Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Penguasa Jiwa
Di dalam kubah pelindung berwarna merah darah, waktu seakan berhenti mengalir. Suara hantaman pedang dan raungan murka Jian Wushuang dari luar hanya terdengar seperti gema samar yang teredam oleh tebalnya susunan aksara kuno.
Shen Yuan berlutut di tepi kolam darah purbakala. Tangan kanannya terbenam ke dalam cairan merah pekat yang bergolak. Nadi Iblis Penelan Surga di sekujur tubuhnya berdenyut liar, rakus menyedot hawa Yin dan kematian yang telah terkumpul selama ribuan tahun di tempat itu.
"Hancur... hancur untukku!" geram Shen Yuan di sela-sela gigi yang terkatup rapat.
Di dalam dadanya, sisa Niat Pedang Perak milik Jian Wushuang masih meronta-ronta bak naga liar, mencoba mengiris jantungnya. Namun, dengan pasokan energi tanpa batas dari kolam darah Tuan Tanah Hantu, Sutra Penelan Surga memutar Putaran Pelahap Jiwa secara terus-menerus. Sedikit demi sedikit, ketajaman hukum ruang dari ahli Inti Emas itu terkikis, digiling menjadi ketiadaan, lalu diubah menjadi asupan murni yang menambal lautan kesadarannya.
Cahaya emas gelap berpendar dari balik kulit Shen Yuan. Tulang dada yang sempat terekspos perlahan tertutup oleh jaringan otot dan daging baru. Luka mematikan itu akhirnya menutup sempurna, hanya menyisakan sebuah bekas luka memanjang yang justru menambah kesan buas pada pemuda berusia lima belas tahun tersebut.
Shen Yuan menarik napas panjang, menghembuskan kabut putih yang berbau anyir darah. Ia menarik tangannya dari dalam kolam. Dantian-nya kini terasa sangat penuh, berada di puncak mutlak dari Kesempurnaan Fana. Hanya butuh satu pemicu lagi untuk merobek batas fana dan melangkah ke Ranah Pembukaan Nadi.
Ia bangkit berdiri. Tatapannya kembali tertuju pada peti mati batu hitam kelam raksasa yang melayang di tengah kolam, ditopang oleh empat rantai besi hitam.
"Sudah saatnya melihat apa yang disembunyikan oleh sang Tuan Tanah Hantu," bisik Shen Yuan.
Ia melompat ringan melintasi kolam, mendarat tanpa suara di atas permukaan peti mati tersebut. Peti mati batu itu tidak memiliki lubang kunci, hanya dipenuhi oleh ukiran relief ribuan hantu yang sedang bersujud pada sosok berjubah bayangan.
Shen Yuan merogoh Kantong Qiankun-nya, kembali mengeluarkan potongan Peta Makam Tuan Tanah Hantu yang masih memancarkan getaran gaib. Ia menempelkan peta itu ke permukaan peti mati, lalu meneteskan setetes intisari darahnya ke atas ukiran sosok berjubah bayangan.
Wuuuung!
Peti mati purbakala itu bergetar hebat. Empat rantai besi raksasa yang menopangnya berdenting nyaring, seolah-olah ditarik oleh kekuatan dari dasar neraka. Penutup batu hitam kelam yang beratnya mencapai puluhan ribu kati perlahan bergeser terbuka, mengeluarkan suara gesekan batu yang memekakkan telinga.
Hawa murni yang luar biasa lapuk dan kuno meledak dari dalam peti tersebut, menerpa wajah Shen Yuan. Namun, di dalam peti mati itu sama sekali tidak terdapat kerangka manusia atau tumpukan emas.
Hanya ada kekosongan, dan di tengah kekosongan itu, mengambang sebilah pedang patah yang berkarat serta sebuah gulungan perkamen yang memancarkan cahaya perak kehitaman.
Tepat saat pandangan Shen Yuan jatuh pada kedua benda itu, kabut darah di dalam peti mati berputar dengan cepat. Kabut itu perlahan memadat, membentuk sesosok bayangan manusia setinggi lebih dari dua tombak. Sosok itu mengenakan jubah bayangan yang compang-camping, dan wajahnya tertutup oleh kabut kematian.
Aura yang dipancarkan oleh bayangan ini sungguh mengerikan, melampaui tekanan Inti Emas milik Jian Wushuang hingga ratusan kali lipat. Ini adalah sisa bayangan jiwa dari seorang ahli di Puncak Ranah Peleburan Jiwa!
"Ribuan tahun... akhirnya ada yang berhasil membuka segelku," suara bayangan itu bergema, tidak di udara, melainkan langsung bergema di dalam lautan jiwa Shen Yuan. "Tetapi... hanya seorang anak fana di Lapisan Kesembilan? Di mana keturunanku? Di mana para penguasa yang seharusnya mewarisi jalanku?"
Shen Yuan tidak menundukkan kepalanya atau bersujud. Ia membalas tatapan bayangan raksasa itu dengan ketenangan mutlak.
"Keturunanmu mungkin sudah menjadi debu sejarah. Dan para penguasa yang kau tunggu sedang sibuk memukul pintu di luar sana," jawab Shen Yuan menunjuk ke arah kubah pelindung di belakangnya. "Aku datang sendirian. Warisanmu menjadi milikku."
Bayangan Tuan Tanah Hantu itu terdiam sesaat, lalu tawa yang menggetarkan jiwa meledak dari sosoknya.
"Sombong! Sungguh fana yang sangat sombong! Beraninya seekor semut menuntut warisan naga?!"
Kabut bayangan dari sosok itu melesat, berubah menjadi tangan raksasa yang mencengkeram tubuh Shen Yuan. Tekanan jiwa yang luar biasa berat berusaha menghancurkan lutut pemuda itu, memaksanya untuk berlutut tunduk di hadapan keagungan masa lalu.
Tulang-tulang Shen Yuan berderit keras. Tubuh Emas Gelap-nya memancarkan cahaya terang untuk melawan tekanan tersebut, namun ini adalah serangan jiwa, bukan serangan fisik.
Namun, alih-alih menyerah, Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuh Shen Yuan bereaksi ganas terhadap hinaan tersebut. Hawa murni iblis meledak dari Dantian-nya, dan dari dalam dadanya, Kepingan Darah Purbakala memancarkan seberkas cahaya merah darah yang langsung menembus mata bayangan Tuan Tanah Hantu!
"Kau ingin aku berlutut? Bahkan langit pun tidak pantas menerima lututku!" raung Shen Yuan. Sutra Penelan Surga, Putaran Pelahap Jiwa!
Saat aura dari Kepingan Darah Purbakala menyentuh bayangan tersebut, tangan bayangan yang mencekik Shen Yuan mendadak hancur berkeping-keping. Bayangan Tuan Tanah Hantu tersentak mundur, wujud kabutnya bergetar penuh ketakutan dan ketidakpercayaan.
"Aura ini... Hawa murni penelanan ini... Mustahil!" Suara Tuan Tanah Hantu tidak lagi sombong, melainkan dipenuhi oleh kengerian masa lalu. "Ini adalah... Jalan Iblis Penelan Surga?! Kepingan Tahta Darah dari Sembilan Cakrawala benar-benar telah turun ke alam bawah?!"
Bayangan itu memandang Shen Yuan, dari atas ke bawah, seolah melihat iblis yang akan menelan seluruh langit dan bumi.
"Hahahaha! Langit sungguh buta! Para dewa munafik di alam atas sana menyegelku di dunia fana ini, namun kini warisanku akan jatuh ke tangan pewaris Iblis Penelan Surga!" Tawa Tuan Tanah Hantu terdengar penuh kepahitan sekaligus kegembiraan yang gila.
"Baiklah, Anak Muda. Jika kau menapaki jalan tabu tersebut, maka seluruh Sembilan Cakrawala akan menjadi musuhmu. Cepat atau lambat, kau akan dihadapkan pada jurang kehancuran. Ambil warisanku! Gunakan kekuatanku untuk menebas kepala para dewa palsu itu!"
Bayangan itu mengayunkan tangannya. Gulungan perkamen bercahaya perak kehitaman dan pedang patah berkarat itu melayang keluar dari peti mati purbakala, melesat langsung ke pelukan Shen Yuan.
"Ini adalah 'Gulungan Pedang Penelan Langit', sebuah seni bela diri tingkat tinggi yang hanya bisa digunakan oleh mereka yang memiliki aura penelanan mutlak!" suara Tuan Tanah Hantu mulai memudar seiring wujudnya yang perlahan menghilang menjadi debu cahaya. "Dan pedang patah itu... adalah 'Pecahan Gigi Naga', pusaka lamaku. Meskipun telah hancur dan kehilangan rohnya, ketajamannya tidak bisa ditandingi oleh senjata fana mana pun."
"Waktuku telah habis... Esensi dari kolam darahku akan segera mengering karena kau hisap... Susunan aksara pelindung di luar sana akan segera hancur. Bertahan hiduplah, Pewaris Iblis..."
Bersamaan dengan kata-kata terakhirnya, bayangan Tuan Tanah Hantu benar-benar lenyap, kembali ke siklus reinkarnasi langit dan bumi.
Shen Yuan menggenggam gulungan perkamen dan gagang pedang patah itu dengan erat. Pedang itu terasa sangat berat, hampir mencapai lima ribu kati, terbuat dari material misterius yang memancarkan aura kematian. Bilahnya patah menyisakan hanya satu setengah jengkal logam berkarat, namun ketajamannya terasa mampu merobek ruang di sekitarnya.
Ia segera memasukkan Pedang Gigi Naga ke dalam Kantong Qiankun-nya, lalu memusatkan kesadaran spiritualnya ke dalam Gulungan Pedang Penelan Langit. Ribuan aksara kuno mengalir masuk ke dalam lautan kesadarannya, mengukirkan sebuah jurus pedang yang sangat kejam dan mendominasi.
Seni pedang ini tidak mengandalkan keindahan gerakan, melainkan mengubah setiap tebasan menjadi pusaran penelanan yang menghisap hawa murni dan esensi kehidupan musuh sebelum bilah pedang itu sendiri mencabut nyawa mereka!
Kreeetaaak!
Suara retakan yang sangat nyaring menyentak kesadaran Shen Yuan kembali ke dunia nyata.
Ia menoleh dengan tajam. Di luar peti mati, kolam darah yang tadinya bergolak kini telah mengering hingga ke dasar berbatu, esensinya telah diserap habis oleh Sutra Penelan Surga selama penyembuhannya dan pertemuannya dengan sisa jiwa. Tanpa pasokan energi dari kolam darah, Susunan Aksara Pelindung kuno yang berbentuk kubah merah itu mulai meredup dan dipenuhi oleh retakan seperti sarang laba-laba.
Bum! Bum! Bum!
Di luar kubah, Jian Wushuang menyadari melemahnya kubah pelindung tersebut. Wajahnya berseri-seri penuh kebuasan. "Hancur! Formasinya akan hancur! Seluruh Penatua, kumpulkan hawa murni kalian padaku! Pedang Penghukuman Langit, serangan gabungan!"
Cahaya perak yang membutakan mata meledak di luar. Jian Wushuang, disokong oleh kekuatan puluhan Penatua Lautan Qi, melepaskan sebuah tebasan pedang yang ratusan kali lebih dahsyat dari tebasan sebelumnya.
Praaaang!
Bagaikan langit kaca yang pecah berantakan, kubah pelindung darah itu akhirnya hancur tak bersisa. Pecahan cahaya merah beterbangan ke segala arah, menyisakan ruang terbuka antara pasukan raksasa Sekte Pedang Langit dan satu pemuda fana yang berdiri di atas peti mati batu hitam kelam.
Jian Wushuang menginjak udara, melayang masuk ke arah peti mati dengan mata yang menyala penuh keserakahan. Ia menatap ke dalam peti mati yang kosong melompong, lalu menatap Shen Yuan.
"Kau merampas warisannya..." suara Jian Wushuang bergetar menahan amarah dan iri hati yang tak terkendali. "Serahkan semuanya padaku, dan aku berjanji kau akan mati dengan cepat."
Shen Yuan berdiri dengan tegak. Tubuh Emas Gelap-nya telah pulih, lautan kesadarannya telah matang, dan ia kini memiliki pemahaman awal tentang Gulungan Pedang Penelan Langit. Ia memandang Jian Wushuang, puluhan Penatua, dan ribuan murid pilihan yang mulai menyemut masuk ke dalam aula makam.
Ia tidak dikelilingi oleh sekutu. Ia berada di tengah jantung pasukan musuh, ratusan kaki di bawah tanah, berhadapan langsung dengan sosok jenius mutlak dari alam menengah.
Shen Yuan menyeringai, sebuah senyuman iblis yang membuat beberapa Penatua bergidik ngeri.
Tangan kanannya perlahan merogoh udara di sampingnya, menarik keluar pedang patah berkarat yang baru saja ia dapatkan dari dalam Kantong Qiankun.
"Kau ingin warisannya?" Shen Yuan mengangkat Pecahan Gigi Naga, mengarahkannya lurus ke wajah sang Tuan Muda Inti Emas. "Kalau begitu, majulah dan rasakan sendiri ketajamannya."