NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Pukul 07.34 WIB

Mereka berhenti.

Bukan karena memilih berhenti tapi karena tubuh sudah tidak sanggup melangkah lebih jauh. Napas yang tersisa hanya cukup untuk membuat mereka tetap berdiri. Kaki sudah tidak bisa diajak kompromi untuk langkah berikutnya.

Satria yang pertama kali menegakkan tubuh. Napasnya masih memburu, tapi matanya sudah bekerja menyapu area sekitar dengan disiplin yang terbentuk dari belasan tahun di lapangan. Kanan, kiri, belakang, atas. Telinganya menangkap setiap spektrum suara.

Hening.

Atau setidaknya itu yang mereka dengar. Tapi hutan dengan kanopi setebal ini punya cara sendiri dalam mempermainkan jarak. Suara dari sepuluh meter bisa terdengar seperti seratus. Atau sebaliknya. Tidak ada yang bisa dipastikan.

"Berapa yang masih ngikutin bang?" Yazid bertanya pelan. Suaranya nyaris berbisik.

"Nggak bisa dipastikan dari sini." Satria masih bergerak, matanya tidak berhenti memindai. "Tapi minimal empat."

"Empat." Rehan mengulang. Satu kata, tapi cara mengucapkannya seperti sedang menyebut sesuatu yang tidak ingin dia percayai.

Satria meraih radio. "Tio. Update. Gue kehilangan seluruh tim. Empat orang kena kontak. Sekarang gue sama lima sipil di dalam hutan, timur jalur utama. Posisi nggak pasti. Butuh evakuasi segera."

Suara Tio yang kembali terdengar berbeda. Ada sesuatu di balik frekuensi itu sesuatu yang Satria kenali tapi tidak ingin dia identifikasi di saat seperti ini.

"Konfirmasi, Pak. Tim lagi disiapkan. Tapi Pak ada laporan masuk dari pos. Situasi di RS Cidugal"

"Nanti." Potongan Satria tegas, tidak memberi ruang. "Fokus evakuasi dulu. ETA?"

"Tiga puluh menit ke jalur utama, Pak. Tapi kalau posisi lo di dalam hutan"

"Gue yang cari jalur utama. Kalian tunggu di sana."

Radio dimatikan.

Satria mengeluarkan kompas. Memeriksa arah. Lalu mendongak ke atas membaca kanopi, membaca arah cahaya yang lolos dari sela-sela daun, membaca kemiringan pohon. Otaknya menghitung.

"Jalur utama di barat. Dari sini sekitar tiga ratus meter."

"Tiga ratus meter di hutan tanpa jalur." Runa melontarkan pernyataan itu dengan nada datar.

"Iya."

"Dengan empat atau lebih yang mungkin masih ngikutin."

"Iya."

Runa mengangguk. Cara dia menerima fakta yang tidak mengenakkan. "Oke."

Satria mengalihkan pandangan. Matanya bergerak ke Zidan yang berdiri sedikit terpisah. Napas Zidan lebih berat dari yang lain kondisi kronisnya sedang bekerja ekstra tapi posturnya tidak menunjukkan permintaan tolong kepada siapa pun.

Lalu mata Satria berhenti.

Di leher Zidan.

Tepat di bawah telinga kiri. Di cahaya temaram yang menyusup dari sela kanopi, ada sesuatu. Tipis. Hampir tidak terlihat. Sebuah garis yang entah itu bayangan, entah bekas ranting saat berlari, entah sesuatu yang lain.

Satria diam selama dua detik.

Pikirannya memutar cepat semua informasi yang dia terima semalam dari Dr. Sakira lewat sambungan telepon. Guratan putih kekuningan. Pola yang mengikuti pembuluh darah. Muncul pertama kali di titik-titik di mana pembuluh darah paling dekat dengan permukaan kulit.

Leher bawah telinga adalah salah satu titik itu.

Mungkin hanya bekas ranting, kata nalar normalnya.

Tapi bagaimana kalau bukan? kata bagian lain dari dirinya.

Dan Satria yang sudah cukup lama di lapangan untuk mengetahui bahwa kata 'bagaimana kalau' dalam situasi seperti ini bisa mengubah satu orang menjadi lima orang tidak bisa mengabaikannya.

"Zidan."

Zidan menoleh.

"Ke sini sebentar."

Zidan berjalan mendekat. Satria mengeluarkan senter kecil. Menyorotkannya ke leher Zidan dari jarak dekat menerangi area bawah telinga kiri dengan cahaya putih yang terang.

Semua orang menoleh.

Yang terlihat: goresan. Tipis. Merah muda. Panjang sekitar dua sentimeter. Ada satu ujung di mana kulit sedikit terangkat konsisten dengan bekas ranting yang dilewati terlalu cepat saat berlari di hutan.

Bukan guratan.

Bukan pola yang sama dengan yang ada di leher Fajar.

Tapi Satria tidak segera mematikan senternya.

Matanya tertahan di sana lebih lama dari yang membuat Zidan nyaman.

"Kenapa?" Zidan bertanya pelan.

Satria menurunkan senter. Mematikannya. Ekspresinya tidak berubah.

"Goresan kena ranting," kata Satria akhirnya. "Nggak apa-apa."

Zidan menatapnya. "Kak Satria pikir saya bakal kayak mereka?"

Sekarang semua orang menatap Satria.

Satria membalas tatapan Zidan. "Saya nggak tahu kamu bakal kayak apa. Tapi di situasi kayak gini, saya harus cek semuanya. Itu aja."

Zidan diam. Akhirnya mengangguk pelan.

1
Kustri
lanjutkan!!!
Kustri
oalah zidan... zidan orang terbirit" kamu malah nyantai😂
Kustri
semangat buat lanjutin karyamu ini
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
Kustri
hlaa py to, saya jg sdh siap melanjutkan, koq malah mentok😩
Kustri
kamu salah 1 dr mrk, tubuhmu ada zat yg sama dgn mrk zidaaaan... 😁bener gk sih thor🤭
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
Kustri
mayan di swalayan stok makanan & minuman aman👌🤭
Kustri
☕tak sogok biar crazy up🤭😁
Kustri
weh zidan 🎷🎼ada apa dgnmu...
Kustri
ngeyel BGT👊👊👊wae
Kustri
qu msh capek, dok masa iya baru nyampe bawah, istirahat jg blm masak suruh naik lagi😫😫😫
Kustri
ky'a satria gk nyebut zidan, koq sakira tau yg terpapar itu zidan🤔ampe qu ulang baca'a🤭
NR: wkwk, terimakasih kak.
total 1 replies
Kustri
diminumin air kelapa ijo x yaa🤭
Kustri
memukul jgn hanya pukul
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
Kustri
wah zidan ky'a terpapar dr serbuk nih, melihat kondisi'a
Kustri
eumm... dr jamur yg fajar makan waktu kelaparan itu yaa
Kustri
kira" apa obat penyembuh'a ya🤔
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
t-rex
suka banget upnya langsung banyak gini. btw Thor, perkiraan end dibab berapa? wkwk. mau nabung bab😭😭🤭
NR: Up banyak kalo lagi ada ide aja kak wkwk, kalo up nya cuman 1 bab itu lagi stuck alur ceritanya mao dibawa kemana yak ini wkwk,
total 1 replies
Kustri
qu koq deg"an klu zidan terpapar😫
lanjut lagii
Kustri
lanjuuut 👉👉👉
Kustri
bisa gk thor kalimat"nya diperhalus, perasaan dipart" awal kalimat'a enak dibaca
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪
NR: oke kak, terimakasih saran nya, 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!