NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: BAYANG-BAYANG KERAGUAN

​Lampu kristal di langit-langit kamar utama mansion Dirgantara berpendar mewah, namun bagi Alana, cahaya itu terasa menyilaukan dan menyesakkan. Di jari manisnya, berlian hitam The Night Star berkilau indah, sebuah simbol kekuasaan yang baru saja diberikan Arkano. Namun, pikirannya justru tertambat pada pesan singkat di ponselnya yang kini ia sembunyikan di balik bantal.

​“Hendra bukan satu-satunya ular di kepolisian, Alana. Hati-hati dengan pria di sampingmu.”

​Siapa pengirimnya? Apakah itu sisa-sisa anak buah Hendra yang ingin memecah belah mereka? Ataukah itu peringatan tulus dari seseorang yang mengetahui rahasia yang lebih gelap dari apa yang diceritakan Arkano?

​Pintu kamar mandi terbuka, mengeluarkan uap air hangat dan aroma maskulin sabun Arkano. Pria itu keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, memamerkan tubuh atletisnya yang dipenuhi beberapa luka gores baru akibat pertempuran di dermaga semalam.

​"Kenapa kau belum tidur, Sayang?" Arkano berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang dan mengusap pipi Alana dengan jemarinya yang masih lembap.

​Alana memaksakan sebuah senyum tipis. "Hanya masih sedikit tegang setelah kejadian di kapal kargo tadi. Adrenalinnya belum benar-benar turun."

​Arkano terkekeh rendah, suara yang biasanya menenangkan namun kini terdengar sedikit mencurigakan di telinga Alana. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya, merebahkan tubuh mereka di atas kasur yang empuk. "Musuh kita sudah hancur, Alana. Hendra di penjara, Victor sudah diurus oleh Marco. Tidak ada lagi yang perlu kau cemaskan."

​"Arkano," Alana memutus keheningan, suaranya pelan. "Apakah benar tidak ada lagi rahasia di antara kita? Tentang orang tuaku... atau tentang bagaimana kau bisa tahu begitu banyak soal operasi intelijen pusat?"

​Gerakan tangan Arkano yang sedang membelai rambut Alana terhenti sejenak. Hanya satu detik, namun bagi agen terlatih seperti Alana, jeda itu terasa seperti sebuah pengakuan.

​"Aku punya mata-mata di mana-mana, Alana. Kau tahu itu," jawab Arkano, suaranya kembali datar dan tenang. "Tidurlah. Besok kita punya banyak pekerjaan untuk mengonsolidasi wilayah Black Cobra."

​Arkano mengecup kening Alana dan memejamkan mata. Namun, Alana tahu pria itu tidak benar-benar tidur. Dan Alana sendiri? Matanya tetap terjaga, menatap langit-langit kamar hingga fajar menyingsing.

​Pagi harinya, Alana memanfaatkan kesibukan Arkano yang sedang melakukan pertemuan tertutup dengan para kepala distrik di ruang bawah tanah. Ini adalah kesempatannya. Kebebasan yang diberikan Arkano sebagai "Ratu Dirgantara" adalah kunci yang akan ia gunakan untuk membuka pintu yang selama ini terlarang.

​Alana menuju ke ruang kerja pribadi Arkano—bukan ruang komando siber yang kemarin ia gunakan, melainkan perpustakaan pribadinya yang jarang dimasuki orang, bahkan oleh Marco sekalipun.

​Dengan kemampuan retasnya, Alana tidak butuh waktu lama untuk menonaktifkan sistem keamanan biometrik di pintu kayu jati tersebut. Begitu masuk, ia langsung menuju sebuah lukisan pemandangan di dinding belakang meja kerja. Di baliknya, terdapat brankas baja tertanam.

​"Jika dia benar-benar jujur, dia tidak akan keberatan aku melihat ini," gumam Alana.

​Ia menggunakan perangkat lunak dekripsi portabel yang ia selundupkan dari ruang kendali siber. Butuh waktu tujuh menit yang menegangkan sebelum brankas itu terbuka dengan bunyi klik halus. Di dalamnya, terdapat tumpukan dokumen legal, emas batangan, dan sebuah buku catatan kecil berwarna biru tua yang tampak sangat tua.

​Alana membuka buku itu. Matanya membelalak. Itu bukan buku bisnis. Itu adalah buku harian atau catatan log transaksi informasi. Di halaman tengah, Alana menemukan nama yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

​Kontak Internal 01: H.

​H? Apakah itu Hendra?

​Alana membaca lebih teliti. Di sana tertera tanggal-tanggal pertemuan rahasia antara Arkano dan 'H' yang terjadi jauh sebelum Alana ditugaskan untuk menyamar. Transaksi itu bukan tentang permusuhan, melainkan tentang pertukaran.

​20 Mei: Informasi rute patroli ditukar dengan pengalihan kasus pencucian uang Sektor 7.

​Alana membekap mulutnya. Air mata kemarahan mulai menggenang. Jadi, Arkano dan Hendra sebenarnya bekerja sama selama ini? Arkano bukan hanya korban dari permainan Hendra, tapi dia adalah mitra bisnisnya!

​"Apa yang sedang kau cari, Alana?"

​Suara itu datang dari arah pintu yang entah sejak kapan sudah terbuka. Alana tersentak dan menjatuhkan buku itu. Arkano berdiri di sana, bersandar di bingkai pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tidak ada kemarahan yang meledak, hanya sebuah kekecewaan yang dingin yang terpancar dari matanya.

​"Kau membohongiku," suara Alana bergetar, ia menunjuk buku di lantai. "Kau bilang kau membenci Hendra karena dia membunuh keluargamu. Tapi di sini... di sini tertulis kau bekerja sama dengannya selama bertahun-tahun! Kau menggunakan kekuasaannya untuk memperbesar klanmu!"

​Arkano melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara yang mengancam. Ia mengambil buku itu dan meletakkannya kembali di meja. "Dunia ini tidak hitam dan putih, Alana. Untuk menghancurkan monster, kau harus berpura-pura menjadi temannya. Ya, aku melakukan transaksi dengannya. Itu satu-satunya cara agar aku bisa mendekatinya dan mencari bukti tentang kematian orang tuaku—dan orang tuamu."

​"Lalu kenapa kau tidak mengatakannya padaku?!" teriak Alana. "Kau membiarkanku merasa bersalah karena telah mengkhianati kepolisian demi dirimu! Kau membiarkanku percaya bahwa kau adalah satu-satunya orang yang bisa kupercaya!"

​Arkano mencengkeram bahu Alana, tatapannya kini berubah menjadi posesif dan tajam. "Karena aku tahu kau tidak akan mengerti! Kau masih memiliki sisa-sisa idealisme polisi yang naif itu. Jika aku memberitahumu bahwa aku menyuap Hendra selama lima tahun, kau akan melihatku sebagai penjahat yang sama dengannya. Aku tidak ingin kau menatapku dengan kebencian, Alana!"

​"Tapi sekarang aku justru lebih membencimu karena kebohongan ini!" Alana mencoba mendorong Arkano, namun pria itu tidak bergeming.

​"Benci aku sesukamu, tapi kau tidak akan pergi ke mana-mana," bisik Arkano di depan wajah Alana. "Kau sudah tahu terlalu banyak. Dan kau sudah terlalu dalam masuk ke duniaku. Kau adalah Nyonya Dirgantara. Jika kau keluar dari pintu ini dan mencoba melapor, mereka akan menangkapmu sebagai kaki tangan mafia, bukan sebagai pahlawan."

​Alana terdiam, napasnya tersengal. Arkano benar. Rantai yang mengikatnya sekarang bukan lagi rantai besi, melainkan rantai dosa yang mereka bangun bersama.

​"Kau adalah milikku, Alana. Selamanya," Arkano mencium bibir Alana dengan kasar, sebuah ciuman yang tidak lagi terasa seperti perlindungan, melainkan penegasan kepemilikan.

​Alana tidak membalas, namun ia juga tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Di dalam perpustakaan yang sunyi itu, ia menyadari bahwa ia telah berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya. Penjara Arkano mungkin lebih mewah, penuh dengan sutra dan berlian, namun di dalamnya tetap ada monster yang siap menerkamnya jika ia mencoba lari.

​Setelah Arkano melepaskannya dan keluar dari ruangan dengan perintah agar Alana tetap di sana untuk "menenangkan diri", Alana terduduk di lantai. Ia mengambil ponselnya kembali. Ia mengetikkan pesan balasan ke nomor tak dikenal semalam.

​“Siapa kau sebenarnya? Dan apa yang kau inginkan?”

​Hanya butuh beberapa detik sebelum jawaban muncul:

​“Aku adalah orang yang tahu di mana Arkano menyimpan 'kontrak asli' kepemilikanmu. Temui aku di dermaga tua besok malam pukul sepuluh. Sendirian.”

​Alana menatap layar ponselnya dengan mata berkilat. Ia tidak tahu apakah ini jebakan atau kesempatan. Namun satu hal yang pasti: Ia tidak akan membiarkan Arkano memegang kendali atas hidupnya lagi. Jika ia harus bermain api untuk menemukan kebenaran, maka ia akan membakar seluruh mansion ini jika perlu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!