Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Setelah beberapa suapan, suasana mulai terasa lebih tenang. Meski belum ada canda tawa seperti biasanya, setidaknya keheningan mereka kini terasa lebih nyaman. Namun, Arya tiba-tiba meletakkan sendok dan garpunya. Ekspresinya berubah serius.
"Ada sesuatu yang harus aku kasih tahu ke kamu," ucapnya pelan namun tegas.
Raya mengangkat kepala, menatapnya. "Apa?"
"Perusahaan Hartawan," jawab Arya sambil menatap lurus ke matanya. "Mereka baru aja dapat investor."
Raya mengernyit. "Investor?"
"Iya. Dan bukan investor biasa. Pengusaha lama, yang dulunya punya masalah dengan perusahaan keluarga ku," lanjut Arya. "Nama yang cukup membuat ku langsung waspada waktu dengar kabar itu."
Raya tercekat. "Jadi... sekarang mereka bisa ikut proyek besar yang kamu dan tim kamu siapkan?"
Arya mengangguk. "Dan lebih dari itu, mereka punya dukungan yang cukup kuat. Aku tahu keluarga Hartawan mungkin nggak bisa gerak sendiri secepat ini. Sebab perusahaan mereka hampir kolaps."
Raya mengalihkan pandangan, menunduk dalam. Perasaan bersalah langsung menyerbu dirinya. Ia tahu Daffa dan keluarganya tidak akan semudah itu menyerah, tapi ia tidak menyangka mereka akan mengambil langkah sejauh ini.
"Maaf..." gumam Raya, lirih.
Arya mengernyit. "Maaf? Kenapa?"
Raya menghela napas, menatap Arya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kayaknya... kita harus akhiri semuanya."
Arya menatapnya, wajahnya seketika tegang. "Apa maksud kamu?"
"Perjanjian ini. Segalanya. Aku nggak mau kamu... semakin terlibat karena aku. Karena kehamilan ini. Karena semua yang terjadi," ucap Raya. Suaranya bergetar namun berusaha kuat. "Kamu dan keluargamu terlalu baik. Aku nggak bisa terus egois. Aku bisa membantumu dnegan mencarikan wanita yang bersedia menjadi istri sungguhanmu dan mengandung anakmu."
Arya tertawa sinis mendengar ucapan Raya. "Aku yang egois kalau aku biarin kamu jalan sendiri," potong Arya cepat.
"Tapi kamu bisa mundur sebelum semuanya jadi lebih rumit. Aku.....aku bisa cari cara lain. Aku bisa hadapi ini sendiri."
Arya menatap tajam ke arah Raya. "Kamu pikir aku ini siapa? Cuma orang yang pura-pura jadi tunangan kamu terus bisa pergi gitu aja setelah semua ini?"
Raya terdiam.
"Aku mungkin nggak ngerti semua yang kamu rasain, tapi aku tahu satu hal kamu nggak sendirian," ucap Arya lagi, nada suaranya lebih rendah, namun tegas. "Kamu udah terlalu jauh buat balik sendiri."
"Tapi Arya-"
Arya mengambil napas, lalu kembali mengambil garpunya. "Sekarang makan yang bener.
Kamu lagi hamil, bukan lagi main perasaan."
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan dua pasang mata memperhatikan dengan tajam. Daffa dan Laras berdiri di balik kaca lantai dua restoran yang menghadap ke meja tempat Raya dan Arya duduk.
"Itu... itu Raya, kan?" tanya Laras menyipitkan mata.
"Kayaknya iya..." jawab Daffa pelan, matanya terpaku pada Raya.
Dia menelan ludah. Hari ini, Raya tampak berbeda lebih anggun, lebih bersinar, dan begitu bahagia. Tanpa sadar, Daffa bergumam, "Kenapa dia kelihatan secantik itu?"
Laras langsung menoleh dengan sorot mata tajam. "Apa maksud kamu?!"
"Enggak, aku cuma-"
"Cuma apa? Masih belum bisa move on? Atau kamu nyesel udah cerai?" bentak Laras kesal. "Coba lihat! Mungkin aja itu cowok selingkuhannya! Bisa jadi waktu masih jadi istri kamu, dia udah punya hubungan sama lelaki lain! Bisa jadi juga anak itu... bukan anak kamu!"
Ucapan Laras langsung membuat wajah Daffa menegang. Amarah menggelegak di dadanya. "Jaga ucapan kamu, Laras!" gumamnya tajam. Tapi egonya mendorong langkahnya. "Kita ke sana."
Laras mengangguk setuju dan mengikuti Daffa menuruni tangga menuju lantai satu restoran.
Raya dan Arya yang tengah berbincang tidak menyadari kehadiran mereka. Suasana meja santai, bahkan di tengah obrolan serius, sesekali tawa kecil terdengar. Sampai suara langkah keras menghampiri.
"Raya!" seru Daffa lantang.
Raya dan Arya serempak menoleh. Raya terkejut, sementara Arya langsung memasang wajah waspada.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Raya dengan suara tenang namun tajam.
"Harusnya kami yang tanya!" bentak Laras. "Lagi ngapain kamu berduaan sama cowok ini? Jangan bilang... ini pacar baru kamu? Atau sebenarnya ini yang kamu sembunyikan selama ini?!"
Beberapa pengunjung restoran mulai melirik ke arah mereka. Raya tersentak, tapi mencoba tetap tenang. "Tolong jaga sopan santun kalian. Ini tempat umum."
Laras melipat tangan di dada, wajahnya sinis menatap Raya dari ujung kepala hingga kaki.
"Ternyata benar ya, kamu sekarang udah nggak tahu malu jalan sama laki-laki lain, Raya. Jadi ini alasan kamu ninggalin Daffa? Selingkuh waktu masih jadi istrinya?"
Raya menarik napas panjang, mencoba tetap tenang meski hatinya berdesir marah. Ia hendak bicara, namun Daffa mendahului.
"Saya cuma mau tahu satu hal..." ucap Daffa dingin sambil menatap perut Raya. "Aku jadi nggak yakin itu anak aku."
Arya menoleh tajam, tapi sebelum ia bicara, Raya mengangkat tangan pelan, meminta Arya menahan diri. Dengan kepala tegak, dia menatap Daffa dan tersenyum tipis.
"Aku bersyukur kalau kamu nggak mengakui anak ini sebagai anakmu," jawab Raya tenang namun tajam. "Karena aku juga nggak mau anakku punya ayah sekejam dan seegois kamu."
Mata Daffa memerah, Laras tampak hendak menyela, namun Raya belum selesai.
"Anakku pantas punya ayah yang baik. Yang tahu cara memperlakukan perempuan dengan hormat. Dan jelas, kamu... nggak pantas."
Daffa mengepal tangannya. "Jaga omongan kamu, Raya."
"Dan satu lagi," lanjut Raya, nadanya makin tegas. "Aku nggak pernah menyesal kalau keluarga Hartawan nggak mengakui anakku. Karena di mataku... mereka adalah keluarga yang nggak bermoral. Yang bahkan nggak tahu arti kasih sayang. Dan aku bersumpah, anakku nggak akan pernah jadi bagian dari keluarga itu."
Laras melotot, sementara Daffa berdiri setengah membungkuk, nadanya membentak, "Kamu-!"
Namun sebelum Daffa bisa berbuat lebih, Arya bangkit dari kursinya dengan tenang, namun sorot matanya tajam dan penuh ancaman.
"Sentuh dia, dan kamu akan lihat akibatnya," ucap Arya datar.
Daffa melirik tajam. "Kamu siapa berani-beraninya ikut campur?!"
Arya mendekat, berdiri di antara Daffa dan Raya. "Kamu pikir ini tempat bebas berantem? Di sini ada CCTV. Kalau kamu berniat kasar, semua akan terekam. Dan kebetulan... kami tidak keberatan membawa kasus ini ke jalur hukum. Karena dari sudut mana pun, kalian yang datang, kalian yang memulai."
Laras menarik lengan Daffa pelan, sadar bahwa situasinya tak menguntungkan mereka.
"Daffa, cukup," bisiknya. "Ayo pergi."
Daffa masih memandang Raya tajam, namun akhirnya memilih mundur.
"Kita belum selesai, Raya," desisnya sebelum berbalik.
Raya tetap berdiri tegak. "Aku justru berharap ini selesai sejak lama."
Dan ketika Daffa serta Laras pergi
meninggalkan restoran, Arya menatap Raya yang masih berdiri tegar. Ada kekaguman dalam sorot matanya dan rasa hormat yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Aku nggak tahu kamu bisa segarang itu," gumam Arya, tersenyum tipis.
"Aku akan tetap melanjutkan rencana ini, Arya," ucapnya pelan, tapi penuh ketegasan. "Aku nggak bisa membiarkan keluarga Hartawan terus bersembunyi di balik topeng kehormatan mereka... sementara aku dan anakku dianggap aib."
Arya menatapnya dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. "Sudah kuduga," jawabnya datar, namun senyumnya kembali muncul. "Kamu bukan perempuan yang gampang mundur."
Raya balas menatap. "Aku melakukan ini bukan hanya untukku, tapi juga untuk anakku. Dia harus tumbuh tanpa beban. Tanpa bayang-bayang kebohongan dan luka yang diwariskan dari orang tuanya."
Arya menyandarkan punggung ke kursinya dan menghela napas. "Kalau begitu, kita main sampai akhir, Raya. Tapi dari sekarang, kita harus lebih hati-hati. Keluarga Hartawan bukan musuh biasa. Mereka penuh tipu muslihat."
Raya mengangguk. "Aku tahu. Tapi selama kamu di sisiku... aku percaya kita bisa menjatuhkan mereka."
Sorot mata Arya melembut, dan untuk sesaat, dia menatap Raya bukan sebagai rekan dalam rencana, tapi sebagai seorang wanita yang sedang dia kagumi dalam diam.
"Kalau kamu percaya sama aku," ucap Arya, "maka aku pastikan... nggak akan ada yang bisa menyentuh kamu atau anak kamu."
Raya menunduk, menyembunyikan air mata yang nyaris jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya... dia merasa tidak sendiri.