Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Rindu yang Akhirnya Jujur
POV NANA
Malam itu kamar kos terasa lebih sunyi dari biasanya.
Balon ulang tahun masih menempel setengah kempis di dinding. Pita dekorasi tergantung miring. Sisa potongan kue tersimpan di dalam kulkas kecil di sudut ruangan. Bucket bunga besar itu masih berdiri anggun di dekat meja belajar, memenuhi kamar dengan aroma lembut mawar.
Semua orang sudah pulang ke kamar masing-masing.
Tinggal Nana.
Dan pikirannya.
Ia duduk bersandar di ranjang, memeluk lututnya sendiri. Ponsel ada di tangan, layar gelap, tapi bayangan wajah Izzan beberapa jam lalu masih terputar jelas di kepalanya.
Ulang tahunnya yang ke-23.
Harusnya ia hanya bahagia.
Tapi entah kenapa, perasaannya campur aduk.
Seminggu menghilang tanpa kabar.
Tiba-tiba muncul dengan bunga sebesar itu.
Tiba-tiba video call dari luar negeri.
Tiba-tiba mengaku sedang di Ukraina.
Dan yang paling membuatnya kesal—
Ia ternyata benar-benar merasa kehilangan saat Izzan tidak ada kabar.
Ia memejamkan mata.
“Aku kenapa sih begini…” gumamnya pelan.
Selama ini ia selalu merasa bisa mengontrol perasaannya. Saat dulu tahu Izzan punya pacar, ia mundur tanpa drama. Ia fokus pada kuliah. Fokus pada target lulus S.Farm. Fokus pada amanah sebagai Ketua BEM.
Tapi sekarang?
Sekarang ia justru merasa goyah.
Karena yang ia hadapi bukan lagi rasa kagum sepihak.
Izzan datang dengan usaha. Dengan perhatian. Dengan keseriusan yang tidak main-main.
Dan ia… malah sering mengabaikan.
Rasa bersalah itu kembali muncul.
Ia membuka galeri, menatap foto bucket bunga yang ia unggah tadi.
Thank you for this beautiful surprise…
Ia tersenyum kecil.
Namun hatinya kembali mengkerut ketika mengingat percakapan setelah itu.
KEMBALI KE VIDEO CALL
Setelah perdebatan kecil soal menghilangnya Izzan, suasana mulai mencair.
Nana duduk bersandar ke bantal, ponsel disangga di depan wajahnya.
“Mas pulangnya kapan?” tanyanya pelan, berusaha terdengar biasa saja.
“Sekitar tiga minggu lagi,” jawab Izzan. “Langsung ke Jakarta.”
Nana mengangguk.
“Oh.”
“Mungkin nggak ke Malang dulu,” lanjut Izzan santai.
Kening Nana langsung berkerut kecil. Bibirnya otomatis mengerucut.
“Oh yaudah,” jawabnya singkat.
Izzan tertawa kecil melihat ekspresinya.
“Kok mukanya gitu?”
“Gimana?”
“Kayak anak kecil ngambek.”
Nana mendengus pelan. “Nggak.”
“Kenapa emangnya kalau aku nggak ke Malang?”
Nana menatap layar beberapa detik. Ingin jujur. Ingin bilang ia berharap bisa bertemu.
Tapi gengsi.
“Ya gapapa,” jawabnya cepat.
Izzan menyipitkan mata, senyum isengnya muncul.
“Kangen ya?”
Nana refleks menjawab, “Enggak.”
“Oalah,” sahut Izzan dramatis. “Yaudah kalau nggak kangen, matikan aja videocallnya.”
Nana menatapnya kesal.
Belum sampai lima detik, layar tiba-tiba gelap.
Izzan benar-benar mematikannya.
“LAH?!” Nana membelalak.
Beberapa detik ia menatap layar kosong itu dengan perasaan campur aduk.
Kesal.
Kaget.
Dan… sedikit panik.
“Yaelah, beneran dimatiin,” gumamnya.
Ia mencoba menahan diri.
Tiga puluh detik berlalu.
Empat puluh lima detik.
Akhirnya ia menyerah.
Tangannya menekan tombol video call.
Berdering.
Sekali.
Dua kali.
Diangkat.
Namun kali ini wajah Izzan tidak langsung muncul. Hanya layar gelap dengan suara datar.
“Ada apa?”
Nada suaranya sengaja dibuat cuek.
Nana menggigit bibirnya.
“Mas kok dimatiin sih?”
“Kamu kan nggak kangen.”
Jawaban itu membuatnya semakin kesal.
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Ya nggak gitu juga…”
“Terus gimana?”
Hening beberapa detik.
Egonya bertarung dengan hatinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka semakin dekat, Nana memilih menurunkan gengsi.
“Iya… kangen,” ucapnya pelan. Lalu cepat-cepat menambahkan, “Sedikit.”
Hening sepersekian detik.
Lalu layar menyala.
Wajah Izzan muncul kembali. Kali ini tidak ada ekspresi menggoda. Hanya tatapan lembut yang jarang Nana lihat.
“Ulang lagi,” pintanya pelan.
Nana memicingkan mata.
“Apanya?”
“Tadi.”
Ia memalingkan wajahnya malu.
“Mas rese banget.”
“Nana.”
Nada suaranya berubah serius.
Nana menghela napas pelan.
“Iya… aku kangen,” ucapnya lebih jelas, pipinya memerah.
Di layar, Izzan tersenyum lebar. Bukan senyum mengejek. Tapi senyum puas dan bahagia.
“Akhirnya jujur juga.”
Nana menunduk malu.
Ia tidak tahu bahwa di ribuan kilometer jaraknya, lelaki itu sedang memandangi wajahnya dengan perasaan yang jauh lebih dalam.
POV IZZAN
Di kamar penginapan yang dingin di Ukraina, Izzan bersandar ke kursi, menatap layar ponselnya.
Di sana ada Nana.
Perempuan yang sedang ia usahakan.
Wajahnya polos tanpa make-up berlebihan. Rambutnya terikat sederhana. Ekspresinya kadang jutek, kadang malu-malu.
Dan barusan… ia mengaku rindu.
Hal sederhana.
Tapi bagi Izzan, itu jawaban besar.
Seminggu ia menahan diri untuk tidak menghubungi. Menahan diri melihat story tanpa bereaksi. Menahan diri dari keinginan langsung menjelaskan.
Semua itu demi satu hal: memastikan perasaan Nana bukan hanya sekadar kagum.
Dan malam ini, ia mendapat jawabannya.
“Nana,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Terima kasih udah jujur.”
Nana mengernyit kecil. “Kenapa sih makasih?”
“Karena aku juga kangen.”
Suasana mendadak berubah lebih hening.
Bukan canggung.
Tapi hangat.
“Aku nggak suka kalau kamu ngilang gitu lagi,” kata Nana tiba-tiba.
Izzan tersenyum tipis.
“Aku juga nggak suka dicuekin.”
Nana terdiam.
Mereka sama-sama sadar. Selama ini bukan hanya satu pihak yang berusaha. Bukan hanya satu yang terluka kecil karena diabaikan.
Hubungan ini memang belum diberi label.
Tapi rasa itu sudah tumbuh.
Dan malam itu, setelah ulang tahunnya yang penuh kejutan, Nana tidak lagi merasa galau sendirian.
Karena sekarang ia tahu—
Rindu itu tidak hanya miliknya.
Dan di layar kecil itu, di tengah jarak yang jauh, ada seseorang yang memandangi dirinya bukan sekadar dengan kagum…
Tapi dengan niat.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang