"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Aku menatap Fita datar. Wajahnya yang sembap dan suaranya yang bergetar tidak lagi memancing rasa iba di hatiku. Bagiku, air matanya hanya bentuk pembelaan diri yang terlambat. Segala "rahasia" yang ingin dia sampaikan tidak akan mengubah kenyataan bahwa dia telah menusukku dari belakang.
"Fis, sebentar aja..." lirih Fita saat aku mulai melangkah mendekat ke arah pintu.
Aku tidak berhenti. Aku bahkan tidak sudi membalas tatapannya. Saat bahuku berselisih dengannya di ambang pintu, aku hanya berkata pelan tanpa menoleh, "Simpan aja drama lo buat Guntur, Fit. Gue udah nggak butuh."
Aku melangkah keluar kelas dengan kepala tegak, meninggalkan Fita yang terpaku di sana. Bintang segera menyusul di sampingku, langkahnya yang lebar menyesuaikan ritmeku. Dia tidak bertanya apa-apa, seolah tahu bahwa keheningan adalah hal yang paling kubutuhkan saat ini.
"Mau ke kantin? Atau mau ke taman belakang yang lebih sepi?" tanya Bintang lembut saat kami sampai di persimpangan koridor.
"Taman aja, Bin. Gue lagi males liat orang banyak," sahutku.
Kami berjalan menyusuri koridor. Namun, saat melewati tangga menuju atap, aku melihat Guntur sedang turun dengan langkah gontai. Dia sepertinya baru saja kembali dari penantian sia-sianya di atap. Matanya yang tajam langsung tertuju padaku, lalu turun ke arah Bintang yang berjalan di sisiku.
Langkah Guntur terhenti tepat di depan kami. Lorong itu mendadak terasa sempit.
"Suratnya nggak lo baca?" tanya Guntur, suaranya terdengar serak, jauh dari kesan dingin yang biasanya dia banggakan.
Aku berhenti sebentar, menatapnya dengan sisa-sisa kekuatan yang kupunya. "Udah gue baca kok. Tapi di tempat sampah. Pas banget di tempat yang seharusnya."
Guntur terdiam, rahangnya mengeras. Dia menatap Bintang dengan sinis, seolah ingin menyalahkan kehadiran cowok itu atas sikap dinginku. "Lo berubah, Fis. Cuma karena ada dia?"
Aku tertawa hambar, tawa yang membuat Bintang sedikit mempererat posisinya di sampingku seolah menjagaku. "Gue nggak berubah, kok kak . Gue cuma sadar kalau selama ini gue ngejar bayangan yang bahkan nggak punya bayangan. Sekarang minggir, gue mau lewat."
Guntur tidak bergerak, dia justru menatapku seolah ada hal besar yang ingin dia ledakkan, sementara di ujung koridor, Fita muncul berlari mengejar kami dengan wajah panik.
Aku tidak sanggup lagi. Oksigen di koridor ini seolah tersedot habis oleh kehadiran mereka berdua. Melihat Guntur yang masih merasa punya hak untuk menghakimiku, dan melihat Fita yang berlari mendekat dengan drama barunya, membuat perutku mual.
"Fis, tunggu—" Guntur mencoba meraih pergelangan tanganku.
"Jangan sentuh gue!" sentakku keras.
Aku tidak peduli lagi pada Bintang yang menatapku khawatir, atau pada orang-orang yang mulai menjulurkan kepala dari balik pintu kelas. Tanpa aba-aba, aku memutar tubuh dan berlari sekuat tenaga. Aku melewati Guntur, melewati Fita yang baru saja sampai dengan napas tersengal, dan terus berlari menyusuri lorong panjang sekolah.
"Afisa!" teriak Bintang, namun langkahnya tertahan oleh Guntur yang sepertinya juga ingin mengejarku. Aku mendengar suara mereka beradu argumen di belakang, tapi aku tidak menoleh.
Aku terus berlari menuju pintu belakang sekolah, melewati gudang, dan berakhir di belakang lab biologi yang sepi. Napas kudaki dengan rakus, dadaku terasa panas dan perih. Aku jatuh terduduk di atas akar pohon tua yang besar, menyembunyikan wajah di balik kedua lututku.
Aku benci perasaan ini. Aku benci karena di titik ini, aku masih merasa sakit. Harusnya aku sudah mati rasa, harusnya aku sudah menang, tapi nyatanya melihat wajah Guntur dan Fita secara bersamaan tetap terasa seperti luka yang disiram cuka.
Sunyi. Hanya ada suara angin yang memainkan daun-daun kering di sekitarku. Sampai akhirnya, aku mendengar langkah kaki pelan mendekat. Bukan langkah lari yang terburu-buru, melainkan langkah yang sangat hati-hati.
Aku tidak mendongak. Aku takut itu Guntur. Aku takut itu Fita. Atau bahkan Kaila yang ingin membela diri lagi.
"Fis... ini aku. Gak usah takut, mereka nggak bakal nemuin kamu di sini."
Suara lembut itu milik Bintang. Dia berjongkok di depanku, memberikan jarak yang cukup agar aku tidak merasa terpojok. Dia meletakkan sekotak susu coklat yang baru—yang mungkin dia beli lagi karena yang tadi pasti sudah tidak dingin.
"Aku udah halangin mereka tadi. Guntur udah pergi, Fita juga dibawa Ayu ke kelas," ucapnya pelan. "Aku nggak akan paksa kamu cerita. Aku cuma mau temenin kamu di sini sampai kamu ngerasa mendingan."
Aku mengangkat kepala perlahan, menatap wajah Bintang yang tampak tulus tanpa kepura-puraan. Di saat duniaku penuh dengan orang-orang yang pandai bersembunyi di balik kata-kata, Bintang adalah satu-satunya yang memberikan keheningan yang kubutuhkan.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2