Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-8
"Dan mamah juga tahu betapa angkuhnya dia saat merendahkan Indri yang hanya seorang anak dari supir keluarga nya..."
"Itu dulu saat jera masih kecil Ron, sekarang dia udah dewasa sudah lebih bisa mengontrol dirinya sendiri.." jawab Bu Selyn lagi
"Jadi mamah mohon, untuk kamu mau memaafkan jera, please demi mamah sama papah..." pinta Bu Selyn sungguh sungguh, bahkan ia hingga pindah posisi duduk ke sebelah Demian menggenggam erat tangan putranya agar mau memaafkan putri angkat nya.
Namun Demian yang keras kepala, melepaskan genggaman sang ibunya lalu berkata dengan dingin nya.
"Apa kalian tidak pernah merasakan sedih sedikitpun saat kehilangan cucu kalian yang tengah dikandung Indri saat itu?" tanyanya dingin dengan mata tajam yang menatap lurus bergantian ke arah orang tua nya.
Bu Selyn hanya menarik nafas dengan berat, karena nyatanya mereka tidak paham bagaimana bisa Demian mengeklaim benih yang dulu dikandung Indri adalah miliknya.
"Tapi tidak ada bukti jika itu benih mu Ron..." jawab pak Benedict tak kalah dingin yang sejak tadi diam dan hanya mengeluarkan beberapa kata saja.
"Hahhahahahha...." Demian tertawa sumbang seraya mengusap ujung matanya dengan lembut.
"Ternyata kalian masih sama, masih mencurigai Indri dan tetap mempercayai si pembawa sial!!!" ucap Demian berdecak tanpa menghiraukan ekspresi kedua orang tuanya yang mulai memanas.
"Jaga ucapan mu Demian!!!!" bentak Benedick dengan suara tinggi hingga tubuhnya bangkit dari duduknya.
"Dan jangan lupa, Hajeera juga adik mu yang harus kamu lindungi, tanpa keluarganya kita bisa saja tengah merangkak di jalanan hanya demi sesuap nasi.." lanjut pak Benedict dingin lalu mengajak istrinya untuk pergi.
"Ayok kita pulang mah..." ajak pak Benedict bergegas berjalan terlebih dahulu meninggalkan Demian yang tengah mati Matian menahan amarahnya.
"Mamah mohon sayang, pikirkan kembali ucapan mamah, mamah amat tahu kamu begitu menyayangi Hajeera bahkan sedari Hajeera belum lahir ke dunia ini.." ucap Bu Selyn dengan mata berkaca, lalu memeluk sang putra yang tengah menahan amarahnya dengan tangan yang mengepal.
"Mamah mencintai mu sayang, Assalamualaikum..." ucapnya lalu berlalu dari sana meninggalkan Demian seorang diri.
Setelah kepergian kedua orang tuanya Demian hanya bisa menarik nafasnya, ia benar benar tak habis pikir mengapa orang tuanya begitu menutup mata atas sikap Hajeera selama ini hanya karena Hajeera adalah anggota keluarga orang yang telah menyelamatkan hidup mereka
Kemudian Demian membuka brankas miliknya yang berisi beberapa minuman mahal dan cukup langka, ia mengambil sebotol wiski dan meneguknya perlahan langsung dari dalam botolnya.
Tiba tiba saja ia tertawa mengingat kejadian semalam di mana ia melihat Hadriana yang menghadiahkan sebotol Macallan pada Simon agar Simon mau melepaskan temannya, namun sialnya Hadriana hanya ingin menghadiahkan nya satu gelas wiski saja yang membuat perutnya tergelitik karena aksinya yang lucu dan cukup pemberani saat menghadapi seorang Simon yang notabenenya putra seorang pejabat pemerintahan dan pewaris tahta perusahaan Caroline.
Tok tokk...
Tak berselang lama asisten nya masuk ke dalam ruangan nya, ia membawa sebuah paper bag kecil yang entah berisi apa.
"Maaf pak, tadi pagi saya ketiduran di palbet sebelah, ternyata teman anda sudah pulang lebih dulu tanpa memakai sendal, dan ini sendalnya..." lapornya seraya menyerahkan paperbag merah yang berisi sendal high heels milik Hadriana.
"Sekali lagi saya minta maaf pak atas keteledoran saya.." ujarnya lagi sangat merasa bersalah atas tindakan nya malah ikut tertidur.
"Gak papa, thanks sudah melapor, jika sudah selesai kamu boleh keluar..." jawabnya tanpa keberatan padahal hatinya sedikit khawatir saat mendengar Hadriana pergi sendiri dari rumah sakit.
Setelah Haris keluar dari ruangannya, Demian buru buru merogoh sakunya dan menekan nomer ponsel temannya untuk mencari tahu kabar Hadriana.
Tuttttt.... Tutttttt....
Tak menunggu lama Jack langsung mengangkat telepon nya dengan cepat.
"Halo Dem? Ada apa pagi pagi?" tanya Jack dari seberang sana.
"Sebentar sayang.." pintanya
Demian mendengus kesal saat mendengar suara temannya yang tengah bersama seorang wanita pastinya.
"Ada apa?" tanya Jack lagi
"Gimana kabar Hadriana? Apa udah baikan?" tanya Demian yang membuat Jack sedikit kebingungan.
"Waittt... Apa yang terjadi di antara kalian? Jangan bilang loh---- ucapannya terhenti karena selaan Demian.
"Jangan ngaco, semalem Hadriana pingsan akibat shock,..."
"Gue bawalah ke rumah sakit, eh dia malah kabur sampe ninggalin ni sendal nya.. Gue cuman mau balikin sendalnya..." ujar Demian mencoba menjelaskan.
"Shitttt.... Gue pikir Ana udah loh taklukin, gak heran sih gue kalo gak terjadi apa apa diantara kalian.."
"Yaudah, nanti loh bawa ke tempat kerja gue, kalo gak gue ambil deh sore ke sana..." jawab Jack yang langsung membuat Demian menarik nafasnya dengan malas.
"Heh kampret!!! Itu cewek loh masih di ranjang sempet sempetnya loh mau ketemu driana, kasih ajah nomer telepon nya nanti biar asisten gue yang kasih..." ujar Demian yang membuat Jack tertawa menggelitik.
"Alesan loh kadal, bentar gue kirimin..."
"Oke"
Klingggg...
Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel yang tangah di pegang Demian, tanpa menunggu lama Demian langsung mengirimi Hadriana sebuah pesan berupa foto sendal high heels miliknya dan beberapa kata.
"Jika ingin mengambil sendal, datang ke restoran yang berada di gedung xx31 pukul 18 malam..."
Di seberang sana, Hajeera yang menerima pesan dari nomer asing langsung membuka nya karena cukup penasaran kebetulan saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12 yang artinya waktunya ia pulang ke rumah.
"Liat apa Jer?" tanya Livia pada Hajeera yang masih duduk di kursinya.
"Orang yang nolongin gue semalem mau balikin sendal gue yang ketinggalan...." jawab Hajeera
"Terus?" tanya Livia dan maspupah berbarengan layaknya Upin Ipin
"Yah gue males ajah, ngapain gue ambil toh gue masih bisa beli bahkan tokonya kalo di jual gue beli...." jawab Hajeera dengan gaya sombongnya yang ngampung.
"Tapi, karena wajahnya yang cukup tampan dan Hajeera yang baik hati ini harus membalas Budi, ya sudahlah kita temui saja..." lanjut nya dengan nada centil.
"Aishhh .... Sialan loh jer, emang mata loh tuh ke laki ganteng nyantol terus, heran dah gua..." ujar Maspupah yang cukup heran dengan aksi temannya.
"Menyesuaikan pup...." jawab Livia.
"Kita berdua tahu, secantik apa teman kita yang imut ini..." lanjut Livia dengan wajah yang di imut imutkan dan mata puppy eyes nya yang menggemaskan.
Hahahahha
Mereka bertiga pun tertawa, menertawakan berbagai hal, Mulai dari wajah Livia yang di imut imutkan sampai wajah Hajeera yang sengaja memakai make up yang lebih gelap dari tone up nya hingga wajahnya terlihat Kumal dan sedikit jelek.