NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Cafe itu tidak terlalu ramai, namun juga tidak sepi.

Suara mesin kopi yang sesekali berdengung bercampur dengan percakapan pelan beberapa pengunjung yang duduk berjauhan. Aroma kopi yang hangat memenuhi udara, berpadu dengan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar di sisi ruangan.

Yusallia mendorong pintu kaca perlahan.

Suara lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan, menandakan kedatangannya.

Matanya langsung mencari sosok yang ia kenal.

Bryan duduk di salah satu meja dekat jendela.

Seperti biasa, ia memilih tempat yang tidak terlalu di tengah keramaian, namun juga tidak terlalu tersembunyi.

Kemeja kasual berwarna terang yang ia kenakan terlihat rapi meskipun santai. Lengan kemejanya sedikit digulung sampai siku, memperlihatkan jam tangan yang sudah cukup sering Yusallia lihat sejak dulu.

Bryan tampak sedang melihat ponselnya, namun begitu menyadari seseorang berdiri di depannya, ia langsung mengangkat kepala.

Ekspresinya berubah cepat.

Lega.

Lalu hangat.

“Yusa,” katanya sambil berdiri.

Yusallia tersenyum kecil.

“Bryan.”

Bryan menarik kursi di depannya dengan refleks, gestur kecil yang terasa sangat familiar.

“Duduk dulu.”

“Makasih.”

Yusallia meletakkan tasnya di samping kursi sebelum duduk perlahan.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap, seperti sama-sama memastikan bahwa orang di hadapan mereka benar-benar baik-baik saja.

“Lo keliatan capek,” kata Bryan akhirnya.

Nada suaranya ringan, namun matanya memperhatikan dengan cukup teliti.

“Kurang tidur,” jawab Yusallia singkat.

Bryan mengangguk pelan.

“Wajar sih, semalem kan pulang lumayan larut.”

“Iya.”

Bryan memiringkan kepalanya sedikit.

Tatapannya tidak menekan, namun cukup tajam untuk membuat Yusallia merasa seperti sedang diamati.

“Lo beneran gapapa kan?”

“Iya.”

“Serius?”

“Iya Bryan.”

Bryan terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil.

“Yaudah gue percaya.”

Nada suaranya santai, seolah memilih untuk tidak menggali lebih jauh.

Namun Yusallia tetap bisa merasakan bahwa Bryan sebenarnya belum sepenuhnya yakin.

Pelayan datang menghampiri meja mereka, menanyakan pesanan.

Bryan sudah memesan lebih dulu.

“Aku pesenin lo cappuccino, masih sama kan?” katanya santai.

“Iya… masih.”

“Gue inget lo ga terlalu suka kopi yang terlalu pahit.”

Yusallia tersenyum kecil.

“Masih inget aja.”

“Ya inget lah.”

Pelayan meletakkan minuman mereka di meja tidak lama kemudian.

Cappuccino hangat dengan busa lembut di atasnya terlihat sederhana, namun cukup menenangkan.

Bryan mengaduk kopinya perlahan.

“Jadi…”

Nada suaranya santai.

“3 tahun.”

“Iya.”

“Cepet ya.”

“Cepet banget,” jawab Yusallia pelan.

Bryan tersenyum kecil.

“Terakhir kali gue ketemu lo, lo masih sibuk banget jadi dokter magang.”

“Iya… rasanya kayak hidup cuma rumah sakit sama rumah sakit.”

“Sekarang udah resmi jadi dokter beneran.”

“Psikiater,” koreksi Yusallia sambil tersenyum kecil.

“Dokter tetap dokter.”

“Lo juga sibuk banget kan selama 3 tahun ini?” tanya Yusallia mencoba mengalihkan fokus.

Bryan menghela napas kecil.

“Lumayan.”

“Masih akan sering keluar negeri?”

“Masih. Nanti, mungkin seminggu di satu tempat, atau mungkin bisa berbulan-bulan.”

“Capek ga?”

“Capek mungkin.”

“Kenapa masih mau dijalanin?”

Bryan mengangkat bahu kecil.

“Tanggung jawab.”

Jawaban sederhana.

Namun cukup untuk menggambarkan banyak hal.

“Lo sendiri gimana selama 3 tahun ini?” tanya Bryan balik.

“Biasa aja.”

“Biasa aja versi lo biasanya ga beneran biasa aja.”

Yusallia tertawa kecil.

"paling cuman kerja terus dan masalah keluarga biasa.”

“Ga ada waktu buat seneng-seneng?”

“Jarang.”

“Pantes semalem lo minum banyak.”

Yusallia tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Bryan memperhatikan wajah Yusallia beberapa detik.

“Lo berubah dikit.”

“Berubah gimana?”

“Lebih… dewasa.”

Yusallia tertawa kecil.

“Kayak gue dulu ga dewasa aja.”

“Bukan gitu.”

“Terus?”

Bryan terlihat berpikir sebentar.

“Lebih tenang.”

Yusallia tidak langsung menjawab.

Ia hanya menyesap cappuccino perlahan.

Busa lembut menyentuh bibirnya, meninggalkan rasa pahit yang tipis namun hangat.

“3 tahun cukup buat banyak hal berubah,” katanya akhirnya.

Bryan mengangguk pelan.

“Iya.”

Ada jeda kecil.

“Rumah sakitnya gimana?” tanya Bryan lagi.

“Lumayan sibuk.”

“Pasien banyak?”

“Lumayan.”

“Kasus berat?”

“Beberapa.”

Bryan tersenyum kecil.

“Masih suka kepikiran pasien sampe rumah?”

“Kadang.”

“Lo masih terlalu peduli sama orang lain.”

“Itu bagian dari kerjaan gue.”

“Bukan cuma kerjaan.”

Yusallia tidak menjawab.

Bryan memang selalu bisa membaca sebagian dari pikirannya.

“Om sama tante gimana?” tanya Bryan kemudian.

Pertanyaan itu membuat Yusallia tersenyum kecil, meskipun tidak sepenuhnya ringan.

“Baik.”

“Masih sibuk banget?”

“Masih.”

“Damian makin terkenal ya sekarang.”

“Iya.”

“Gue liat beberapa iklannya.”

Yusallia tertawa kecil.

“Dia seneng banget kalo ada yang ngomong gitu.”

“Yasvera juga makin sering muncul di film.”

“Iya.”

“Rumah lo pasti makin rame.”

“Rame sih… tapi ya gitu.”

“Gitu gimana?”

“Biasa.”

Bryan menatapnya sebentar.

Namun kali ini ia tidak bertanya lebih jauh.

“Lo masih sering ketemu mereka?” tanya Yusallia balik.

“Jarang.”

“Kenapa?”

“Kerja terus.”

“Alasan klasik.”

Bryan tertawa kecil.

“Lo juga sama.”

“Iya sih.”

Percakapan mereka terus mengalir.

Topik berganti dengan mudah.

Dari pekerjaan.

Kehidupan sehari-hari.

Teman lama.

Cerita kecil yang tidak terlalu penting, namun terasa hangat karena dibagikan bersama seseorang yang sudah lama dikenal.

Beberapa kali Bryan memperhatikan Yusallia dengan tatapan yang sedikit lebih dalam.

Seolah masih mencoba memastikan bahwa ia benar-benar baik-baik saja.

Namun setiap kali Yusallia tersenyum dan menjawab dengan nada santai, Bryan perlahan memilih untuk tidak memaksakan pertanyaannya.

Mungkin ia tahu bahwa jika Yusallia ingin bercerita, ia akan bercerita.

Dan jika belum siap, memaksa hanya akan membuatnya semakin menutup diri.

“Lo inget ga dulu kita sering belajar bareng sampe malem?” tanya Bryan tiba-tiba.

“Inget.”

“Padahal ujian masih seminggu lagi.”

“Lo yang panik duluan biasanya.”

“Gue perfeksionis.”

“Lo parno.”

Bryan tertawa kecil.

“Beda tipis.”

“Lo masih suka overthinking?” tanya Yusallia.

“Masih.”

“Ga berubah.”

“Lo juga ga berubah.”

“Masa?”

“Iya.”

“Apanya?”

Bryan tersenyum kecil.

“Masih pura-pura kuat.”

Yusallia terdiam sepersekian detik.

Namun ia tetap tersenyum.

“Gue emang kuat.”

Bryan mengangguk kecil.

“Iya… gue tau.”

Nada suaranya lembut.

Tidak menekan.

Tidak memaksa.

Hanya menyampaikan bahwa ia mengerti lebih dari yang ia katakan.

Waktu terasa berjalan lebih cepat dari yang mereka sadari.

Cappuccino di cangkir Yusallia sudah hampir habis.

Sinar matahari mulai terasa lebih hangat.

Suasana cafe semakin ramai dibanding saat ia pertama datang.

Namun entah kenapa, percakapan mereka terasa seperti ruang kecil yang terpisah dari keramaian sekitar.

Ruang yang terasa familiar.

Nyaman.

Meskipun di dalam hati Yusallia, masih ada satu bagian yang belum sepenuhnya tenang.

Bagian yang terus mengingatkan bahwa ada sesuatu yang belum ia ceritakan.

Sesuatu yang mungkin akan mengubah banyak hal.

Namun untuk saat ini, ia memilih menikmati percakapan ringan itu.

Tertawa kecil.

Mendengarkan cerita Bryan.

Dan berpura-pura bahwa semuanya masih sesederhana dulu.

Untuk sesaat, itu sudah cukup.

1
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!