NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Pria Dingin Yang Mulai Memperhatikan

Langkah Lisa tetap tenang saat ia kembali menuju meja makan, seolah pertemuan singkat di koridor tadi tidak meninggalkan bekas apa pun di pikirannya. Namun jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang belum sepenuhnya hilang—tatapan pria itu.

Tajam. Tenang. Dan… mengintimidasi.

Lisa duduk kembali di kursinya dengan anggun, lalu tersenyum ringan kepada Arvin dan Clara, seolah tidak terjadi apa-apa selama ia pergi.

“Maaf menunggu,” katanya lembut.

“Tidak lama kok,” jawab Arvin sambil menatapnya, namun kali ini tatapannya sedikit berbeda, seolah ia sedang mencoba membaca sesuatu dari Lisa.

Clara ikut tersenyum, tetapi matanya tidak sepenuhnya santai.

Lisa menyadari itu.

Ia tahu mereka mulai waspada.

Dan itu adalah hal yang ia inginkan sejak awal.

Makan malam berlanjut, namun kali ini Lisa tidak banyak berbicara. Ia lebih banyak mengamati, membiarkan Arvin dan Clara mengisi percakapan dengan hal-hal ringan yang sebenarnya tidak penting.

Namun justru di situlah letak kesenangannya.

Melihat bagaimana mereka mencoba terlihat normal.

Padahal sebenarnya… mereka sedang saling menutupi sesuatu.

Setelah beberapa waktu, Lisa melihat jam di ponselnya.

Ia sengaja menghela napas pelan sebelum berkata, “Sepertinya aku harus pulang lebih dulu. Besok aku ada banyak hal yang harus aku urus.”

Arvin langsung terlihat sedikit kecewa.

“Cepat sekali?”

Lisa tersenyum kecil.

“Lain kali kita bisa ketemu lagi.”

Clara juga ikut menimpali, “Iya, jangan terlalu capek ya, Lisa.”

Lisa mengangguk.

“Tentu.”

Ia berdiri perlahan, mengambil tasnya, lalu menatap mereka berdua secara bergantian.

“Terima kasih untuk malam ini.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Lisa…

Itu adalah ucapan yang memiliki arti lain.

Ucapan untuk awal dari sebuah permainan panjang.

Lisa berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Langkahnya tetap anggun, terukur, dan penuh percaya diri.

Namun begitu ia keluar dari area utama restoran…

Napasnya sedikit berubah.

Bukan karena lelah.

Melainkan karena pikirannya kembali teringat pada sosok pria di koridor tadi.

Siapa dia?

Pertanyaan itu muncul begitu saja.

Lisa menggeleng pelan, seolah ingin mengusir pikiran tersebut.

Ia tidak boleh terdistraksi.

Fokusnya hanya satu.

Balas dendam.

Namun takdir seolah memiliki rencana lain.

Saat Lisa melangkah menuju pintu keluar…

Ia kembali melihat pria itu.

Kali ini lebih dekat.

Ia berdiri di dekat pintu masuk, berbicara singkat dengan seorang manajer restoran yang terlihat sangat hormat padanya.

Aura pria itu begitu kuat hingga orang-orang di sekitarnya tanpa sadar menjaga jarak.

Lisa memperlambat langkahnya sedikit.

Tanpa sadar… ia kembali memperhatikan pria itu.

Dari dekat, pria itu terlihat jauh lebih mengesankan.

Rahang tegas.

Tatapan mata yang dalam.

Dan ekspresi dingin yang seolah tidak tersentuh emosi.

Pria itu seperti seseorang yang terbiasa berada di puncak.

Seseorang yang tidak perlu berusaha untuk terlihat berkuasa.

Dan saat itu…

Pria itu kembali menoleh.

Tatapan mereka bertemu untuk kedua kalinya.

Namun kali ini lebih lama.

Lebih jelas.

Lisa tidak langsung mengalihkan pandangannya.

Ia hanya menatap balik dengan tenang.

Tidak takut.

Tidak gugup.

Tidak seperti wanita lain yang mungkin akan merasa terintimidasi.

Beberapa detik berlalu.

Dan untuk pertama kalinya…

Ada sedikit perubahan di mata pria itu.

Seperti ketertarikan.

Atau mungkin… rasa ingin tahu.

Namun Lisa akhirnya mengalihkan pandangannya lebih dulu.

Bukan karena kalah.

Tetapi karena ia tidak ingin terlihat terlalu mencolok.

Ia melangkah keluar dari restoran dengan tenang.

Udara malam menyambutnya dengan dingin yang lembut.

Lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan, menciptakan pemandangan yang indah.

Lisa berhenti sejenak di depan pintu.

Menarik napas dalam-dalam.

Lalu menghembuskannya perlahan.

Malam ini berjalan sesuai rencana.

Ia berhasil membuat Arvin dan Clara tidak nyaman.

Membuat mereka mulai berpikir.

Dan itu adalah langkah awal yang sempurna.

Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh…

Sebuah suara terdengar dari belakangnya.

“Menarik.”

Lisa berhenti.

Tubuhnya sedikit menegang.

Suara itu rendah.

Tenang.

Namun memiliki tekanan yang tidak bisa diabaikan.

Lisa berbalik perlahan.

Dan benar saja.

Pria itu berdiri di sana.

Lebih dekat sekarang.

Jauh lebih jelas.

“Maaf?” tanya Lisa dengan nada sopan, seolah tidak mengerti maksudnya.

Pria itu menatapnya langsung.

Tatapannya tidak berputar-putar.

Langsung.

Tegas.

“Jarang ada wanita yang berani menatapku seperti itu,” katanya.

Lisa menahan ekspresinya.

Namun di dalam hati…

Ia sedikit terkejut.

Pria ini… langsung ke inti.

Lisa tersenyum tipis.

“Apakah itu masalah?” jawabnya tenang.

Pria itu tidak langsung menjawab.

Ia justru memperhatikan Lisa sejenak, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik sikap tenangnya.

“Bukan masalah,” katanya akhirnya. “Hanya… berbeda.”

Lisa mengangguk pelan.

“Kalau begitu, anggap saja itu hal yang biasa.”

Jawaban itu sederhana.

Namun cukup untuk membuat pria itu sedikit mengangkat alisnya.

Lisa berbalik, bersiap untuk pergi.

Namun langkahnya kembali terhenti saat pria itu berbicara lagi.

“Kamu tidak terlihat seperti orang yang menikmati makan malam barusan.”

Lisa berhenti.

Kalimat itu…

Tepat sasaran.

Namun Lisa tidak langsung menoleh.

Ia berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Tidak semua yang terlihat itu nyata.”

Ia lalu melangkah lagi.

Namun kali ini…

Pria itu berjalan mendekat.

Langkahnya tenang, namun penuh kepastian.

“Kamu juga bukan orang yang sederhana,” katanya.

Lisa akhirnya menoleh.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Kali ini lebih dekat dari sebelumnya.

“Dan kamu bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain, kan?” balas Lisa dengan nada yang tetap halus, namun sedikit lebih tajam.

Pria itu terdiam sejenak.

Lalu…

Senyum tipis muncul di bibirnya.

Senyuman yang sangat samar.

Namun cukup untuk mengubah aura dinginnya sedikit.

“Devan,” katanya singkat.

Lisa mengernyit sedikit.

“Nama saya.”

Lisa menatapnya.

Devan.

Nama itu terasa asing… namun juga tidak.

Seolah ia pernah mendengarnya di suatu tempat.

Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh…

Devan melanjutkan.

“Kita akan bertemu lagi.”

Bukan pertanyaan.

Bukan tebakan.

Itu adalah pernyataan.

Penuh keyakinan.

Lisa menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

Senyuman yang sulit diartikan.

“Kita lihat saja nanti.”

Setelah itu, Lisa benar-benar pergi.

Mobilnya sudah menunggu.

Namun bahkan setelah ia masuk ke dalam mobil dan pintu tertutup rapat…

Pikirannya tidak sepenuhnya tenang.

Ia menatap keluar jendela.

Lampu kota bergerak perlahan seiring mobil melaju.

Namun bayangan pria itu masih ada di pikirannya.

Devan.

Lisa mengulang nama itu dalam hati.

Tanpa ia sadari…

Seseorang yang tidak pernah ia rencanakan…

Baru saja masuk ke dalam hidupnya.

Dan mungkin…

Akan menjadi bagian penting dari semua yang akan terjadi selanjutnya. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!