Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Udara Jakarta yang panas dan berpolusi menyambut kepulangan tim KKN Desa Asih. Namun, bagi Mika, Arga, Asia, dan Siti, hiruk-pikuk ibu kota terasa seperti melodi kemenangan. Dua hari setelah menginjakkan kaki kembali di rumah masing-masing, hari ini adalah hari pertama mereka kembali ke kampus untuk mengurus administrasi akhir dan sekadar memamerkan kulit yang sedikit lebih eksotis akibat terik matahari desa.
Mereka berempat menyusuri koridor Fakultas Perairan dengan langkah ringan. Suara sepatu yang beradu dengan lantai marmer kampus terdengar jauh lebih modern daripada derap langkah di atas tanah merah Desa Asih.
"Akhirnya gue balik ke kampus!" pekik Mika dengan tangan terentang, menghirup aroma khas laboratorium yang bercampur dengan bau kopi dari kantin. "Gue nggak nyangka bakal sekangen ini sama AC dan sinyal 5G yang nggak perlu pake drama naik bukit dulu!"
Siti tertawa sambil menyenggol bahu Mika. "Halah, gaya lo. Kemarin di bus aja lo mukanya ditekuk kayak cucian kotor gara-gara ninggalin si 'King' lo itu. Sekarang sok-sokan kangen kampus."
"Apaan sih! Itu kan emosi sesaat karena kasihan sama warga, bukan karena siapa-siapa," kilah Mika cepat, meski tangannya refleks menyentuh cincin perak yang kini ia gantungkan di kalung di balik kemejanya agar tidak terlalu mencolok.
Saat mereka melangkah masuk ke dalam ruang kelas yang masih sepi untuk menunggu jam pengarahan dari Pak Hendra, ponsel Mika yang berada di saku celananya bergetar hebat. Sebuah nada dering khusus yang ia setel hanya untuk satu orang memenuhi keheningan ruangan.
Mika tersentak. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan melihat layar. Jantungnya berdegup kencang saat melihat nama King 💖💖 berkedip-kedip di sana.
"Siapa, Mik?" tanya Asia yang sedang sibuk merapikan tatanan rambutnya di depan cermin kecil. Mata Asia dan Siti langsung tertuju pada layar ponsel Mika yang sengaja dimiringkan oleh pemiliknya.
"Emm... dari Mama!" bohong Mika dengan ekspresi wajah yang sebisa mungkin dibuat natural. Ia segera menjauh dari teman-temannya, berjalan menuju sudut kelas yang agak tersembunyi di dekat jendela.
"Iya, halo Ma... gimana?" ucap Mika dengan nada bicara yang dibuat sangat "anak berbakti".
Namun, suara di seberang sana bukanlah suara ibunya. Suara itu berat, rendah, dan memiliki wibawa yang sanggup meruntuhkan pertahanan Mika dalam sekejap.
"Mama kamu suaranya jadi ngebass begini sekarang, Neng?"
Mika menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang hampir meledak. "Ih, Mama kok gitu sih ngomongnya... iya, Mika udah di kampus nih, Ma."
"Aku rindu," ucap Alvaro di seberang sana tanpa basa-basi. Suaranya terdengar sangat tulus. "Baru dua hari, tapi rumah dinas ini rasanya luas sekali. Aku baru saja melewati sungai tempat kamu ceburin Arga kemarin, dan rasanya ada yang kurang karena nggak ada teriakan kamu."
Mika memunggungi teman-temannya, jarinya memainkan gorden jendela. "Mika juga... eh, maksudnya Mika juga kangen masakan Mama. Mama sehat-sehat ya di sana? Jangan telat makan, ntar lambungnya kumat."
Alvaro di seberang sana terkekeh rendah. Ia tahu Mika sedang bersandiwara. "Kamu pintar sekali berbohong. Bilang sama teman-temanmu, 'Mama' kamu ini bulan depan akan ada rapat koordinasi di Jakarta. Dan 'Mama' mau menginap di tempat yang dekat dengan kampus kamu."
Mika membelalakkan mata. "Serius, Ma?! Wah, asyik dong! Nanti Mika jemput ya kalau Mama jadi ke sini."
"Tunggu aku, Mikayla. Aku tutup dulu ya, ada warga yang datang mau urus surat nikah. Rasanya aku pengen bilang ke mereka kalau Pak Kadesnya juga mau urus surat nikah sendiri di Jakarta, tapi belum bisa."
"Ih, Mama apaan sih! Udah ya Ma, Mika mau masuk kelas. Love you, Ma!"
Mika mematikan telepon dengan wajah merah padam. Ia berbalik dan mendapati Siti, Asia, dan Arga sedang menatapnya dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan. Arga bahkan sampai berhenti membolak-balik jurnalnya.
"Nyokap lo sejak kapan panggil lo 'Neng', Mik?" tanya Siti penuh selidik. "Setau gue, nyokap lo kan orang Manado, biasanya manggil 'Sayang' atau 'Ade', bukan pake logat Jawa-Sunda kayak gitu."
"Iya... itu... Mama kan habis nonton sinetron yang latarnya di desa! Jadi dia ketularan!" jawab Mika ngasal, berusaha berjalan sekeren mungkin menuju kursinya.
Arga berdehem pelan. "Mik, kalau itu emang nyokap lo, kenapa muka lo kayak habis dapet transferan satu miliar? Berseri-seri banget."
Mika melemparkan tasnya ke atas meja. "Ya iyalah, namanya juga kangen orang tua! Lo bertiga mending fokus deh, tuh Pak Hendra udah dateng di koridor!"
Benar saja, Pak Hendra masuk ke kelas dengan membawa tumpukan map. Namun, fokus Mika benar-benar buyar. Kata-kata Alvaro bahwa dia akan ke Jakarta bulan depan terus berputar di kepalanya. Ia membayangkan bagaimana reaksi teman-temannya jika melihat sang Kepala Desa yang "Dajjal" itu tiba-tiba muncul di depan gerbang fakultas dengan kemeja rapi dan buket bunga.
"Oke, semuanya silakan duduk," suara Pak Hendra menggelegar. "Hari ini saya akan memberikan hasil akhir nilai KKN kalian. Dan secara khusus, saya mendapatkan surat apresiasi dari Kepala Desa Asih untuk tim kalian, terutama untuk koordinator kalian, Mikayla."
Siti menyenggol lengan Mika sambil berbisik tajam. "Tuh kan, 'surat apresiasi' atau 'surat cinta' tuh? King lo bener-bener nggak bisa lepas ya dari lo?"
Mika hanya bisa menunduk, menyembunyikan senyum bahagianya di balik buku catatan. Di jarinya, cincin perak itu terasa menghangat. Lima belas hari di desa mungkin sudah berakhir, tapi babak baru di Jakarta baru saja dimulai, dan ia tahu, petualangannya bersama Alvaro akan jauh lebih menantang di bawah lampu kota daripada di bawah rimbunnya pohon jati.