Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Mobil mewah itu tampak sangat kontras saat memasuki gang sempit di daerah pinggiran.
Gang itu hanya bisa dimasuki oleh satu mobil, dan motor kecil, kalau saja ada satu mobil yang berpapasan maka perjalanan akan tersendat, Karena untuk berbalik arah aja susah, namun Aditya kekeh ingin melihat tempat tinggal asistennya itu Yang ternyata berada tidak jauh dari belakang mansionnya. Begitu sampai di depan pintu kontrakan kayu yang dicat putih bersih, seorang anak kecil sudah berdiri di sana.
Noah, dengan mata yang berbinar terang, langsung berlari begitu melihat sosok pria yang turun dari mobil. Tanpa aba-aba, ia menerjang kaki Aditya....
Noah memeluk kaki Aditya dengan erat , ia sangat merindukan sosok Ayah yang selalu ia lihat fotonya.
"Ayah! Ayah pulang!" teriak Noah dengan suara riang yang menggetarkan hati Aditya.
Aditya membeku. Pelukan kecil itu terasa sangat hangat, seolah ada potongan puzzle yang tiba-tiba terpasang kembali di jantungnya. Ia menatap ke bawah, ke arah anak yang wajahnya adalah cerminan dirinya sendiri versi kecil.
tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Aditya... tubuhnya bergetar, seakan ada serangan listrik yang menjalar ke seluruh aliran darahnya."perasaan apa ini" gumamnya dalam hati.
Nadine yang baru turun dari mobil langsung pucat pasi. Ia segera berlari mendekat dan mencoba melepaskan pelukan Noah.
"Noah! Sayang, dengar Ibu..." Nadine menarik Noah dengan lembut, menatap anaknya dengan kode mata yang kuat. "Ini bukan Ayah. Ini Tuan Aditya, bos tempat Ibu bekerja. Tuan Aditya cuma mengantar Ibu pulang."
Noah mengernyitkan dahi, menatap Nadine lalu menatap Aditya bergantian. "Tapi Bu... wajahnya..."
"Noah, ingat kan apa yang Ibu bilang? Ayah masih bertugas jauh. Tuan Aditya ini orang baik yang membantu Ibu," potong Nadine cepat, suaranya sedikit bergetar karena takut rahasianya terbongkar terlalu cepat.
"tapi ayah tidak pernah melihat Noah, Bu..., bahkan saat Noah dilahirkan ke dunia ini, Ayah pun tidak datang, sampai Noah sebesar ini" ucap Noah membuat hati Aditya mendidih, tangannya terkepal kuat..."Ayah macam apa itu, sampai anaknya sebesar ini.. tapi tidak juga menemuinya" Aditya masih larut dalam pemikirannya.
Noah menoleh ke arah ayahnya yang masih berdiri seperti patung, "Ayo Tuan bos,masuk" ajak Noah lembut setelah mendapat tatapan penuh arti dari ibunya.
Aditya masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia membiarkan Noah membawanya masuk ke dalam rumah yang harum aromanya sangat ia kenali, aroma melati dan buku lama... Noah menggandeng tangan Aditya yang terasa dingin .
"Silakan duduk, Tuan Bos," ucap Noah dengan sopan, meski matanya tetap menatap Aditya dengan penuh rasa kagum dan rindu yang tertahan. "Maaf rumah kami kecil, tidak seperti rumah Tuan bos." ucap Noah sopan.
Aditya duduk di kursi plastik yang ada di sana, matanya menyapu seisi ruangan. Ia melihat foto-foto Noah di dinding, tapi tidak ada satu pun foto ayahnya.
"Noah, kenapa kamu panggil saya Ayah tadi?" tanya Aditya lembut, mengabaikan tatapan gelisah Nadine yang sedang membuatkan teh di dapur sempit.
Noah menunduk sambil memainkan jari-jarinya. "Karena... Noah sering lihat foto Ayah yang disimpan Ibu diam-diam. Wajah Tuan sangat mirip dengan foto itu. Tapi kalau Ibu bilang Tuan adalah Bos, ya sudah... Noah panggil Tuan Bos saja." jawab Noah dengan wajah di buat polos.
Aditya menoleh ke arah dapur, menatap punggung Nadine. Perasaan kecewa yang ia rasakan di mobil tadi perlahan berubah menjadi rasa haru yang menyesakkan. Ada kerinduan yang sangat dalam terpancar dari anak ini.
"Mona," panggil Aditya dengan suara berat. "Kenapa anak ini merasa aku adalah ayahnya? Apa suamimu benar-benar semirip itu denganku?"
Nadine datang membawa nampan yang berisi gelas kaca yang berisi teh di atasnya, ia menunduk agar Aditya tidak melihat matanya yang berkaca-kaca. "Dunia ini luas, Tuan Muda. Banyak orang yang memiliki kemiripan. Noah hanya terlalu merindukan ayahnya, jadi dia sering berhalusinasi."
Aditya meraih tangan Noah dan mengajaknya duduk di pangkuannya, sebuah tindakan yang spontan bahkan bagi dirinya sendiri. "Kalau begitu, untuk malam ini... anggap saja aku bukan Bos ibumu. Panggil aku apa saja yang membuatmu senang, Noah."
Noah mendongak, matanya kembali berbinar. "Boleh Noah panggil Om Ayah?"
Aditya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar tulus. "Boleh."
Nadine membalikkan badan, menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar. Di telinganya, suara Noah yang tersambung melalui earpiece berbisik lirih, "Ibu, meskipun Ibu bilang dia Bos, tapi jantung Noah bilang dia Ayah. Noah akan jaga rahasia Ibu, tapi biarkan Noah peluk Ayah sebentar lagi ya?"...
karena tidak kuat akhirnya Nadine memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, ia menangis di sana melihat keakraban putranya dengan ayahnya yang masih belum mengenali mereka, namun ikatan batin seorang ayah dan anak tidak bisa dielakkan lagi.
Diluar, tiba-tiba Hujan turun begitu deras, Hujan turun seolah langit sedang menumpahkan seluruh kerinduannya. Suara rintik yang menghantam atap seng kontrakan menciptakan harmoni alami yang menenangkan. Di dalam kamar sempit berukuran 3 x 3 meter itu, sebuah pemandangan yang mustahil kini menjadi nyata.
Aditya, sang CEO yang terbiasa dengan sprei sutra ribuan thread count, kini duduk bersila di atas kasur lantai yang tipis. Di depannya, Noah duduk dengan tegap, memegang sebuah Al-Qur'an kecil yang sudah agak kusam pinggirannya.
"Om Ayah, sebelum tidur, Noah harus setoran hafalan dulu sama Ibu. Biasanya Noah melakukan hafalan dengan video call karena ibu kan harus menginap di rumah om ayah, Tapi karena ada Om Ayah, Noah mau setoran sama Om saja, ya?" ucap Noah dengan mata polosnya.
Aditya terpaku. "Hafalan? Kamu menghafal apa, Nak?"
"Juz 27, Om," jawab Noah singkat.
Noah menyerahkan mushaf kecil itu pada Aditya, sedangkan Aditya bergetar saat menerima mushaf kecil itu.
Noah mulai memejamkan mata. Suara kecilnya yang jernih mulai melantunkan ayat-ayat dari Surah Ar-Rahman.
"Ar-Rahmaan... 'Allamal Qur'aan... Khalaqal Insaan..."
Suara itu... irama itu... seketika membuat dada Aditya terasa sesak. Setiap makhraj yang diucapkan Noah seolah-olah adalah kunci yang mencoba membuka paksa gerbang ingatannya yang berkarat. Aditya merasa seperti pernah mendengar suara serupa, suara wanita yang melantunkan ayat yang sama di samping telinganya saat ia merasa dunia sedang hancur.
Tanpa sadar, air mata Aditya menetes. Ia tidak tahu mengapa ia menangis. Hatinya terasa remuk sekaligus hangat secara bersamaan. Ia mengusap kepala Noah dengan tangan yang gemetar saat anak itu menyelesaikan hafalannya.
Noah yang kelelahan setelah bermain dengan ayahnya dan mengaji, perlahan merebahkan kepalanya di paha Aditya. Tak butuh waktu lama, napasnya menjadi teratur. Ia tertidur dengan memegang erat kemeja mahal Aditya, seolah takut jika ia melepasnya, pria itu akan menghilang seperti mimpi.
Nadine berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka sedikit. Ia menyaksikan suaminya mendekap putranya di tengah badai yang mengamuk di luar. ia menghapus air matanya yang sedari tadi menetes tak tertahan. lalu merubah wajahnya kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Tuan Muda..." bisik Nadine pelan, "Hujannya semakin deras. Jalanan di depan mungkin banjir. Tapi jarak mansion hanya sepuluh menit dari sini jika Tuan ingin pulang sekarang. karena harus putar arah dulu"
Aditya menoleh, namun ia tidak beranjak. Ia menatap wajah tidur Noah yang begitu damai di pangkuannya.
"Tidak, Mona," jawab Aditya lirih. "Untuk pertama kalinya dalam lima tahun sejak aku kecelakaan dan seperti ada yang hilang dari diriku , aku merasa... aku sedang berada di rumah yang sebenarnya. Aku tidak mau pulang ke mansion yang dingin itu."
Ia membetulkan posisi tidur Noah, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding tembok yang terasa dingin. "Biarkan aku di sini. Biarkan aku menjaga anak ini sampai pagi. Hatiku... hatiku seolah tertinggal di sini, Mona."