Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Lembayung senja membias di kaca depan mobil Ustadz Adnan saat ia memutar setir memasuki pelataran sebuah masjid kecil di pinggir jalur lintas provinsi.
Suaranya serak karena efek dari tausiyah panjang yang baru saja ia sampaikan di desa sebelah.
Adnan mematikan mesin, lalu melirik pergelangan tangan kirinya.
Sebuah jam tangan tua dengan strap kulit yang sudah memudar warnanya melingkar di sana.
Ia mengelusnya pelan sebelum melepasnya. Adnan memiliki kebiasaan ia tak ingin dunia, bahkan dalam bentuk penunjuk waktu terkecil sekalipun, menghalangi kulitnya saat bersentuhan dengan air suci.
Ia meletakkan jam itu dengan hati-hati di atas meja kayu panjang dekat tempat wudhu.
Dinginnya air wudhu menyapu lelahnya. Saat ia melangkah masuk ke dalam shaf, pikirannya sepenuhnya tertuju pada Sang Khalik.
Sholat Maghrib itu berlangsung khusyuk. Suara imam yang melantunkan ayat-ayat pendek berpadu dengan suara jangkrik dari sawah di belakang masjid, menciptakan simfoni kedamaian yang jarang ia temukan di kota.
Zikir singkat ia akhiri dengan usapan telapak tangan ke wajah.
Adnan berdiri, merapikan baju kokonya, lalu melangkah keluar dengan pikiran yang sudah melompat ke jadwal ceramah besok subuh.
Ia masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin, dan baru saja akan memindahkan gigi saat ia merasakan pergelangan tangannya terasa kosong.
Adnan terdiam sejenak saat menatap pergelangan tangannya yang kini hanya menyisakan bekas garis putih tipis akibat sinar matahari.
"Astaghfirullah..."
Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Itu bukan sekadar jam tangan.
Jam yItu adalah peninggalan terakhir almarhumah ibunya.
Satu-satunya benda yang selalu menemaninya berdakwah, pengingat bahwa waktu di dunia ini hanyalah pinjaman.
Ia segera keluar dari mobil, setengah berlari menuju tempat wudhu. Namun, meja kayu itu kini kosong melompong.
Hanya ada tetesan sisa air wudhu yang mulai mengering.
"Ada apa, Ustadz?" seorang pria paruh baya dengan sarung tersampir di bahu menghampirinya.
"Jam tangan saya, Pak. Tadi saya letakkan di meja ini sebelum sholat," sahut Adnan, suaranya berusaha tetap tenang meski kecemasan terpancar dari matanya.
"Waduh, jam yang mana ya? Tadi memang banyak musafir yang mampir sholat di sini sebelum melanjutkan perjalanan."
"Bisa kita lihat rekaman CCTV-nya, Pak? Mungkin ada yang tidak sengaja terbawa."
Marbot itu meringis pelan sambil menggaruk kepala.
Ia menunjuk ke arah pojok atas bangunan dengan dagunya.
"Itu dia masalahnya, Ustadz. Sudah dua minggu ini CCTV kita kena sambar petir. Belum sempat diperbaiki karena dananya masih dialokasikan untuk renovasi atap."
Adnan tertegun. Ia menatap kamera hitam yang mati itu, lalu beralih ke kegelapan jalan raya di depan masjid.
Di sana, ratusan kendaraan melintas setiap menitnya.
Siapa pun bisa saja mengambilnya, dan siapa pun bisa saja membawa benda itu pergi sejauh mungkin.
Di bawah lampu selasar masjid yang temaram, Adnan terduduk di bangku kayu.
Ia menyadari, ini bukan sekadar kehilangan barang. Ini adalah awal dari sebuah ujian yang belum ia pahami ujungnya.
Adnan menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak sesak di dadanya.
Kehilangan ini terasa lebih berat daripada sekadar kehilangan materi; jam itu adalah saksi bisu doa-doa ibunya yang telah tiada.
Ia merogoh saku kokonya, mengeluarkan sebuah kartu nama yang bersih dan rapi. Di sana tertera namanya: Ustadz Adnan Al-Ghifari.
"Pak Takmir," suara Adnan terdengar berat namun mantap.
Ia menyerahkan kartu itu kepada pengurus masjid yang menatapnya dengan penuh simpati.
"Ini kartu nama saya. Jika ada siapa pun, musafir atau warga sekitar, yang mengembalikan jam tangan itu ke sini, tolong segera hubungi saya. Saya akan sangat berterima kasih."
Takmir itu mengangguk takzim. "Insya Allah, Ustadz. Nanti saya umumkan juga lewat pengeras suara sebelum pengajian besok."
Adnan berjalan kembali ke arah mobilnya. Di bawah langit malam yang kian pekat, sebuah gejolak spiritual muncul di benaknya.
Ia merasa kehilangan ini bukan kebetulan. Ini adalah ujian tentang seberapa besar ia menghargai amanah ibunya dan seberapa kuat ia bersandar pada takdir.
Di dalam kesunyian kabin mobil, sebelum memutar kunci kontak, Adnan memejamkan mata.
Bibirnya bergerak lirih, mengucapkan sebuah sumpah yang akan mengubah garis hidupnya selamanya.
"Ya Allah, jam itu adalah titipan terakhir ibuku. Jika Engkau menggerakkan hati seseorang untuk mengembalikannya, maka inilah nazarku..."
Adnan menarik napas, seolah menyerahkan seluruh logikanya kepada ketetapan langit.
"Jika laki-laki yang menemukannya dan mengembalikannya kepadaku, akan kuberikan sepetak sawah warisanku untuknya. Namun, jika dia seorang wanita, akan kujadikan ia istriku, pendamping hidupku."
Nazar itu terucap dimana sebuah janji yang tak main-main bagi seorang lelaki seperti Adnan.
Ia tahu, di mata manusia, janji ini mungkin terdengar gila atau nekat. Namun baginya, ini adalah cara ia menjemput takdir dengan kepasrahan total.
Ia tidak tahu siapa yang akan mengembalikan jam tangannya.
Seorang petani, seorang pengemis, atau mungkin seseorang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Adnan menjalankan mobilnya meninggalkan masjid, sementara di suatu tempat di kegelapan malam, jam tangan itu sudah berada di tangan yang lain.
Asap rokok menggumpal di udara, bersaing dengan bau apak dari gudang tua di pinggiran kota.
Di atas meja kayu yang penuh noda kopi, sebuah benda berkilau di bawah lampu bohlam yang remang-remang.
Sebuah jam tangan tua dengan strap kulit yang sudah aus, namun mesinnya masih berdetak dengan patuh.
Tony, seorang pria dengan tato naga yang memudar di lengannya, tertawa terkekeh.
Giginya yang kuning tampak saat ia mengangkat jam itu tinggi-tinggi.
"Lumayan juga hasil tarikan hari ini," ucap Tony, suaranya serak dan berat.
"Siapa sangka di masjid pinggir jalan bisa dapat barang antik begini? Orang-orang yang sholat di sana pasti terlalu sibuk menghadap langit sampai lupa melihat ke bawah."
Beberapa anak buahnya ikut tertawa, suara mereka pecah di keheningan malam yang pengap.
Di pojok ruangan, seorang wanita duduk terdiam. Namanya Kinan.
Wajahnya yang cantik terbalut riasan tebal yang mulai luntur akibat peluh. Ia mengenakan gaun merah pendek yang mencolok—seragam "kerjanya" di klub malam yang letaknya tak jauh dari gudang itu.
Mata Kinan terpaku pada jam tangan di tangan Tony.
Ada sesuatu pada benda itu yang membuatnya merasa terusik.
Bukan karena harganya, melainkan karena pancaran kesederhanaan dan ketulusan yang seolah tidak pantas berada di tangan seorang preman.
"Kembalikan, Tony," suara Kinan memecah tawa riuh itu. Datar, namun tajam.
Tony berhenti tertawa dan menoleh ke arah Kinan dengan sebelah alis terangkat.
"Apa kamu bilang, Kinan?"
Kinan berdiri dari kursi plastiknya. Ia melangkah mendekat, mengabaikan tatapan sinis anak buah Tony.
Dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia menyambar jam tangan itu dari jemari Tony yang kasar.
"Heh! Apa-apaan kamu!" bentak Tony, tangannya refleks hendak mencengkeram lengan Kinan, namun wanita itu menghindar dengan gesit.
"Ini bukan hakmu, Tony," ujar Kinan sambil menggenggam erat jam tangan itu di dadanya.
Ia bisa merasakan detak mesin jam itu seolah-olah itu adalah detak jantung pemiliknya yang sedang cemas.
"Mencuri di tempat ibadah? Kamu sudah cukup bejat, jangan tambah lagi dengan menantang Tuhan."
"Halah! Jangan sok suci kamu, Kinan! Ingat di mana kamu berdiri. Kita ini sama-sama penghuni neraka, tidak perlu berlagak jadi malaikat pelindung."
Kinan terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari Tony.
Kalimat Tony barulah kenyataan pahit yang ia telan setiap hari.
Ia tahu siapa dirinya, yang merupakan seorang wanita yang dianggap sampah oleh masyarakat, yang hidupnya terjebak dalam pekatnya dunia malam. Namun, saat menyentuh kulit jam tangan ini, ia merasakan sisa-sisa doa yang masih tertinggal di sana.
"Mungkin aku memang sudah di neraka," jawab Kinan lirih, matanya menatap tajam ke arah Tony.
"Tapi setidaknya, aku masih tahu mana barang yang punya jiwa dan mana yang cuma rongsokan. Jam ini milik seseorang yang tulus. Aku akan mengembalikannya."
Tanpa menunggu jawaban, Kinan berbalik dan melangkah keluar dari gudang pengap itu.
Ia tidak peduli dengan teriakan makian Tony di belakangnya.
Di bawah rintik hujan yang mulai turun, Kinan menatap jam tangan itu sekali lagi.
Ia belum tahu siapa pemiliknya. Ia hanya tahu, ia harus membawa benda ini pulang ke tempat asalnya.
Kinan segera melangkah menjauh dari gudang tua itu, mengabaikan umpatan Tony yang masih menggema di belakangnya.
Di kamar kosnya yang sempit, ia menatap bayangannya di cermin—wajah dengan riasan tebal yang selama ini menjadi topengnya.
Dengan tergesa-gesa, ia menghapus lipstik merah menyala dan bedak yang menutupi kulit pucatnya.
Ia mengganti gaun minimnya dengan setelan blus panjang dan kerudung seadanya yang ia temukan di dasar lemari—peninggalan masa lalunya yang hampir terlupakan.
Kinan merasa asing dengan penampilannya sendiri, namun ada setitik keberanian yang mendorongnya untuk melangkah menuju masjid di pinggir jalan itu.
Sesampainya di sana, suasana masjid sudah sepi, hanya menyisakan lampu selasar yang kuning temaram.
Kinan mendekati seorang pria tua yang sedang merapikan mukena di pojok ruang utama.
"Assalamu’alaikum, Pak Marbot," sapa Kinan ragu. Suaranya halus, nyaris tenggelam oleh suara kendaraan yang lewat.
Pria tua itu menoleh, menatap Kinan dengan teduh.
"Wa’alaikumussalam, Nak. Ada yang bisa Bapak bantu?"
Kinan merogoh saku blusnya, lalu perlahan mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, jam tangan tua milik ibu Adnan berkilau pelan.
"Saya menemukan jam ini di tempat wudhu tadi. Saya ingin mengembalikannya." ucap Kinan dengan sedikit berbohong.
Mata Pak Marbot membelalak. Ia mengenali benda itu seketika.
"Masya Allah, jam ini milik Ustadz Adnan! Beliau baru saja pergi dengan hati yang sangat sedih karena kehilangan jam ini."
Pak Marbot segera mempersilakan Kinan. "Duduk dulu, Nak. Sebentar, jangan pergi dulu. Pemiliknya sangat berharap jam ini kembali."
Kinan duduk di kursi kayu panjang dengan perasaan tidak menentu.
Ia merasa tidak pantas berada di rumah Tuhan ini, di antara aroma kayu cendana dan kesucian yang pekat.
Sementara itu, Pak Marbot dengan tangan gemetar merogoh ponsel dari saku bajunya.
Ia mencari nomor yang baru saja diberikan oleh sang Ustadz.
Di sisi lain, mobil Adnan sudah melaju cukup jauh, hampir mencapai perbatasan kota.
Pikirannya masih tertinggal di masjid tadi, meratapi hilangnya kenangan sang ibu. Tiba-tiba, ponsel di dashboard bergetar hebat.
"Assalamu’alaikum, Pak?" Adnan menjawab dengan nada cemas.
"Ustadz! Ustadz Adnan! Jam tangan Anda sudah kembali! Ada seorang wanita yang mengantarkannya ke sini sekarang juga!"
Mendengar itu, jantung Adnan seakan berhenti berdetak sesaat.
Tanpa berpikir panjang, ia segera menginjak rem, memutar balik mobilnya di tengah jalan raya yang sepi, dan memacu kendaraannya kembali ke masjid.
Dalam hatinya, Adnan terus mengulang-ulang nazarnya.
"Jika dia wanita, akan kujadikan ia istriku."
Adnan tiba di pelataran masjid dengan napas terengah.
Ia turun dari mobil dan melangkah cepat masuk ke selasar.
Di sana, ia melihat Pak Marbot yang sedang berbincang dengan seorang wanita yang menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik kerudung yang sederhana.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅