"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Ini Sanzio yang sedang dia ajak bicara. Mereka sedang berada di tengah rapat untuk proyek bernilai jutaan dolar. Namun, Seana justru tiba-tiba menelpon dan hanya untuk menanyakan tentang bahan-bahan masakan.
Yunita dan manajer keuangan, diam-diam saling berbagi pandangan. Mereka berdua terlihat terkejut. Mereka menduga Sanzio akan marah dan langsung memarahi Seana karena kebodohannya.
Namun kemudian, mereka mendengar nada bicara Sanzio merendah. "Kamu boleh beli keduanya. Tapi apa kamu bisa membawanya?."
Yunita dan manajer keuangan itu terdiam. Mereka kembali di buat terkejut, dan pikiran mereka kosong.
Kemudian terdengar suara Seana yang mengatakan bahwa dia bisa membawa barang-barang itu. Lalu dia bertanya apakah ada barang lagi yang tidak ada di dapur, dia akan membelinya sekalian.
Sanzio mengiyakan hal itu. Meskipun demikian, dia meminta Seana untuk tidak membeli terlalu banyak barang, karena khawatir Seana tidak akan mempan membawa semuanya.
Saat itu, semua orang yang ada didalam ruang rapat bisa mendengar dengan siapa Sanzio sedang berbicara. Bahkan mereka yang duduk terlalu jauh untuk mendengar pun bisa tahu. Mereka tidak percaya sedang melihat sisi lembut Sanzio seperti ini.
Ya, nada bicaranya yang Sanzio gunakan ketika berbicara dengan wanita itu terdengar lebih lembut daripada yang biasanya didengar siapa pun.
Hal ini sangat mengejutkan bagi Yunita dan yang lainya. Sebelumnya, Sanzio bersikap sangat dingin terhadap Seana. Akibatnya, wajar jika Seana selalu terlihat ketakutan, hingga kadang bertindak ceroboh.
Namun, mendengar percakapan mereka di telepon saat ini, mengungkapkan bahwa ada lebih banyak hal dalam hubungan mereka dari pada yang terlihat. Tampaknya Seana dan Sanzio bukan hanya sekedar atasan dan bawahan.
Setelah membicarakan selesai. Sanzio menutup telepon, dan raut wajahnya kembali dingin. Seolah kelembutan yang tadi terlihat hanyalah sebuah ilusi.
"Ayo kita lanjutkan lagi." Kata Sanzio.
Semua orang tampak tersadar dari lamunan mereka, dan rapat kembali berlanjut tegang.
Sementara itu, Seana sama sekali tidak menyadari prestasi luar biasa yang telah ia capai. Di supermarket, Seana membeli sekantong tepung gandum utuh, pasta dan beberapa bumbu yang di kemas dalam kemasan kecil. Dia juga mengambil beberapa sayuran hijau dari rak bagian sayuran. Semua yang di pilihnya adalah sayuran yang berukuran kecil.
Namun, karena barang-barang yang dibeli Seana sangat banyak, setelah selesai melakukan proses pembayaran di kasir, tas kantong yang dibawanya menjadi cukup berat.
Tetapi, karena Seana dibesarkan dikampung, hal itu bukanlah masalah besar baginya. Ia mengangkat karung tepung, mengambil kantong belanjaannya, dan langsung pergi. Para karyawan supermarket dan pelanggan mereka yang berdiri dibelakang Seana terlihat terkejut dengan kekuatan Seana.
Seana berencana membawa masuk barang-barang ini ketika jam pulang kerja, dengan begitu tidak ada karyawan yang melihatnya membawa barang-barang ini.
Karena sekarang, setelah apa yang Mike katakan didepan karyawan tadi ketika memarahi Melani, membuat Seana menjadi pusat perhatian semua orang. Dan akan menambah perhatian lagi, jika ada karyawan yang melihatnya membawa barang-barang ini masuk ke ruangan Sanzio.
Ketika Seana tiba di parkiran, dia melihat Velia berdiri didepan meja resepsionis. Kebetulan, Velia melihat keluar dan mendapati Seana yang sibuk membawa banyak barang di kedua tangannya. Buru-buru, Velia menghampiri Seana.
"Apa-apaan ini? Bukannya bawa kertas atau dokumen, tapi lo malah bawa banyak barang belanjaan? Lo masih asisten atau udah jadi pembantu, nih?." Goda Velia, sembari membantu Seana membawakan barang belanjaan itu.
"Pak Zio tadi bilang pengen makan pasta, tapi tertunda karena pasta di dapurnya kadaluarsa. Jadi, aku disuruh beli, dan sekalian beli yang lain, supaya nanti ngga bolak-balik." Bisik Seana pelan agar tidak terdengar orang lain.
Velia yang tadinya bingung melihat Seana membawa barang belanjaan, kini mengetahui bahwa Seana membeli semua itu karena Sanzio menginginkan pasta. Hal itu membuatnya merasakan berbagai macam emosi yang campur aduk.
"Bentar deh, bukannya pernikahan lo sama Pak Zio itu rahasia besar?." Tanya Velia. "Gimana caranya lo bisa terhindar dari tatapan curiga orang-orang kalau lo langsung masuk sambil bawa barang-barang ini?."
"Aku juga ngga yakin. Tapi, aku pikir lebih baik aku nunggu jam pulang kerja. Tadinya, Mas Mike nyuruh aku beli makanan instan aja. Tapi, kan Pak Zio mintanya di buatin." Jawab Seana.
Velia bisa merasakan bahwa Seana juga khawatir orang lain mungkin juga akan mencurigai sesuatu.
Sementara itu, didalam benaknya, Velia merasa panik.
Dia tidak mengerti mengapa Sanzio melakukan ini, meminta Seana untuk menjadi istri palsunya, terutama dengan bukti rekaman cctv itu. Mengapa Sanzio masih menyelidikinya. Velia mendengar bahwa Bryan sudah bisa memperbaikinya!
"Mendingan gini aja, gue bantu lo. Dan kita masuknya jangan grasak-grusuk. Sekarang belum waktunya pulang. Dan lo bakal nunggu lama kalau harus sampe jam pulang."
Mereka tidak tahu apa yang dipikirkan bos mereka. Tetapi, jika Seana tidak keberatan orang-orang salah paham tentang hubungan mereka, itu tidak masalah bagi Velia.
Saat itu sudah waktunya jam makan siang. Seana tak berani membuang waktu lebih lama lagi dan buru-buru membawa semua belanjaannya ke atas. Karena waktunya terus berjalan, sebaiknya ia segera membuatkan pasta untuk Sanzio!
...
Ketika Sanzio selesai rapat, Seana sudah selesai memasak di dapur kecil di kantor Sanzio. Dan dia melihat Sanzio masuk untuk mencuci tangannya.
"Pak Zio, makan siangnya sudah siap."
"Hmm." Sanzio bergumam dan mengangguk sebagai jawaban. Dia berjalan ke meja kecil didekat balkon, tempat Seana sudah menyajikan pastanya.
Tetapi keliatannya...