Hanya satu persen dari populasi global, manusia yang memiliki warna mata heterochromia. Lunar salah satunya.
Memiliki warna mata hijau dan biru, Lunar menyembunyikannya ketika hidup di luar Silvanwood yang terisolasi dari teknologi.
Untuk menyambung hidup, Lunar tak menduga menjadi aktris di perusahaan entertainment milik Jackson Adiwangsa dan menjadi kesayangannya.
Hingga kejadian tak terduga membuat apa yang disembunyikan Lunar terkuak. Bagaimana kehidupan Lunar, apakah dia akan tetap tinggal atau kembali ke Silvanwood?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Introvert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga puluh lima
"Dia Pooja, katakan apa saja yang kau butuhkan padanya. Jangan coba melarikan diri dariku, Lunar!" ujar Pria itu dengan mata tajam.
Wanita cantik bernama Pooja itu menatap prihatin pada Lunar. Tak dipungkiri rasa takut yang Lunar alami selama disekap olehnya di sebuah villa. Lunar pernah terperangkap di villa terpencil bersama Jackson sebelumnya. Tapi kali ini sebuah malapetaka.
Pooja menggiring Lunar ke kamar di lantai atas. Lantas dia membuka lemari besar dan di dalamnya sudah tersedia pakaian wanita. Lunar mengamati kamar tersebut, semua properti di tata rapi dan jendela ditutup permanen.
Lunar duduk di tepi ranjang dengan ragu. Dia memikirkan cara untuk lari, tapi setelah diamati rupanya di luar jendela diberi pembatas paku tajam.
"Nona Lunar mandilah dulu, aku akan menyiapkan makan malam!" Pooja hendak melangkah ke luar membuat Lunar terkejut.
"Tunggu!" Lunar bangkit dari duduk.
Pooja berhenti tapi tak menoleh pada Lunar. Segera istri Jackson itu menghampiri Pooja dan bersikap sok akrab.
"Aku ingin pulang! Aku ... merindukan suamiku, help me, please!" Lunar menggenggam tangan Pooja.
Pooja tak bisa menyembunyikan kekuatirannya pada Lunar. Pooja hanya mengatakan Lunar tidak bisa ke luar dari tempat ini semudah itu.
"Jika bisa ke luar, aku takkan ada di hadapanmu saat ini nona Lunar," Pooja berkata lirih.
Lunar mengernyit. Pooja menambahkan bahwa dirinya pun sama seperti Lunar. Awalnya Lunar mengira, gadis itu pekerja di rumah ini.
Lunar memperhatikan Pooja dari atas hingga bawah, Lunar mengakui Pooja sangat cantik dan mempesona. Tapi Lunar tak paham apa yang sudah terjadi padanya?
Jika dipikir, akan sangat mengherankan jika seorang maid berpakaian modis dan memakai perhiasan mahal. Lunar merasa punya kesempatan. Lantas dengan cerdiknya, istri Jackson itu meraung kesakitan membuat Pooja panik. Mendengar kegaduhan lalu datanglah pria itu tak kalah panik.
"Badanku sangat sakit! Kakiku keram dan pegal! Oh, tuan Jackson!" histeris Lunar terkapar di lantai.
"Gadis bodoh! Kenapa, kau masih mematung! Cepat, pijat wanita kesayanganku!" bentak pria itu mengangkat tangan pada Pooja.
Pooja ketakutan bukan main. Lunar meringis. Dari reaksi Pooja sepertinya bukan pertama kalinya dia dikasari. Sejurus kemudian, pria itu menggendong Lunar lalu merebahkannya di ranjang.
Pooja pun mulai memijat kedua kaki Lunar dengan takut-takut. Lunar masih meringis kesakitan karena pijatannya terasa menyakitkan.
Pria itu kembali membentak dan menyuruh Pooja untuk memijat dengan benar. Pooja mengangguk takut, setelah Lunar mendingan lantas pria itu ke luar sembari mengancam kedua wanita itu.
"Apa masih sakit?" Pooja berkata takut.
"Sorry, Pooja. Aku hanya pura-pura," balas Lunar membuat Pooja menghentikan pijatannya.
"Wow! Actingmu luar biasa!" Pooja tak percaya.
Lunar terkekeh pelan. Hatinya berucap sombong, tentu saja actingnya luar biasa karena dia belajar hal itu dari Jackson Adiwangsa.
"Aku perlu waktu lebih lama agar kita bisa berbincang. Ayolah duduk bersamaku, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Lunar merubah posisi lalu menarik Pooja untuk duduk.
Pooja menarik napas panjang. Lunar merasa sepertinya yang terjadi pada Pooja sangatlah berat.
"Lunar, aku seorang aktris di negara asalku. Di masa kejayaanku, banyak sekali pria yang menyukaiku termasuk pria barusan. Lunar, aku berasal dari keluarga miskin. Aku bekerja dan berkarya untuk keluargaku, tapi pria itu menculikku, menyekapku dan menjadikanku budak sexnya! Aku tak bisa meminta bantuan karena akses internet di tempat ini, dia merusaknya. Aku rindu keluargaku, pasti mereka sangat kuatir. Sudah tiga tahun aku di sini, dan pria itu merekayasa kematianku! Hiks hiks," Pooja tersedu.
Lunar ikut menangis, dia tak henti mengusap punggung Pooja. Lunar jadi ngeri memikirkan nasibnya, Lunar pun tak memberitahu bahwa dia seorang selebritis.
"Ta-tapi, bagaimana kau bisa bertemu dengannya?" Pooja mengusap wajahnya. Dia penasaran dengan kisah Lunar. Setelah berpikir cukup lama, Lunar merasa tak ada gunanya ditutupi.
"Pooja, aku bersama suamiku menerima undangan untuk menghadiri sebuah pameran. Ada pertengkaran kecil ketika di hotel dan karena kesal aku ke luar seorang diri tapi itulah kebodohanku," Lunar tak bisa menahan tangis.
"Kita harus ke luar dari sini, Pooja!" semangat Lunar menggenggam tangan Pooja.
Namun gadis Hindustan itu terlihat tak bersemangat. Pooja sudah mencoba tapi jera, karena tak ingin bernasib sama seperti gadis lain. Pooja tak bisa membayangkan jika harus berakhir di lempar ke kandang predator peliharaan pria itu. Lunar menganga. Dia terkejut begitu mendengar ternyata bukan hanya Pooja saja.
"Kita harus berhati-hati dan menurut padanya, Lunar. Karena itulah sampai saat ini aku masih bisa bernapas," Pooja memelankan suaranya.
Lunar merinding. Dia harus mengingat apa yang dikatakan Pooja demi keselamatannya tapi Lunar harus mencari cara untuk bisa ke luar dari sini.
Pooja pun beranjak untuk menyiapkan makan malam, gadis itu meminta Lunar untuk segera bersiap. Mau tak mau Lunar pun bergegas untuk mandi.
Di bawah guyuran shower, Lunar menangis kesal mengingat kejadian di villa itu. Lunar jijik karena aset terlarangnya disentuh pria selain Jackson, tapi untung saja pria itu tidak sampai menyatukan dirinya pada Lunar.
"Makanlah, nanti kau bisa sakit." Pria itu menarik kursi dan meminta Lunar untuk duduk di sebelahnya.
Lunar menatap Pooja sekilas, gadis Hindustan itu mengisyaratkan Lunar untuk patuh. Menu makanan lezat tersedia begitu banyak, Pooja yang memasaknya.
Akan tetapi, mencium aromanya saja membuat Lunar merasa mual. Baru saja satu suap, Lunar menolak makan bahkan wajah Lunar memucat dan berkeringat.
Marahlah pria itu seraya membanting semua makanan, lalu di jambaklah Pooja membuat Lunar kaget.
"Apa, kau tidak bisa memasak dengan benar?!"
Pooja meringis kesakitan.
"Aku memasak seperti biasanya, tuan!" Pooja tak bisa menahan tangis.
Lunar mencoba menolong Pooja, tapi kepalanya berdenyut hebat. Lunar jatuh pingsan membuat kedua orang itu panik.
"Cepat! Panggil dokter!" pria itu melotot ke arah Pooja.
Gadis itu gelagapan. Bagaimana, menghubungi dokter sementara akses komunikasi pria itu merusaknya. Pria itu berdecak, lalu merogoh ponsel dan mendial nomor seseorang.
Tak lama kemudian, datang seorang pria yang diyakini dokter. Lunar diperiksa dengan teliti. Dokter itu merasa ada yang tidak beres begitu melihat penghuni rumah.
Pooja maupun pria itu terkejut bukan main ketika dokter memberi tahu bahwa Lunar tengah hamil. Sang dokter semakin curiga, ketika dia pamit untuk pergi kepalanya dihantam oleh pria itu sampai tak sadarkan diri.
"Dokter maafkan aku, kau harus tiada di sini!" ucap pria itu membuat Lunar dan Pooja saling berpelukan.
Pria itu tak mau menanggung resiko karena sang dokter sudah mengetahui lalu membeberkannya pada orang lainm
"Kalian ikuti aku!" pria itu menatap Lunar dan Pooja. Sementara pria itu menarik jasad dokter.
Betapa tercengangnya Lunar, ketika jasad dokter dilempar begitu saja. Lalu segerombolan buaya mengerubungi jasad sang dokter.