NovelToon NovelToon
NARSIH

NARSIH

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Horror Thriller-Horror / Hantu / Iblis / Dendam Kesumat / Horor / Tamat
Popularitas:779.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

JUARA 1 LOMBA MENULIS HOROR TAHUN 2023

Prequel dari Rumah di tengah Sawah.

Pada tahun 1958, seorang dukun dikeroyok oleh warga desa hingga kehilangan nyawa. Setelah dukun itu tiada, barulah warga desa menyadari ada sosok perempuan yang tinggal di rumah sang dukun.

Namanya Narsih. Kulitnya putih bersih, berparas ayu, bersuara merdu. Tapi, siapa sebenarnya Narsih? Kehadirannya di desa Karang akankah membawa kebaikan atau malah sebaliknya?

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tigo

"Ki Darso kebal!" pekik salah seorang warga.

Beberapa orang berbadan gempal maju dan mencoba memukuli Darso. Namun laki-laki itu tidak goyah. Bukannya merasa sakit, Darso malah tertawa terbahak-bahak.

"Kalian itu seharusnya bersyukur. Di tengah-tengah kehidupan desa yang melarat ada orang kuat sepertiku. Jadi jika sewaktu-waktu ada gangguan dari luar aku lah yang maju. Bukannya menerimaku, kalian malah mengucilkan ku," gerutu Darso.

"Mana sudi kami mengikuti orang yang memuja ilmu hitam sepertimu! Bisa-bisa desa ini kena karma, musibah!" balas warga dengan lantang.

Darso menggeram, kesal. Dia merasa kecewa. Setiap apapun yang dia inginkan kenapa selalu bertentangan dengan warga desa. Darso memang beberapa kali mencelakai orang lain dengan ilmu santetnya. Tapi orang-orang itu memang layak dilenyapkan bagi Darso.

"Kalian itu hanya iri padaku! Manusia lemah selalu merasa takut pada hal-hal yang tidak mereka mengerti. Seperti halnya ilmuku. Kalian takut, karena merasa tak bisa menguasainya," ejek Darso.

Warga melingkar mengepung Darso di tengah halaman depan rumah. Entah siapa yang dirasuki iblis malam ini. Darso yang memuja ilmu hitam, atau para warga yang dikuasai amarah ingin melenyapkan Darso.

Beberapa orang maju sekali lagi, memukuli Darso membabi buta. Namun laki-laki itu tetap kuat berpijak pada tanah. Tidak ada satupun luka lecet. Malah warga yang memukulinya merasakan ngilu di ruas-ruas jari. Tinju mereka penuh luka lebam.

Darso tertawa terbahak-bahak. Suaranya bergema mengerikan. Beberapa warga mundur. Yang awalnya bernyali besar, ternyata kini tak ubahnya rupa harimau namun berhati tikus.

Di tengah kerumunan warga, Ki Mangun memejamkan mata. Mulutnya komat kamit sebentar kemudian menyerahkan sepucuk tunas tanaman pada warga yang berdiri di sebelahnya. Laki-laki yang menerima tunas tanaman itu pun berlari ke depan. Menyibak kerumunan yang masih mencoba mengeroyok Darso.

Darso semakin merasa unggul. Setiap pukulan lawan tidak berpengaruh pada tubuhnya. Dia merasa jumawa. Sesekali mengibaskan tangan menampar warga yang berupaya mendekat. Namun saat sebuah pecutan mengenai punggungnya yang terbuka, Darso merasakan nyeri.

Tiba-tiba Darso kesakitan. Punggungnya terasa panas. Kemudian beberapa pukulan menghantam perutnya. Darso pun terhuyung. Dia muntah dan akhirnya ambruk ke tanah.

"Daun kelor?" Darso kini menyadari benda apa yang tadi dipecutkan ke punggungnya. Tubuhnya terasa lemah. Tenaganya lenyap seketika.

"Seret ke lereng bukit manik-manik!" perintah salah seorang warga.

Darso yang sudah tak berdaya hanya bisa pasrah saat beberapa tangan mencengkeram pundaknya. Sedangkan dari dalam rumah Narsih mengintip melalui celah lubang dinding kayu. Mengamati orang-orang yang menyeret Darso bagai binatang hasil buruan.

Anehnya, Narsih tidak merasakan kesedihan. Padahal Darso mengatakan bahwa dia adalah Bapaknya Narsih. Tapi kenapa tidak ada getaran di hatinya melihat sosok laki-laki itu diseret dan diperlakukan tidak manusiawi?

Narsih terkejut, tersadar dari lamunannya kala menyadari ada sepasang mata yang menatap rumah dengan pandangan yang tajam. Ki Mangun berdiri di tengah halaman depan. Bola mata yang bulat dengan pantulan kobaran api obor di pupilnya nampak menakutkan menatap lurus, seolah tengah memandangi Narsih yang bersembunyi di balik dinding.

Ki Mangun akhirnya berjalan pergi. Meninggalkan rumah yang ditelan kegelapan kala obor warga berjalan menjauh. Membiarkan Narsih yang kebingungan dan ketakutan.

Warga terus menyeret Darso. Tidak ada yang peduli meski dukun itu mengaduh kesakitan. Kakinya penuh luka terantuk bebatuan yang terjal sepanjang jalan menuju ke lereng bukit.

Saat rombongan warga penuh amarah itu sampai di area lapang dengan rumput gajahan dan gelagah setinggi lutut, Darso dilemparkan begitu saja. Tubuh gemuk penuh lemak itu berguling di atas rumput. Beberapa warga tertawa puas.

"Br*ngsek kalian!" umpat Darso mencoba bangun. Tapi luka-luka di kaki membuat Darso semakin lemah.

"Seperti inikah tabiat warga desa yang katanya menjunjung tinggi norma adat kesopanan? Seolah aku ini hewan yang tidak berguna," keluh Darso sambil menahan rasa nyeri di tulang keringnya.

"Bukankah manusia yang tega mengalirkan darah manusia lain berarti lebih buas dari hewan? Memperlakukan manusia yang seperti itu tidak bisa dengan hukum adat, tapi dengan hukum rimba!" bentak salah satu warga yang merupakan anak dari Mbah Bayan. Laki-laki itu terlihat penuh amarah dan dendam.

"Ya benar! Jika orang sepertimu dibiarkan hidup di tengah masyarakat yang menginginkan kedamaian, tentu hanya akan menjadi benalu! Habisi saja!" sahut warga lainnya.

Darso terduduk lemas. Dia sudah pasrah dengan nasibnya. Sebenarnya sedari siang tadi, Darso sudah memiliki firasat yang kurang baik. Ada kegelisahan di hati yang sulit diungkapkan. Dia kembali menyesali sudah menghiraukan saran Katimin.

Seandainya saja Darso mau menurunkan sedikit egonya. Jika tadi Darso bersedia untuk bersembunyi, tentu ada peluang untuk selamat dari amukan warga. Tapi mau sampai kapan Darso lari?

Warga yang terlanjur dibutakan oleh amarah merangsek maju. Mereka beramai-ramai memukuli Darso. Ada yang menggenggam bongkahan batu, dihantamkan langsung pada kepala Darso.

Di bawah cahaya obor yang temaram, warna merah pekat terciprat di udara. Membasahi rumput gajahan, menodai warna hijau muda tunas tanaman yang baru tumbuh.

Darso tidak mengaduh meski kepalanya pusing seperti mau pecah. Dia dapat melihat tubuhnya yang terkoyak. Suara tulang iganya yang patah. Dia juga dapat merasakan gigi geraham yang rontok serta bola mata yang nyaris melompat keluar dari tempatnya. Semua itu Darso nikmati.

Bayangan kehidupan yang puluhan tahun telah dia jalani mulai terlihat di benaknya. Tiba-tiba saja ingatannya diarahkan pada sosok Narsih. Perempuan cantik yang sangat dia inginkan. Bagaimana hidup Narsih jika Darso mati?

Mengingat Narsih, membuat Darso menitikkan air mata. Padahal banyak rencana indah yang sangat ingin Darso wujudkan. Tapi semua itu sudah tak mungkin lagi terlaksana. Ajal sudah di depan mata.

Darso kesal, dan marah. Semua perasaan hancur itu diarahkan pada sosok Ki Mangun. Andai saja laki-laki itu tidak ada, mungkin tidak akan ada warga desa yang mampu melukai Darso.

"Aarrgghhh!" Darso tiba-tiba saja berteriak saat sekujur tubuhnya remuk. Suaranya parau. Nafasnya pun hanya tersisa di ujung tenggorokan.

"Aku tak terima. Kalian semua lihat saja nanti! Ki Manguuun, kutunggu di neraka!" pekik Darso sekuat tenaga. Detik berikutnya dia mengejang sesaat kemudian terbatuk-batuk dan nafasnya pun lenyap. Darso tewas di tangan warga desa.

Tangan-tangan berlumuran darah masih terkepal erat. Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir beberapa warga. Mereka lupa apa yang telah diperbuat tak ubahnya hewan yang tidak memiliki hukum.

Ki Mangun sampai di lokasi saat semua sudah selesai. Wajah tetua desa itu nampak mengeras kala melihat Darso sudah remuk tak berbentuk.

"Apa yang sudah kalian lakukan?" bentak Ki Mangun geram dan kecewa.

"Nyawa dibayar nyawa Ki. Sekarang sudah tuntas, impas," sahut anak Mbah Bayan.

"Bagaimanapun, kalian harus menguburkannya dengan layak," ucap Ki Mangun dengan ekspresi sedih.

"Serahkan saja padaku," jawab anak Mbah Bayan. Dibantu beberapa warga, anak Mbah Bayan mengangkat tubuh Darso yang sudah tak karuan bentuknya. Ki Mangun mengetuk-ngetuk tanah menggunakan tongkat kayunya.

"Semoga saja ini tidak menimbulkan masalah baru di desa."

Bersambung___

1
saprida Oke
dari novel ini paling sakit itu narsih, dari awal hidup selalu di siksa karna kekurangannya, setelah di hidupkan kembali pun tetap sakit, karna hanya di manfaat kan laki² yg dia cintai dengan tulus yg cuma mikirin impiannya dengan menghancurkan cinta tulus narsih, ini bakal jadi salah satu novel yg berkesan selama aku baca novel
saprida Oke
kak novel mu bagus banget 😍
Alexander
terima kasih atas karyanya
Alexander
apakah kalau hasil perselingkuhan masih bisa disebut pewaris sah ?
Alexander
mungkin sri tidak punya kaca di rumahnya. makanya dia tidak bisa melihat keburukannya sendiri.
Alexander
kok tidak malu mengaku akan melahirkan trah ki mangun padahal tidak dinikahi oleh wira.
Alexander
kalau ada manusia berhati tulus, sugeng adalah salah satunya.
Alexander
berarti lahirnya dipaksakan ?
Alexander
gimana tidak menyasar sri sedangkan perselingkuhan itu terjadi karena kesadaran dua orang.
Alexander
sudah adakah kosakata 'anomali' di tahun segitu ? mungkin sudah tapi aku rasa tidak akan diucapkan selumrah sekarang.
Alexander
Ya Allah 😂
Alexander
manusia yang kelakuannya lebih buruk dari demit.
Alexander
belum bisa melakukan apapun, cuma bisa menghamili /Facepalm/
Alexander
kenapa malah narsih yang dibenci. padahal wira sendiri yang tidak berani mengambil sikap. dan sepertinya ki mangun memang tidak memaksa.
Alexander
mungkin ki darso tidak akan mengambil pusaka itu jika penduduk desa tidak mendiskriminasi dia.
Alexander
katimin si kuli pasar yang cerdas.
Alexander
Astaghfirullah ..
Alexander
kebohongan yang sangat kejam
Alexander
wira menghamili sri tanpa menikahinya lebih dulu ?
Alexander
narsih itu tidak tau apa2 menjadi korban dari keegoisan banyak orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!