Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Bayangan di Balik Pinus
Penangkapan Erlangga memberikan rasa aman yang semu bagi warga Sukamaju. Di permukaan, desa tampak kembali tenang. Pipa-pipa air tetap mengalirkan kesejukan, dan pembangunan Balai Kreatif kembali dilanjutkan dengan semangat yang meluap-luap. Namun, bagi Rian, ketenangan ini terasa terlalu sunyi. Ia tahu betul bagaimana Tuan Mahendra bekerja; kegagalan Erlangga hanyalah alasan bagi sang naga tua untuk berhenti menggunakan tangan amatir dan mulai mengirimkan "pemotong rumput" yang sesungguhnya.
"Gia, hari ini jangan ke pasar sendirian ya. Biar Jon yang menemani kalau mau belanja stok kopi," ujar Rian sambil memasang kamera pengawas nirkabel tambahan di sudut teras kedai.
Gia yang sedang mencatat inventaris barang di bar hanya bisa menghela napas. Sejak kejadian di dermaga dan sabotase pipa, Rian menjadi sepuluh kali lebih protektif. "Rian, pasar itu cuma sepuluh menit dari sini. Warga semua kenal aku. Nggak akan ada yang berani macem-macem di siang bolong."
Rian turun dari tangga lipatnya, wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bercanda. "Orang yang dikirim Mahendra kali ini nggak akan peduli siang atau malam, Gia. Mereka nggak butuh ijin warga buat narik kamu ke dalam mobil."
Gia terdiam melihat kesungguhan di mata Rian. Ada kilat ketakutan yang belum pernah ia lihat sebelumnya—bukan takut untuk dirinya sendiri, tapi takut kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Gia perlahan meletakkan penanya dan mendekati Rian, menggenggam tangannya yang kasar karena bekas luka semalam.
"Aku janji akan hati-hati. Tapi kamu juga jangan terlalu stres, nanti jahitannya nggak kering-kering," bisik Gia lembut.
Siang itu, sebuah mobil boks berwarna putih polos tanpa logo perusahaan berhenti di depan Kedai Harapan. Sopirnya, seorang pria dengan topi yang ditarik rendah hingga menutupi wajahnya, turun membawa sebuah kotak kardus besar.
"Kiriman untuk Nona Gia Atmadja. Dari Jakarta," ujar pria itu singkat saat bertemu Rian di halaman.
Rian menyipitkan mata. Ia tidak langsung menerima kotak itu. "Jakarta dari siapa? Kami nggak merasa pesan barang."
"Saya hanya kurir, Mas. Datanya tertulis dari 'Firma Arsitektur Global'. Katanya dokumen penting," sahut si kurir tanpa mengangkat wajahnya.
Rian merasakan firasat buruk. Ia tahu firma lamanya sedang diawasi ketat, tidak mungkin mereka mengirim dokumen sembarangan. "Taruh di sana saja, di atas meja batu."
Begitu kurir itu pergi, Rian tidak langsung membuka kotak tersebut. Ia mengambil tongkat kayu panjang, lalu perlahan membuka selotip penutupnya dari jarak jauh. Namun, isinya bukan bom atau benda berbahaya. Di dalam kotak itu terdapat sebuah gaun malam berwarna merah darah—gaun yang sangat dikenal Gia—dan sebuah foto lama mereka berdua saat masih di Jakarta yang sudah dicoret-coret dengan tinta hitam.
Gia yang keluar dari kedai langsung membeku melihat isi kotak itu. "Itu... itu gaun yang aku pakai saat pertunangan dengan Niko yang gagal itu. Bagaimana mereka bisa punya ini?"
Rian tidak menjawab. Ia justru memperhatikan sebuah catatan kecil di dasar kotak: "Apa yang dimulai di kota, harus diakhiri di kota. Jangan biarkan orang-orang desa ikut terbakar karena keegoisanmu, Rian."
Pesan itu jelas. Mahendra sedang melakukan teror psikologis. Ia ingin Rian merasa terisolasi, merasa bahwa kehadirannya di Sukamaju adalah kutukan bagi warga desa.
"Gia, masuk ke dalam sekarang. Kunci pintu belakang," perintah Rian dengan suara yang sangat rendah dan dingin.
Sore merayap menjadi senja yang merah merona. Rian berdiri di balkon Balai Kreatif yang belum beratap, menatap ke arah hutan pinus yang mengelilingi desa. Dari kejauhan, ia melihat pantulan cahaya dari sebuah lensa teropong. Ada seseorang di sana, sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
Rian segera turun dan menemui Pak Jaya. "Pak, malam ini saya mau minta izin bawa Gia pergi sebentar dari desa."
Pak Jaya yang sedang membersihkan meja bar terhenti. "Pergi ke mana, Rian? Suasana lagi panas begini."
"Justru karena panas, Pak. Mereka sudah mulai mengincar Gia secara pribadi. Kalau dia tetap di sini, kedai ini dan warga desa akan terus jadi sasaran. Saya mau bawa dia ke tempat Pak Jaka di Jakarta, tapi lewat jalur yang nggak akan mereka duga," jelas Rian.
Pak Jaya menghela napas panjang, ia menatap putri tunggalnya yang sedang sibuk di dapur. "Bapak percaya sama kamu, Rian. Jaga dia. Hanya itu yang Bapak minta."
Tengah malam, saat seluruh desa sudah terlelap, Rian dan Gia menyelinap keluar lewat pintu belakang rumah. Mereka tidak menggunakan motor atau mobil. Rian telah menyiapkan dua buah sepeda gunung yang sudah diredam suaranya. Mereka akan melintasi jalur setapak di tengah perkebunan teh menuju stasiun kereta api kecil di kota sebelah yang jarang dipantau.
"Rian, apa kita nggak kabur namanya kalau begini?" bisik Gia saat mereka mulai mengayuh sepeda di bawah naungan pohon-pohon besar.
"Ini bukan kabur, Gia. Ini memindahkan medan tempur," jawab Rian sambil terus waspada menatap kegelapan di kiri-kanan jalan. "Di desa, mereka bisa menyerang warga buat nekan kita. Di kota, aku punya lebih banyak 'mata' dan teman lama yang bisa bantu kita balik menyerang Mahendra."
Namun, perjalanan mereka tidak semudah itu. Saat mereka mencapai jembatan kayu di perbatasan desa, sebuah bayangan muncul dari balik pohon beringin besar. Seorang pria tinggi tegap dengan jaket kulit hitam berdiri menghalangi jalan. Di tangannya, ia memegang sebuah belati panjang yang berkilat di bawah cahaya bulan.
"Tuan Mahendra bilang, kalian tidak boleh meninggalkan desa tanpa ijinnya," ujar pria itu dengan suara serak.
Rian segera turun dari sepeda, mendorong Gia ke belakangnya. "Gia, tetap di atas sepeda. Kalau aku bilang lari, kamu kayuh sekencang mungkin ke arah stasiun. Jangan menoleh!"
"Rian, jangan gila! Dia punya senjata!" jerit Gia tertahan.
Pria itu melangkah maju. Gerakannya sangat tenang, khas seorang pembunuh profesional. Rian tidak memiliki senjata apa pun, ia hanya memegang kunci pas besar yang ia ambil dari kotak perkakas tadi.
Perkelahian terjadi dengan sangat cepat. Pria itu menyerang dengan tusukan-tusukan mematikan, sementara Rian berusaha menghindar sambil mencari celah. Bunyi dentingan logam yang beradu terdengar tajam di tengah sunyinya malam. Rian sempat terkena goresan di lengannya, tapi ia berhasil memukul pergelangan tangan pria itu hingga belatinya terjatuh.
"SEKARANG, GIA! LARI!" teriak Rian.
Gia ragu sejenak, tapi ia melihat mata Rian yang memerintah. Dengan air mata yang mengalir, ia mulai mengayuh sepedanya melewati jembatan. Pria berbaju hitam itu mencoba mengejar Gia, tapi Rian langsung menerjang pinggangnya, membuat keduanya berguling ke semak-semak di pinggir jurang.
"Kamu lawan aku, Brengsek! Jangan sentuh dia!" raung Rian.
Gia terus mengayuh, napasnya memburu, jantungnya seolah mau copot. Ia sampai di tikungan jalan dan berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Ia melihat Rian sedang bergulat hebat, cahaya bulan memperlihatkan perjuangan hidup dan mati pria itu.
Tiba-tiba, suara sirine kereta api terdengar dari kejauhan. Stasiun sudah dekat. Gia tahu ia harus sampai di sana untuk menghubungi bantuan. Namun, ia tidak bisa meninggalkan Rian sendirian di tangan pembunuh itu.
Gia memutar sepedanya. Ia tidak jadi lari. Ia merogoh tasnya, mencari sesuatu yang bisa membantu. Ia menemukan sebuah kaleng cat semprot yang tadi ia ambil dari lokasi proyek.
"Aku nggak akan ninggalin kamu lagi, Rian!" teriak Gia sambil melesat kembali ke arah jembatan.