Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: SUDUT PANDANG
Surabaya pagi ini terasa lebih gerah dari biasanya, seolah matahari memutuskan untuk memeluk kota pahlawan ini sedikit terlalu erat. Di koridor SMA Cakrawala Terpadu yang mulai dipadati siswa, Keyla Aluna berjalan dengan langkah cepat, memeluk erat buku paket Biologi di dada sebagai tameng. Jantungnya berdegup bukan karena panas, melainkan karena kertas biru tua—surat ke-21—yang kini terselip aman di saku rok abunya.
"Muka kamu kenapa tegang banget sih, Key? Kayak mau disidang Pak Hartono aja," bisik Dinda yang berjalan di sebelahnya sambil mengunyah permen karet. Rambut pendek Dinda bergoyang setiap kali ia menoleh.
"Sstt! Pelan dikit, Din," desis Keyla, matanya waspada memindai sekitar. "Aku belum nemu celah buat naruh ini. Anak-anak basket udah pada kumpul di depan XI IPA 1."
Dinda mendengus, logat Suroboyoan-nya kental keluar. "Halah, ribet temen! Tinggal lewat, 'permisi mas-mas ganteng', trus selipin. Beres to?"
"Ngawur!" Keyla melotot. "Itu namanya bunuh diri sosial."
Mereka berhenti di dekat mading sekolah. Dari kejauhan, Keyla bisa melihat Bintang Rigel berdiri di ambang pintu kelasnya. Cowok itu mengenakan seragam yang sedikit dikeluarkan, lengan kemejanya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia tertawa menanggapi lelucon Aldi, tapi bagi Keyla yang sudah mengamatinya selama dua tahun, tawa itu tidak mencapai matanya. Ada kelelahan yang tersembunyi di sudut bibir Bintang.
Keyla meremas ujung bukunya. *Paralaks*, batinnya. Itu tema surat hari ini. Perbedaan posisi semu suatu benda yang dilihat dari dua titik pandang berbeda.
"Kesempatan, Key! Aldi barusan nyeret Bintang ke kantin!" Dinda menyenggol bahu Keyla keras-keras, membuyarkan lamunannya.
Benar saja, gerombolan 'The Royals' itu bergerak menjauh. Koridor di depan XI IPA 1 mendadak sepi. Tanpa pikir panjang, didorong oleh adrenalin dan sisa keberanian yang entah datang dari mana, Keyla melesat. Ia masuk ke kelas yang kosong, aroma parfum maskulin dan penghapus papan tulis menyambutnya. Dengan gerakan terlatih layaknya ninja, ia berlutut di samping meja Bintang, meraba bagian bawah laci, dan menempelkan amplop biru tua itu menggunakan *washi tape*.
Lima detik. Hanya itu yang ia butuhkan sebelum kembali berbaur dengan arus siswa di koridor, jantungnya serasa mau meledak.
***
Jam istirahat kedua. Bintang Rigel duduk di bangkunya, mengabaikan keributan kelas yang seperti pasar malam. Di tangannya, selembar kertas berwarna *navy blue* dengan tulisan tangan rapi yang kini menjadi candunya terbuka.
*Untuk Rigel,*
*Dalam astronomi, ada istilah Paralaks. Bagaimana posisi sebuah bintang terlihat berbeda tergantung dari mana kita memandangnya. Semakin jauh jaraknya, semakin kecil pergeserannya.*
*Aku merasa manusia juga begitu. Orang-orang melihatmu dari sudut pandang 'Bintang si Kapten Basket', 'Bintang yang Sempurna', atau 'Bintang Anak Orang Kaya'. Dari sudut pandang mereka, posisimu tetap, bersinar, dan tak tersentuh.*
*Tapi aku mencoba melihatmu dari sudut pandang lain. Sudut pandang di mana cahaya itu mungkin melelahkan. Sudut pandang di mana gravitasi ekspektasi orang lain terasa menyesakkan. Apakah kamu pernah merasa lelah menjadi pusat tata surya bagi orang lain, sementara kamu sendiri ingin sekadar menjadi debu kosmik yang bebas melayang tanpa orbit?*
*Di sini, di balik bayangan, aku melihat pergeseran itu. Kamu tidak harus selalu bersinar, Gel. Redup sebentar itu boleh.*
*- Cassiopeia*
Bintang tertegun. Ia membaca kalimat terakhir itu berulang kali. *Redup sebentar itu boleh.* Tenggorokannya tercekat. Baru tadi pagi ayahnya menelepon, mengingatkan tentang latihan intensif untuk persiapan turnamen nasional dan les tambahan untuk persiapan masuk Fakultas Bisnis. Tidak ada yang bertanya apa yang Bintang inginkan. Tidak ada, kecuali gadis misterius bernama Cassiopeia ini.
Ia mengambil pulpen dari saku, merobek selembar kertas dari buku tulisnya, dan mulai menulis balasan dengan cepat. Ia tidak peduli jika tulisannya jelek. Ia hanya perlu menumpahkan isi kepalanya yang penuh sesak.
***
Siang harinya, perpustakaan SMA Cakrawala terasa sejuk berkat AC sentral yang bekerja maksimal. Keyla sedang merapikan rak buku bagian sastra klasik—tugas rutinnya sebagai anggota klub sastra—ketika sebuah bayangan menutupi cahaya lampu di atasnya.
Aroma *vanilla* dan *rose* yang mahal tercium menusuk hidung. Keyla menoleh dan nyaris menjatuhkan buku 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck' yang dipegangnya.
Vanya Clarissa berdiri di sana, melipat tangan di dada. Seragamnya pas badan, rambutnya badai seolah baru keluar dari salon, dan senyumnya... senyum itu tidak ramah. Itu senyum predator yang menemukan mangsa yang menarik.
"Keyla Aluna, kan?" tanya Vanya. Suaranya halus, tapi ada nada mengintimidasi yang membuat bulu kuduk Keyla berdiri.
"I-iya?" Keyla membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena keringat dingin.
"Gue Vanya. Ketua Cheerleader," Vanya mengulurkan tangan dengan gestur anggun yang terkesan dipaksakan. Keyla menyambutnya ragu-ragu. Telapak tangan Vanya halus sekali, kontras dengan tangan Keyla yang sering terkena tinta pulpen.
"Aku... aku tahu kok," jawab Keyla pelan.
"Gue denger lo anak klub sastra," Vanya mengambil salah satu buku dari rak, membolak-baliknya tanpa minat. "Gue lagi butuh bantuan nih. Gue mau bikin... *caption* Instagram yang agak puitis gitu. Buat foto gue sama tim basket. Lo jago nulis kan? Suka bikin puisi atau surat-surat gitu?"
Jantung Keyla berhenti berdetak sesaat. *Surat-surat?* Apakah Vanya tahu? Keyla berusaha menelan ludah, tapi tenggorokannya kering kerontang.
"E-enggak juga," elak Keyla, suaranya bergetar. "Aku cuma suka baca. Kalau nulis... jarang."
Vanya menatap Keyla lekat-lekat. Matanya yang tajam seolah memindai jiwa Keyla, mencari kebohongan. Ia melirik tas ransel Keyla yang tergeletak di meja—tas kanvas krem dengan gantungan kunci planet Saturnus. Sama persis dengan tas yang dilihatnya di kelas IPA 2 pagi itu.
"Masa sih?" Vanya melangkah lebih dekat, mengikis jarak personal mereka. "Sayang banget. Padahal gue suka gaya bahasa yang dalem, yang pake metafora bintang-bintang gitu. *You know, stuff that smart people like you would know.*"
Keyla merasa kakinya lemas. Metafora bintang. Vanya pasti tahu sesuatu. Atau ini cuma jebakan?
"Maaf, Vanya. Aku harus lanjut beresin rak ini sebelum Bu Ratna marah," kata Keyla, mencoba mengakhiri percakapan yang menyiksa itu.
Vanya tertawa kecil, suara yang renyah namun dingin. "Oke, *chill* aja. *Nice talking to you*, Keyla. Kita bakal sering ngobrol kayaknya nanti."
Gadis populer itu berbalik dan melenggang pergi, meninggalkan Keyla yang gemetar memegang rak buku agar tidak ambruk. Firasatnya mengatakan badai akan segera datang.
***
Sepulang sekolah, Keyla menyeret langkahnya menuju halte bus di depan sekolah. Dinda sudah pulang duluan karena ada les bahasa Inggris. Pikirannya masih kacau karena interogasi terselubung Vanya tadi. Namun, tangan kanannya menggenggam erat kertas sobekan buku tulis yang ia ambil dari tempat persembunyian rahasia di bawah pot tanaman dekat parkiran motor—tempat 'kotak pos' baru yang disepakati Bintang lewat sticky note kemarin.
Keyla duduk di bangku halte yang agak sepi, membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati.
*Untuk Cassiopeia,*
*Paralaks. Kamu selalu punya cara untuk menjelaskan perasaanku dengan kata-kata yang bahkan nggak pernah terpikirkan olehku. Kamu benar, menjadi pusat tata surya itu melelahkan. Kadang aku merasa orbitku sudah ditentukan oleh Papa, oleh pelatih, oleh ekspektasi sekolah. Aku cuma berputar di jalur yang sama, lagi dan lagi.*
*Tahu nggak? Dulu aku ingin jadi arsitek. Aku suka membayangkan membangun rumah yang tenang, jauh dari keramaian, di mana dindingnya bisa meredam suara bising dunia. Tapi Papa bilang itu nggak realistis. 'Bisnis dan Basket, Bintang. Itu masa depanmu,' katanya.*
*Membaca suratmu, rasanya seperti menemukan jendela di dinding tebal itu. Kamu satu-satunya yang melihatku bukan sebagai trofi, tapi sebagai manusia biasa yang bisa capek. Terima kasih sudah mengizinkan aku redup sebentar.*
*P.S. Siapa pun kamu, aku harap suatu hari nanti aku bisa melihat dunia dari sudut pandangmu.*
*- Rigel*
Air mata Keyla menetes tanpa permisi, membasahi kertas di pangkuannya. Rasa hangat menjalar di dadanya, bercampur dengan rasa bersalah yang semakin besar. Bintang Rigel, cowok yang dipuja satu sekolah, ternyata menyimpan kesepian yang begitu dalam. Dan dia mempercayakan kerapuhan itu pada Keyla—pada Cassiopeia.
Keyla mengangkat wajahnya, menyeka air mata, dan saat itulah matanya bertabrakan dengan sepasang mata cokelat gelap yang sangat ia kenal.
Bintang Rigel berdiri sekitar dua meter darinya, menenteng tas olahraga. Motor gedenya terparkir di pinggir jalan. Dia menatap Keyla—bukan, dia menatap gadis berkacamata yang sedang menangis sendirian di halte bus.
Waktu seolah berhenti. Keyla membeku. Surat Bintang masih terbuka di pangkuannya. Dengan panik, ia meremas kertas itu dan menyembunyikannya di balik telapak tangan.
Bintang melangkah mendekat, ragu-ragu. "Hei," sapanya canggung. Suara aslinya terdengar lebih berat dan nyata dibandingkan dalam imajinasi Keyla.
"H-hai," cicit Keyla. Ia menunduk dalam-dalam, berharap bumi menelannya sekarang juga.
"Lo... lo nggak apa-apa?" tanya Bintang. Nadanya tulus, sarat kekhawatiran. "Lo anak IPA 2 kan? Temennya Dinda?"
Keyla mengangguk kaku, tidak berani menatap mata Bintang. Jika Bintang melihat matanya sekarang, apakah dia akan mengenali jiwa yang menulis surat-surat itu? Apakah *Paralaks* akan bekerja, membuat Bintang melihat Keyla yang 'biasa' ini sebagai sesuatu yang istimewa?
"Ini..." Bintang merogoh saku tasnya, mengeluarkan sebotol air mineral dingin yang masih segel. "Buat lo. Panas banget hari ini. Minum dulu biar tenang."
Keyla menerima botol itu dengan tangan gemetar. Ujung jari mereka bersentuhan sekilas. Ada sengatan listrik statis yang membuat Keyla tersentak pelan.
"Makasih," gumam Keyla.
"Bintang! Woy, buruan! Latihannya udah mau mulai!" teriakan Aldi dari seberang jalan memecah momen itu.
Bintang menoleh, lalu kembali menatap Keyla sekilas sambil tersenyum tipis. "Gue duluan ya. *Take care*."
Bintang berlari kecil menuju motornya, meninggalkan Keyla yang masih mematung memegang botol air mineral. Di kejauhan, sebuah mobil Honda Jazz merah melambat. Di dalamnya, Vanya menurunkan kaca jendela, matanya menyipit melihat adegan itu lewat spion.
"Menarik," desis Vanya pelan sambil mengetuk-ngetukkan jari manicured-nya di setir. "Sangat menarik."
Keyla menatap punggung Bintang yang menjauh. Di tangannya ada surat curahan hati Bintang, dan di tangan satunya ada air pemberian Bintang. Untuk pertama kalinya, jarak antara 'Invisible Girl' dan 'Most Popular Boy' terasa menipis, meski ancaman badai bernama Vanya semakin mendekat.