Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Ibu Siti Sakit
#
Hari itu Naura sedang menjahit seperti biasa. Jarinya yang sudah penuh luka terus bergerak lincah meski perih. Dia sudah selesai dua puluh potong baju sejak pagi. Lumayan, dapat sepuluh ribu rupiah. Cukup buat beli beras dua kilo dan sayur seadanya.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kontrakan dengan keras. Buru buru. Panik.
Tok tok tok tok!
"Naura! Naura buka pintunya!"
Itu suara Zahra, sahabatnya. Tapi suaranya aneh. Seperti habis lari. Seperti ketakutan.
Naura langsung berdiri dan membuka pintu. Zahra berdiri di depan pintu dengan napas ngos ngosan. Wajahnya pucat. Matanya berkaca kaca.
"Zah, kenapa? Kamu kenapa?"
"Naura... ibumu..."
Jantung Naura langsung berhenti sedetik. Napasnya tertahan. "Ibu kenapa?"
"Ibumu... ibumu di rumah sakit. Stroke. Tadi pagi tiba tiba jatuh di dapur. Bibi Fatimah yang nemu. Sekarang lagi di UGD rumah sakit umum."
Dunia Naura berputar.
Kaki lututnya lemas. Dia hampir jatuh kalau Zahra nggak nahan.
"Ibu... Ibu kenapa? Ibu... Ya Allah..." Suaranya bergetar parah. Napasnya mulai sesak.
"Naura, tenang dulu. Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Aku anterin."
"Tapi... tapi aku... Mas Zidan... Mas Zidan belum pulang... aku... aku harus ngabarin Mas dulu..."
Tangan Naura gemetar waktu ambil handphone jadul di sudut ruangan. Dia pencet nomor Zidan berkali kali tapi meleset terus karena tangannya nggak bisa diam. Akhirnya berhasil. Sambung.
Nada tunggu. Satu. Dua. Tiga.
"Halo, sayang? Kenapa? Ada apa?"
Begitu dengar suara Zidan, Naura langsung pecah. Nangis keras. Nggak bisa ngomong.
"Naura! Naura kenapa? Kamu kenapa? Ada apa? Jawab aku!"
"Mas... Mas... Ibu... Ibu di rumah sakit... stroke Mas... aku... aku nggak tahu harus gimana..."
Hening sebentar.
"Aku pulang sekarang! Tunggu aku di sana! Jangan kemana mana dulu! Aku akan urus semuanya!"
Tut.
Sambungan putus.
Naura masih memegang handphone dengan tangan gemetar. Air matanya nggak berhenti. Zahra memeluknya erat.
"Naura, ayo kita ke rumah sakit dulu. Zidan nyusul. Ibumu butuh kamu sekarang."
Naura mengangguk pelan sambil terisak. Dia ambil kerudung asal asalan, pakai sandal jepit lusuh, lalu ikut Zahra naik ojek ke rumah sakit.
Sepanjang jalan, Naura nggak berhenti nangis. Tangannya meremas ujung kerudungnya sampai kusut. Pikirannya kacau. Berantakan.
Ibu. Ibu stroke. Ibu yang kemarin masih sehat. Ibu yang seminggu lalu masih ketawa waktu ngobrol. Ibu yang selalu kuat. Ibu yang selalu ada buat dia. Sekarang terbaring di rumah sakit.
Kenapa? Kenapa Ibu? Kenapa harus Ibu?
Sesampainya di rumah sakit, Naura langsung lari ke UGD. Dia lihat Ibu Siti terbaring di ranjang dengan selang infus di tangan. Wajahnya pucat. Mulutnya miring sebelah. Matanya setengah terbuka tapi kosong. Nggak fokus.
"Ibu!" Naura berlari ke samping ranjang sambil menangis keras. "Ibu, ini aku. Naura. Ibu... Ibu bangun... Ibu..."
Dia pegang tangan ibunya yang dingin. Sangat dingin. Tangan yang dulu selalu hangat waktu mengusap rambutnya sekarang dingin kayak es.
"Ibu, please... jangan gini... Ibu harus sembuh... Naura butuh Ibu... Naura nggak bisa hidup tanpa Ibu..."
Ibu Siti nggak merespon. Cuma mata yang bergerak sedikit. Tapi nggak bisa fokus. Nggak bisa ngomong.
Bibi Fatimah, tetangga yang nemu Ibu Siti, berdiri di samping sambil nangis juga. "Naura Nak, sabar ya. Ibu kamu pasti sembuh. Kita doain aja."
Naura nggak bisa jawab. Dia cuma bisa nangis sambil peluk tangan ibunya. Nangis sampai nggak ada suara. Cuma isak yang keluar.
Setengah jam kemudian, Zidan datang dengan napas ngos ngosan. Bajunya basah keringat. Wajahnya panik. Begitu lihat Naura nangis di samping ibunya, dia langsung peluk istrinya dari belakang.
"Naura, aku di sini. Aku udah datang."
Naura menoleh lalu langsung peluk Zidan erat sambil nangis di dadanya. "Mas... Ibu... Ibu kenapa? Kenapa Ibu jadi gini?"
Zidan mengusap punggung istrinya pelan sambil menatap Ibu Siti yang terbaring lemah. Dadanya sesak. Matanya mulai panas. Tapi dia harus kuat. Dia harus jadi tiang buat Naura sekarang.
"Ibu akan sembuh. Percaya sama aku. Ibu akan sembuh."
Dokter jaga datang dengan clipboard di tangan. Wajahnya serius.
"Keluarga pasien atas nama Siti?"
Zidan dan Naura langsung berdiri. "Iya Dok, kami."
"Pasien mengalami stroke iskemik. Penyumbatan pembuluh darah di otak sebelah kiri. Makanya sekarang tubuh sebelah kanan lumpuh dan bicara terganggu. Kami harus rawat inap minimal satu minggu untuk observasi dan terapi. Setelah itu butuh fisioterapi rutin."
Naura gemetar dengar penjelasan dokter. "Terus... terus Ibu bisa sembuh nggak Dok?"
"Tergantung penanganan. Kalau cepat ditangani dan rutin terapi, ada kemungkinan besar bisa pulih. Tapi butuh waktu. Bisa berbulan bulan."
"Berapa biayanya Dok?" tanya Zidan dengan suara serak.
Dokter melirik clipboard. "Untuk rawat inap seminggu plus obat obatan dan pemeriksaan, estimasi sekitar tiga juta rupiah. Belum termasuk fisioterapi nanti."
Tiga juta.
Angka itu kayak hantaman palu di kepala Zidan.
Dia dan Naura cuma punya uang tabungan lima ratus ribu. Itupun buat bayar sewa kontrakan bulan depan. Dari mana dia dapat tiga juta?
"Dok, boleh dicicil nggak?" tanya Zidan pelan.
"Maaf Pak, untuk biaya rumah sakit harus dibayar tunai. Minimal setengahnya dulu sebagai DP."
Setengahnya. Satu setengah juta.
Zidan menunduk. Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. Dia nggak tahu harus gimana.
Naura yang lihat ekspresi suaminya langsung paham. Mereka nggak punya uang. Mereka nggak bisa bayar.
"Dok, please... kasih kami waktu. Ibu saya... Ibu saya harus dirawat. Saya mohon..." Naura jatuh berlutut di depan dokter sambil menangis.
"Bu, tolong berdiri. Saya paham kondisi Ibu. Tapi ini aturan rumah sakit. Kami nggak bisa..."
"Dok, saya akan cari uangnya. Saya janji. Tapi tolong rawat ibu saya dulu. Saya mohon..." Zidan ikut membungkuk dalam.
Dokter menarik napas panjang. Dia kasihan juga. "Baik. Saya kasih waktu sampai besok sore. Kalau besok sore belum ada pembayaran minimal setengahnya, kami terpaksa harus pindahkan pasien ke kelas tiga atau rujuk ke RS lain."
"Terima kasih Dok. Terima kasih banyak." Zidan membungkuk berkali kali.
Setelah dokter pergi, Zidan dan Naura duduk di kursi tunggu dengan pikiran yang kacau. Naura masih nangis pelan sambil sesekali melirik ke arah ibunya yang terbaring di balik tirai.
"Mas, kita mau pinjam kemana?" tanya Naura dengan suara parau.
Zidan mengusap wajahnya kasar. Pikirannya berputar cepat. Nyari jalan keluar.
"Aku... aku coba pinjam ke Mas Hadi dulu. Atau ke bos angkot. Atau..."
"Mas Hadi kemarin kan baru nikah. Uangnya pasti abis. Bos angkot juga pasti susah kasih pinjaman gede gede."
"Terus kita harus gimana? Aku nggak bisa lihat ibu mertua aku kayak gini! Aku harus dapet uang itu!"
Zidan berdiri sambil jalan mondar mandir. Tangannya menggosok kepala dengan frustasi. Naura cuma bisa nangis sambil menatap kosong.
Bibi Fatimah yang dari tadi diam tiba tiba bicara. "Zidan, Naura... aku... aku punya sedikit uang tabungan. Nggak banyak. Cuma lima ratus ribu. Kalau mau, ambil aja."
Naura langsung menatap Bibi Fatimah dengan mata berkaca kaca. "Bibi... itu uang Bibi buat apa? Bibi nggak usah kasihan sama kami..."
"Bukan kasihan Nak. Tapi karena aku sayang sama ibumu. Dia temen baikku. Aku nggak bisa lihat dia kayak gini tanpa bantuin apa apa."
"Tapi Bibi..."
"Udah, nggak usah banyak bicara. Nanti malem aku anterin uangnya ke kontrakan kalian."
Zidan menunduk dalam sambil menahan tangis. "Terima kasih Bibi. Kami akan kembalikan uang ini secepat mungkin."
"Nggak usah buru buru. Yang penting ibunya Naura selamat dulu."
Naura memeluk Bibi Fatimah sambil nangis lagi. "Terima kasih Bibi. Terima kasih..."
Malam harinya, setelah Ibu Siti dipindahkan ke ruang rawat inap kelas tiga yang penuh sesak dengan sepuluh ranjang lain, Zidan dan Naura pulang ke kontrakan dengan hati remuk.
Sesampainya di kontrakan, Zidan langsung masuk ke kamar mandi kecil di belakang. Naura duduk di kasur sambil memeluk lututnya. Matanya kosong. Pikirannya kosong.
Ibu. Ibu sakit. Ibu butuh uang. Uang banyak. Dari mana?
Tiba tiba dia dengar suara dari kamar mandi. Suara isak. Pelan. Tertahan.
Zidan nangis.
Naura langsung berdiri dan berjalan pelan ke arah kamar mandi. Pintunya nggak ditutup rapat. Dia mengintip sedikit.
Zidan duduk di lantai kamar mandi yang lembab. Kepala dia sandarkan di dinding. Tangannya menutupi wajah. Tubuhnya bergetar.
Dia nangis.
Nangis diam diam.
Nangis yang ditahan dengan susah payah.
"Ya Allah... kenapa ujian ini berat banget? Aku... aku nggak punya apa apa... aku nggak bisa apa apa... ibu mertua aku sakit tapi aku nggak bisa bantu... istri aku nangis tapi aku nggak bisa tenangkan... aku ini suami atau apa sih? Aku nggak berguna... nggak berguna..."
Suaranya parau. Penuh penyesalan. Penuh rasa bersalah.
Naura yang dengar itu langsung nggak kuat. Dia masuk ke kamar mandi lalu langsung peluk Zidan dari belakang sambil ikut nangis.
"Mas... jangan bilang kayak gitu... Mas udah berusaha keras... Mas udah jadi suami terbaik buat aku..."
Zidan menoleh. Matanya merah. Basah. Wajahnya hancur.
"Tapi aku gagal Naura... aku gagal jadi suami yang bisa lindungin kamu... aku gagal..."
"Nggak Mas. Mas nggak gagal. Kita... kita cuma lagi ujian. Kita pasti bisa lewatin ini. Kita pasti bisa."
Mereka berpelukan di lantai kamar mandi yang dingin dan lembab. Nangis berdua. Nangis sampai nggak ada air mata lagi. Cuma isak isak kosong yang keluar.
Keesokan harinya, Zidan keliling kampung cari pinjaman. Dia datang ke rumah Mas Hadi. Kakaknya yang baru nikah tiga bulan lalu.
"Dan, maaf ya. Aku bener bener nggak punya uang lebih. Nikahan kemarin aja aku masih ngutang sana sini. Kalau aku punya, pasti aku kasih." Mas Hadi terlihat bersalah.
"Iya Mas, aku ngerti. Nggak apa apa."
Zidan pergi ke rumah bos angkot tempatnya kerja. Pak Joko. Pria gemuk yang galak tapi sebenarnya baik.
"Zidan, aku bisa kasih pinjaman. Tapi maksimal lima ratus ribu. Itupun kamu harus potong gaji tiga bulan ke depan."
Lima ratus ribu. Tambah uang dari Bibi Fatimah jadi satu juta. Masih kurang lima ratus ribu lagi.
"Baik Pak. Terima kasih."
Zidan keluar dari rumah Pak Joko dengan hati berat. Dia jalan kaki menyusuri kampung sambil mikir keras. Lima ratus ribu lagi. Dari mana?
Tiba tiba dia ingat Pak Burhan. Rentenir kampung yang terkenal kejam tapi selalu kasih pinjaman cepat.
Zidan ragu. Dia tahu Pak Burhan itu licik. Bunganya gede. Tapi dia nggak punya pilihan lain.
Dia jalan ke rumah Pak Burhan di ujung kampung. Rumah besar berlantai dua yang mencolok di antara rumah rumah sederhana lainnya.
Dia ketuk pintu. Pak Burhan keluar dengan baju koko putih dan songkok. Wajahnya terlihat ramah tapi matanya tajam.
"Oh Zidan. Tumben datang kesini. Ada perlu apa?"
"Pak, saya... saya mau pinjam uang."
Pak Burhan tersenyum lebar. "Berapa?"
"Lima ratus ribu Pak."
"Bisa. Kapan mau ambil?"
"Sekarang kalau bisa Pak."
"Bisa. Tapi ada syaratnya. Bunga sepuluh persen per bulan. Kalau telat bayar, denda dua puluh persen. Setuju?"
Sepuluh persen per bulan? Itu lima puluh ribu rupiah sebulan hanya buat bunga. Belum pokoknya.
Tapi Zidan nggak punya pilihan.
"Setuju Pak."
"Bagus. Tunggu sebentar."
Pak Burhan masuk ke dalam lalu keluar dengan amplop coklat berisi uang lima ratus ribu rupiah dan selembar kertas.
"Ini uangnya. Ini surat pernyataan. Tanda tangan di sini."
Zidan baca sekilas. Tulisannya njelimet. Tapi dia nggak peduli. Dia langsung tanda tangan.
"Bagus. Ingat ya Zidan. Bayar tiap tanggal lima. Jangan sampai telat. Aku nggak suka orang yang nggak tepat waktu."
"Iya Pak. Terima kasih."
Zidan keluar dari rumah Pak Burhan dengan amplop di tangan. Hatinya campur aduk. Lega karena dapat uang. Takut karena hutang sudah dimulai.
Sore harinya, Zidan datang ke rumah sakit dengan uang satu setengah juta rupiah di tangan. Dia bayar di kasir lalu langsung ke ruang rawat inap tempat Ibu Siti dirawat.
Naura duduk di samping ranjang ibunya sambil mengusap tangan yang lumpuh. Ibu Siti masih belum bisa bicara. Cuma mata yang kadang melirik ke arah Naura.
"Naura, aku udah bayar. Ibu akan dirawat dengan baik sekarang."
Naura menoleh dengan mata berkaca kaca. "Mas dapat uang dari mana?"
"Aku... aku pinjam kesana kemari. Nggak usah pikirin. Yang penting Ibu selamat."
Naura berdiri lalu peluk suaminya erat. "Terima kasih Mas. Terima kasih udah jaga aku dan Ibu."
Zidan membalas pelukan sambil menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya melayang ke surat pernyataan yang dia tanda tangani tadi.
Hutang.
Hutang yang akan jadi beban berat di bulan bulan mendatang.
Tapi dia nggak punya pilihan.
Dia harus selamatkan ibu mertuanya.
Dia harus jadi suami yang bisa diandalkan.
Meski harus bayar dengan hutang yang mencekik leher.
Meski harus kerja lebih keras lagi.
Meski harus rela nggak makan asal istrinya bisa tersenyum.
Karena itulah cinta.
Cinta yang tulus.
Cinta yang rela berkorban tanpa pamrih.
Cinta yang sayangnya... nanti akan hilang ketika harta datang menguasai hati.
Tapi untuk saat ini, Zidan masih murni.
Masih tulus.
Masih mencintai Naura dengan sepenuh jiwa.
Dan Naura tahu itu.
Dia tahu suaminya sedang berjuang mati matian.
Makanya dia peluk Zidan lebih erat lagi.
Bisik pelan di telinga suaminya.
"Aku sayang Mas. Sayang banget."
Dan Zidan cuma bisa tersenyum sambil menahan air mata yang hampir jatuh lagi.
"Aku juga sayang kamu. Lebih dari apapun."
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja