Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: LANGIT YANG RUNTUH
Suasana spektakuler turnamen dalam sekejap berubah menjadi fragmen mimpi buruk. Langit di atas Puncak Awan Putih yang tadinya perak tenang kini tampak seperti kaca yang dipukul palu godam. Retakan hitam itu melebar, mengeluarkan suara decitan ruang yang menyakitkan telinga, hingga akhirnya sebuah ledakan energi murni menghancurkan formasi pelindung sekte yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Serpihan energi pelindung jatuh seperti hujan kristal yang membakar, menghantam tribun penonton dan menciptakan kepanikan masal. Ribuan murid berlarian, berdesakan menuju pintu keluar, sementara para tetua klan luar segera mengaktifkan perisai pribadi untuk melindungi delegasi mereka.
Pria tua yang melayang di udara itu tidak bergerak. Jubah hitamnya berkibar meski tak ada angin, dan lambang Mata Berdarah di dadanya seolah berdenyut, memancarkan aura merah kental yang membuat tanaman di sekitar arena layu dalam sekejap.
"Siapa kau?!" suara Tetua Agung Mu menggelegar. Tubuhnya melesat ke langit, berdiri setinggi pria tua itu. Cahaya emas matahari menyelimuti sekujur tubuh Tetua Agung, mencoba menekan aura kematian yang dibawa sang penyusup.
"Aku adalah Utusan dari Istana Karma Terlarang," jawab pria tua itu dengan suara datar yang membawa getaran penghancur. "Kami tidak punya urusan dengan sekte kecilmu, Mu. Kami hanya datang untuk mengambil apa yang seharusnya sudah mati seribu tahun lalu. Berikan pewaris ketujuh itu, atau aku akan meratakan puncak ini menjadi tanah datar."
Tetua Agung Mu menyipitkan mata. Ia melirik ke bawah, ke arah arena di mana Tian Feng berdiri terdiam di tengah uap yang masih mengepul. "Pewaris? Kau salah alamat, Utusan. Di sini hanya ada murid-murid sekteku."
"Jangan bermain kata denganku!" Pria tua itu mengangkat tangannya. Sebuah bola energi hitam pekat terbentuk di ujung jarinya, lalu ia menyentilnya ke arah stadion utama.
BOOM!
Ledakan itu menghantam sisi kiri stadion, meruntuhkan tribun faksi Disiplin dalam satu serangan. Teriakan kesakitan pecah di mana-mana.
Tian Feng menatap reruntuhan itu dengan mata yang kini tidak lagi menunjukkan kemalasan. Di dalam Dantiannya, pusaran giok dan emas berputar dengan kecepatan yang menakutkan. Penyatuan energi api matahari dan es abadi tadi telah membuka sebuah pintu kekuatan yang selama ini terkunci rapat. Ia bisa merasakan setiap getaran energi pria tua di langit itu—ia bisa melihat "jalur karma" merah yang menghubungkan pria itu dengan niat membunuhnya.
"Feng! Lari!" Guru Lin berteriak dari pinggir arena. Wajah pria tua itu dipenuhi ketakutan yang belum pernah Feng lihat sebelumnya. "Masuk ke lorong bawah tanah! Sekarang!"
Namun, Feng tidak bergerak. Ia melihat Lin Xuelan di kejauhan. Wanita itu sudah menarik pedang teratainya, berdiri melindungi beberapa murid rendah yang terjepit di reruntuhan. Xuelan menatap Feng, matanya seolah berkata: Inilah saatnya.
"Utusan..." Feng bergumam pelan. Suaranya rendah, namun entah bagaimana, suara itu menembus hiruk-pikuk ledakan dan terdengar jelas oleh pria tua di langit.
Pria tua berbaju hitam itu menoleh. Matanya yang merah mengunci sosok Feng. "Begitu... kau menyembunyikannya di balik tubuh seorang pelayan medis? Sangat licik. Tapi bau darah Taois tidak bisa kau tutupi dengan aroma ramuan obat murahan."
Pria tua itu melesat turun seperti meteor hitam. Kecepatannya melampaui kemampuan mata fana untuk mengikuti.
Tetua Agung Mu mencoba menghalangi dengan pukulan telapak emas raksasa, namun sang Utusan hanya mengibaskan lengan bajunya. Energi hitam itu membelah serangan Tetua Agung seperti pisau memotong mentega.
"Mati!"
Cakar energi merah darah meluncur ke arah dada Feng.
Feng tidak menghindar. Ia menarik napas panjang, mengaktifkan Hukum Keseimbangan secara maksimal. Saat cakar itu tinggal beberapa inci dari jantungnya, Feng mengangkat tangan kirinya secara vertikal.
KLANG!
Suara itu bukan seperti benturan daging dan energi, melainkan seperti dua gunung besi yang saling bertabrakan. Sebuah perisai cahaya hijau transparan muncul di depan telapak tangan Feng. Cakar merah itu tertahan diam, energinya mulai terserap masuk ke dalam meridian Feng dengan suara mendesis yang mengerikan.
"Apa?!" sang Utusan terbelalak. "Kau bisa menahan serangan Cakar Pemutus Roh milikku hanya dengan tangan kosong?"
Feng tidak menjawab. Wajahnya mulai tertutup oleh aura putih yang dingin. "Kau datang ke sini, menghancurkan stadion tempat aku baru saja memenangkan taruhan besarku, dan merusak jam istirahatku."
Feng mengepalkan tangan kanannya. Energi es abadi yang ia serap dari Han Shuo dan sisa api matahari dari Tetua Agung kini bersatu di ujung tinjunya, membentuk bola cahaya yang berdenyut tidak stabil.
"Kau berhutang banyak padaku, Pak Tua."
Feng melancarkan pukulan lurus ke arah perut sang Utusan.
DUMMM!
Gelombang kejut yang dihasilkan ledakan itu mendorong mundur semua orang dalam radius lima puluh meter. Sang Utusan terlempar ke udara, tubuhnya menabrak pilar-pilar stadion hingga hancur berkeping-keping.
Penonton yang tersisa, para tetua, bahkan Tetua Agung Mu, ternganga tidak percaya. Seorang pelayan medis baru saja memukul mundur seorang ahli tingkat tinggi dari Istana Karma Terlarang yang bahkan tidak bisa dihentikan oleh Tetua Agung.
Namun, Feng tahu ini belum selesai. Ia merasakan panas yang luar biasa di tangan kanannya. Kulitnya mulai retak, mengeluarkan cahaya keperakan. Seni Transmutasi Sunyi miliknya belum sempurna; tubuh fisiknya masih kesulitan menampung kekuatan yang begitu besar.
"Berani-beraninya kau!" Sang Utusan bangkit dari reruntuhan. Jubahnya compang-camping, dan dari mulutnya mengalir darah berwarna hitam. "Keturunan kotor! Kau akan melihat seluruh gunung ini terbakar!"
Sang Utusan mengeluarkan sebuah gulungan hitam besar dan merobeknya. Seketika, langit di atas Puncak Awan Putih benar-benar gelap gulita. Ribuan makhluk bayangan kecil mulai keluar dari retakan langit, menyerang siapa saja yang ada di bawahnya. Ini bukan lagi sekadar penangkapan; ini adalah pemusnahan.
"Tetua Agung! Lindungi murid-murid!" teriak Feng. Suaranya kini penuh dengan wibawa seorang penganut Tao sejati.
Tetua Agung Mu, yang tadinya curiga pada Feng, entah kenapa merasa harus mematuhi perintah itu. Ia segera memerintahkan para tetua lainnya untuk membentuk barisan pertahanan besar guna melindungi ribuan orang yang terjebak di stadion.
Sementara itu, Feng melompat ke udara, kakinya memijak udara kosong seolah-olah ada tangga yang tak terlihat. Ia menuju ke arah sang Utusan yang kini sedang menyiapkan serangan penghancur masal.
"Lin Xuelan!" teriak Feng tanpa menoleh. "Gunakan teknik Segel Teratai! Bantu aku menstabilkan ruang ini!"
Xuelan tidak bertanya dari mana Feng tahu teknik rahasia sektenya. Ia segera duduk bersila, melepaskan aura biru jernih yang mulai membentuk kelopak teratai raksasa di bawah stadion, memberikan jangkar bagi ruang yang sedang bergetar hebat itu.
Feng berdiri di depan sang Utusan. Mereka kini berada di titik tertinggi di atas arena yang sudah hancur.
"Kau pikir kau bisa menghentikanku sendirian?" sang Utusan tertawa gila. "Istana Karma Terlarang tidak akan berhenti sampai garis keturunanmu benar-benar lenyap!"
"Aku tidak sendirian," kata Feng dingin. Ia memegang liontin gioknya yang kini menyatu dengan kulit dadanya. "Aku membawa beban ribuan tahun hutang keluargaku. Dan hari ini... aku memutuskan untuk menyatakan kebangkrutan atas namamu."
Feng melepaskan seluruh energi di tubuhnya secara serentak. Cahaya hijau, emas, dan perak meledak dari tubuhnya, membentuk pilar cahaya raksasa yang menembus hingga ke awan hitam. Seluruh simbol penganut Tao kuno mulai muncul di udara, berputar mengelilingi Feng seperti tentara pelindung yang bangkit dari kubur.
Sang Utusan berteriak ketakutan saat melihat simbol-simbol itu. "Tidak! Itu adalah Segel Pengunci Langit yang asli! Bagaimana kau bisa menguasainya?!"
Feng tidak menjawab. Ia mengarahkan tangannya ke langit, ke arah retakan hitam tempat makhluk-makhluk bayangan keluar.
"Tutup."
Satu kata itu diiringi dengan dentuman kosmik yang sangat dahsyat. Cahaya dari tubuh Feng melesat ke langit, menjahit kembali retakan ruang itu dengan paksa. Sang Utusan yang terperangkap di antara aliran energi itu mulai hancur menjadi abu, suaranya hilang ditelan oleh gemuruh cahaya.
Namun, saat retakan itu hampir tertutup sepenuhnya, sebuah tangan raksasa berwarna hitam legam muncul dari dalam retakan, menahan agar lubang itu tidak menutup. Tangan itu jauh lebih besar dari stadion, dan kehadirannya saja membuat seluruh Puncak Awan Putih mulai runtuh ke bawah.
Suara yang jauh lebih mengerikan, jauh lebih kuno dari sang Utusan, terdengar dari balik lubang tersebut.
"Begitu... jadi kau berada di sini, Tikus Kecil."
Tangan raksasa itu mulai menarik paksa Feng ke arah retakan langit. Feng, yang energinya sudah terkuras habis untuk menutup retakan, tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan tarikan tersebut.
Ia menatap ke bawah, ke arah Guru Lin yang menangis, ke arah Lin Xuelan yang berusaha keras mempertahankan segelnya, dan ke arah seluruh sekte yang kini menatapnya dengan rasa syukur sekaligus ngeri.
"Guru," Feng berbisik, tersenyum lemah. "Sepertinya saya benar-benar akan tidur siang di tempat yang sangat jauh."
Tangan raksasa itu mencengkeram tubuh Feng dan menariknya masuk ke dalam kegelapan retakan langit tepat sebelum lubang itu menutup dengan ledakan yang menerangi seluruh benua.
Keheningan kembali menyelimuti Puncak Awan Putih. Stadion itu hancur, musuh-musuh bayangan menghilang, namun di tengah arena yang kosong, hanya tertinggal sebuah botol obat kosong milik Paviliun Pengobatan yang berguling pelan ditiup angin.
Tian Feng telah hilang.
Di tribun kehormatan, Tetua Agung Mu perlahan berlutut, menatap langit yang kini kembali cerah. "Dia bukan sampah... dia adalah penyelamat kita semua."
Namun, jauh di dalam dimensi yang tak dikenal, di tengah kegelapan yang pekat, sepasang mata hijau perlahan terbuka.
Feng merasakan lantai yang ia pijak bukan lagi batu, melainkan tumpukan tulang belulang yang tak terhitung jumlahnya. Di depannya, berdiri sebuah gerbang raksasa yang bertuliskan: "Wilayah Terlarang: Makam Para Dewa yang Berhutang."
Dan di atas gerbang itu, duduk sesosok wanita cantik dengan pakaian hitam transparan, sedang mengunyah apel merah yang tadi Feng tinggalkan di meja paviliun.
"Selamat datang di rumah, Suamiku," ucap wanita itu sambil melemparkan sisa apelnya ke wajah Feng yang masih linglung. "Kau terlambat sepuluh ribu tahun untuk makan malam."