“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sore itu, bandara internasional dipenuhi hiruk-pikuk kepulangan dan perpisahan. Namun, bagi Arga Lingga Pradipta, dunia seakan mengecil hanya pada satu titik, pintu kedatangan internasional.
Dia berdiri tegak dengan setelan jas gelap, sebuah buket mawar merah segar di tangannya. Mawar pilihan, seperti yang selalu Shasmita sukai. Wanita itu adalah satu-satunya alasan Arga bersedia menunda segalanya, termasuk urusan penting perusahaan, termasuk hidupnya sendiri.
Tak lama kemudian, sosok itu muncul.
Shasmita Alexander melangkah anggun keluar dari pintu kedatangan. Mantel bulu tebal membungkus tubuh rampingnya, rambut panjangnya terurai rapi. Kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya, membuat auranya tampak dingin dan eksklusif. Setiap langkahnya mantap, penuh percaya diri, seperti seseorang yang tahu dunia sedang memperhatikannya.
Arga menahan napas, empat tahun berlalu, dan wanita itu tetap sama, bahkan lebih memikat. Ketika Shasmita berhenti tepat di hadapannya, Arga tersenyum dan mengulurkan buket mawar itu.
“Selamat datang kembali di Indonesia,” ucapnya lembut. Shasmita, melepas kacamata hitamnya perlahan. Sepasang mata indah menatap Arga, namun bukan dengan kehangatan yang ia harapkan. Shasmita menerima buket itu, lalu bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.
Senyum sinis, bukan senyum bahagia. Bukan senyum rindu, jantung Arga berdegup aneh.
'Ada yang salah,' batinnya.
'Apa aku menyambutnya terlalu biasa? Atau…'
“Terima kasih,” jawab Shasmita singkat.
Nada suaranya datar, terdengar cukup dingin. Arga hendak mengatakan sesuatu lagi ketika tiba-tiba sebuah suara lantang terdengar dari arah belakang.
“Arga!”
Arga menoleh refleks, seorang pria tinggi dengan jas abu-abu muda melangkah mendekat, wajahnya penuh senyum percaya diri. Tatapan matanya tajam, penuh perhitungan, tatapan khas seorang pebisnis yang terbiasa mengendalikan ruang.
“Calon adik iparku yang terkenal itu, ya?” ujar pria itu sambil tertawa kecil.
Arga terdiam sejenak.
“Sky Alexander,” pria itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. “Kakaknya Shasmita.” Sky, tetap memperkenalkan diri meskipun keduanya sebelum bertemu kerap berbicara melalui telepon.
Arga menatap tangan yang terulur itu dengan raut terkejut yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Dia tak menyangka Sky akan ikut kembali ke Indonesia. Nama itu bukan nama asing, CEO muda yang memiliki cabang perusahaan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dengan sedikit ragu, Arga akhirnya menjabat tangan Sky.
“Arga Lingga Pradipta,” jawabnya formal.
Shasmita melirik mereka sekilas, lalu berkata ringan, “Kakakku ikut pulang karena ada urusan bisnis. Sepertinya cukup lama.”
Nada itu terdengar santai, namun entah mengapa Arga merasakan tekanan halus di baliknya.
Sky tersenyum lebar. “Aku dengar keluarga Pradipta sedang berkembang pesat,” katanya, menatap Arga dengan sorot mata yang sulit ditebak.
“Siapa tahu, kita bisa bekerja sama.”
Arga membalas senyum itu, meski dadanya terasa tak nyaman.
“Tentu,” jawabnya singkat.
Namun, dalam benaknya, satu perasaan asing mulai muncul perasaan bahwa kepulangan ini bukan sekadar reuni biasa. Ada sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang belum bisa ia lihat, tetapi jelas mengintai.
Di sisi lain, Shasmita berdiri tenang, menggenggam buket mawar itu tanpa benar-benar memeluknya. Tatapannya melayang jauh, seolah pikirannya berada di tempat lain.
Entah mengapa, sejak bertahun-tahun, Arga merasa kehilangan kendali. Dan di rumah Pradipta, seorang wanita lain yang wajahnya nyaris sama, namun jiwanya jauh berbeda tengah menunggu waktu dengan kesabaran paling berbahaya.
Arga membawa Shasmita dan Sky ke sebuah restoran mewah di pusat kota. Lampu kristal menggantung anggun di langit-langit, memantulkan cahaya hangat ke setiap sudut ruangan. Tempat itu dipenuhi para pebisnis, figur publik, dan nama-nama besar dunia mode.
Begitu Shasmita melangkah masuk, perhatian langsung tertuju padanya.
Beberapa tamu saling berbisik, sebagian mengenalinya sebagai desainer muda berbakat yang namanya mulai bersinar di Eropa. Mantel bulu yang dikenakannya menambah kesan eksklusif, sementara sikapnya tetap tenang, seolah sorotan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Mereka duduk di meja yang telah dipesan. Pelayan datang mengambil pesanan, lalu pergi dengan langkah terlatih.
Saat menunggu hidangan, Shasmita meletakkan sendoknya dan berkata santai, “Rumah keluarga Alexander masih dalam tahap renovasi. Sepertinya butuh waktu sekitar setengah tahun sampai selesai.”
Arga mengangguk pelan. “Oh?”
“Iya,” lanjut Shasmita. “Jadi untuk sementara aku dan Kak Sky berencana menyewa apartemen. Tidak mungkin kami terus berpindah-pindah hotel.”
Nada bicaranya ringan, hampir seperti obrolan biasa. Namun, Sky menangkap kilatan singkat di mata adiknya, sebuah tanda bahwa topik itu bukan muncul tanpa perhitungan.
Tanpa berpikir panjang, Arga langsung berkata, “Kalian tidak perlu menyewa apartemen.”
Shasmita menoleh.
“Villa keluarga Pradipta kosong,” lanjut Arga. “Letaknya dekat dengan rumah utama. Hanya beda halaman saja. Privasi tetap terjaga, kalian bisa tinggal di sana.”
Shasmita melirik Sky sekilas, tatapan singkat itu cukup untuk menyampaikan satu pesan, inilah yang kita inginkan.
Sky menyandarkan tubuhnya dengan santai. “Kalau Arga tidak keberatan,” katanya, “aku rasa itu akan jauh lebih praktis.”
Shasmita kembali menatap Arga, ekspresinya berubah seolah ragu.
“Apa tidak apa-apa? Kami tidak ingin merepotkan, mu?”
Arga tersenyum tipis. “Tidak masalah. Anggap saja rumah sendiri.”
Beberapa detik berlalu sebelum Shasmita akhirnya mengangguk. “Baiklah,” katanya pelan.
“Kalau begitu, kami terima.”
Nada suaranya terdengar netral, tetapi kepuasan kecil bersembunyi di balik senyum yang nyaris sempurna.
Tak lama kemudian, hidangan diantar. Percakapan berlanjut tentang bisnis, rencana ke depan, dan dunia desain. Arga tampak semakin yakin bahwa keputusannya tepat, bahwa membawa Shasmita kembali ke lingkaran hidupnya adalah awal dari segalanya yang pernah ia tunggu.
Malam itu, villa keluarga Pradipta kembali hidup.
Arga telah memberi perintah singkat, tanpa penjelasan, tanpa nada yang bisa ditawar. Yura diminta membersihkan villa, memastikan setiap sudutnya rapi, dan menyiapkan kamar terbaik untuk tamu istimewa.
Kekasihnya, begitu Arga menyebut Shasmita. Dan calon kakak iparnya.
Yura mengerjakannya tanpa protes. Ia menyapu, mengelap, mengganti seprai, memastikan bunga segar terpasang di vas, dan lampu-lampu menyala dengan pencahayaan sempurna. Tangannya masih terasa nyeri, tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tetapi wajahnya tetap tenang, seperti biasa.
Menjelang malam, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman villa.
Yura berhenti sejenak, langkahnya terhenti di dekat jendela lantai bawah. Dengan gerakan pelan, ia mengintip ke luar.
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu masuk. Pintu terbuka lebih dulu, dan seorang wanita turun dengan langkah anggun.
Shasmita, bahkan dari jarak itu, Yura bisa melihat auranya, tenang, percaya diri, dan penuh kendali. Mantel yang dikenakannya jatuh sempurna di tubuh rampingnya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya cantik tanpa usaha berlebihan.
'Pantas,' batin Yura datar.
'Orang-orang memujanya. Dunia memang selalu menyukai wanita seperti dia.'
Tak lama kemudian, pintu mobil di sisi lain terbuka. Seorang pria turun, mengenakan jas gelap dan kacamata hitam meski malam telah larut. Posturnya tegap, langkahnya santai, tetapi sorot matanya, meski tersembunyi, memberi kesan tajam dan penuh perhitungan.
Yura menatapnya lebih lama dari yang ia sadari. Sky Alexander, pikirnya. Ia teringat percakapan Sheli beberapa waktu lalu tentang kakak Shasmita yang sering disebut-sebut Arga. Seorang pria berpengaruh, pebisnis besar, dan sosok yang selalu dibicarakan Sheli dengan nada penasaran.
"Mungkin ini pria yang dimaksud Sheli," gumam Yura.
Sky melepas kacamata hitamnya sesaat, menoleh ke sekeliling halaman villa, seolah mengamati tempat itu dengan seksama. Untuk sepersekian detik, pandangannya hampir bertemu dengan Yura di balik jendela.
Yura refleks mundur setengah langkah. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya waspada, bukan ancaman yang jelas, melainkan insting halus yang selama ini menyelamatkannya.
Arga turun terakhir dari mobil. Ia berdiri di sisi Shasmita, sikapnya jelas berbeda. Lebih lembut. Lebih berhati-hati. Seperti pria yang akhirnya mendapatkan kembali sesuatu yang lama hilang.
Yura menarik napas dalam-dalam. Ia merapikan wajahnya, menyingkirkan ekspresi apa pun yang tersisa, lalu melangkah menjauh dari jendela. Saat pintu villa akan dibuka, topengnya sudah kembali terpasang dengan sempurna.
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂