Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Sebuah Bantuan.
"Jangan salahkan aku jika melakukan hal buruk padamu, Rania."
Rangga bergegas menelepon salah satu temannya untuk meminta bantuan—mencari keberadaan Rania walau wanita itu pergi ke ujung dunia sekalipun. Bahkan jika Rania berada di neraka, dia tetap harus menemukannya.
"Wah Wah... Sudah lama sekali ya, Tuan Rangga," ucap seseorang di sebrang telepon saat panggilannya sudah tersambung.
"Gak perlu basa-basi, Julian. Aku butuh bantuanmu sekarang," balas Rangga dengan tajam.
Julian yang berada di seberang telepon langsung tertawa mendengar ucapan Rangga. "Ah yah, jangan langsung emosi dong, Boy. Aku kan cuma becanda saja." katanya seraya kembali tertawa.
Rangga berdecak kesal mendengar tingkah Julian, lalu dia kembali berkata jika sangat membutuhkan bantuan dari laki-laki itu saat ini juga.
"So, apa yang bisa kubantu?" tanya Julian akhirnya.
"Istriku pergi dari rumah bersama dengan laki-laki, jadi kau harus segera menemukannya," jawab Rangga.
"Pft... Maksudmu, istrimu kabur bersama selingkuhannya? Hahahah." Julian kembali tertawa terbahak-bahak.
"Tutup mulutmu, brengs*ek!" maki Rangga dengan penuh emosi. "Sekali lagi kau tertawa, maka aku akan meratakan markasmu tanpa sisa!" Ancamnya.
Tawa Julian langsung lenyap saat mendengar ancaman Rangga, dia tahu jika laki-laki itu tidak sedang bercanda. "Maaf, aku spontan saja tadi." katanya sembari berdehem.
"Pokoknya kerahkan semua anak buahmu untuk mencari istriku, aku ingin hari ini juga kau bisa menemukannya," perintah Rangga.
"Baiklah, aku akan turun tangan langsung untuk mencari istrimu," jawab Julian.
Rangga lalu mengatakan jika dia akan memberikan berapapun uang yang Julian inginkan asal bisa menemukan Rania, dia bahkan berjanji akan mendukung penuh usaha laki-laki itu walau usaha yang Julian lakukan adalah ilegal.
"Kau tidak akan bisa pergi jauh dariku, Rania," ucap Rangga dengan suara tertahan. Dia lalu semakin melajukan mobilnya setelah mematikan panggilan telepon bersama dengan Julian.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Rania masih berada di rumah Kenzo. Dia yang berniat pamit malah disuruh untuk menunggu laki-laki itu sebentar, entah apa yang ingin Kenzo katakan padanya. Padahal sejak tadi laki-laki itu sama sekali tidak bicara dan malah mengabaikannya.
"Aku harus segera ke kantor pengacara," gumam Rania. Dia menekan ponselnya untuk melihat sudah pukul berapa sekarang, seketika kedua matanya membelalak lebar karena ternyata jam sudah menunjukkan pukul 2 lewat 45 menit. Pantas saja perutnya lumayan lapar, ternyata memang sudah waktunya makan siang. Apalagi tadi pagi dia memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya untuk membohongi Rangga.
Rania beranjak dari sofa, bermaksud untuk mencari Kenzo dan berpamitan pada laki-laki itu. Sepertinya dia harus bertanya pada pelayan yang tadi menghampirinya, atau langsung saja katakan pada pelayan itu bahwa dia akan segera pergi.
"Mau ke mana?"
Rania yang sudah berbalik dan hendak mencari pelayan, seketika menghentikan niatnya saat mendengar suara baritone seseorang. Sontak dia menoleh ke arah sumber suara dan terlihat Kenzo sedang menuruni anak tangga bersama dengan seorang laki-laki.
"Ah, saya ingin mencari Anda," jawab Rania dengan jujur. "Saya harus segera pergi, terima kasih karena tadi telah menolong saya." Dia menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa benar-benar bersyukur sudah ditolong.
Kenzo terus melangkahkan kakinya sampai berdiri tepat di hadapan Rania. "Kau mau ke mana?" tanyanya sekali lagi, dia lalu melirik ke arah laki-laki yang berada di belakangnya untuk meninggalkan mereka.
"Saya mau mencari Anda," jawab Rania. Keningnya berkerut, matanya menatap bingung. Padahal tadi sudah dijawab dengan jelas, tapi kenapa laki-laki itu masih saja bertanya?
Kenzo menghela napas. "Maksudnya pergi ke mana?" katanya dengan tidak sabar, juga merasa kesal karena wanita itu tidak paham dengan apa yang dia katakan.
"Ah, jadi itu maksud pertanyaannya." Rania mengangguk paham. Tapi, kenapa laki-laki itu ingin tahu ke mana dia pergi? Memang apa urusannya dengan Kenzo? Dia merasa tidak mengerti.
Kenzo mendessah, merasa benar-benar tidak sabar, membuat Rania tersentak. "Sa-saya berniat ke kantor pengacara." katanya dengan cepat.
Kenzo terdiam, entah apa yang sedang dia pikirkan saat mendengar ucapan Rania. Sampai akhirnya dia memanggil laki-laki yang dia usir tadi untuk segera menghampirinya.
"Ya, Tuan?" tanya laki-laki bernama Damian—asisten pribadi Kenzo.
"Panggil Andre kemari," perintah Kenzo membuat Damian langsung mengangguk. Kemudian dia beralih melihat ke arah Rania yang terus memperhatikan. "Ayo, makan!" ajaknya sembari melangkah menuju ruang makan.
Rania terkesiap, menatap Kenzo dengan mulut menganga lebar dan kening berkerut yang nyaris membuat kedua alisnya menyatu.
"Apa? Makan katanya?" Rania menatap Kenzo dengan tidak paham. Jelas-jelas barusan dia bilang akan segera pergi, tapi kenapa laki-laki itu malah mengajaknya makan? Sungguh benar-benar orang yang sangat aneh.
Damian yang masih berada di tempat dan sejak tadi memperhatikan interaksi antara tuannya bersama dengan wanita asing, tampak menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai.
"Mari, Nona."
Rania terlonjak kaget dan spontan melihat ke arah belakang. "Ma-maaf, saya harus segera pergi." tolaknya. Lebih baik dia segera keluar dari rumah ini sebelum semakin bingung dan tidak mengerti.
"Tuan muda sudah memanggilkan pengacara untuk Anda, jadi Anda tunggu saja di sini sambil makan siang bersama dengan tuan," ucap Damian.
"A-apa?" Rania terkesiap, kedua matanya membelalak lebar karena terkejut mendengar ucapan Damian. "Ke-kenapa dia memanggil pengacara untukku?" tanyanya dengan tajam.
Damian mengendikkan bahu. "Saya tidak tahu, lebih baik Anda tanya langsung saja pada beliau. Ayo, tuan muda sudah menunggu cukup lama!" ajaknya sembari mempersilahkan Rania untuk segera menuju ruang makan.
Rania terdiam, tubuhnya terpaku di tempatnya berdiri, merasa benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang Kenzo lakukan. Hal itu membuat Damian tidak jadi melangkahkan kaki.
"Sepertinya tuan muda ingin membantu Anda, jadi Anda terima saja niat baik beliau," ucap Damian, meskipun dia tahu kalau apa yang tuannya lakukan ini memang sedikit membingungkan, dia sendiri bahkan tidak paham.
Rania hanya diam, mencoba untuk mencerna ucapan Damian. Namun, dia masih merasa tidak mengerti kenapa Kenzo mau membantunya. Sebenarnya apa yang laki-laki itu inginkan?
"Jangan-jangan dia ingin menjualku?"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda