Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Mendengar ucapan Sean barusan, pipi Queen perlahan memerah. Kalimat itu terdengar sangat sederhana dan tidak romantis. Bahkan diucapkan dengan wajah datar seperti biasanya.
Queen menunduk cepat. Di luar, ia terlihat seperti anak kecil yang malu dipuji pamannya. Namun di dalam hati, Alena hampir menjerit.
Apa-apaan itu?!
Jiwa dewasa yang bersemayam di dalam tubuh kecil Queen langsung merinding. Bukan karena tersipu, melainkan karena tidak nyaman.
Sejak awal, Alena tidak pernah benar-benar bisa santai bersama Sean. Tatapan pria itu terlalu tajam. Sikapnya terlalu dingin. Dan aura dominannya selalu membuatnya waspada.
Apalagi mengingat tujuan awal Sean mendekati Queen. Sean ingin otaknya. Sean ingin kecerdasannya. Meski sekarang pria itu terlihat berubah, Alena belum sepenuhnya percaya.
Dan satu hal yang paling jelas, Queen ingin kembali ke Luca.
Remaja itu mungkin cerewet, terlalu protektif, dan kadang sok dewasa. Tapi bersama Luca, ia merasa aman.
Queen menarik napas pelan. Ini kesempatannya. Sean sedang dalam suasana hati yang baik. Perubahan sikapnya terasa nyata sejak semalam.
"Paman," panggil bocah itu.
Sean yang sedang menuang kopi menoleh. "Apa lagi?"
Queen berdiri tegak dan menghampirinya. "Queen ingin sekolah."
Sean terdiam. Hyera yang sedang memakan cookies gosong hampir tersedak.
"Kau bilang apa?" tanya Sean memastikan.
"Sekolah," ulang Queen mantap. "Queen mau punya teman."
Sean menyipitkan mata. "Kau bisa belajar di rumah."
"Tidak sama."
"Aku bisa memanggil guru terbaik untukmu."
"Queen tidak mau guru," balasnya cepat. "Queen mau teman."
Hyera langsung berdiri. "Aku setuju," katanya tanpa ragu.
Sean melirik tajam pada adiknya. "Tidak ada yang bertanya padamu."
"Meski dia jenius, dia tetap anak kecil. Dia butuh adaptasi sosial. Kau tidak mau dia tumbuh jadi sepertimu, kan?" sahut Hyera memberanikan diri mengungkapkan pendapatnya.
Sean menatapnya dingin. Hyera langsung pura-pura sibuk minum kopi.
Queen bergegas maju selangkah. "Kalau Queen sekolah, Queen bisa belajar banyak hal."
Sean masih diam. Ia tahu ada maksud tersembunyi dari keinginannya yang tiba-tiba.
Jika Queen sekolah, berarti dia akan berada di dunia luar.
Dan dunia luar berarti, Luca.
Sean tidak bodoh.
"Tidak," jawabnya singkat.
Queen langsung cemberut.
"Kenapa?"
"Aku bilang tidak, ya, tidak!" itu adalah jawaban menyebalkan khas seorang Sean. Si tembok beton.
Namun Queen tidak menyerah. Ia mendekat lagi.
"Paman, Queen janji akan pulang tepat waktu."
"Tidak."
"Queen juga tidak akan kabur."
Sean mengangkat alis. "Jadi, sebelum ini kau pernah berniat kabur?"
Queen langsung gugup. "Tidak, maksud Queen…"
Hyera menahan tawa. Melihat mereka berdua mirip seperti ayah dan anak yang sedang berdebat.
Ah, Hyera jadi membayangkan bagaimana jika kakaknya itu menikah dan punya anak? Apakah dia masih akan bersikap dingin?
Queen tak menyerah, ia punya senjata terakhir. Queen mengingat sesuatu dari film kartun semalam. Anak kecil yang memohon pada ayahnya.
Queen menarik napas panjang.
Ia berdiri jinjit dan mengecup pipi Sean.
Cup!
Dunia seperti berhenti berputar. Cangkir kopi di tangan Sean hampir jatuh.
Hyera sendiri membelalak. Pelayan di sudut ruangan shock dan pura-pura tidak melihat apa pun. Dan di dalam kepala Alena, ia menjerit histeris.
"Astaga apa yang baru saja aku lakukan?! Aku mencium dia?! Tidak, tidak! Aku akan mandi lumpur! Sabun tiga karung!"
Queen benar-benar merasa ingin berlari ke kamar mandi sekarang juga.
Sedangkan Sean masih berdiri kaku. Wajahnya memerah. Benar-benar merah sampai ke telinga. Ia bahkan lupa bernapas beberapa detik.
"Queen mau sekolah," katanya kecil.
Sean berkedip beberapa kali, lalu tiba-tiba berdeham keras.
"A—atur saja," ucapnya tergagap.
Hyera menganga. "Hah? Secepat ini kakak setuju?"
Sean memalingkan wajah cepat-cepat tanpa menghiraukan ucapan adiknya.
"Hyera. Urus semua keperluan Queen."
"Seriously?!" Hyera hampir melompat dari duduknya.
"Sekolah terbaik di Milan," tambah Sean cepat tanpa menoleh.
"Tapi, Kak—"
Namun pria itu sudah berjalan pergi dengan langkah cepat sebelum Hyera menyelesaikan ucapannya. Sean seperti sedang kabur. Dan Hyera melihat jelas telinga kakaknya merah
Begitu Sean memghilang di balik dinding, Queen dan Hyera saling menatap.
"Kau hebat!" bisik Hyera kagum. "Aku sudah bertahun-tahun mencoba mendapatkan hatinya. Sementara kau hanya butuh satu ciuman!"
Queen tersenyum kaku. Di dalam hati, Alena masih mengumpat tanpa henti.
"Aku akan rendam diri di lumpur. Lumpur gunung berapi. Disinfektan sekalian."
"Aku merasa jiwaku kotor…" gumam Queen lirih tanpa sadar.
Hyera mengernyit. "Apa?"
"Tidak apa-apa, Bibi," jawabnya cepat.
Sementara itu, di luar. Sean berjalan cepat. Sangat cepat.
Ia berhenti di tikungan kosong. Tangan Sean menyentuh pipinya sendiri
"Bocah itu, berani sekali menciumku!" gumamnya pelan. Sean tidak tahu harus marah atau tersenyum.
ternyata Sean juga manusia biasa😌