Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: KETIKA SERIGALA BEKERJA SAMA
Pelabuhan London di tengah malam adalah rimba besi dan karat. Angin laut yang asin menusuk kulit Elara, namun ia tidak lagi merasakannya. Fokusnya hanya satu: bayangan titik merah yang berkedip di pupil mata kanannya setiap kali ia berkedip.
Ia kini berdiri di puncak tumpukan kontainer, menghadap ke dermaga utama tempat transaksi besar Moretti seharusnya berlangsung. Di tangannya, ia memegang sebuah alat pemantik suar yang ia curi dari dasbor taksi tadi. Bagi mata awam, itu hanya alat keselamatan. Bagi Julian dan Kael yang sedang mengawasinya dari kejauhan, itu adalah ancaman pemusnahan data.
"Elara! Berhenti di sana!"
Suara Julian bergema melalui sistem pengeras suara pelabuhan. Pria itu muncul dari balik bayang-bayang gudang, tidak lagi mengenakan jas rapi. Kemejanya robek, wajahnya berdarah, dan untuk pertama kalinya, Elara melihat ketakutan yang murni di mata pria itu.
Di sisi lain, dari arah kapal kargo, Kael muncul dengan pasukan kecilnya. Ia berhenti sepuluh meter dari Julian. Dua pria itu saling mengunci pandangan—kebencian mereka bisa meledakkan tempat ini—namun moncong senjata mereka tidak lagi mengarah satu sama lain.
Keduanya menatap ke atas. Ke arah Elara.
"Kau gila, Elara! Turun dari sana!" teriak Kael, suaranya parau. "Jika kau memicu suar itu di dekat tangki gas di bawahmu, chip di matamu akan meledak karena lonjakan termal!"
Elara tertawa, suara yang terdengar asing di telinganya sendiri. "Kau dengar itu, Julian? Kael jauh lebih jujur darimu. Dia mengakui bahwa chip ini adalah bom, bukan hanya penyimpan data."
Julian melangkah maju, tangannya terangkat—gestur menyerah yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. "Elara, dengarkan aku. Chip di matamu itu... itu adalah protokol terakhir. Ayahmu menyetujuinya agar jika kau tertangkap, data itu akan hancur bersama inangnya. Aku sedang mencoba mematikannya!"
"Dengan caramu sendiri? Dengan mengurungku selamanya?" balas Elara tajam. "Kalian berdua menginginkan apa yang ada di kepalaku. Tapi kalian lupa, kepalaku adalah milikku."
"Julian!" Kael berteriak tanpa menoleh.
"Orang-orang Silas sudah masuk dari gerbang utara. Mereka tidak peduli jika Elara mati. Mereka hanya ingin sisa-sisa chipnya."
Julian terdiam sejenak. Ia melirik Kael, lalu kembali ke Elara. Sebuah keputusan pahit harus diambil. "Kael... hentikan orang-orang Silas. Aku akan menangani sistem keamanannya."
"Kau gila? Kita baru saja mencoba membunuh satu sama lain di stasiun!" balas Kael sinis.
"Jika Elara meledakkan suar itu, kita berdua kehilangan segalanya!" bentak Julian. "Bekerja sama denganku, atau kita mati di sini!"
Dua musuh bebuyutan itu akhirnya bergerak dalam harmoni yang mengerikan. Kael dan pasukannya berbalik arah untuk menahan gempuran Silas yang mulai mendekat dengan rentetan tembakan. Sementara itu, Julian berlari menuju panel kendali pusat tepat di bawah kontainer Elara.
Elara melihat pemandangan itu dari ketinggian. Dua serigala yang dipaksa bekerja sama karena mangsa mereka berubah menjadi pemangsa.
Sekarang, batin Elara.
Ia tidak benar-benar berniat meledakkan tangki gas. Itu adalah bunuh diri sia-sia. Ia menggunakan kekacauan itu untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih cerdas. Dengan jari-jarinya yang gemetar, ia menempelkan alat pemantik suar itu ke sensor biometrik di panel kontainer yang ia duduki—sebuah kontainer yang ia curigai sejak awal.
Bukan berisi senjata. Bukan berisi narkoba.
Pintu kontainer terbuka sedikit. Elara menyelinap masuk ke dalam tepat saat Julian berhasil memanjat naik.
"Elara!" Julian sampai di puncak, namun kontainer itu kosong. Alat suar tadi dibiarkan menyala di pinggiran, menciptakan ilusi bahwa Elara masih ada di sana.
Di dalam kontainer yang gelap, Elara menemukan apa yang ia cari. Seseorang sedang duduk di kursi roda dengan berbagai selang medis. Ayahnya.
"Ayah..." bisik Elara.
Pria tua itu membuka matanya, menatap Elara dengan tatapan hancur. "Lari, Elara... Julian... dia tidak memberitahumu semuanya..."
Tiba-tiba, suara Silas terdengar dari luar, sangat dekat. "Bagus sekali. Julian dan Kael sedang sibuk bermain pahlawan, sementara sang putri masuk ke perangkapnya sendiri."
Elara berdiri di depan ayahnya, menghadap pintu kontainer yang mulai terbuka lebar. Ia melihat Silas berdiri di sana dengan senyum kemenangan. Namun, Elara tidak takut. Ia menyentuh sudut matanya—tempat titik merah itu berada.
"Silas," ucap Elara dingin. "Jika kau melangkah satu senti lagi, aku akan memicu lonjakan bio-elektrik di mataku. Aku mungkin akan buta, tapi kau akan pulang dengan tangan kosong dan amarah Dewan di lehermu."
Silas berhenti. Ia melihat tekad yang tidak goyah di mata Elara.
"Jika aku harus buta untuk bebas," Elara mendekatkan pemantik suar ke matanya sendiri, "maka aku tidak takut gelap."
Di kejauhan, Julian dan Kael yang menyadari apa yang terjadi, berlari sekuat tenaga menuju kontainer itu. Namun mereka terlambat. Sebuah ledakan cahaya putih membutakan seluruh pelabuhan.
Saat cahaya itu memudar, kontainer itu kosong. Elara, ayahnya, dan Silas menghilang di tengah kabut laut yang tebal.