Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Coba Pegang, Suka Warnanya?
Abi melepaskan pelukannya perlahan, matanya menatap Shanum dengan binar tak percaya yang bercampur dengan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Sebagai seorang pria yang hidup di tengah pusaran teknologi, di mana setiap menitnya bergantung pada koneksi digital, ia tidak menyangka bahwa dunia Shanum jauh lebih sederhana dari yang ia bayangkan.
"Mana ponselmu, Shanum? Coba saya lihat," pinta Abi.
Shanum mengangguk patuh, ia berjalan menuju kamar dan kembali dengan sebuah benda kecil yang warnanya sudah menguning dan menyerahkannya pada Abi dengan ragu.
"Ini, Mas. Masih bagus kok, baterainya awet bisa sampai tiga hari nggak dicas," ucap Shanum.
Rahang Abi mengeras saat benda itu berpindah ke telapak tangannya. Di sana, di atas kulit tangannya yang bersih, sebuah ponsel feature phone jadul dengan layar monokrom sekecil kotak korek api. Tombol-tombolnya sudah terkelupas dan menyisakan angka-angka yang nyaris tak terbaca, layarnya yang retak di sudut kiri atas hanya menampilkan bar sinyal yang lemah dan jam digital yang berkedip.
"Shanum... ini ponsel dari tahun berapa?" tanya Abi.
"Aku lupa tahun berapa, tapi ini pemberian Bapak pas aku lulus SMA, Mas. Katanya biar bisa dihubungi aja," jawab Shanum polos, matanya menatap ponsel itu dengan sayang.
"Masih bisa dipakai telepon kok, cuma ya itu... suaranya kadang kresek-kresek kalau sinyalnya susah," lanjut Shanum.
Abi membalikkan ponsel itu, melihat casing belakangnya yang diganjal dengan lipatan kertas agar baterainya tidak goyah. Rasa bersalah kembali menghantamnya, ia tinggal di apartemen mewah dengan kecepatan internet tinggi, sementara istrinya membawa beban sejarah kemiskinan dalam sakunya.
"Pantas saja, ponsel ini tidak punya akses untuk aplikasi itu dan hanya bisa untuk sinyal seluler dasar," gumam Abi.
Abi menatap istrinya dalam-dalam, "Kenapa tidak bilang kalau ponselmu seperti ini?" tanya Abi
Shanum menunduk, memainkan ujung hijabnya. "Aku pikir... yang penting bisa dengar suara Mas Abi kalau Mas telepon. Aku nggak mau minta-minta lagi sama Mas, belanjaan kemarin saja sudah mahal sekali," jawab Shanum.
Abi menghela napas panjang, ia meletakkan ponsel jadul itu di meja makan lalu meraih kedua tangan Shanum dan menggenggamnya erat.
"Dengar, Shanum. Di kota ini, komunikasi itu sangat penting. Saya ingin tahu keadaan kamu setiap saat, saya ingin kirim foto atau sekadar tanya kamu sedang apa lewat pesan singkat tanpa perlu menunggu pulsa SMS, ponsel ini... kita simpan saja sebagai kenangan," ucap Abi.
"Maksud Mas Abi?" tanya Shanum.
"Sore ini, setelah makan siang, kita beli yang baru. Yang bisa saya pakai untuk video call supaya kalau saya rindu, saya bisa lihat wajah kamu," ucap Abi tegas namun penuh kelembutan.
Shanum ingin memprotes, namun Abi segera membungkamnya dengan kecupan singkat di bibir. "Sekarang, lanjutkan masaknya. Saya sudah lapar," ucap Abi.
Suasana makan siang itu terasa jauh lebih nikmat, sayur asem buatan Shanum yang segar dengan perpaduan rasa asam, manis dan pedas yang pas, berpadu sempurna dengan ikan asin jambal yang renyah. Abi makan dengan lahap, menambah nasi hingga dua kali, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dalam hidupnya.
Selesai makan siang, suasana di ruang makan apartemen mewah itu terasa jauh lebih hangat. Abi menyandarkan punggungnya di kursi dan memperhatikan Shanum yang dengan cekatan membereskan piring-piring kotor, ada rasa damai yang menyusup ke hatinya, sangat kontras dengan rutinitasnya yang biasanya hanya ditemani denting sendok dan keheningan.
Tiga puluh menit kemudian, mobil mewah Abi membelah jalanan kota menuju salah satu pusat perbelanjaan elektronik terbesar. Di sepanjang jalan, Shanum hanya diam, jemarinya bertaut di atas pangkuan. Ia merasa asing dengan gedung-gedung kaca yang menjulang tinggi, sangat berbeda dengan suasana desanya yang tenang.
Begitu sampai di gerai ponsel premium, Shanum semakin menciut. Lantai marmer yang berkilat dan lampu-lampu kristal membuatnya merasa salah tempat, seorang pegawai dengan seragam rapi segera menyambut mereka.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa pegawai itu ramah.
Abi mengangguk singkat lalu merangkul bahu Shanum agar berdiri sejajar dengannya. "Tunjukkan model terbaru, yang kameranya paling jernih dan kapasitas baterainya besar, Istri saya butuh yang mudah dioperasikan," ucap Abi.
Pegawai itu mengeluarkan sebuah ponsel dengan desain ramping berwarna rose gold yang sangat elegan, "Ini seri terbaru, Pak. Layarnya sudah menggunakan teknologi tercanggih, tahan air dan kameranya setara dengan kamera profesional," ucap pegawai.
Mata Shanum membulat saat melihat angka yang tertera di label harga, ia menarik ujung kemeja Abi dan berbisik pelan.
"Mas, harganya... ini bisa buat beli motor di kampung," bisik Shanum.
Abi hanya terkekeh pelan, ia justru mengambil ponsel itu dan meletakkannya di tangan Shanum. "Coba pegang, suka warnanya?" tanya Abi.
"Bagus, Mas... tapi ini terlalu mahal, cari yang biasa aja, yang penting bisa telepon," ucap Shanum cemas.
"Tidak ada yang terlalu mahal untuk kamu," ucap Abi tenang.
Setelah itu, Abi menoleh ke pegawai. "Saya ambil yang ini, tolong sekalian pasangkan kartu dan pindahkan kontak dari ponsel lama, kalau masih bisa terbaca," ucap Abi.
"Baik, tunggu sebentar," ucap pegawai.
Proses itu memakan waktu beberapa saat dan ambil menunggu, Abi mengajak Shanum duduk di sofa empuk gerai tersebut, ia mulai mengajari Shanum dasar-dasar layar sentuh. Shanum tampak sangat kaku, jarinya gemetar saat menyentuh kaca dingin ponsel baru itu.
"Pelan-pelan, Shanum. Tekan sedikit saja, tidak perlu tenaga," bimbing Abi sabar, tangannya yang besar menuntun jemari kecil Shanum dan menggeser ikon-ikon di layar.
Saat kamera depan terbuka secara tidak sengaja, wajah mereka berdua muncul di layar dengan sangat jernih. Shanum terpekik kecil, "Mas, wajah kita jelas sekali, sampai pori-porinya kelihatan!" ucap Shanum.
Abi tertawa lepas, tawa yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun, ia secara spontan menekan tombol potret dan mengabadikan momen saat Shanum sedang melongo heran sementara ia tertawa di sampingnya.
"Ini foto pertama kita, akan saya jadikan wallpaper," ucap Abi puas.
Setelah urusan selesai, mereka berjalan keluar toko. Namun, langkah Abi terhenti di depan sebuah toko pakaian bermerek yang memajang koleksi fashion muslimah di etalasenya.
"Ayo masuk" ajak Abi.
Shanum hanya bisa pasrah, hari ini ia menyadari satu hal, menolak keinginan suaminya yang keras kepala namun perhatian ini adalah hal yang sia-sia. Di balik sikap tegas dan dunianya yang serba digital, Abi sedang berusaha meruntuhkan tembok kemiskinan yang selama ini membelenggu rasa percaya diri Shanum, satu langkah kecil pada satu waktu.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊