Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Dari Keluarga Wu
Udara di kediaman Keluarga Lin seolah membeku, terperangkap dalam cengkeraman ruang yang tak terlihat. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Tidak ada yang berani memalingkan wajah. Kehadiran seorang entitas di Ranah Primordial Suci telah mengubah malam perayaan yang megah ini menjadi ruang gema bagi teror absolut.
Di tengah keheningan yang mencekik itu, Wu Shan, yang terkapar menyedihkan dengan darah di sekujur wajahnya, mencoba merangkak. Pemuda itu mengira ayahnya yang turun dari langit adalah pria tua yang sama—pria yang dibutakan oleh kasih sayang bodoh, pria yang akan membakar dunia hanya jika putranya mengeluh jarinya tergores.
"Ayah... kau melihatnya, bukan?" Wu Shan merintih, menatap Wu Xuan dengan mata penuh harap dan kedengkian yang tertuju pada Patriark Qin Han. "Mereka mencoba membunuh pewaris Keluarga Wu! Aku mohon ayah menegakkan keadilan untukku! Bantai seluruh keluarga Qin malam ini juga!"
Wu Shan menunggu. Dia menunggu ledakan amarah ayahnya yang terkenal irasional jika menyangkut keluarganya. Dia menunggu badai kehancuran menyapu keluarga Qin dari muka bumi.
Namun, yang dia dapatkan hanyalah sepasang mata emas kristal yang menatapnya dengan kekosongan yang membekukan jiwa. Tidak ada kehangatan seorang ayah di sana. Tidak ada kemarahan yang membela putranya. Yang ada hanyalah rasa muak yang sangat dingin, seolah Wu Xuan sedang menatap seekor kecoak yang secara tidak sengaja terinjak namun belum mati.
Bibir Wu Xuan sedikit terbuka. Suaranya tidak keras, tidak perlu diangkat hingga membelah langit, namun suku kata tunggal yang keluar darinya mengandung bobot hukum alam yang langsung menghantam telinga setiap orang.
"Diam!!!"
BAM!
Bukan pukulan fisik, melainkan gelombang suara berlapis energi murni yang menghantam lantai di sekitar Wu Shan. Lantai giok itu retak membentuk jaring laba-laba raksasa. Wu Shan menjerit tertahan saat sisa udara di paru-parunya terhempas keluar, tubuhnya terpaku ke tanah oleh tekanan yang membuat organ dalamnya bergetar.
Mata pemuda itu membelalak, penuh dengan ketidakpercayaan dan teror. Ayahnya... membentaknya?
Seluruh pejabat yang menyaksikannya menelan ludah kering. Mereka yang mengira Duke Wu Xuan datang untuk melakukan pembantaian demi membela putranya, kini merasa bulu kuduk mereka meremang. Pria ini sangat berbeda dari rumor yang beredar.
Mengabaikan putranya yang masih terluka, Wu Xuan membalikkan tubuhnya. Jubah esensinya berkibar pelan saat dia melangkah menuju sudut halaman tempat keluarga Qin berada.
Qin Han, mantan menteri agung yang beberapa detik lalu mengamuk dengan kekuatan Ranah Kuno, kini berdiri kaku dengan lutut bergetar. Keringat dingin membasahi punggung jubahnya. Dia melihat dewa kematian itu melangkah mendekat, auranya begitu pekat hingga Qin Han merasa aliran Qi di dantiannya sendiri berhenti berputar karena takut. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menelan ludah terakhirnya sebelum kepalanya dipisahkan dari tubuhnya.
Namun, langkah Wu Xuan tidak berhenti di depan Qin Han. Dia sekadar melewatinya seolah mantan menteri itu hanyalah patung batu yang tidak penting.
Langkah kaki itu berhenti tepat di hadapan Qin Wuyan.
Gadis muda itu meringkuk di sudut pilar yang hancur, memegangi dadanya yang sesak. Gaun birunya ternoda darah segar, rambut hitamnya berantakan menutupi sebagian wajahnya yang kini pucat. Kepolosannya baru saja dihancurkan secara brutal oleh pengkhianatan dan realitas kejam dunia kultivasi. Dia menengadah, matanya yang bulat dan jernih, yang kini dipenuhi campuran keputusasaan dan ketakutan, menatap langsung ke arah mata emas kristal Wu Xuan.
Di dalam benaknya yang rasional dan dingin, Wu Xuan menatap gadis itu lekat-lekat.
‘Anak bodoh,’ monolog Wu Xuan dalam hati, memberikan penilaian sarkastik pada putranya. ‘Gadis secantik ini, memiliki aura yang murni, fondasi tulang yang nyaris tanpa cela, dan wajah yang bisa meruntuhkan kota. Dia adalah bongkahan giok yang belum dipoles. Dan anak tolol itu... membuang kecantikan dan potensi seperti ini hanya demi seorang wanita bermata rubah yang terlihat seperti pelacur di club malam? Kebodohannya benar-benar tidak bisa diselamatkan.’
Perlahan, Wu Xuan mengulurkan tangan kanannya. Bukan untuk menyerang, bukan untuk menyalurkan energi pembunuh, melainkan sebuah uluran tangan yang tenang.
Qin Wuyan terkesiap. Seluruh tubuhnya tegang, namun ada sesuatu dalam ketenangan absolut pria di depannya yang membuat insting bertahannya kebingungan. Dengan tangan bergetar, gadis itu menyambut uluran tersebut.
Tangan Wu Xuan yang besar, hangat, dan sekeras batu giok menarik tubuh rapuh Wuyan dengan kelembutan yang sangat kontras dengan aura mengerikannya. Dia membantu gadis itu berdiri, bahkan menyalurkan seutas kecil esensi spiritual murni untuk menstabilkan aliran darah Wuyan yang kacau.
Di deretan kursi VIP wanita, pemandangan itu terasa seperti tamparan keras. Istri Wu Xuan—ibunda Wu Shan—melihat suaminya yang selama ini hanya menatapnya dengan tatapan memuja, kini memberikan sentuhan lembut pada gadis muda dari keluarga rendahan. Wajah cantiknya yang matang itu seketika berkerut, bibir merahnya menipis menahan amarah dan kecemburuan baru yang mendadak meledak.
Setelah memastikan Qin Wuyan bisa berdiri sendiri, Wu Xuan memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Wu Shan yang masih terkapar di tanah. Matanya kembali menjadi es.
"Berani sekali kau membatalkan pertunanganmu tanpa berunding denganku?" Suara Wu Xuan terdengar datar, namun bergema di setiap sudut halaman.
Wu Shan menggigil. Dia tidak pernah mendengar nada suara itu dari ayahnya. "A... Ayah... wanita itu... dia tidak pantas untukku... keluarga Lin—"
"Tutup mulutmu!" Wu Xuan memotong dengan intonasi yang memancarkan dominasi mutlak. "Pertunangan ini adalah sumpah yang dibuat oleh kakekmu dengan keluarga Qin! Kau hanyalah seorang bocah ingusan yang bahkan belum mencapai Jiwa sempurna, tapi kau berani meludahi wajah kakekmu sendiri di depan umum?! Mau ditaruh di mana wajahku di depan leluhur Keluarga Wu ketika ahli warisku bertindak seperti badut?!"
Alasan itu diucapkan dengan lantang, terdengar sangat logis dan dipenuhi dengan nilai-nilai tradisional yang dihormati di dunia kultivasi. Para pejabat yang mendengarnya mengangguk diam-diam. Sumpah darah leluhur adalah pantangan besar.
Wu Shan, yang merasa ego dan harga dirinya diinjak-injak di depan Lin Huyan—wanita yang ingin ia buat terkesan—tiba-tiba merasakan dorongan keberanian yang lahir dari kebodohan absolut.
"Ayah, aku tidak mencintainya!" teriak Wu Shan, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Pernikahan tanpa cinta hanyalah sebuah sangkar! Jika kami menikah, itu hanya akan menyakitinya dan menghancurkan masa depanku! Aku memiliki hak untuk memilih jalanku sendiri!"
Keheningan yang mencekam kembali turun. Alasan emosional yang menggelikan. Di dunia di mana kekuatan memakan yang lemah, meneriakkan 'cinta' sebagai alasan politik adalah lelucon paling bodoh yang bisa diucapkan oleh seorang pewaris.
Bibir Wu Xuan perlahan melengkung ke atas, membentuk senyuman tipis yang membuat semua orang yang melihatnya menahan napas. Itu adalah senyum predator yang telah menemukan jalan pintas menuju kemenangan. Dia sama sekali tidak peduli pada ocehan cinta putranya. Dia hanya butuh putranya menolak secara terbuka untuk melegitimasi langkahnya selanjutnya.
"Begitukah?" Wu Xuan melangkah maju, meletakkan tangannya di belakang punggung. Suaranya berubah tenang, terlalu tenang. "Sangat mulia darimu untuk memikirkan perasaannya. Sangat puitis. Namun, sumpah antara Keluarga Wu dan Keluarga Qin tidak bisa dihancurkan hanya karena emosi seorang anak kecil."
Wu Xuan mengalihkan pandangannya dari putranya yang menyedihkan, menatap lurus ke arah Qin Han, lalu ke arah Qin Wuyan.
"Karena putraku yang bodoh dan tak tahu diri ini menolak untuk memenuhi tanggung jawabnya..." Wu Xuan memberikan jeda yang disengaja, membiarkan ketegangan memuncak di udara. Suaranya kemudian membelah malam dengan kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. "...maka aku, Wu Xuan, yang akan mengambil alih sumpah itu. Aku yang akan menikahinya dan menjadikannya Istriku."
KRAK!
Gelas anggur giok di tangan Pangeran Mahkota Yan Shen hancur berkeping-keping.
Ratusan mata pejabat di halaman itu seolah ingin melompat keluar dari rongganya. Mulut mereka ternganga, napas mereka terhenti. Qin Han terhuyung mundur, matanya terbelalak menatap Duke yang usianya bahkan melampaui dirinya itu dengan tatapan tidak percaya.
Namun, sebelum keterkejutan itu bisa dicerna oleh siapa pun, sebuah jeritan marah yang melengking merobek keheningan.
"Wu Xuan! Apa kau sudah gila?!"
Dari deretan kursi VIP, istri Wu Xuan berdiri. Wajahnya yang mempesona kini diwarnai kemarahan yang meluap-luap. Selama ratusan tahun, dia adalah satu-satunya nyonya di kediaman Wu. Dia tahu betapa suaminya mencintainya, betapa suaminya menjadi 'bucin' yang rela melakukan apa saja demi satu senyumannya. Bagaimana mungkin pria ini berani menampar wajahnya di depan umum dengan mengambil seorang istri baru—seorang gadis yang harusnya pantas menjadi cicitnya?!
"Kau membuang martabatmu untuk memungut sampah yang dibuang oleh putramu sendiri?!" teriak sang istri, menunjuk dengan jari gemetar ke arah Wuyan. "Aku adalah ibunda dari pewaris sahmu! Jika kau berani membawa pelacur kecil itu melewati gerbang Keluarga Wu, aku akan—"
"Diam!!."
Satu kata dari Wu Xuan. Tidak ada teriakan, tidak ada ledakan aura. Tapi mata emas kristal itu menatap istrinya dengan kedinginan yang membuat darah wanita itu berhenti mengalir.
Wu Xuan tidak pernah membentak istrinya. Tidak pernah sekalipun dalam tiga abad terakhir. Pemilik asli tubuh ini mungkin akan berlutut meminta maaf, tapi pria yang berdiri di sini sekarang adalah entitas yang hidup dengan rasionalitas dan perhitungan absolut.
"Kau memiliki keberanian untuk berbicara tentang martabat di hadapanku?" suara Wu Xuan merendah, terdengar berat dan dipenuhi ancaman. "Kau yang tidak becus mendidiknya. Kau yang memanjakannya hingga dia menjadi badut lemah yang bisa dikendalikan oleh seekor jalang faksi politik. Jangan uji kesabaranku malam ini!!."
Istrinya membuka mulut, rasa kaget dan amarah membuatnya kehilangan akal sehat. Dia, yang memiliki darah permaisuri terdahulu, bersiap untuk meneriakkan ancaman politik kekaisaran.
Namun, sebelum suara keluar dari bibirnya, sebuah suara sedingin es menusuk langsung ke dalam lautan spiritual di kepalanya melalui telepati.
(Jalang. Jangan kira aku tidak tahu kau berselingkuh dengan Duke Wilayah Utara selama aku berada dalam pengasingan.)
Mata wanita itu melebar hingga batas maksimalnya. Tubuhnya seketika menegang seolah disambar petir hitam. Wajahnya yang tadinya merah karena marah kini berubah sepucat mayat yang sudah dikubur sebulan.
(Tutup mulutmu yang kotor itu dan duduklah kembali dengan manis. Atau malam ini, aku akan mencabut jantungmu di depan Pangeran Mahkota, dan kita lihat apakah Duke Utara berani melangkah keluar untuk menyelamatkan seonggok daging mati.)
Mulut wanita itu bergetar hebat. Dia tidak bisa bernapas. Teror murni yang memancar dari telepati itu bukanlah gertakan; itu adalah kepastian. Rahasia paling mematikannya, yang ia pikir tertutup rapat dengan formasi bayangan, diketahui secara mutlak oleh suaminya. Lututnya melemas, dan dia jatuh kembali ke kursinya dengan keras, bibirnya terkunci rapat, tubuhnya gemetar ketakutan, menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Wu Xuan lagi.
Wu Xuan memalingkan wajahnya kembali ke depan dengan santai. Di dalam otaknya, roda strategi berputar cepat.
‘Aku bisa saja menceraikannya sekarang dan membunuhnya,’ pikir Wu Xuan, menganalisis situasi dengan dingin. ‘Tapi politik istana terlalu rumit untuk langkah kasar. Wanita ini adalah anak dari permaisuri terdahulu, masih terhitung bibi jauh dari Pangeran Mahkota. Ada beberapa monster tua di Ranah Primordial Suci yang bersembunyi di kekaisaran. Mengusirnya sekarang hanya akan menyatukan kekuatan kekaisaran dan bawahannya untuk melawanku. Menjadikannya sandera ketakutan di dalam rumahku sendiri adalah langkah yang jauh lebih efisien.’
Dengan satu ancaman telepati, Wu Xuan telah melumpuhkan bom waktu di dalam rumahnya sendiri. Dia kemudian menatap Qin Han.
"Patriark Qin," panggil Wu Xuan, suaranya kembali pada nada yang sopan namun mengandung otoritas mutlak. "Bagaimana menurutmu? Aku tidak akan membiarkan sumpah antara ayahku dan ayahmu menjadi lelucon di ibukota."
Qin Han menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca. Otaknya tidak bisa memproses dinamika absurd ini. Duke Wu Xuan, seorang Primordial Suci, meminang putrinya? Jika dia menolak, dia mati. Jika dia menerima... putrinya akan melompati generasi, dari tunangan putranya menjadi ibu tiri dari bocah yang baru saja mempermalukannya.
"Duke Wu... saya..." Qin Han terbata-bata, keringat menetes dari dahinya. "Status ini... terlalu tinggi. Wuyan hanyalah... keputusan... semua ada di tangan Wuyan. Saya tidak berani mewakilinya."
Sebuah langkah pengecut dari seorang ayah yang kehilangan kekuatannya, tapi Wu Xuan memakluminya. Rasa takut melumpuhkan logika.
"Ayah!" Wu Shan kembali menjerit dari tanah, rasa tidak terima menguasai kewarasannya. Membayangkan gadis yang baru saja ia buang akan menjadi wanita yang harus ia panggil 'Ibu Utama' membuatnya gila. "Ini tidak pantas! Ini melanggar moralitas! Bagaimana bisa ayah menikahi mantan tunanganku?! Seluruh ibukota akan mentertawakan—"
"Aku bilang, DIAM!!!"
Kali ini, Wu Xuan tidak menahan diri. Dia melambaikan lengan bajunya dengan santai. Sebuah tekanan transparan melesat dengan kecepatan kilat, menghantam dada Wu Shan tanpa ampun.
BOM!
Wu Shan kembali memuntahkan darah, kali ini matanya berputar ke belakang dan dia langsung jatuh pingsan, tak sadarkan diri. Tulang rusuknya remuk, tapi Wu Xuan memastikan serangannya tidak membunuhnya. Seekor anjing yang terlalu banyak menggonggong butuh pukulan keras untuk belajar diam.
Para pejabat yang melihatnya tersentak ngeri. Duke ini benar-benar tidak lagi dibutakan oleh kasih sayang ayah! Dia baru saja menghajar putranya sendiri hingga setengah mati demi seorang gadis luar!
Wu Xuan akhirnya mengabaikan semua gangguan di sekitarnya. Dia melangkah perlahan, memperpendek jarak dengan Qin Wuyan. Senyum yang menenangkan, berwibawa, namun memancarkan dominasi yang elegan, terlukis di wajah mudanya yang sangat tampan.
"Nona Qin," ucap Wu Xuan lembut. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan seperti aliran air sungai musim semi yang dalam. "Aku mengerti keterkejutanmu. Di mata dunia, umurku mungkin lebih tua dari ayahmu. Tapi di Ranah Primordial Suci, umurku yang 350 tahun lebih ini, terbilang masih sangat muda."
Wu Xuan menundukkan kepalanya sedikit, menatap langsung ke dalam mata jernih gadis yang masih diliputi sisa-sisa kebingungan itu.
"Kau diinjak karena keluargamu kehilangan pijakan," lanjut Wu Xuan, kata-katanya menusuk langsung ke titik terlemah di hati Wuyan. "Dunia ini tidak peduli pada kepolosan atau kebaikanmu. Jika kau ingin martabat, kau harus memiliki kekuatan. Menikahlah denganku. Jadilah nyonya dari kediaman Wu. Aku tidak akan menawarkanmu cinta buta dari anak kecil, tapi aku menawarkanmu perlindungan yang tidak bisa ditembus oleh siapapun di kekaisaran ini. Dan lebih dari itu... aku akan membimbingmu secara pribadi di jalan kultivasi."
Mendengar kalimat terakhir, seluruh halaman terkesiap. Mendapatkan bimbingan langsung dari seorang Primordial Suci? Itu adalah anugerah terbesar! Jenius dari sekte agung pun rela berlutut selama sepuluh tahun hanya untuk mendengar satu petuah dari eksistensi seperti itu.
Qin Wuyan terdiam. Dadanya naik turun. Beberapa menit yang lalu, dia adalah gadis naif yang percaya pada janji masa lalu. Namun, rasa sakit di punggungnya dan darah di bibirnya telah membakar kenaifan itu menjadi abu. Dia menatap pria di hadapannya. Rambut putih panjangnya, wajahnya yang begitu tampan dan sempurna, serta kekuatan yang bisa menundukkan dunia. Pria ini tidak berbohong. Di dalam sorot mata emasnya, Wuyan tidak melihat nafsu rendahan, melainkan sebuah kontrak.
Jika dia menolak, dia dan ayahnya akan terus menjadi paria, anjing yang tidak lama lagi akan ditendang dari ibukota. Jika dia menerima... dia mungkin akan berdiri di puncak, menginjak mereka yang baru saja mentertawakannya malam ini. Wuyan melirik ke arah Wu Shan yang terkapar pingsan seperti sampah, lalu menatap Lin Huyan yang kini pucat pasi di sudut ruangan.
Dendam dan keinginan untuk bertahan hidup mengambil alih.
Qin Wuyan mengepalkan tangannya yang gemetar, lalu menundukkan kepalanya dalam sebuah penghormatan yang dalam.
"Wuyan... bersedia. Saya menerima lamaran Yang Mulia Duke Wu," ucapnya, suaranya tidak lagi rapuh, melainkan diwarnai oleh kelembutan namun teguh yang baru saja terlahir.
Senyum Wu Xuan perlahan melebar, sebuah senyum kemenangan yang tenang.
[Ding!]
[Pilihan Host dikonfirmasi. Takdir Villainess masa depan (Qin Wuyan) telah dibengkokkan. Titik simpul cerita utama berhasil dihancurkan!]
[Hadiah Didistribusikan: 10 Pil Primordial, 1 Kartu Pembukaan Akar Spiritual (Telah masuk ke ruang inventaris sistem).]
Tujuan telah tercapai. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Wu Xuan bukan tipe orang yang suka berbasa-basi setelah mencapai target politiknya.
Dia memutar tubuhnya, membelakangi keluarga Qin dan menghadap ke arah orang-orang Keluarga Wu yang masih gemetar di belakangnya.
"Pengawal," perintah Wu Xuan, suaranya kembali pada nada dingin seorang jenderal. "Angkat sampah pingsan itu. Bawa istriku kembali ke kereta. Kita pulang."
Lalu, tanpa menoleh, dia memberikan perintah terakhirnya. "Qin Han, bawa putrimu dan ikut bersama rombongan Keluarga Wu malam ini. Kediamanku akan menjadi rumah baru putrimu mulai detik ini."
"B... Baik, Duke yang Agung!" Qin Han segera membungkuk, tidak berani membantah sedetik pun.
Dengan sapuan jubahnya yang elegan, Wu Xuan melangkah pergi dari tengah halaman. Dia tidak memberikan salam perpisahan pada Pangeran Mahkota, apalagi pada Menteri Agung Lin yang menjadi tuan rumah. Kepergiannya adalah sebuah tamparan terang-terangan yang menggema lebih keras dari pada seribu deklarasi perang.
Pesta yang seharusnya menjadi perayaan kekuasaan faksi baru itu kini telah hancur.
Di kursi kehormatan, Pangeran Mahkota Yan Shen masih duduk dalam diam. Namun, di bawah meja giok, kedua tangannya terkepal begitu erat hingga kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri, meneteskan darah segar yang tidak ia pedulikan.
Wajah tampan Yan Shen tertutup oleh bayangan, rahangnya mengeras. Seluruh rencananya—menggunakan Lin Huyan sebagai jerat madu untuk mengendalikan Wu Shan, dan melaluinya, menguasai pasukan militer Keluarga Wu sementara patriark tua mereka membusuk di pengasingan—kini gagal total. Hancur berkeping-keping di bawah telapak kaki pria dengan mata emas itu.
Duke Wu Xuan telah berubah.
‘Wu Xuan...’ batin Pangeran Mahkota Yan Shen, matanya memancarkan niat membunuh yang kelam. ‘Kau telah merusak rencanaku.’
Bersambung...