dan melakukan wawancara awal. Koordinator jurnalisme merekomendasikanmu karena tugas 'Profil Tokoh' yang sedang kamu kerjakan."

Rara menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada. Ia tahu ini adalah bagian dari "Kesepakatan Rahasia" mereka, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda Genta sedikit. "Wah, jadwal saya hari ini cukup padat, Kak. Ada riset pustaka dan... yah, saya harus menghindari kerumunan supaya nggak dituduh 'menggoda' Idola Kampus lagi."

Rahang Genta mengeras sesaat. Rara bisa melihat kilatan rasa bersalah sekaligus kepanikan di mata itu, meski wajahnya tetap kaku seperti es.

"Ini tugas resmi, Rara. Bukan urusan pribadi," ucap Genta, meski ada nada sedikit memohon yang hanya bisa didengar oleh telinga Rara. "Mobil jemputan sudah ada di depan. Lima menit."

Tanpa menunggu jawaban, Genta berbalik dan berjalan keluar dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Rara tersenyum penuh kemenangan di balik punggungnya. Ia merapikan tasnya, mengabaikan tatapan tajam teman-temannya yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.

***

Fakultas Teknik adalah wilayah yang berbeda. Jika Fakultas Ilmu Komunikasi terasa lebih santai dan artistik, Teknik adalah labirin beton yang penuh dengan suara bising mesin, aroma oli, dan ribuan mahasiswa yang nampak selalu terburu-buru.

Begitu turun dari mobil, Genta langsung disambut oleh kerumunan pengurus departemen Teknik. Udara terasa panas dan sesak. Suara teriakan mahasiswa dari lapangan basket di dekat gedung utama menambah kebisingan yang mencekam.

Rara berjalan di samping Genta, memegang kamera sebagai alibi. Ia melirik Genta. Dari luar, pria itu nampak sempurna. Dia mengangguk dengan sopan pada setiap orang yang menyapa, memberikan instruksi dengan nada yang tegas pada stafnya. Namun, Rara menyadari sesuatu yang salah.

Napas Genta mulai menjadi pendek.

Tangan Genta yang memegang map laporan mulai terlihat memutih di bagian buku jarinya karena cengkeraman yang terlalu kuat. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya, meski udara di lobi gedung Teknik cukup ber-AC.

"Banyak sekali orang hari ini," bisik Genta pelan saat mereka terjebak di tengah kerumunan mahasiswa yang sedang mengantre di depan mading.

Rara menyadari bahwa monster kecemasan sosial Genta mulai bangkit. Kerumunan ini bukan lagi audiens yang duduk diam seperti saat pidato, melainkan massa yang bergerak acak, menyentuh, dan berisik. Mimpi buruk bagi seseorang dengan social anxiety.

Tanpa banyak bicara, Rara bergeser. Ia memposisikan dirinya sangat dekat dengan Genta, nyaris bersentuhan bahu. Ia berjalan sedikit di depan, seolah-olah sedang mencari sudut foto yang bagus, namun sebenarnya ia sedang menciptakan "zona aman" kecil bagi Genta.

"Fokus ke aku, Paladin," bisik Rara sangat pelan, hampir tertelan kebisingan. "Anggap aja kita lagi di Hidden Grove. Abaikan yang lain."

Genta melirik Rara. Ia melihat gadis itu tidak lagi menatapnya dengan pandangan menggoda, melainkan dengan tatapan pelindung yang sangat familiar di game. Perlahan, Genta mengatur napasnya kembali. Kehadiran Rara yang begitu dekat, aroma sabun cuci bajunya yang sederhana dan langkah kakinya yang mantap, menjadi jangkar yang menahan Genta agar tidak hanyut dalam lautan panik.

***

"Kami butuh kepastian soal perbaikan laboratorium mesin, Kak," ujar salah satu mahasiswa Teknik dengan suara keras, mencoba mengungguli kebisingan sekitar.

Genta berdiri tegak. Dia menatap mahasiswa itu dengan tatapan yang sangat tajam, tatapan yang biasanya membuat orang lain segera diam. "BEM sudah memasukkan anggaran itu ke prioritas utama semester ini. Laporan detailnya akan keluar minggu depan. Kalian bisa cek di papan informasi digital."

Suaranya bariton, berat, dan penuh wibawa. Para mahasiswa Teknik itu mengangguk patuh, nampak terintimidasi oleh kharisma sang Ketua BEM. Namun, mata Rara tetap terpaku pada tangan Genta.

Map di tangannya sudah mulai melengkung karena ditekan terlalu kuat. Ujung jarinya gemetar hebat, sebuah tremor yang berusaha keras ia sembunyikan di balik map. Rara bisa merasakan radiasi kegelisahan yang memancar dari tubuh Genta. Pria ini sedang bertarung mati-matian di dalam kepalanya sendiri hanya untuk mengucapkan tiga kalimat tadi.

Rara segera mengangkat kameranya, berpura-pura mengambil foto Genta dan mahasiswa tersebut. "Oke, cukup untuk bagian ini. Kak Genta, kita harus cek ke lantai tiga sekarang sebelum jadwal rapat rektorat."

Itu adalah alibi untuk menarik Genta keluar dari tekanan itu. Genta mengangguk singkat pada para mahasiswa dan segera mengikuti langkah Rara menuju lift.

***

Begitu pintu lift tertutup dan suara bising di luar teredam sepenuhnya, suasana mendadak berubah.

DING.

Genta langsung menyandarkan punggungnya ke dinding besi lift yang dingin. Ia memejamkan mata, kepalanya terkulai lemas. Napasnya keluar dalam hembusan panjang yang berat, seolah-olah ia baru saja melepaskan beban berton-ton dari pundaknya.

Seluruh aura otoritasnya lenyap seketika. Genta yang berdiri di sana bukan lagi Presiden Mahasiswa yang diagungkan. Dia hanya seorang pemuda yang kelelahan dan ketakutan.

"Hampir saja..." gumam Genta, suaranya parau. Ia membuka mata dan menatap Rara yang sedang berdiri di depan pintu lift, masih memegang kamera.

Rara menurunkan kameranya dan tersenyum tipis. "Hebat sekali aktingnya, Tuan Presma. Kalau aku nggak tahu rahasiamu, aku mungkin bakal ikutan minta tanda tangan tadi."

Genta mendengus, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat jujur. Ia mengusap telapak tangannya ke celana kainnya, mencoba mengeringkan keringat dingin yang membasahi sana. "Terima kasih, Ra. Tadi itu... benar-benar sesak. Aku merasa seperti semua orang sedang meneriakiku."

"Makanya, jangan terlalu sering pasang muka galak," goda Rara. Ia berjalan mendekat, menyentil map yang sudah lecek di tangan Genta. "Liat, map-nya sampai nangis tuh kamu tekan terus. Santai aja, Paladin. Selama ada Healer di sampingmu, darahmu nggak bakal habis."

Genta menatap Rara cukup lama. Di dalam lift yang sempit dan sepi itu, ia merasa jauh lebih tenang daripada di podium mana pun di dunia ini. "Kamu benar-benar tahu cara melakukan tugasmu, ya?"

"Tentu saja. Tapi ingat, ini masuk ke dalam hitungan jam kerja wawancara eksklusifku," sahut Rara sambil mengedipkan sebelah mata saat pintu lift terbuka di lantai tujuan mereka. "Ayo, pasang lagi topeng esnya. Naga-naga Teknik sudah menunggu di luar."

Genta menarik napas dalam, merapikan kemejanya, dan dalam satu detik, wajah Pangeran Es itu kembali muncul. Namun, sebelum ia melangkah keluar, ia berbisik pelan, "Tetaplah di dekatku, Ra."

Rara mengangguk, dan mereka kembali melangkah keluar untuk menghadapi dunia, membawa rahasia yang kian lama kian mengikat mereka dalam permainan kucing dan tikus yang semakin berbahaya.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!