satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadi Sembuh
Sementara di bandar Lampung, Niken memberikan rekaman CCtv di parkiran Cafe Permata
" Apa ini beneran bukan Editan" Polisi jaga yang menerima video bertanya dengan ragu
" maaf pak bapak bisa panggil ahli IT kalau meragukan video ini palsu" sahut Niken sedikit kesal
" Baiklah, kami terima barang bukti ini , jika video ini asli kami akan menindak pelaku secepatnya" ucap Polisi yang sedang berjaga itu
" Hukum sesuai kejahatannya pak, saya juga masih punya salinannya " Ucap Niken sambil melangkah pergi meninggalkan kantor polisi
Pihak kepolisian setelah menerima laporan dan barang bukti rekaman CCtv dari parkiran Cafe Permata
lima orang Preman yang biasa mangkal di Kaliawi dan Bambu Kuning di tangkap beritanya sampai viral di medsos, dan Cafe di tutup karena sengaja menghilangkan barang bukti
Bimo yang saat itu sedang berada di Bandar lampung mengambil kebutuhan Hadi dan Satria segera menelpon Satria
" Sat, yang mengeroyok Hadi sudah di tangkap beritanya viral di medsos" Ucapnya saat Satria mengangkat panggilan teleponnya
" Ya, aku juga sudah tahu, tadi sempat menonton di medsos," sahut Satria, setelah Bimo menutup sambungan teleponnya , Satria segera menelpon Niken
" Kak Niken, terima kasih yah" Ucap satria tulus karena telah membantunya mencari barang bukti dan melaporkan ke pihak berwajib hingga semua preman itu di tangkap, namun di hati satria masih ada yang mengganjal, Hadi sama sekali tak mengenal satupun dari pengeroyoknya, dalam perjalanan ke Cafe juga ia tak menyenggol mobil lain
" santai , tapi jangan lupa nanti temani makan malam" sahut Niken Dari seberang sambungan telepon
" Ya kak, tapi nanti yah kalau aku pulang dari sini"sahut Satria
" Eh emang kamu lagi di mana?" tanya Niken
" Di Pringsewu, lagi ngobatin patah tulang Hadi di balai pengobatan Sangkal putung" jawab Hadi
" Oooh, ya udah semoga lekas pulih, muaaaach" Niken memberi ciuman jauh dan menutup sambungan teleponnya
" Ish' kak Niken ini mancing mancing aja" gerutu satria
" abis nelpon siapa bro?" Hadi yang melihat Satria telah selesai menelpon bertanya
" Kak Niken, dia juga titip salam loe" sahut Satria
" waalaikum salam" balas Hadi, kondisi Hadi sudah mendingan ia sudah bisa berjalan selangkah dua langkah tanpa merasa sakit, tinggal pemulihannya saja
" Kerjaan loe gmana?" tanya Hadi , yang ia tahu Satria hanya tiga minggu libur, dan besok ia harus bekerja kembali
" Gw udah telpon pak Karno, di sini gw lagi ada urusan, kalau ga bisa di tinggal gw mundur" jawab Satria, ia memang memutuskan membereskan masalah Hadi terlebih dahulu, baru akan kembali ke perkebunan
" Maaf yah Sat, gw jadi ngerepotin loe" ucap Hadi tak enak hati
" ish, ngomong apaan loe" tegur Satria pura pura marah
" He he he, maaf" Hadi nyengir dan tertawa kecil
Sore itu Hadi di panggi oleh pak Narto kesatu ruangan khusus
" Guru ada apa?" tanya Satria , ia takut jika ia punya kesalahan
" Coba kau lihat ini" Pak Narto mengangkat tangannya dengan jari telunjuk di acungkan
Perlahan dari ujung telunjuk itu satu sinar tipis keluar dari jari itu membentuk satu jarum kecil dengan panjang sekitar 7 centi meter
" apa ini guru?" tanya Satria takjub
" ini jarum Naga, ini yang sering aku gunakan untuk mengobati pasien" jawab Pak Narto, " sekarang dengarkan aku akan menurunkan jarum Naga Ini untukmu" lanjut Pak Narto berkata, lalu ia menjelaskan cara membentuk jarum Naga itu, yang ternyata dari tenaga dalam yang di padatkan
" Kamu memiliki dasar tenaga dalam baik, hasil yang kau dapatkan pasti lebih baik nantinya" ucap Pak Narto
Satria yang mendengar cara membentuk Jarum Naga dari tenaga dalam sedikit mengernyitkan dahi , karena caranya seperti membentuk Kuku Pancanaka , hanya saja tenaga dalam yang di keluarkan di perkecil dan di perhalus jadi hanya membentuk sebuah jarum
Dengan perlahan Satria mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung jari telunjuknya
Plash
Dari tangan Satria mencuat energi yang membentuk satu jarum besar, dua kali lipat dari jarum yang di keluarkan Pak Narto
" Murid edan, jarumnya malah lebuh besar dari punyaku" gerutu Pak Narto, yang menandakan tenaga dalam milik Satria lebih tinggi dari miliknya
" Seperti ini guru" Satria memamerkan Jarum Naga Miliknya
" Iya tapi itu ga bisa buat mengobati orang tetapi membunuh orang" gerutu Pak Narto dengan muka masam
" He he he iya guru, nanti aku akan melatih menjadi lebih kecil" ucap Satria terkekeh kecil.
" Ya nanti harus di perkecil , ini pelajari titik syaraf di tubuh manusia" Pak Narto memberikan satu buku kecil
Saat Satria membukanya ternyata buku itu tentang tubuh manusia , dengan titik titik akupuntur yang di tandai
" Terima Kasih Guru" jawab Satria senang,
Sebulan di rawat di pengobatan Alternatif Hadi kini telah pulih, berkat ramuan penguat tulang ia kini telah bisa berlari seperti dulu
" Guru,terima kasih sudah mengobati dan mengajariku ilmu pengobatan" Satria berpamitan karena sore itu Hadi akan pulang
" Sama sama, ingat ilmu itu harus bermanfaat bagi masyarakat, bukan merugikan" ucap Pak Narto mengingatkan
" Ya guru " sahut Satria
Dengan menggunakan mobil Hadi mereka pulang ke Way Halim .
Satria menemani Hadi beberapa hari tinggal di sana
namun sore itu Bimo datang dengan tergesa gesa dan wajah penuh emosi
" Loe ada masalah apa?" tanya Satria sambil menyeruput kopinya
" Tadi gw nganter mak gw ke pasar bambu kuning, gw lihat salah satu yang ngeroyok Hadi lagi nongkrong!" Geram Bimo, sambil mengepalkan tangan
" Loe serius!" Satria kaget dan melonjak dari duduknya
" Kamu serius nak Bimo?" tanya ibu Hadi
" Beneran Tante, ini aku video diam diam" Bimo mengeluarkan handphonenya dan memutar rekaman video yang tadi dia ambil di pasar bambu kuning
Satria menutup matanya rapat-rapat. Bayangan wajah orang-orang yang memukuli Hadi tanpa ampun di video itu kembali terlintas. Rasa sakit yang dia rasakan saat menyentuh tubuh Hadi dan merasakan penderitaan sahabatnya kembali terasa di ujung jarinya. Dan sekarang, mereka bebas? Hanya ditahan seminggu seolah-olah mereka hanya mencuri buah atau melanggar lalu lintas?
Satria segera menelpon Niken
" Loe udah denger Sat?" tanya Niken saat sambungan teleponnya tersambung
" Bukan denger, tapi Bimo lihat salah satu dari mereka nongkrong di pasar Bambu Kuning" balas Satria
" Gw udah nyelidiki, katanya ada yang nebus mereka jadi mereka bisa bebas bersyarat" Kata Niken
" Kalau gitu biar gw yang ngasih pelajaran sama mereka sekalian gw mau tahu siapa dalang di balik mereka!" geram Satria
" Sat, elo jangan nekat, mereka preman" Niken berteriak kaget, karena ia tahu Satria pasti nekat
" Tenang aja kak , oh iya Video yang dulu masih ada kan?" tanya Satria
" Masih, buat apa?" tanya Niken
" bisa kirim ke kantor pusat ga?" tanya Satria
" Nanti gw usahain," sahut Niken
" Ya udah, makasih kak"
" Sat Jangan nekat yah, jangan membahayakan diri loe sendiri" seru Niken
" Tenang aja kak , gw pasti hati hati" sahut Satria ia menutup panggilan telepon itu
" Kalau kalian bisa bebas setelah menyakiti sahabat gw , gw kalian menderita berlipat ganda" gumam Satria , tanpa sadar tenaga dalamnya keluar membuat yang ada di sana seperti tertekan
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁