"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
...
Bandara Internasional Soekarno-Hatta, empat tahun setelah pelarian besar itu.
Sebuah jet pribadi dengan logo Jionel Group yang telah diperbarui mendarat dengan mulus di landasan pacu privat. Pintu pesawat terbuka, dan tangga hidrolik turun perlahan. Udara Jakarta yang panas dan lembap langsung menyambut, namun bagi wanita yang melangkah keluar pertama kali, aroma polusi ini membawa ribuan kenangan yang kini sudah tidak lagi menyakitkan.
Kalea—sekarang Nyonya Kalea Jionel—melangkah turun dengan anggun. Ia mengenakan setelan blazer sutra berwarna emerald dan kacamata hitam besar. Di sampingnya, Liam Jionel menggandeng tangannya dengan protektif. Liam tampak lebih matang, auranya tetap dominan namun kini lebih tenang, seperti singa yang sudah menemukan rumahnya.
"Mama, ini Jakarta? Kok nggak ada saljunya?"
Seorang bocah laki-laki tampan berusia empat tahun, Leo, melompat turun dengan penuh semangat. Di belakangnya, seorang pramusiwi menggendong bayi perempuan cantik berusia satu tahun yang tertidur pulas—Lili, putri kedua mereka yang lahir di Hallstatt.
"Iya, Leo. Ini tempat Mama dan Papa dulu bertemu," jawab Kalea sambil tersenyum manis ke arah Liam.
Kepulangan mereka ke Jakarta bukan tanpa alasan. Liam kembali untuk meresmikan "Elena Foundation", sebuah yayasan perlindungan perempuan dan anak yang dibangun di atas bekas reruntuhan mansion Menteng yang dulu terbakar. Liam ingin mengubah tempat penuh dosa itu menjadi tempat penuh harapan.
Malam harinya, sebuah gala grand opening diadakan. Seluruh elit Jakarta hadir, termasuk rekan-rekan bisnis lama Liam yang dulu sempat meremehkannya saat ia masuk penjara. Namun, suasana mendadak sunyi saat keluarga Jionel memasuki ruangan.
Kalea berjalan di samping Liam dengan kepala tegak. Ia bukan lagi gadis kantor yang takut pada tatapan sinis sosialita. Ia adalah pemilik saham mayoritas J-Media dan pemimpin yayasan kemanusiaan terbesar.
Di sudut ruangan, tampak Sharena dan Felicia—adik tiri Kalea. Hidup mereka telah jatuh miskin setelah perusahaan Adipati Adiwinata pailit. Mereka hanya bisa menatap Kalea dari jauh dengan rasa iri yang membakar, menyadari bahwa "darah kotor" yang dulu mereka hina kini telah menjadi matahari yang menyilaukan.
Kalea melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun. Baginya, mereka sudah menjadi debu masa lalu.
Aruna, Ghea, dan Ziva berlari menghampiri Kalea di tengah kerumunan. Mereka berpelukan erat, menangis bahagia.
"Kal! Gila, lo makin cantik banget! Dan liat ini... Leo ganteng banget mirip bapaknya!" seru Ghea sambil mencubit gemas pipi Leo.
"Gue kangen banget sama kalian," ucap Kalea tulus. "Jakarta terasa beda kalau ada kalian."
Tiba-tiba, Liam naik ke atas panggung. Ia memegang mik, matanya mencari sosok Kalea di kerumunan.
"Malam ini, aku tidak akan bicara soal bisnis," suara Liam menggema penuh wibawa. "Aku membangun yayasan ini untuk satu wanita. Wanita yang dulu pernah kuanggap bisa kubeli dengan uang satu miliar. Aku salah besar."
Liam menatap Kalea dengan tatapan yang sangat lembut. "Dia mengajariku bahwa kehormatan tidak punya harga, dan cinta tidak bisa dipaksa. Kalea Jionel, terima kasih karena telah membawaku pulang dari kegelapan."
Tepuk tangan bergemuruh. Liam turun dari panggung, menghampiri Kalea, dan mengecup keningnya di depan seluruh pasang mata Jakarta.
Tengah malam, sebelum mereka kembali ke hotel, Liam mengajak Kalea mengunjungi sebuah tempat. Sebuah halte bus tua di depan kantor J-Media yang sudah direnovasi.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Kalea heran.
Liam mengeluarkan sebuah bungkusan kertas minyak. Isinya empat bungkus nasi kucing. "Aku ingat ceritamu. Tentang perjuanganmu makan nasi ini berempat dengan teman-temanmu dulu. Aku ingin merasakannya bersamamu."
Mereka duduk di kursi halte yang dingin, makan nasi kucing di bawah lampu jalanan Jakarta. Liam mencoba menyuapi Kalea dengan kikuk, membuat Kalea tertawa renyah.
"Satu miliar untuk satu malam," gumam Kalea sambil mengunyah nasinya.
"Dan sisa hidupku untuk memastikan kau tidak pernah merasa lapar lagi," sahut Liam serius.
Kalea menyandarkan kepalanya di bahu Liam, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta. Pelarian ke London, persembunyian di Krakow, dan kedamaian di Hallstatt... semuanya telah membawanya kembali ke sini. Tapi kali ini, ia tidak lagi sendirian. Ia pulang bersama cintanya, anak-anaknya, dan harga dirinya yang telah utuh kembali.
Kontrak satu miliar itu memang pernah ada, namun kini ia telah digantikan oleh kontrak tanpa batas waktu yang ditulis oleh takdir di atas lembaran kebahagiaan.
Jakarta malam itu terasa hangat, sehangat janji Liam yang tidak akan pernah lagi melepaskannya—kali ini, bukan karena obsesi, tapi karena cinta yang paling murni.