Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Detik Terakhir di Ujung Pena
Langit ibu kota yang tadinya merah darah mendadak berubah menjadi hamparan putih hampa, persis seperti kertas kosong yang baru saja dibuka di layar komputer. Angka digital di pergelangan tangan Aruna terus berkedip, memancarkan cahaya biru neon yang terasa asing di dunia kuno ini.
00:45... 00:44...
"Sera, apa maksudnya dihapus? Kita semua nyata! Arvand nyata, Arel nyata!" Aruna berteriak, suaranya parau karena panik. Ia menggenggam lengan zirah Arvand begitu kencang hingga kukunya memutih.
Seraphina jatuh terduduk, kipas besinya tergeletak tak berguna di tanah. "Kita semua adalah variabel, Aruna. Karena kau menghancurkan Cermin Jiwa dengan darahmu, sistem menganggap dunia ini sudah rusak parah. Mereka sedang melakukan pembersihan total untuk memulai cerita baru dari nol."
Arvand berdiri tegak, meski kakinya masih gemetar setelah nyaris tertelan kegelapan. Ia menarik Aruna ke dalam pelukannya, sementara tangan satunya mendekap Arel yang ketakutan. "Aku tidak peduli tentang sistem atau server. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghapus istri dan anakku."
"Arvand, ini bukan tentang pedang atau zirah lagi," isak Aruna. Ia menatap wajah suaminya, mencoba merekam setiap detail. Garis rahangnya yang tegas, bekas luka kecil di dahinya, dan sorot mata yang selalu membuatnya merasa aman. "Jika dunia ini diulang, kamu tidak akan mengenalku. Kamu akan kembali menjadi jenderal yang membenci Lady Ratri. Dan Arel... Arel mungkin tidak akan pernah lahir."
Mendengar itu, Arel menangis keras, membenamkan wajahnya di dada Arvand. "Ayah, Ibu... Arel tidak mau hilang! Arel mau sama-sama terus!"
00:30... 00:29...
Tiba-tiba, suara dentingan jam raksasa bergema dari langit. Setiap detik yang berlalu membuat pemandangan di sekitar mereka mulai memudar menjadi garis-garis sketsa hitam putih. Pohon mawar yang tadi hancur kini hanya berupa coretan pensil yang perlahan menghilang. Prajurit yang pingsan di jalanan lenyap seperti debu yang ditiup angin.
"Pasti ada cara!" Aruna memutar otak secepat kilat. Ia adalah seorang penulis. Ia tahu bahwa dalam setiap sistem, selalu ada lubang atau 'pintu belakang'. "Tanda lahir ini... ini bukan cuma kutukan. Ini adalah akses admin!"
Aruna menatap angka yang terus menghitung mundur di tangannya. Ia teringat kata-kata pria berbaju jas itu tentang 'royalti' dan 'hak cipta'.
"Sera! Di mana pusat kendali dunia ini? Bukan di istana, tapi di mana semua data ini disimpan?"
Seraphina menunjuk ke arah pilar cahaya yang tadi sempat berdiri. "Di bawah Segel Keabadian tadi! Masih ada inti energi yang tertinggal di kedalaman tanah. Tapi itu sudah tertutup, Aruna!"
"Arvand, bantu aku!" Aruna menarik Arvand menuju bekas lubang segel yang kini hanya berupa tanah datar. "Kita harus menggali! Bukan dengan tangan, tapi dengan keinginan kita untuk tetap ada!"
Arvand tidak bertanya lagi. Ia menghujamkan pedangnya ke tanah, menyalurkan seluruh energi batinnya. Aruna meletakkan tangannya yang bertanda lahir di atas bilah pedang Arvand. Cahaya perak dan biru menyatu, menciptakan bor energi yang menghujam masuk ke dalam bumi.
00:15... 00:14...
Tanah di bawah mereka meledak, menyingkapkan sebuah kubus kristal kecil yang berputar pelan. Di dalam kubus itu, terlihat ribuan baris kode yang terus mengalir dengan sangat cepat. Inilah jantung dari dunia mereka.
"Aruna, cepat! Ubah parameternya!" teriak Seraphina dari kejauhan, tubuhnya sendiri sudah mulai transparan di bagian kaki.
Aruna menyentuh kristal itu. Seketika, kesadarannya tersedot masuk ke dalam ruang digital yang sunyi. Ia melihat naskah hidupnya terpampang jelas.
Karakter: Ratri (Aruna)
Status: Dihapus
Penyebab: Kerusakan Narasi
"Tidak!" Aruna berteriak dalam pikirannya. Ia menggunakan jarinya untuk 'mengetik' di udara, menghapus kata Dihapus dan menggantinya dengan Permanen. Ia mencoba menambahkan baris baru untuk Arvand dan Arel, tapi sistem menolaknya.
Peringatan: Kapasitas Memori Terbatas. Hanya Satu Karakter Utama yang Bisa Dipertahankan.
Aruna membeku. Air matanya jatuh mengenai kubus kristal itu. Hanya satu? Dia harus memilih antara dirinya sendiri, atau Arvand dan Arel?
"Pilih mereka," bisik Aruna pelan.
Ia mulai menghapus namanya sendiri dari kolom karakter utama. Ia menuliskan nama Arvand dan Arel sebagai pusat dari dunia baru yang akan terbentuk. Ia memberikan mereka ingatan, ia memberikan mereka kebahagiaan, meski itu berarti dia sendiri akan hilang dari ingatan mereka selamanya.
00:05... 00:04...
"Ratri, apa yang kau lakukan?" suara Arvand terdengar bergema di ruang digital itu. Arvand berhasil masuk melalui keterikatan jiwa mereka. "Jangan berani-berani mengorbankan dirimu!"
"Arvand, dengarkan aku. Kamu harus hidup. Kamu harus jadi raja yang baik untuk Arel," Aruna tersenyum, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Aku mencintaimu. Lebih dari naskah mana pun yang pernah kutulis."
"Tidak! Jika kau tidak ada, dunia ini tidak punya arti bagiku!" Arvand mencengkeram tangan Aruna yang sedang mengedit kode tersebut.
Kekuatan cinta Arvand yang luar biasa menciptakan anomali dalam sistem. Kode-kode yang tadi berwarna biru berubah menjadi emas. Sistem mulai mengalami kesalahan fatal karena dua variabel mencoba menyatu menjadi satu kesatuan.
00:02... 00:01...
00:00.
Semuanya menjadi gelap gulita. Tidak ada suara, tidak ada rasa sakit. Hanya kesunyian yang mutlak.
Aruna membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma obat-obatan yang menyengat dan suara mesin yang stabil. Ia berada di ruangan serba putih. Namun, ini bukan ruang operasi yang mengerikan tadi. Ini adalah kamar pemulihan rumah sakit yang nyaman.
"Bu Aruna? Anda sudah sadar?" seorang perawat mendekat dengan senyum ramah. "Luar biasa. Dokter bilang operasi tumor Anda sukses besar. Tidak ada komplikasi sama sekali."
Aruna menatap langit-langit kamar. Air matanya mengalir deras. Jadi... semuanya benar-benar berakhir? Dia kembali ke dunianya yang membosankan? Dia kehilangan Arvand? Dia kehilangan anaknya?
Ia mengangkat tangannya yang terasa lemas. Pergelangan tangannya bersih. Tidak ada tanda lahir cincin perak. Semuanya hilang.
"Ini ponsel Anda, Bu. Tadi ada banyak pesan masuk dari kantor penerbitan," perawat itu meletakkan sebuah ponsel di meja samping tempat tidur.
Aruna meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ia membuka aplikasi NovelToon. Ia ingin melihat naskahnya, ingin melihat apakah setidaknya cerita itu masih ada. Namun, saat ia membuka profilnya, seluruh ceritanya telah hilang. Kosong.
Ia menghela napas panjang, merasa separuh jiwanya telah mati. Namun, saat ia hendak meletakkan ponselnya, sebuah notifikasi masuk. Bukan dari aplikasi, tapi dari nomor yang tidak dikenal.
“Terima kasih telah menulis akhir yang indah untuk kami. Tapi, bukankah kau lupa satu hal? Penulis tidak boleh meninggalkan ceritanya sendirian.”
Aruna mengerutkan kening. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Seorang dokter pria masuk, diikuti oleh seorang anak kecil yang membawa buket bunga mawar.
Aruna terbelalak. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Dokter itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Arvand, namun versinya yang lebih rapi dengan jas putih dan kacamata. Dan anak kecil itu... dia adalah Arel versi dunia modern, mengenakan kaus bergambar pahlawan super.
"Selamat siang, Bu Aruna. Saya Dokter Arvand, yang menangani kasus Anda," pria itu tersenyum, sebuah senyuman miring yang sangat ia kenali di dunia NovelToon. "Dan ini putra saya, Arel. Dia memaksa ingin ikut melihat pasien favorit saya hari ini."
Arel mendekat ke tempat tidur, matanya yang besar menatap Aruna dengan binar yang sama. "Halo, Tante Penulis. Papa bilang Tante hebat karena bisa melawan raksasa di kepala Tante."
Aruna tidak bisa berkata-kata. Ia menatap Dokter Arvand dengan tatapan menuntut penjelasan. Pria itu mendekat, berpura-pura memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Aruna. Saat tangannya menyentuh kulit Aruna, Aruna merasakan sengatan panas yang familiar.
Dokter Arvand berbisik sangat pelan, hanya untuk didengar oleh Aruna. "Sistemnya tidak dihapus, Aruna. Kita cuma pindah server ke duniamu. Karena di sini, tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."
Aruna tersenyum di tengah tangis bahagianya. Ia menarik kerah baju dokter itu dan membisikkan sesuatu. "Tapi kau masih jago main pedang, kan?"
Pria itu terkekeh. "Hanya kalau kau yang menulis skenarionya."
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Aruna melihat ke arah jendela kamar rumah sakit. Di pantulan kaca, ia tidak melihat bayangannya sendiri sebagai Aruna sang penulis. Ia melihat bayangan Lady Ratri yang sedang mengenakan mahkota perak, tersenyum licik ke arahnya.
Dan di belakang bayangan Ratri, muncul sosok Seraphina yang memegang sebuah tablet digital baru.
"Selamat datang di tahap kedua, Aruna," bisik bayangan Seraphina dari balik kaca. "Kau pikir sang 'Bos' akan menyerah begitu saja setelah kau mengacaukan servernya?"
Tiba-tiba, seluruh layar monitor di rumah sakit itu berkedip, menampilkan sebuah pesan merah yang besar: "PENYUSUP TERDETEKSI DI DUNIA NYATA. MEMULAI PROSES PERBURUAN KARAKTER."
Ternyata Arvand dan Arel ikut pindah ke dunia modern? Tapi siapa yang sebenarnya mengejar mereka ke sana? Mampukah Aruna melindungi keluarganya di dunia nyata di mana ia tidak memiliki kekuatan sihir atau pasukan rahasia? Dan apa yang direncanakan sang 'Bos' selanjutnya untuk merebut kembali aset berharganya?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.