NovelToon NovelToon
TERJEBAK OBSESI

TERJEBAK OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Duda
Popularitas:504
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

update setiap tanggal genap

Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.

Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.

Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGHINAAN

Lin Yinjia tidak langsung pulang setelah keluar dari restoran. Ia berjalan tanpa tujuan menyusuri trotoar yang mulai sepi. Lampu-lampu kota Shanghai menyala terang, mobil-mobil mahal melintas, dan orang-orang berpakaian rapi keluar masuk restoran dengan santai seolah dunia mereka tidak pernah memiliki masalah.

Namun bagi Yinjia, malam itu terasa berat. Langkahnya pelan. Tangannya masih menggenggam tas kecil yang tadi ia bawa. Kata-kata Gu Zhenrui masih berputar di kepalanya. "Kalau kamu pergi sekarang, jangan mengeluh nanti ketika keluargamu kehilangan dukungan dari keluargaku."

Ancaman itu tidak diucapkan dengan marah. Justru terlalu santai. Seolah nasib keluarganya hanyalah sesuatu yang bisa dimainkan. Yinjia berhenti di dekat lampu lalu lintas. Ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya. Ia tidak boleh menangis di tempat seperti ini.

Bukan karena ia kuat. Tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk menunjukkan kelemahan di depan orang lain.

Beberapa menit kemudian ia memesan taksi dan pulang ke rumah kecil keluarganya. Rumah itu berada di lingkungan yang sederhana. Tidak semewah kawasan tempat keluarga Gu tinggal, tapi selalu terasa hangat.

Lampu ruang tamu masih menyala ketika Yinjia membuka pintu. Ibunya, Mei Lan, sedang duduk di sofa sambil melipat pakaian. Begitu melihat Yinjia masuk, wajah wanita itu langsung berubah lega. “Kamu baru pulang?”

Yinjia mengangguk. “Iya, ada makan malam.”

Mei Lan berdiri dan berjalan mendekat. “Kamu sudah makan?”

“Sudah.” Jawaban itu keluar begitu saja, meskipun sebenarnya Yinjia hampir tidak menyentuh makanan tadi.

Ibunya memperhatikan wajahnya beberapa detik. “Kamu terlihat capek.”

Yinjia tersenyum kecil. “Magang mulai minggu depan. Aku harus banyak menyiapkan dokumen.”

Mei Lan mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Sejak kecelakaan Yichen, semua orang di rumah ini belajar menyembunyikan kekhawatiran mereka masing-masing.

“Besok kita ke rumah sakit lagi,” kata ibunya pelan. “Dokter bilang mereka ingin memeriksa perkembangan Yichen.”

Yinjia mengangguk. “Iya.” Setelah itu ia masuk ke kamarnya. Kamar itu kecil, tapi rapi. Ada meja belajar, rak buku, dan beberapa foto keluarga yang ditempel di dinding.

Di salah satu foto, Yichen berdiri di sampingnya sambil tersenyum lebar. Melihat foto itu membuat dada Yinjia terasa sesak. Ia duduk di kursinya dan menatap layar ponselnya.

Tidak ada pesan dari Zhenrui. Tentu saja tidak ada. Bagi pria itu, kejadian di restoran mungkin tidak lebih dari hiburan kecil. Yinjia meletakkan ponselnya di meja dan menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya malam itu, air mata akhirnya jatuh. Namun tangisnya tidak keras. Hanya diam. 

Keesokan paginya Yinjia pergi ke kampus lebih awal dari biasanya. Ia tidak ingin bertemu terlalu banyak orang. Beberapa minggu terakhir gosip tentang dirinya mulai menyebar.

Banyak mahasiswa tahu bahwa ia dijodohkan dengan keluarga Gu. Sebagian orang iri. Sebagian lain meremehkannya. Yinjia duduk di kursinya di ruang kelas dan membuka buku catatan. Belum banyak mahasiswa yang datang.

Namun tidak lama kemudian Xu Yara masuk. Yara adalah sahabatnya sejak tahun pertama kuliah. Cantik, percaya diri, dan selalu terlihat rapi. Begitu melihat Yinjia, Yara tersenyum dan duduk di kursi sebelahnya. “Kamu datang pagi sekali.”

“Aku tidak bisa tidur,” jawab Yinjia.

Yara menatapnya beberapa detik. “Kamu bertemu Zhenrui kemarin?”

Yinjia sedikit terkejut. “Kamu tahu?”

Yara mengangkat bahu. “Ada yang melihat kalian di restoran.”

Kampus memang tempat yang penuh gosip. Segala sesuatu bisa menyebar sangat cepat.

Yinjia hanya mengangguk. “Iya.”

“Bagaimana?” Pertanyaan itu terdengar santai. Namun Yinjia tidak tahu kenapa, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara Yara menatapnya.

“Biasa saja,” jawabnya.

Yara tersenyum tipis. “Aku dengar dia makan malam dengan wanita lain.”

Yinjia berhenti menulis. “Siapa yang bilang?”

“Orang-orang di restoran.” Yara mencondongkan badan sedikit. “Kalau aku jadi kamu, aku pasti marah.”

Yinjia menutup bukunya perlahan. “Kami tidak punya hubungan seperti itu.”

“Kalian dijodohkan.”

“Itu keputusan keluarga.”

Yara tertawa kecil. “Tapi tetap saja memalukan, kan?”

Kalimat itu terasa lebih tajam dari yang seharusnya. Yinjia menatapnya “Kenapa kamu mengatakan itu?”

Yara mengangkat alis. “Aku hanya jujur.”

Beberapa mahasiswa lain mulai masuk ke kelas. Percakapan mereka berhenti di situ. Namun perasaan aneh di dalam diri Yinjia tidak hilang.

Saat jam istirahat siang, Yinjia pergi ke kantin sendirian. Kantin kampus cukup ramai. Mahasiswa dari berbagai jurusan duduk berkelompok sambil berbicara keras. Yinjia mengambil makanan sederhana lalu mencari tempat duduk kosong. Namun sebelum ia sempat duduk, seseorang memanggilnya.

“Lin Yinjia.”

Ia menoleh. Gu Zhenrui berdiri di dekat pintu kantin. Penampilannya langsung menarik perhatian banyak orang. Pria itu selalu terlihat sempurna. Pakaian mahal, wajah tampan, dan sikap percaya diri yang hampir terasa berlebihan.

Beberapa mahasiswa langsung berbisik-bisik. Zhenrui berjalan mendekat seolah tempat itu miliknya.

“Duduk.” Nada suaranya seperti perintah.

Yinjia mengerutkan kening. “Kamu kenapa ke sini?”

“Aku ingin makan siang.”

“Ini kantin mahasiswa.”

“Aku tahu.”

Ia menarik kursi di depan Yinjia lalu duduk tanpa meminta izin. Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan mereka.

Yinjia merasa tidak nyaman. “Apa yang kamu inginkan?”

Zhenrui tersenyum tipis. “Aku hanya penasaran.”

“Tentang apa?”

“Tentang kamu.” Ia menyandarkan punggungnya di kursi. “Kemarin kamu terlihat cukup berani.”

Yinjia tidak menjawab. Zhenrui menatap makanan di tray milik Yinjia. “Hanya ini yang kamu makan?”

“Tidak semua orang terbiasa makan di restoran mahal.”

Zhenrui tertawa pelan. “Itu benar.” Ia mencondongkan badan sedikit ke depan. “Kadang aku lupa kamu berasal dari keluarga seperti apa.”

Kalimat itu terdengar ringan. Namun orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan dengan lebih jelas. Yinjia menatapnya lurus. “Kalau kamu datang hanya untuk mengatakan itu, kamu bisa pergi.”

Zhenrui tidak bergerak. Justru senyumnya semakin lebar. “Aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa?”

“Apakah kamu benar-benar berpikir kamu cocok menjadi bagian dari keluarga Gu?” Kantin menjadi lebih sunyi. Beberapa orang berhenti berbicara. Zhenrui melanjutkan dengan nada santai yang terlalu jelas untuk tidak terdengar oleh orang lain. “Lihat dirimu. Kamu canggung, ceroboh, dan bahkan tidak tahu bagaimana berperilaku di tempat formal.”

Yinjia mengepalkan tangannya di bawah meja. Zhenrui melanjutkan tanpa ragu. “Dan keluargamu...” Ia berhenti sejenak. Lalu berkata pelan tapi jelas. “Hanya keluarga biasa yang kebetulan berteman dengan ayahku.”

Kalimat itu membuat dada Yinjia terasa panas. Namun Zhenrui belum selesai. “Kadang aku benar-benar bertanya-tanya,” katanya sambil tersenyum tipis, “apa yang sebenarnya membuatmu berpikir kamu pantas berdiri di sampingku.”

Seluruh kantin kini benar-benar memperhatikan. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu. Gu Zhenrui menghina Lin Yinjia di depan banyak orang. 

Kantin yang biasanya penuh suara kini terasa jauh lebih sunyi. Beberapa mahasiswa masih berpura-pura makan, tapi mata mereka jelas tertuju pada meja tempat Lin Yinjia dan Gu Zhenrui duduk.

Semua orang mendengar kalimat itu. Dan Zhenrui tahu itu. Ia bahkan tidak terlihat mencoba mengecilkan suaranya. Justru seolah sengaja membuat semuanya terdengar jelas.

Lin Yinjia duduk diam beberapa detik. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal erat sampai buku jarinya memutih. Jika ini terjadi beberapa bulan lalu, mungkin ia hanya akan menunduk dan pergi.

Namun sekarang banyak hal sudah berubah. Adiknya masih terbaring di rumah sakit. Keluarganya bekerja keras setiap hari. Dan pria di depannya berbicara seolah semua itu tidak ada artinya.

Yinjia akhirnya mengangkat kepalanya. Ia menatap Zhenrui lurus. Tatapan itu tidak lagi gugup seperti biasanya. “Aku tidak pernah berpikir aku pantas berdiri di sampingmu.”

Zhenrui sedikit mengangkat alis. Beberapa mahasiswa di sekitar mereka juga terlihat terkejut. Yinjia melanjutkan dengan suara yang tenang, meskipun jantungnya masih berdetak keras. “Karena sejak awal aku juga tidak ingin berdiri di sana.”

Kalimat itu membuat suasana semakin tegang. Zhenrui menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Yinjia seolah sedang menilai sesuatu yang baru. “Benarkah?”

“Ya.” Yinjia menatapnya tanpa mengalihkan pandangan. “Perjodohan ini bukan keinginanku.” Beberapa mahasiswa mulai saling berbisik.

Zhenrui tertawa pelan.“Tapi kamu tetap menerimanya.” Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. “Bukankah itu berarti kamu tetap menginginkan keuntungan dari keluargaku?”

Kalimat itu kembali membuat beberapa orang menoleh. Yinjia menarik napas dalam. Ia tahu Zhenrui sengaja menyeret percakapan ini ke arah itu. Namun ia tidak mundur. “Kalau kamu ingin mengatakan keluargaku membutuhkan bantuanmu, katakan saja langsung.”

Zhenrui tersenyum. “Kamu yang mengatakannya.”

Yinjia tidak lagi terlihat ragu. “Ya. Kami memang membutuhkan bantuan.”

Kantin kembali sunyi. Tidak banyak orang yang menyangka ia akan mengatakan itu dengan begitu terbuka. Namun Yinjia tidak berhenti. “Tapi itu bukan berarti kamu punya hak untuk menghina keluargaku.”

Suara Yinjia tidak keras. Namun setiap kata terdengar jelas. Zhenrui menatapnya beberapa detik. Lalu ia tertawa lagi, kali ini lebih keras. “Kamu benar-benar berubah.” Ia memiringkan kepalanya sedikit. “Siapa yang membuatmu berani seperti ini?”

Yinjia mengernyit. “Apa maksudmu?”

Zhenrui menatapnya tajam. “Mahasiswa populer itu?” Ia menyebut nama itu dengan nada meremehkan. “Chen Luo.”

Nama itu membuat beberapa mahasiswa di kantin langsung saling menatap. Chen Luo memang terkenal di kampus. Pintar, populer, dan berasal dari keluarga cukup berada.

Yinjia menggeleng. “Ini tidak ada hubungannya dengan dia.”

“Benarkah?” Zhenrui menyilangkan tangan. “Aku dengar dia sering mengikutimu ke mana-mana.”

“Dia temanku.”

Zhenrui tersenyum tipis. “Kamu benar-benar berpikir pria seperti dia hanya ingin menjadi teman?”

Yinjia mulai merasa kesal. “Kenapa kamu peduli?”

Kalimat itu membuat Zhenrui sedikit terdiam. Lalu ia mencondongkan badan ke depan. “Karena kamu masih tunanganku.”

“Tunangan yang tidak kamu inginkan.”

“Benar.” Zhenrui tidak menyangkalnya sama sekali. Namun setelah itu ia berkata dengan nada pelan yang terasa jauh lebih tajam. “Tapi itu tidak berarti pria lain boleh mendekatimu.”

Kalimat itu membuat Yinjia benar-benar kehilangan kesabaran. “Kamu bahkan tidak menghormati hubungan ini.”

“Karena hubungan ini memang tidak penting.”

“Lalu kenapa kamu masih mempertahankannya?”

Zhenrui tersenyum tipis. “Bukankah aku sudah menjelaskan kemarin?” Tatapannya berubah lebih dingin. “Aku tidak suka kalah.”

Yinjia menatapnya dengan tidak percaya. “Kamu mempertahankan perjodohan ini hanya karena ego?”

“Ego juga alasan yang cukup baik.” Beberapa mahasiswa mulai terlihat tidak nyaman mendengar percakapan itu.

Namun tidak ada yang berani ikut campur.Yinjia berdiri dari kursinya. Tray makanannya hampir tidak tersentuh. “Aku tidak punya waktu untuk permainan seperti ini.”

Namun sebelum ia sempat pergi, seseorang tiba-tiba berbicara dari belakang. “Kalau begitu berhenti saja.” Suara itu tenang. Beberapa mahasiswa langsung menoleh.

Chen Luo berdiri beberapa langkah dari meja mereka. Ia memegang tray makan siang yang tampaknya baru saja ia ambil. Wajahnya terlihat santai, tapi matanya jelas menatap Zhenrui dengan tidak ramah.

Zhenrui mengangkat alis. “Ah. Mahasiswa populer itu.”

Chen Luo meletakkan tray di meja kosong di dekat mereka. Ia berjalan mendekat. “Aku sudah mendengar cukup banyak.”

Zhenrui menatapnya dari atas ke bawah. “Ini urusan pribadi.”

Chen Luo mengangkat bahu. “Kalau kamu tidak ingin orang lain mendengarnya, jangan bicara keras-keras di kantin.”

Beberapa mahasiswa menahan napas. Konfrontasi antara dua pria itu membuat suasana semakin tegang. Zhenrui berdiri perlahan dari kursinya. Ia sedikit lebih tinggi dari Chen Luo. “Kamu pikir kamu siapa?”

Chen Luo tidak terlihat gentar. “Hanya seseorang yang tidak suka melihat orang lain dipermalukan.”

Zhenrui tertawa pendek. “Kamu mencoba menjadi pahlawan?”

Chen Luo menoleh sedikit ke arah Yinjia. Ia melihat wajah gadis itu yang masih terlihat tegang. Lalu ia kembali menatap Zhenrui. “Aku hanya mengatakan sesuatu yang jelas.”

Zhenrui menyilangkan tangan. “Kamu tahu siapa aku?”

Chen Luo tersenyum tipis. “Ya.”

“Lalu kamu masih berbicara seperti ini?”

Chen Luo tidak menjawab langsung. Ia hanya berkata dengan tenang, “Status seseorang tidak memberi mereka hak untuk memperlakukan orang lain seperti sampah.”

Kalimat itu membuat beberapa mahasiswa hampir tersedak. Zhenrui menatapnya dengan mata yang sedikit menyipit. Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Yinjia akhirnya berbicara. “Chen Luo.” Chen Luo menoleh. “Tidak apa-apa.”

Yinjia menatapnya pelan. “Aku bisa mengurusnya sendiri.”

Chen Luo terdiam beberapa detik. Lalu ia mengangguk. “Baik.”

Ia mundur sedikit. Namun ia tidak pergi. Zhenrui memperhatikan semuanya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Lalu ia tertawa pelan. “Kamu cukup populer, Lin Yinjia.” Tatapannya beralih dari Chen Luo kembali ke Yinjia. “Sekarang aku mulai mengerti.”

“Mengerti apa?”

“Kenapa kamu mulai berani.” Ia mengambil jaketnya dari kursi. Namun sebelum pergi, ia berkata dengan nada yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. “Tapi jangan terlalu percaya diri.”

Ia menatap Yinjia lurus. “Dunia yang sebenarnya tidak semudah kantin kampus.” Setelah itu ia berbalik dan berjalan keluar.

Beberapa mahasiswa langsung mulai berbisik-bisik. Kantin kembali ramai, tapi suasananya terasa berbeda. Yinjia berdiri beberapa detik tanpa bergerak.

Chen Luo akhirnya berkata pelan, “Kamu baik-baik saja?” Yinjia mengangguk. “Iya.”

Namun suaranya sedikit serak. Chen Luo memperhatikannya beberapa detik. “Kalau dia terus memperlakukanmu seperti itu—”

“Aku sudah terbiasa.”

Chen Luo mengerutkan kening. “Kamu tidak seharusnya terbiasa.”

Yinjia tidak menjawab. Ia hanya mengambil tasnya. “Sampai nanti.”

Chen Luo menatapnya berjalan pergi. Namun ia tidak mengejar. Ia hanya berdiri di tempat dengan ekspresi serius. Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari satu hal. Lin Yinjia hidup di dunia yang jauh lebih rumit dari yang ia kira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!