Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Balas dendam
Claire yang sudah berada di puncak kekesalannya tidak bisa lagi berdiam diri. Harga dirinya sebagai putri mahkota Aimo Group dari New York benar-benar terusik. Jika Leo pikir dia bisa terus-terusan mengintimidasinya dengan tatapan provokatif dan reputasi "Duta Kokop"-nya, maka Leo salah besar.
Dengan langkah tegas yang membuat tumit sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai kayu perpustakaan, Claire menghampiri Sutradara Han yang sedang sibuk mengecek monitor.
"Sutradara Han," panggil Claire dengan suara yang tenang namun menuntut otoritas.
Sutradara Han mendongak, sedikit terkejut melihat aura dingin Claire yang lebih pekat dari biasanya. "Ya, Claire? Ada masalah dengan naskahnya?"
"Sebaliknya," Claire melipat tangan di dada, melirik Leo yang sedang duduk santai di kejauhan sambil memutar-mutar ponselnya.
"Aku merasa adegan rekonsiliasi di perpustakaan ini kurang greget. Penonton New York dan seluruh dunia mengharapkan sesuatu yang lebih intens setelah adegan di Notting Hill kemarin."
Sutradara Han mengangkat alis, tertarik. "Maksudmu?"
"Aku ingin ada adegan ciuman tambahan. Tapi kali ini, karakternya harus berbalik. Biar aku yang mengambil inisiatif. Aku yang mendominasi, aku yang menariknya, dan aku yang memimpin permainannya," jelas Claire dengan senyum penuh arti.
"Kita buat penonton melihat bahwa karakter wanita ini punya kuasa penuh."
Sutradara Han mengangguk-angguk setuju. "Ide brilian! Itu akan membuat dinamika karakternya sangat menarik. Oke, kita tambahkan satu adegan close-up di antara rak buku!"
Leo, yang tidak tahu apa-apa, diminta kembali ke set. Ia mengira adegan ini hanya akan berakhir dengan mereka beradu argumen. Namun, saat Sutradara Han meneriakkan,
"ACTION!", skenarionya berubah total.
Bukannya mundur saat Leo mencoba memojokkannya, Claire justru maju satu langkah besar. Ia mencengkeram kerah kemeja Leo dengan kuat, menarik pria itu hingga tubuh mereka bertabrakan tanpa celah.
Leo tampak terkejut—sebuah ekspresi langka yang membuat Claire merasa menang.
"Dengar, Leo," desis Claire, suaranya sangat rendah dan penuh kuasa, persis di depan bibir Leo. "Jangan pikir kamu bisa mengaturku."
Sebelum Leo sempat membalas, Claire langsung membungkam bibir pria itu. Namun, ini bukan ciuman lembut seperti sebelumnya. Claire menciumnya dengan intensitas yang menuntut, seolah ingin membuktikan bahwa dia bisa melakukan teknik yang jauh lebih hebat daripada sekadar vakum. Ia memimpin setiap gerakannya, menggigit kecil bibir bawah Leo dengan penuh dominasi, persis seperti cara Leo memprovokasinya tadi.
Leo terdiam kaku untuk beberapa detik, matanya melebar sebelum akhirnya ia perlahan menutup mata dan mencoba mengikuti ritme Claire. Tapi Claire tidak memberinya kesempatan untuk mengambil kendali. Setelah beberapa saat yang terasa sangat panas dan menyesakkan, Claire melepaskan tautannya secara tiba-tiba.
"Cut! Perfect! Sangat emosional!" seru Sutradara Han dari balik monitor.
Claire mundur, mengusap bibirnya dengan punggung tangan secara elegan. Ia menatap Leo yang tampak sedikit terengah-engah dan untuk pertama kalinya—terlihat kehilangan kata-kata.
"Gimana, Abelano?" bisik Claire sambil memberikan senyum kemenangan yang paling sinis. "Masih mau pamer teknik vakum? Ternyata bocah di bawah umur sepertimu sangat mudah untuk dikendalikan."
Claire berbalik pergi dengan kibasan rambutnya yang sempurna, meninggalkan Leo yang masih mematung di antara rak buku, menyentuh bibirnya yang masih terasa panas akibat serangan mendadak Claire.
Leo tidak menyangka. Selama kariernya, dialah yang selalu memegang kendali. Dia adalah predator di depan kamera yang membuat semua lawan mainnya tunduk pada ritme permainannya. Namun hari ini, di sebuah perpustakaan sunyi di London, Claire Odette Aimo baru saja menjatuhkan harga dirinya sekaligus membakar adrenalinnya hingga ke titik tertinggi.
Sentuhan Claire yang menuntut dan gigitan kecil di bibirnya tadi tidak terasa seperti akting bagi Leo. Itu terasa seperti deklarasi perang yang sangat seksi.
Di ruang ganti pribadinya, Leo duduk terdiam di depan cermin. Ia menyentuh bibir bawahnya yang masih terasa sedikit berdenyut. Bayangan wajah Claire yang dominan, tatapan matanya yang penuh kuasa, dan aroma parfum floral-woody yang tertinggal di kemejanya terus berputar di kepalanya.
"Sial," umpat Leo pelan, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang lebih gelap dari biasanya.
Leo mengambil ponselnya. Alih-alih merasa terhina karena dikendalikan, dia justru merasa tertantang. Obsesinya yang selama ini tersembunyi di balik sikap santai kini mulai keluar. Dia tidak lagi memandang Claire sebagai rekan kerja atau kakak kelas yang sombong dari New York.
Claire adalah target yang harus dia taklukkan sepenuhnya.
Malam itu, Claire baru saja selesai mandi di penthouse hotelnya ketika bel pintu berbunyi. Ia mengira itu Siska yang membawakan jadwal untuk besok. Namun, saat pintu dibuka, sosok tinggi Leonard Abelano berdiri di sana, masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia pakai saat syuting, namun dengan tatapan yang jauh lebih berbahaya.
"Apa lagi, Leo? Belum puas dipermalukan di lokasi?" tanya Claire ketus, mencoba menutupi kegugupannya dengan jubah mandi sutranya.
Leo tidak menjawab. Ia melangkah masuk begitu saja, memaksa Claire mundur hingga punggungnya membentur dinding koridor hotel. Leo mengunci pintu dengan satu tangan tanpa melepaskan pandangannya dari mata Claire.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Claire?" suara Leo kini sangat rendah, berat, dan penuh intensitas. "Kamu pikir dengan memimpin ciuman tadi, kamu bisa membuatku takut?"
Claire mendongak, mencoba terlihat berani.
"Aku hanya menunjukkan padamu bagaimana orang dewasa bekerja. Kamu hanya bocah yang..."
"Bocah ini tidak bisa berhenti memikirkan mu sejak tadi sore," potong Leo cepat. Ia mencondongkan tubuhnya, menaruh kedua tangannya di sisi kepala Claire, mengurungnya.
"Teknikmu tadi... lumayan. Tapi kalau kamu mau main dominasi denganku, pastikan kamu siap menanggung konsekuensinya."
Leo mendekatkan wajahnya ke leher Claire, menghirup aroma sabun dan kulit wanita itu yang masih hangat. Claire gemetar, namun kali ini bukan karena kesal.
"Dunia mungkin memanggilku Duta Kokop," bisik Leo tepat di telinga Claire, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. "Tapi khusus untukmu, aku punya banyak teknik lain yang tidak akan pernah kutunjukkan di depan kamera. Kamu ingin memimpin? Silakan. Tapi aku tidak akan melepaskan mu sampai kamu memohon padaku untuk mengambil alih kembali."
Leo menarik diri sedikit, menatap bibir Claire dengan tatapan lapar yang sangat nyata. "Mulai besok, jangan harap kamu bisa tidur tenang, Odette. Karena aku baru saja memutuskan bahwa kamu adalah satu-satunya skenario yang ingin kupelajari sampai mati."
Leo kemudian berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Claire.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰😍
keren....