NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Saat Laras duduk, kepala sekolah melangkah masuk ke dalam kelas dari pintu depan. Belum lama Laras duduk, dia langsung dipanggil.

"Laras Putri Salsa," panggilnya dengan keras dari depan.

Laras langsung berdiri dari kursi mejanya. "Iya, Pak," jawabnya sambil mengangkat tangan.

"Maju ke depan," ucap kepala sekolah.

Laras mengangguk, lalu melangkah mendekat ke kepala sekolah hingga berhadapan. Kepala sekolah pun langsung berbicara, "Kamu perkenalkan nama."

Laras mengangguk, lalu mengalihkan tatapannya ke arah murid-murid yang duduk di kursi meja masing-masing.

Laras menarik napas kasar. "Hai, semuanya, nama saya Laras Putri Salsa. Sebelumnya saya sekolah di SMA 1 Kota Serang," ucapnya sambil tersenyum.

"Laras, silakan duduk," ucap kepala sekolah.

"Baik, Pak," jawab Laras, sambil menganggukkan kepalanya, lalu dia pun melangkah menuju kursinya.

Saat kepala sekolah duduk di kursi guru, dari pintu terlihat seorang guru wanita melangkah masuk. Kepala sekolah pun berdiri sambil berbicara, "Bu Meli, kalau begitu silakan duduk."

"Iya, Pak," jawabnya. Lalu kepala sekolah pun melangkah pergi meninggalkan ruangan kelas itu.

Tak lama Bu Meli melangkah dan duduk sambil berbicara, "Hari ini katanya ada murid baru, apa sudah perkenalan?" tanya Bu Meli sambil menatap murid yang berada di kursi meja.

"Sudah, Bu," jawab salah satu murid paling depan.

"Kalau begitu, kita langsung masuk ke pelajaran pertama," ucapnya. Bu Meli pun langsung membuka buku dan mulai belajar.

Dari kursi meja, Arif duduk sesekali melihat ke arah kanan, ke Laras yang sibuk membuka buku.

Arif begitu fokus, bahkan dia tersenyum memperhatikan Laras. Dalam hatinya dia lupa dengan masa lalunya, hanya merasa dia menemukan hal yang baru.

"Kok, gue merasa kaya ada yang aneh sama Laras, apa gue suka ya?" gumam Arif sambil tersenyum-senyum sendiri.

Saat Laras mengalihkan tatapannya ke arah Arif, dia langsung tersenyum, sedangkan Arif merasa malu dan mengalihkan tatapannya ke depan.

Di sisi lain, Sasa sedang berada di ruangannya, di dalam kantornya. Dia sedang duduk, dan menatap laptop di mejanya. Dari arah pintu, terdengar suara mengetuk.

Tok, tok, tok.

"Masuk," ucap Sasa tanpa mengalihkan tatapannya dari laptopnya.

Pintu pun dibuka, dan seorang wanita masuk ke dalam ruangan. Di depan meja Sasa, wanita itu pun berbicara, "Mba Sasa, ada Mba Wita, ingin bertemu sama Mba."

"Ya sudah, suruh tunggu," ucap Sasa. Dia pun menutup laptopnya.

Wanita itu pun berlalu pergi, dan kembali menutup pintu kantornya. Sasa menatap kepergian wanita itu.

Sasa berdiri, lalu dia pun melangkah pergi dari ruangan itu, untuk bertemu dengan tamu.

Sasa melangkah melewati lorong, menuju ke ruangan meeting. Di depan pintu Sasa membuka dan melangkah masuk.

Bu Wita yang sedang duduk sendirian, dia pun berbicara, "Mba Sasa, selamat siang," ucapnya disertai senyuman.

"Tumben ke sini, ada apa?" tanya Sasa sambil duduk dan tersenyum menatapnya.

"Gini, Mba, saya ingin mengajak buat kerja sama. Gimana, Mba, apa setuju?" ucap Wita menatap lekat ke arah Sasa.

Wita menggeser beberapa surat dan lokasi di atas meja itu. Sasa langsung mengambil dan melihat-lihat.

Tatapan Sasa terus tertuju ke lokasi, gambar, dan dokumen yang berada di dalam surat-surat itu. Sasa memperhatikan setiap lembarnya.

"Gimana, Mba?" tanya Wita sambil memperhatikan Sasa.

Sasa menaruh kembali surat-surat itu di atas meja, lalu dia pun berbicara, "Saya tertarik, tapi saya ingin melihat lokasinya dulu, biar perkembangannya lebih jelas untuk ke depannya. Saya juga enggak bisa langsung mengambil keputusan," kata Sasa sambil menatap Wita.

"Baik, Mba, jadi buat survei lokasinya kapan?"

"Gimana kalau nanti hari libur saja, soalnya hari ini masih banyak kerjaan yang belum selesai."

"Baiklah, Mba, kalau begitu saya pamit," kata Wita sambil berdiri dari kursi itu.

"Baik, kalau nanti sudah enggak sibuk, aku kabarin kok. Nomor kamu masih yang lama kan?" Sasa ikut berdiri.

"Iya, Mba, ditunggu kabar baiknya," kata Wita lalu melangkah sambil diikuti Sasa dari belakang.

Sementar itu, Di jam pelajaran, Ryuken berdiri. "Bu, saya izin ke toilet," kata Ryuken sambil menahan perutnya.

"Jangan lama-lama ya," ucap Bu Meli dari depan.

Ryuken lalu melangkah, dari belakang Laras ikut berdiri dan berbicara, "Bu, saya juga, enggak tahan."

"Ya sudah, jangan lama-lama," ucap Bu Meli. Dia mulai mengalihkan tatapannya ke arah Laras yang berdiri.

Laras langsung melangkah dengan terburu-buru keluar dari kelas. Sesampainya di luar, dia langsung menuju ke toilet.

Dia melangkah dengan terburu-buru melewati setiap jendela kelas dan menuju ke pintu toilet.

Dari dalam toilet, Laras melangkah sambil memperhatikan setiap dinding, sampai terlihat toilet khusus wanita. Dia melangkah masuk ke dalam dan terburu-buru.

Hingga beberapa saat kemudian.

Selesai buang air kecil, Laras melangkah keluar. Saat keluar dari pintu toilet, di depan teras sekolah, Laras terhenti langkahnya dengan tatapan lekat ke Ryuken.

"Lo, kok ke toilet juga?" tanya Ryuken dengan tatapan lekat ke arahnya.

"Kebelet, soalnya takut jadi penyakit kalau ditahan," jawab Laras.

"Iya juga sih, eum, kita belum kenalan, nama ku Ryuken." Ryuken sambil tersenyum menaikan tangannya untuk bersalaman.

"Salam kenal, kalau gitu aku duluan ya," kata Laras sambil menatap dan mengabaikan tangan Ryuken. Dengan terburu-buru dia melangkah pergi untuk menuju kelasnya kembali.

Ryuken masih berdiri mematung sambil menaikan tangan, menatap kepergian Laras. Dia pun menurunkan tangannya, sambil berbisik, "Sial, malah langsung pergi gitu aja." Ryuken menarik napas kasar, lalu melangkah untuk kembali ke kelasnya.

Sedangkan Arif yang berada di dalam kelas, dia sedang sibuk menulis. Saat Laras melangkah masuk, tatapan Arif langsung tertuju ke arah Laras, bahkan tatapannya tak lepas hingga Laras duduk di kursinya.

Laras yang mengalihkan tatapannya ke arah Arif, dia merasakan sesuatu. Dalam hatinya dia berkata, "Kok, Arif merhatiin terus ya?" gumam Laras dalam hatinya, lalu tersenyum manis. Arif langsung mengalihkan tatapannya.

Arif yang melihat senyuman Laras, dia langsung merasa jantungnya berdebar-debar, bahkan dalam hatinya berbicara, "Manis banget sih senyumnya," gumam Arif.

Tanpa menyadari Ryuken yang melangkah memerhatikan Arif, di depan kursi Arif, Ryuken langsung menepuk meja.

Bug.

"Jir, ngagetin aja," kata Arif sambil mengalihkan tatapan ke Ryuken.

"Bengongin apa sih, Bre?" tanya Ryuken sambil tersenyum.

"Enggak ada, jir."

"Terus senyum-senyum kenapa?"

"Enggak ada apa-apa, cuma lagi senang aja."

Dari kursi guru, Bu Meli memperhatikan Ryuken, lalu Bu Meli pun berbicara, "Ryu, kamu ngapain masih di situ, cepet duduk," ucapnya.

"Hehe, iya, Bu, cuma lagi lihat Arif nulis apa enggak," kata Ryuken sambil melangkah menuju kursinya.

"Arif," ucap Bu Meli dengan keras dengan tatapan lekat ke arahnya.

"Ini lagi nulis, Bu," kata Arif sambil menatap Bu Meli, lalu mengalihkan tatapannya ke arah Ryuken yang tersenyum sambil duduk memperhatikannya.

Ryuken tersenyum, Arif yang menatapnya, dia berbicara pelan, "Bjir lah."

1
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
DuttaStory_: Banyak ke Potong, 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!