Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api yang menyatu
Malam itu, setelah keriuhan istana mereda, Yue Yan membawa Ling Chen ke Taman Rahasia Api, sebuah oasis tersembunyi di belakang paviliun pribadinya. Taman ini bukan sembarang tempat—dindingnya dikelilingi formasi qi kuno yang menyerap energi api dari gunung berapi di bawah tanah kekaisaran. Pohon-pohon api merah membara tumbuh di sana, daunnya seperti nyala lilin yang tak pernah padam, dan di tengahnya mengalir sungai kecil berair panas yang memancarkan uap hangat, menciptakan suasana seperti mimpi yang hangat dan intim.
Bulan purnama menggantung tinggi di langit, cahayanya memantul di permukaan air, membuat segalanya terasa magis. Udara harum dengan aroma bunga api yang mekar hanya di malam hari, bau manis seperti madu yang dicampur rempah-rempah, membangkitkan rasa damai yang dalam. Ling Chen berdiri di tepi sungai, merasakan angin malam menyentuh kulitnya, membawa hembusan hangat yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Yue Yan, mengenakan jubah sutra tipis berwarna merah muda yang mengalir seperti air, berdiri di depannya. Rambut panjangnya terurai bebas, bergoyang pelan ditiup angin, dan matanya yang biasanya tajam sekarang terlihat lembut di bawah cahaya bulan. "Ini tempat favoritku untuk kultivasi," katanya pelan, suaranya seperti bisikan angin yang membelai telinga. "Di sini, energi api lebih murni, lebih... intim. Kita bisa latihan bersama tanpa gangguan."
Ling Chen mengangguk, tapi matanya tak bisa lepas dari Yue Yan. Di dunia lamanya, dia tak pernah merasakan keintiman seperti ini—hanya kesepian dan rasa sakit. Sekarang, dengan Yue Yan di depannya, hatinya terasa hangat, seperti api kecil yang mulai menyala di dadanya. "Aku siap, Tuan Putri. Ajari aku."
Yue Yan tersenyum tipis, senyum yang jarang dia tunjukkan, membuat wajahnya semakin cantik. Dia mendekat, jarak mereka begitu dekat hingga Ling Chen bisa merasakan panas tubuhnya. "Panggil aku Yan'er saja saat kita sendirian. Dan kau... Chen'er." Kata-kata itu keluar lembut, seperti undangan ke dunia yang lebih pribadi.
Mereka duduk saling berhadapan di atas batu datar di tepi sungai, lutut mereka hampir bersentuhan. Yue Yan mengulurkan tangannya, telapaknya menghadap atas. "Untuk latihan pertama, kita akan lakukan Dual Kultivasi Dasar. Bukan yang... intim seperti pasangan sungguhan, tapi menyatukan qi kita. Ini akan mempercepat kemajuanmu. Pegang tanganku, dan biarkan qi apimu mengalir ke arahku."
Ling Chen ragu sebentar, tapi dia menggenggam tangan Yue Yan. Kulitnya lembut seperti sutra, hangat seperti api yang tak membakar. Saat telapak mereka bersentuhan, gelombang qi api murni mulai mengalir. Benih Api Leluhur di dantian Ling Chen berdenyut, menyatu dengan energi Yue Yan yang lebih kuat, seperti dua sungai yang bertemu dan menjadi satu.
"Pejamkan matamu," bisik Yue Yan. "Rasakan alirannya. Qi-ku seperti api yang lembut, milikmu seperti api baru yang penuh semangat. Biarkan mereka menari bersama."
Ling Chen memejamkan mata, dan dunia sekitar hilang. Hanya ada sensasi hangat yang menyebar dari tangannya ke seluruh tubuh. Dia bisa merasakan detak jantung Yue Yan melalui qi mereka, ritmenya selaras dengan miliknya. Gambar-gambar muncul di pikirannya: Yue Yan kecil yang berlatih sendirian di taman ini, kesepiannya sebagai putri mahkota, tekanan dari ayah dan ibunya. Dan Yue Yan juga merasakan kenangan Ling Chen—kesedihannya, tekadnya untuk bangkit.
Waktu terasa melambat. Angin malam membelai wajah mereka, daun-daun api berdesir pelan seperti musik latar yang romantis. Uap dari sungai naik, menciptakan kabut tipis yang membuat suasana semakin akrab, seperti pelukan lembut dari alam.
Tiba-tiba, Yue Yan membuka mata, wajahnya sedikit merona. "Chen'er... qi-mu begitu murni. Itu membuat hatiku... bergetar." Suaranya pelan, hampir malu-malu, sesuatu yang tak biasa dari putri yang selalu tegas.
Ling Chen membuka mata, menatapnya dalam-dalam. "Yan'er... terima kasih telah memilihku. Di dunia lamaku, aku tak pernah punya seseorang seperti kau. Kau memberiku harapan baru."
Yue Yan menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Ling Chen, dan untuk pertama kalinya, ada kilauan emosi di sana—bukan sebagai putri, tapi sebagai wanita. "Aku juga... kesepian selama ini. Denganmu, rasanya berbeda. Seperti api yang akhirnya menemukan pasangannya."
Mereka diam sejenak, tangan masih bergenggaman. Angin malam semakin lembut, membawa aroma bunga yang lebih kuat, membuat hati mereka terhanyut dalam suasana damai itu. Ling Chen merasakan dorongan, dan pelan, dia mendekatkan wajahnya. Yue Yan tidak mundur; malah, matanya tertutup pelan saat bibir mereka hampir bersentuhan. Ciuman pertama itu lembut, seperti hembusan api hangat yang menyatu, penuh janji dan kelembutan.
Qi mereka meledak pelan, membuat daun-daun di sekitar bergoyang lebih cepat, seolah alam ikut merayakan momen itu. Ling Chen naik level lagi, ke Fondasi Qi tingkat 5, tapi itu bukan yang terpenting. Yang penting adalah ikatan baru yang terbentuk di antara mereka—bukan hanya kontrak, tapi sesuatu yang lebih dalam.
Setelah ciuman itu, Yue Yan mundur sedikit, wajahnya merah. "Latihan... selesai untuk malam ini. Besok kita lanjutkan dengan teknik Api Abadi Yue."
Ling Chen tersenyum, hatinya penuh. "Aku tak sabar, Yan'er."
Di kejauhan, bayangan musuh mengintai, tapi malam itu, di taman rahasia, hanya ada mereka berdua—dua jiwa yang saling menemukan dalam lautan api.