NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Balik Samudra

​Malam di Sydney biasanya dipenuhi oleh gemerlap lampu dari Harbour Bridge, namun bagi Laras, kegelapan di dalam apartemennya terasa jauh lebih pekat. Sejak kejadian di area staf teater tadi pagi, ia dikurung di dalam kamar utamanya. Semua alat komunikasi disita oleh Amy. Pintu balkon dikunci dari luar, dan pengawal berdiri tepat di depan pintu kamarnya.

​Laras duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur sutranya. Ia tidak menangis lagi; air matanya sudah mengering, meninggalkan rasa perih di pipi dan kehampaan di dadanya. Ia tahu, jet pribadi Elang sedang membelah angkasa, menyeberangi samudera dengan kecepatan penuh menuju Australia. Pria itu datang bukan untuk merayakan pementasannya, melainkan untuk menegakkan kedaulatannya yang sempat goyah.

​Sekitar pukul sebelas malam, keheningan apartemen pecah oleh suara pintu depan yang terbuka dengan kasar. Suara langkah kaki yang berat dan berirama—langkah yang sangat Laras kenali—menggema di atas lantai marmer. Jantung Laras berdegup kencang, seolah ingin mendobrak rusuknya.

​Pintu kamar terbuka.

​Elang berdiri di ambang pintu. Ia masih mengenakan setelan jas hitam yang ia pakai dari Jakarta, namun penampilannya tidak serapi biasanya. Dasinya sudah dilonggarkan, dan kemeja putihnya terbuka di bagian kerah. Wajahnya yang tegas tampak kaku, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang ditahan sekuat tenaga.

​Ia tidak langsung bicara. Ia hanya menatap Laras yang duduk bersimpuh di lantai. Tatapan itu tidak mengandung api kemarahan yang meledak-ledak, melainkan dingin yang mematikan—seperti air laut dalam yang bisa menenggelamkan tanpa suara.

​"Keluar, Amy," perintah Elang tanpa mengalihkan pandangan dari Laras.

​Amy membungkuk hormat dan segera menutup pintu, meninggalkan mereka berdua dalam ruangan yang mendadak terasa kekurangan oksigen.

​Elang berjalan perlahan mendekati Laras. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis. Ia berhenti tepat di depan Laras, lalu berlutut agar wajah mereka sejajar.

​"Berdiri, Laras," bisik Elang. Suaranya rendah, bergetar oleh emosi yang tertahan.

​Laras mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas. Elang segera mencengkeram kedua bahu Laras dan mengangkatnya dengan paksa hingga wanita itu berdiri tegak. Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun sangat kuat, seolah-olah ia takut jika ia melepaskannya, Laras akan terbang menghilang.

​"Apa yang kamu cari darinya?" tanya Elang, matanya mengunci mata Laras. "Apa yang Julian berikan padamu yang tidak bisa aku berikan? Kebebasan? Janji-janji kosong tentang panggung dunia?"

​"Elang... dia hanya ingin membantuku..." suara Laras parau.

​"Membantumu?" Elang tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar mengerikan di telinga Laras. "Dia ingin mencurimu dariku, Laras! Dia ingin menggunakan bakatmu untuk kepentingan galerinya, untuk namanya sendiri! Dan kamu... kamu dengan bodohnya merangkak masuk ke dalam perangkapnya hanya karena aku melarangmu belanja sendirian?"

​Elang melepaskan bahu Laras dan mulai berjalan mondar-mandir di ruangan itu seperti singa dalam kandang. "Aku memberikanmu Sydney! Aku memberikanmu panggung paling ikonik di dunia! Aku memberimu perlindungan yang tidak dimiliki oleh ratu manapun di bumi ini! Dan caramu berterima kasih adalah dengan menemui pria lain secara rahasia di sebuah ruang ganti kotor?"

​"Aku hanya ingin bicara tanpa diawasi, Elang! Aku merasa tercekik!" teriak Laras akhirnya, keberaniannya muncul dari rasa putus asa. "Amy melaporkan setiap napasku padamu! Pengawalmu menatapku seolah aku ini penjahat! Aku bukan tunanganmu, aku ini tawananmu!"

​Mendengar kata "tawanan", Elang berhenti bergerak. Ia berbalik dan menerjang ke arah Laras, menyudutkan wanita itu ke dinding kaca yang menghadap ke pelabuhan. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Laras, mengurungnya secara fisik.

​"Jika aku ingin menjadikanmu tawanan, Larasati, kamu tidak akan pernah melihat Sydney," desis Elang di depan wajah Laras. "Kamu akan berada di ruang bawah tanah rumahku di Jakarta, di mana hanya aku yang bisa melihatmu menari, di mana hanya aku yang bisa menyentuhmu. Tapi aku memberimu dunia! Aku membiarkanmu dipuja oleh ribuan orang! Apakah itu definisi tawanan bagimu?"

​Laras memalingkan wajahnya, isakannya kembali pecah. Elang meraih dagu Laras dan memaksanya kembali menatapnya.

​"Aku mencintaimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu pahami," ucap Elang, suaranya kini melunak namun tetap sarat akan obsesi. "Bagiku, kamu adalah satu-satunya hal suci yang tersisa di hidupku yang kotor ini. Kehilanganmu sama saja dengan membiarkanku mati. Dan aku tidak akan membiarkan kematian itu datang karena ulah seorang kurator rendahan seperti Julian."

​Elang menjauh sedikit, ia merapikan kemejanya dan mengambil ponsel Laras yang tergeletak di meja rias. Ia menjatuhkan ponsel itu ke lantai dan menginjaknya dengan sepatu pantofelnya hingga layar kristalnya hancur berkeping-keping.

​"Pementasan lusa akan tetap berjalan," ucap Elang dingin.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!