NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

Mobil mewah Gion melaju membelah jalanan malam yang dingin. Di dalam kabin, suasana terasa mencekam. Gion menyandarkan kepalanya ke sandaran jok dengan mata terpejam, wajahnya pucat pasi seolah seluruh energinya telah diperas habis.

​Di sampingnya, Sarah terus merapikan rambutnya yang berantakan, sesekali melirik Gion dengan bibir yang masih mengerucut. Ia ingin marah karena dibentak di depan umum, tapi melihat kondisi Gion yang seperti mayat hidup, ia menahan diri.

​"Gion, kamu jangan terlalu dipikirkan. Zayn Malik itu cuma gertak sambal saja. Mana mungkin dia menghancurkan perusahaan sebesar milikmu cuma karena wanita seperti Laila?" gumam Sarah pelan, mencoba mencari perhatian.

​Gion tidak menjawab. Ia bahkan tidak membuka matanya. Pikirannya masih tertuju pada tatapan dingin Laila di lift tadi. Tatapan yang memberitahunya bahwa masa kejayaannya sedang dihitung mundur.

​Begitu sampai di rumah mewah keluarga Gion, Sarah langsung menghambur masuk mendahului Gion yang berjalan gontai. Di ruang tamu, Mama Ratih sudah menunggu dengan segelas teh hangat, wajahnya penuh rasa ingin tahu tentang hasil pesta tersebut.

​"Loh, Sarah? Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Mana Gion?" tanya Mama Ratih cemas.

​"Mama! Laila, Ma! Dia benar-benar kurang ajar!" adu Sarah sambil mengempaskan tubuhnya di sofa di samping Mama Ratih. "Dia datang ke pesta itu bareng Zayn Malik! Bisa-bisanya dia menggoda pria setingkat Tuan Zayn!"

​Mama Ratih tersentak hingga hampir menjatuhkan cangkirnya. "Apa?! Zayn Malik dari Sinar Pradipta Corporation? Jangan bercanda, Sarah! Laila itu cuma anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Mana mungkin dia bisa kenal orang hebat seperti itu?"

​"Aku juga tidak tahu, Ma! Tapi tadi Tuan Zayn sendiri yang bilang kalau Laila itu 'investasi terbaiknya'. Dia bahkan menghina Gion di depan semua orang. Gara-gara mulut tajam Laila, Tuan Zayn mengancam akan mencabut semua investasi di perusahaan Gion!" Sarah mulai terisak buatan, mencari simpati.

​Gion masuk ke ruangan itu dengan langkah berat. Ia langsung ambruk di sofa tunggal tanpa menyapa ibunya.

​"Gion! Apa yang dikatakan Sarah benar?" seru Mama Ratih dengan suara melengking. "Kenapa kamu diam saja? Kamu biarkan mantan istrimu yang tidak berguna itu mempermalukan keluarga kita?"

​Gion mendesah panjang, suaranya terdengar serak. "Dia bukan Laila yang dulu, Ma. Dia... dia berbeda. Caranya bicara, caranya menatap... seolah-olah dia memang terlahir untuk berada di samping Zayn Malik."

​"Halah! Itu pasti cuma pengaruh baju mahal dan riasan tebal!" potong Mama Ratih berang. Ia beralih menatap Sarah dengan tajam. "Sarah, dengar Mama. Kamu itu putri wakil direktur di Sinar Pradipta Corporation, kan? Ayahmu punya posisi penting. Kamu harusnya bisa membujuk ayahmu agar memastikan investasi ke perusahaan Gion tetap aman, atau cari cara supaya Zayn Malik tidak mendengarkan omong kosong Laila!"

​Sarah langsung menegakkan punggungnya, wajahnya yang tadi muram kini berubah menjadi penuh percaya diri. "Tenang saja, Mama Ratih. Ayahku itu tangan kanan ayahnya Tuan Zayn. Mereka sudah bekerja sama puluhan tahun. Aku tidak akan membiarkan wanita jalang itu menguasai harta atau perhatian Tuan Zayn Malik. Aku akan bicara pada Papa besok pagi."

​Mama Ratih menghela napas lega, senyum licik mulai mengembang di wajahnya yang penuh keriput kosmetik. "Bagus! Itu baru calon menantu Mama. Kamu jauh lebih berkelas daripada Laila yang cuma bisa modal tampang."

​Mama Ratih mendekati Sarah, mengelus bahunya dengan lembut. "Dengar ya, Sayang. Jika kamu benar-benar bisa membuat Matahari Grup tetap berinvestasi atau setidaknya membuat Papa kamu menjamin stabilitas perusahaan Gion, Mama janji... Mama akan segera mengurus pernikahan kalian. Bulan depan pun jadi!"

​Mata Sarah berbinar. "Benarkah, Ma?"

​"Tentu saja! Gion, kamu dengar itu? Sarah adalah penyelamatmu, bukan Laila yang malah membawa sial!" seru Mama Ratih sambil menyenggol lengan putranya.

​Gion hanya mengangguk lemah. "Terserah Mama saja."

​Sarah tersenyum kemenangan. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan dirinya berdiri di atas podium pelaminan, menggunakan gaun pengantin paling mahal di kota ini, sementara Laila akan kembali merangkak di jalanan setelah Zayn Malik bosan dengannya.

​"Lagipula, Ma," lanjut Sarah dengan nada angkuh, "Laila itu paling cuma dijadikan mainan sementara oleh Tuan Zayn. Pria seperti dia tidak mungkin serius dengan wanita yang punya status 'janda'. Besok, aku akan ke kantor Papa dan meminta dia memberitahu Tuan Zayn tentang 'masa lalu' Laila yang sebenarnya. Biar dia tahu kalau wanita yang dia banggakan itu hanyalah bekas Gion."

​"Ide bagus!" Mama Ratih tertawa kecil. "Berikan dia pelajaran. Biar dia tahu langit itu tinggi. Berani-beraninya dia menampar putraku."

​Gion tiba-tiba teringat tamparan Laila tadi. Pipinya masih terasa panas, tapi yang lebih sakit adalah harga dirinya. "Tapi Sarah... kalau Papa kamu gagal membujuk mereka, bagaimana? Tadi Zayn Malik kelihatan sangat serius."

​Sarah mendengus meremehkan. "Gion sayang, kamu terlalu stres. Papa itu punya 'kartu as' perusahaan mereka. Zayn Malik memang bos besar, tapi dia tetap butuh relasi papaku. Percaya deh sama aku. Laila itu cuma kerikil kecil yang bakal kita tendang sebentar lagi."

​"Semoga saja kamu benar," gumam Gion. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa cemas yang tak kunjung hilang. Ia teringat bagaimana Zayn memegang pinggang Laila dengan begitu protektif. Itu bukan tatapan pria yang sedang bermain-main.

​Malam semakin larut. Sarah pamit pulang dengan perasaan di atas angin. Sebelum keluar, ia menyempatkan diri mengecup pipi Gion. "Jangan sedih lagi ya, calon suamiku. Besok semua masalah beres."

​Setelah Sarah pergi, ruangan itu kembali sunyi. Mama Ratih menatap putranya yang masih termenung.

​"Gion, sudahlah. Jangan dipikirkan lagi wanita sialan itu. Mending kamu fokus saja ke Sarah. Dia kunci keselamatan perusahaan kita sekarang," ujar Mama Ratih sambil beranjak menuju kamarnya.

​Gion tetap diam di sana, menatap langit-langit ruang tamu yang megah. Bayangan Laila yang tertawa kecil saat berdansa dengan Zayn terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

​"Kenapa rasanya sesak begini?" bisiknya pada diri sendiri. "Harusnya aku senang bisa lepas darinya. Harusnya aku puas melihat Sarah yang kini membelaku."

​Namun, di tengah kemewahan rumah itu, Gion merasa sangat kosong. Ia baru menyadari satu hal: selama ini Laila adalah orang yang mengurus segala kebutuhannya tanpa mengeluh, bahkan saat Mama Ratih menghinanya habis-habisan. Sekarang, orang yang membelanya adalah Sarah—wanita yang hanya peduli pada anting mahal dan status sosial.

​Gion memejamkan mata erat-erat. "Besok... ya, besok semuanya akan kembali normal. Laila akan hancur, dan aku akan menang."

​Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski suara hatinya berteriak bahwa ia baru saja membuang berlian demi mendapatkan kerikil yang berisik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!