NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Uncle Noah

Terjerat Cinta Uncle Noah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Si Mujur / Tamat
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyuman Semanis Es Cream

"Asta, temenin Kakak jogging ke centrum, yuk," kata Ninda sambil membuka pintu kamar Asta.

Seketika, Asta kaget. Dia menoleh sebentar, kemudian melanjutkan memainkan stik PS-nya.

"Nggak mau. Aku lagi sibuk. Calvin mau main ke sini," jawab Asta singkat.

"Sibuk apaan? Main PS?" Kemudian Ninda merebut stik PS itu dari Asta.

 "Ajak Calvin sekalian," kata Ninda lagi, masih memegang stik PS Asta.

"Apaan sih, Kak, ganggu aja!" Raut wajah Asta berubah marah, namun Ninda tetap memegang stik itu.

Asta bangkit dari duduknya, merebut stik itu dari Ninda dengan kasar, kemudian kembali duduk bermain game.

"Duuh, kasar banget!" teriak Ninda.

"Salah sendiri," sahut Asta cuek. "Lagian, mana mau Calvin diajak jogging, mending main PS," kata Asta lagi.

"Main game terus. Olahraga biar sehat jasmani dan rohani," Ninda terus ngoceh.

Asta tak mau ambil pusing. Dia memasang headset di telinganya sambil menyalakan musik.

"Ni anak, kurang ajar banget," Ninda mulai mengumpat.

Asta mengacungkan jari tengahnya.

 "Astaga!" ungkap Ninda sambil berlalu, kemudian membanting pintu kamar Asta.

Ninda melakukan peregangan di halaman rumahnya, kemudian dia berlari santai sambil melihat sekeliling, menikmati udara bersih nan sejuk kota itu.

Sungai Schie membentang sepanjang jalan. Suasana tidak terlalu ramai, mungkin karena masih terlalu pagi.

Ninda menghentikan langkahnya. Gedung-gedung khas arsitektur Belanda zaman abad pertengahan berjejer, nampak indah.

Dia sedikit agak bingung. Sekarang Ninda berada di sebuah jembatan yang baru pertama kali dia lihat.

"Hah, di mana aku?" ungkap Ninda bingung. Dia coba merogoh saku celananya.

 "Akh, sial," katanya. Dia baru sadar dia lupa membawa ponsel dan dompetnya.

Ninda mencoba melihat ke sekeliling. Dia melihat beberapa toko berjajar. Di seberang jalan juga tampak beberapa kafe yang masih tutup.

Di tengah kebingungannya, dia hanya berdiri saja di tempat itu. Wajahnya tampak kebingungan.

DEG...

Tiba-tiba saja dia melihat sosok yang dia kenal dari arah yang berlawanan.

"Noah," nama itu terucap begitu saja dari bibirnya.

Noah terlihat lebih tampan dan sangat seksi ketika sedang berlari.

Sorot matanya yang tajam kini menatap ke arah Ninda, tubuh atletisnya dibalut T-shirt berwarna putih. Otot kakinya terlihat kekar.

Gerakan Noah tampak slow motion di mata Ninda, begitu indah. Rambutnya bergerak naik turun, keringat menetes dari wajahnya, dada yang bidang menambah kesempurnaan postur Noah.

Sosok Noah kini mendekat kepadanya, semakin dekat dan semakin dekat.

Ninda menlan ludahnya masih melongo.

"Kebetulan sekali," ungkap Noah tiba-tiba membuyarkan lamunan Ninda.

"Syukur lah," ungkap Ninda pelan.

Dia tampak masih mengatur napas dan jantungnya yang berdebar kencang.

"Kamu tersesat?" tanya Noah bisa memperkirakan hal itu.

Noah melihat dari kejauhan Ninda tampak kebingungan tadi. Ninda hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Noah.

"Ayo, aku antar pulang," kata Noah langsung menawarkan diri.

Ninda mengangguk, senyuman terukir di wajahnya sekarang.

Di sepanjang jalan, sesekali Ninda mencuri pandang ke arah Noah. Tanpa dia sadari, dia senyum-senyum sendiri.

"Tunggu sebentar," tiba-tiba saja Noah menghentikan langkahnya.

"Ada apa?" Ninda sedikit heran tiba-tiba Noah menyuruhnya berhenti.

"Jangan bergerak," ungkap Noah sambil berlutut di hadapan Ninda. Kemudian, Noah mengikatkan tali sepatu Ninda yang terlepas.

Ninda kaget bukan main. Jantungnya berdebar kencang, wajahnya bersemu merah.

"Sudah selesai," kata Noah sambil beranjak tiba-tiba berdiri menghadap Ninda.

"Kalau terinjak, bisa jatuh," kata Noah lagi lembut, sambil mengelus kepala Ninda.

Wajah Ninda yang merona merah itu terlihat jelas. Hal itu membuat Noah semakin gemas, kemudian dia mengelus kepala Ninda lagi.

"Ninda!" Suara itu terdengar merdu.

"Ya, Uncle," sahut Ninda pelan. Dia meleleh tak berdaya dan lemas saat ini.

"Mau makan es krim?" tanya Noah masih menatap wajah Ninda.

"Haah, ini masih pagi, Uncle," sahut Ninda heran.

"Sudah jam sepuluh," ungkap Noah sambil melirik jam tangannya.

Noah menarik tangannya. Kemudian mereka berjalan menuju sebuah toko es krim yang bernama De Lelie, letaknya berada tidak jauh dari situ.

Noah mengajak Ninda masuk ke toko es krim itu, dan di balik etalase kaca beberapa varian es krim tersedia di sana.

"Mau rasa apa?" tanya Noah.

Ninda memperhatikan satu persatu kotak berisi es krim itu. "Hazelnut," ungkap Ninda sudah menentukan pilihannya.

Mereka duduk di tepi sungai sambil menikmati es krim.

"Bagaimana?" tanya Noah.

"Em, manis, enak, rasanya cukup kuat," ungkap Ninda.

Ninda tersenyum sejenak sambil kembali menikmati es krimnya.

Noah memperhatikan Ninda dari samping. Dia mencuri-curi pandang menikmati kecantikan gadis itu.

Namun, tiba-tiba saja lambung Ninda berbunyi. Noah tampak kaget, seketika dia menahan tawanya, dia sedikit menunduk.

"Astaga, kamu kelaparan," kata Noah menggoda Ninda.

"Maaf, aku lupa kamu orang Indonesia, pagi-pagi harus makan," ungkap Noah sedikit meledek.

"Maksud Uncle?" sahut Ninda agak cemberut.

"Ayo, ikut aku," kata Noah sambil mengajak Ninda beranjak dari tempat itu.

"Ke mana?" tanya Ninda.

"Breakfast," jawab Noah singkat, kemudian menarik tangan Ninda.

Ninda pun mengikuti saja perintah Noah. Setelah berjalan sekitar 200 meter, mereka tiba di sebuah tempat bernama Cortado Cafe.

"Tidak ada nasi di sini, tidak masalah bukan?" Noah sedikit bercanda, menggoda Ninda.

"Aku bisa makan selain nasi kok," sahut Ninda cemberut.

Dua porsi sandwich isi tuna dan dua gelas hot chocolate tersaji di atas meja. Ninda hanya bengong melihat makanan di atas meja.

"Makan lah, nanti kamu pingsan," kata Noah.

Noah memperhatikan Ninda sambil menyeruput hot chocolate-nya. Ninda menatap Noah sejenak.

"Ada apa?" Ninda heran melihat Noah terus memandangnya.

"Tidak apa-apa, makan saja," jawab Noah sambil tersenyum.

"Ya, Uncle aku orang Indonesia, pagi-pagi harus makan yang berat," ucap Ninda membuat Noah tertawa kemudian.

Sebetulnya Ninda sangat malu, tapi dia benar-benar harus mengisi perutnya jadi Sepotong sandwich tidak bisa membuatnya kenyang.

Noah seperti mendengar bisikan hati Ninda. Tanpa diduga, dia memberikan sandwich miliknya kepada Ninda, dengan menggeser piring miliknya ke hadapan Ninda.

"Tidak, aku sudah kenyang," ucap Ninda malu-malu.

Namun, Noah terus memaksa dengan mimik muka yang seolah menyuruh Ninda menghabiskan sandwich miliknya.

"Baik lah kalau Uncle memaksa," ucap Ninda sambil melahap sandwich itu. Dan tak butuh waktu, sandwich kedua pun sudah habis dilahap Ninda.

Sekarang wajah Ninda sudah tampak tak pucat lagi, terlihat lebih bertenaga. Ninda pun tersenyum manis ke arah Noah sebagai ungkapan terima kasih.

"Tunggu sebentar," ucap Noah sambil mengusap bibir Ninda. Ninda terkejut bukan main.

"Ada sedikit saus," ungkap Noah sambil tersenyum menatap Ninda.

Ninda bingung harus bereaksi seperti apa. Dia ingin sekali berteriak, jantungnya rasanya ingin meledak. Laki-laki tampan itu menyentuh bibirnya.

"Hari Sabtu ini kamu sibuk?" tanya Noah tiba-tiba, terdengar seperti basa-basi.

"Tentu saja tidak," jawab Ninda kemudian diiringi senyuman Noah yang tampak gemas dengan jawaban yang terdengar apa adanya.

"Ada acara penerimaan murid pra sekolah di akademi sepak bola milikku, kamu tahu kan?" Noah tak meneruskan ucapannya. Dia ingin menyombongkan diri, namun dia nampak sungkan mengatakan secara langsung.

"Iya, aku tahu Uncle pemilik akademi sepak bola, Tonny selalu mengatakannya berulang-ulang kali," sahut Ninda.

Noah tersenyum, tampak bangga dengan hal itu. Di usianya yang masih terbilang muda, dia bisa mendedikasikan dirinya untuk hal yang dia cintai, yaitu sepak bola.

"Jadi bagaimana, kau menerima ajakan ku?" tanya Noah lagi meyakinkan.

Ninda berpikir sejenak. "Ok," jawab Ninda singkat.

"Hari Sabtu aku jemput jam sembilan!"

"Jangan sampai telat!" Noah tertawa kecil mendengar ucapan Ninda, tidak menyangka kata-kata itu akan terucap dari orang Indonesia.

"Tidak perlu kuatir, aku akan tepat waktu, sekarang aku di Belanda," Kali ini Ninda yang tertawa mengingat kebiasan orang-orang di Indonesia.

"Kau sudah kembali ke kebiasaan lama mu," ucap Ninda menggoda Noah.

"Masih sedikit penyesuaian," sahut Noah sedikit tertawa.

Mereka saling memandang dan saling melempar senyum satu sama lain. Hari ini tanpa mereka duga, mereka bisa bertemu. Ninda sangat senang karena akhirnya dia bisa berjalan-jalan ke centrum sesuai harapannya, ditemani laki-laki setampan dan semanis Noah.

Malam ini Ninda tak bisa tidur. Setiap menutup mata, dia melihat senyuman Noah yang sangat manis, semanis es krim yang dia makan hari ini.

Terlebih, malam ini dia mendapat chat dari Noah. Isi chat-nya sederhana, tapi cukup manis menurut Ninda.

Noah:

'Selamat malam, sampai jumpa nanti hari Sabtu'

Ninda:

'Selamat malam, terima kasih sudah mau mengajak ku pergi'

Pesan itu diakhiri dengan emoji smile dari Noah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!