NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 23

Sore itu tugas mereka hampir selesai. Aura sedang membaca ulang bagian latar belakang ketika ponselnya yang tergeletak di meja bergetar. Ia tidak langsung melihat. Harry yang duduk di sampingnya tanpa sengaja melirik layar yang menyala.

Nama itu muncul jelas.

Alden.

Harry tidak bereaksi berlebihan. Ia sudah tahu nama itu sejak lama. Sejak awal ia mengenal Aura, ia juga tahu Aura punya seseorang. Seseorang yang jarang terlihat, jarang terdengar, tapi tetap ada.

Aura baru menyadari ponselnya berbunyi beberapa detik kemudian. Saat melihat nama itu, napasnya berubah sedikit.

“Aku angkat ya,” ucapnya pelan.

Harry mengangguk singkat. “Iya.”

Aura berdiri dan menjauh beberapa langkah, mendekati jendela kecil di sudut kamar kos.

“Halo.”

“Ra.”

Suara Alden terdengar datar seperti biasa. Tidak hangat, tapi juga tidak dingin. Hanya… jauh.

“Kamu lagi apa?” tanyanya.

“Lagi ngerjain tugas.”

“Hm.”

Hening beberapa detik. Seperti biasa. Percakapan dengan Alden sering kali diisi jeda yang terlalu panjang.

“Kamu sakit kemarin?” tanya Alden akhirnya.

Aura sedikit terkejut. “Kamu tahu dari mana?”

“Ada yang bilang.”

Jawaban singkat. Tanpa penjelasan siapa.

“Udah mendingan,” jawab Aura.

“Yaudah. Jaga kesehatan.”

Tidak ada nada khawatir berlebihan. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Begitulah Alden sejak beberapa bulan terakhir. Ia tetap pacarnya. Statusnya jelas. Tapi kehadirannya samar.

“Alden,” panggil Aura pelan sebelum ia benar-benar menutup telepon.

“Iya?”

“Kapan kamu ke sini lagi?”

“Belum tahu. Masih sibuk.”

Sibuk.

Kata itu terlalu sering ia dengar.

“Yaudah,” ucap Aura akhirnya.

Telepon terputus.

Aura berdiri beberapa detik sebelum kembali ke meja. Harry masih duduk di tempatnya, tapi ia tahu Harry pasti menyadari perubahan ekspresinya.

“Dia?” tanya Harry tenang.

“Iya.”

Harry mengangguk kecil. “Dia tahu kamu lagi di sini?”

Aura ragu sepersekian detik. “Aku cuma bilang lagi ngerjain tugas.”

Hening sejenak.

“Di kosan aku,” tambahnya pelan.

Harry menatapnya. Tidak ada amarah. Tidak ada sindiran. Hanya tatapan yang sulit ditebak.

“Dia marah?”

“Enggak.”

Jawaban itu justru membuat suasana terasa lebih berat.

Harry tersenyum tipis. “Dia selalu kayak gitu ya.”

Aura menatapnya. “Kayak gimana?”

“Tenang. Seolah nggak ada yang perlu dikhawatirin.”

Aura tidak langsung menjawab. Karena dalam hati ia tahu, yang lebih sering khawatir justru dirinya sendiri.

“Aku sama dia masih baik-baik aja,” ucap Aura pelan. Seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Harry mengangguk. “Aku tahu.”

“Aku nggak pernah bohong soal itu dari awal.”

“Aku juga nggak pernah minta kamu bohong.”

Kalimat itu membuat Aura terdiam.

Sejak awal Harry memang tahu Aura berpacaran dengan Alden. Ia tidak pernah mengganggu. Tidak pernah menuntut Aura memilih. Ia hanya… ada.

“Aku nggak ngerti kenapa kamu tetap dekat sama aku,” kata Aura pelan.

Harry menatap layar laptop sebelum menjawab, “Karena perasaan nggak selalu datang di waktu yang rapi.”

Aura menelan pelan.

“Aku nggak pernah niat ngerebut kamu,” lanjut Harry. “Dan aku juga nggak mau jadi alasan kamu bermasalah sama dia.”

“Kamu bukan alasan,” jawab Aura cepat.

Harry akhirnya menatapnya. “Tapi aku ada.”

Dan itulah masalahnya.

Aura menunduk. Ia sadar posisinya tidak sederhana. Ia punya pacar. Hubungannya memang tidak sehangat dulu, tapi belum berakhir. Sementara di hadapannya ada seseorang yang kehadirannya terasa jauh lebih nyata.

“Dia jarang ngabarin,” ucap Aura lirih, lebih seperti pengakuan daripada keluhan.

Harry terdiam.

“Tapi aku tetap pacarnya,” lanjutnya.

“Iya.”

“Kamu nggak capek?”

Harry tersenyum kecil. “Capek.”

Aura mengangkat wajahnya.

“Tapi aku capeknya karena nunggu, bukan karena kamu.”

Hening memenuhi ruangan kecil itu.

“Kalau suatu hari kamu mutusin buat tetap sama dia, aku bakal mundur,” ucap Harry tenang. “Tapi selama kamu masih bingung, aku nggak akan pura-pura nggak peduli.”

Aura tidak tahu harus menjawab apa.

Di luar, suara kendaraan terdengar samar. Sore makin gelap.

Tugas mereka akhirnya selesai, tapi tidak ada yang merasa benar-benar lega.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!