NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Harga Sebuah Kejujuran

Kebahagiaan mereka langsung diuji oleh konsekuensi dunia nyata dan permainan kekuasaan yang lebih kotor.

​Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela studio terasa jauh lebih menyengat pagi ini. Adelia terbangun di sofa ruang kerja Arlan dengan selimut flanel yang masih membungkus bahunya. Arlan tidak ada di sana, namun aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan.

​Di atas meja, terdapat sebuah cangkir dengan kepulan uap tipis dan selembar catatan kecil:

80 derajat. Jangan diminum sebelum aku kembali. – A

​Adelia tersenyum kecil, namun senyum itu sirna saat ia meraih ponselnya. Ratusan notifikasi meledak. Foto mereka semalam—saat Arlan memeluknya di tengah set yang gelap—telah menjadi tajuk utama di berbagai portal berita hiburan dengan judul:

"Konfirmasi Hubungan Gelap: Sutradara Arlan dan Asistennya Tertangkap Basah di Lokasi Syuting."

​Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Arlan masuk dengan wajah yang jauh lebih gelap daripada kopi di meja.

​"Jangan buka media sosial," perintah Arlan ketat.

​"Sudah terlambat," sahut Adelia pelan, menunjukkan layar ponselnya. "Siapa yang melakukan ini, Arlan? Semalam studio sudah kosong."

​Arlan membanting tasnya ke kursi. "Papa. Dia menyuap salah satu petugas keamanan untuk memasang kamera tersembunyi setelah saya memecat tim keamanan yang lama. Dia ingin memojokkan saya agar klien jam tangan mewah itu membatalkan kontrak, lalu saya akan bangkrut dan tidak punya pilihan selain sujud padanya."

​Adelia berdiri, mendekati Arlan. "Lalu apa rencana kita?"

​"Kita?" Arlan menatap Adelia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Adelia, kamu harus mengundurkan diri hari ini juga."

​Adelia tersentak seolah baru saja ditampar. "Apa? Kamu ingin aku pergi setelah apa yang terjadi semalam?"

​"Dengar!" Arlan mencengkeram bahu Adelia, suaranya parau. "Jika kamu tetap di sini, mereka akan menghancurkan reputasimu selamanya. Kamu akan dicap sebagai wanita yang 'menjual diri' demi karier. Saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Pergilah ke agensi lain, saya akan berikan surat rekomendasi terbaik. Saya akan menghadapi badai ini sendirian."

​"Tidak," jawab Adelia tegas, melepaskan cengkeraman Arlan. "Kamu bilang kita adalah tim. Kamu bilang jangan pergi. Sekarang kamu justru mengusirku demi melindungiku? Itu bukan cinta, Arlan. Itu pengecut."

​"Adelia, ini bukan film! Ini hidupmu!"

​"Dan hidupku adalah pilihanku!" Adelia membalas dengan teriakan yang tak kalah kencang. "Jika aku pergi sekarang, semua fitnah itu akan dianggap benar. Aku pergi karena aku bersalah. Tidak, Arlan. Kita akan masuk ke set hari ini, kita selesaikan iklan itu, dan kita tunjukkan pada mereka bahwa profesionalisme kita tidak terganggu oleh urusan pribadi."

​Arlan menatap Adelia lama. Keberanian gadis itu selalu berhasil membuatnya terpaku. Sebelum ia sempat membantah, pintu ruangan kembali diketuk. Kali ini adalah sang produser lapangan dengan wajah pucat.

​"Pak Arlan... perwakilan klien jam tangan sudah ada di bawah. Mereka ingin bicara. Dan... mereka membawa pengacara."

​Arlan menghela napas panjang, merapikan kemejanya, lalu menoleh pada Adelia. "Pakai sepatu lari kamu, Adel. Hari ini akan menjadi hari terpanjang dalam sejarah karier kita."

​Di ruang rapat, suasana terasa seperti di ruang sidang. Pihak klien, seorang wanita paruh baya yang sangat elegan namun kaku, melemparkan tablet ke atas meja yang menampilkan foto skandal tersebut.

​"Kami membayar mahal untuk citra berkelas dan eksklusif. Skandal murahan seperti ini merusak nilai brand kami, Pak Arlan," ujar perwakilan klien itu dingin. "Kami punya klausul moral dalam kontrak. Kami bisa membatalkan ini tanpa membayar sepeser pun."

​Arlan duduk dengan tenang, menyilangkan kakinya dengan angkuh—kembali ke mode sutradara yang tidak tersentuh. "Jika Anda membatalkan sekarang, Anda kehilangan hasil syuting lima hari terakhir yang sudah hampir selesai. Anda harus mulai dari nol dengan sutradara lain, dan saya jamin, tidak ada yang bisa memberikan visual seindah yang sudah saya buat."

​"Tapi kami tidak bisa bekerja sama dengan sutradara yang memiliki hubungan tidak profesional dengan bawahannya," sela sang pengacara.

​Adelia, yang berdiri di sudut ruangan, tiba-tiba melangkah maju. "Hubungan kami memang personal, tapi hasil kerja kami adalah profesional murni. Silakan lihat hasil rendering adegan Reihan Malik kemarin. Jika Anda menemukan satu saja kesalahan teknis atau penurunan kualitas karena 'hubungan' kami, silakan batalkan kontraknya sekarang juga."

​Pihak klien saling berpandangan. Mereka memeriksa hasil kerja di layar besar. Keheningan menyelimuti ruangan selama sepuluh menit saat mereka meninjau setiap frame.

​"Hasilnya memang sempurna," gumam perwakilan klien itu jujur. "Tapi bagaimana dengan publik? Mereka menuntut penjelasan."

​"Saya akan memberikan penjelasan," ujar Arlan tiba-tiba. Ia menatap Adelia, lalu kembali ke klien. "Tapi tidak sekarang. Saya akan menyelesaikan iklan ini dulu. Setelah itu, saya akan mengadakan konferensi pers. Jika iklan ini sukses besar, skandal ini akan terlupakan. Jika gagal, saya sendiri yang akan mundur dari industri ini."

​Taruhan yang sangat besar. Adelia menahan napas. Pihak klien berbisik sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Dua hari. Selesaikan semuanya dalam dua hari. Jika tidak, kami akan menuntut Anda atas pencemaran nama baik brand."

​Setelah pihak klien pergi, Arlan menarik Adelia keluar dari ruang rapat. Bukannya lega, wajah Arlan justru semakin tegang.

​"Kenapa? Kita menang, kan?" tanya Adelia.

​"Belum," bisik Arlan. "Kita baru saja masuk ke dalam jebakan yang lebih besar. Sekarang, semua mata akan tertuju pada kita. Dan Reihan... dia belum selesai dengan permainannya."

​Tepat saat itu, Reihan Malik lewat di lorong dengan senyum penuh kemenangan. Ia membisikkan sesuatu saat melewati Adelia yang membuat darah gadis itu berdesir dingin.

​"Semoga beruntung dengan dua harinya, Adel. Tapi jangan kaget kalau ada 'kecelakaan' lain di set nanti."

​Arlan mengeratkan genggamannya pada tangan Adelia. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan hanya hati, tapi seluruh masa depan mereka.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!